Disappeared

Disappeared
29



TBC


...Impian akan selalu jadi angan ketika kita memilih untuk berfikir itu hanya mimpi milik orang besar. Pilihlah jalan selangkah untuk bertindak sampai tanpa sadar selangkah-selanngkah itu mengantarkan kita pada capaian terbesar yang tuhan kehendaki. Tuhan akan memberi apa yang terbaik bukan apa yang kau inginkan. Usahamu bukan sia-sia, hanya percaya Tuhan akan memberi gantinya lebih baik dari yang kau kira....


...-OrangeLaa-...


Sudah 2 bulan berjalan. Bilah benar benar sendiri. Hal menakutkan benar-benar terjadi padanya. Melakukan kemoterapi sendiri tanpa ada yang menemani. Kedua sahabatnya pun kini sudah sangat jauh dari jangkauan Bilah. Bilah begitu lelah dengan keadaan.


1 minggu ini Bilah tak masuk sekolah, mengingat efek kemoterapi yang ia dapat berupa demam tinggi, bahkan ia selalu memuntahkan apapun yang ia makan. Wajahnya yang kian lama semakin pucat dan tubuh yang kian lemas membuat ia tak sanggup pergi ke sekolah. Efek yang paling membuat Bilah sedih adalah, rambutnya yang semakin menipis. Setiap ia menyisir rambutnya, air mata selalu keluar dari mata Bilah. Pilihan terakhir yang Bilah lakukan adalah membuat kepala nya botak. Ya, ia sangat menyayangkan hal itu.


Hari ini Bilah memutuskan pergi kesekolah setelah 1 minggu masa sekolahnya hilang. Ia memilih menggunakan wig yang terlihat natural. Bilah harap teman-temannya tidak mempertanyakan apa-apa tentang dirinya.


...***...


Bilah memasuki kelas dengan wajahnya yang selalu tersenyum untuk teman-temannya.


"Lo habis darimana 1 minggu gak masuk Bil?" tanya Diana dengan wajah keponya. Bilah duduk dikursinya sambil membuka handphonenya, "Liburan panjang, keliling dunia dong."


"Enakk banget dah lu Bil. Gue juga pengen tau kayak gitu," ucap Diana.


"Jangan, gak enak tau jalan jalan terus."


"Lo habis potong rambut ya Bil?"


Bilah mengibas rambutnya bangga. "Iya nih, bagus gakk?"


"Ih lu mah."


Suara langkah sepatu yang khas membuat murid-murid sigap duduk ditempatnya. Siapa lagi jika bukan guru pengajar yang membuat para murid menghela nafas sedikit kecewa kenapa tidak jam kosong saja.


Setelah jam pelajaran kian berlalu, Bilah masih tetap dibangkunya. Ia tak banyak bicara. Rasanya sangat lemas dan pusing yang dirasa. Ia membawa roti dari rumah sehingga tak perlu keluar kelas untuk ke kantin. Kini jam menunjukan waktu untuk pulang. Bilah berjalan lemas dan lunglai di setiap koridor kelas. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan terjatuh. Bilah tak ambil pusing langsung mengucap kata maaf. "Maaf, gak lihat."


Bilah tak sadar yang ditabrak adalah Kelvin. Kelvin dan Bilah saling tatap, Kelvin menyerngit bingung dengan perubahan Bilah, wajahnya yang pucat meskipun tertutup oleh liptint dan badannya yang terlihat lemas dengan mata sayunya. Dan rambut baru yang ia lihat, bahkan tubuhnya semakin kurus. Banyak yang berubah batin Kelvin.


"Kelv--" belum sempat Bilah mengucap namanya tapi Kelvin pergi begitu saja tanpa menghiraukan Bilah. Kali ini Bilah tak ambil pusing ia terus berjalan pulang dan segera mengurus online shop yang ia punya.


Bilah teringat sesuatu, ia sama sekali tak pernah mengunjungi taman belakang sekolah sekarang. Bilah jadi rindu. Rindu menyapa kataknya yang lucu. Apa kabar ia sekarang? Mungkin tak ada salahnya mampir kesana sebentar bukan?


Saat hendak duduk di tempat biasanya. Ia melihat Putri duduk dibelakang pohon yang biasa Bilah tempati. Ia perlahan duduk disebelah Putri sambil sedikit tersenyum padanya tanpa mengucap kata sedikitpun. Putri juga tak menolak kehadiran Bilah saat itu. Mereka berdua sama sama bersandar di pohon besar dengan danau buatan didepannya.


5 menit lamanya mereka hanya diam tanpa mengucap satu kata pun dari mulut mereka. Bilah hanya rindu suasana disini sambil memejamkan matanya. Tak ada angin dan hujan Putri memberi tisu pada Bilah. "Hidung lo."


Bilah langsung membelakan matanya dan mengambil tisu itu dan menyeka darah dihidungnya. Lagi-lagi ini terjadi. Putri sempat terkejut dengan apa yang terjadi, namun ia memilih untuk hanya memberi tisu tanpa pertanyaan. Mereka sama-sama diam kembali.


Hening yang begitu lama. Hening dalam lamunan masing-masing.


Tanpa sadar Putri meneteskan air matanya. Hidungnya memerah akibat menahan tangis. Bilah yang sadar Putri menangis, memberikan sapu tangannya pada Putri tanpa mengucap satu katapun. Bilah hanya lemas kala itu.


"Gue gak ngerti," ucap Putri tiba-tiba.


"Gue cuman bingung. Gue juga suka sama Dirga Bil, saat lo juga curhat suka sama dia. Saat itu gue marah sama diri gue karena khianatin lo, tapi gue menolak untuk marah sama diri gue dan berakhirlah gue benci sama lo." Putri menelan ludah sebentar dan melempar batu ke danau untuk menghilangkan kegugupan.


Putri terisak meneteskan air mata. "Jauh dari lubuk hati gue yang ngebenci lo kala itu. Gue gak bisa bohong kalau gue juga kangen sama lo Bil." Putri menghapus air matanya dan kembali terisak lagi. Bilah juga meneteskan air matanya melihat Putri seperti ini, ia sungguh merindukan sahabatnya ini.


Kini Putri menatap Bilah dengan air mata yang bercucuran. "Gue emang jahat sama lo waktu itu Bil. Gue buta sama cinta. Saat lo bilang maaf waktu itu padahal gue yang nyakitin lo, gue semakin marah sama diri gue sendiri, tapi gue gak menerima kenyataan kalau gue jahat. Gue anggep lo yang sok baik waktu itu, gue muak sama sikap lo waktu itu."


"Sekarang gue tau Bil, nyari temen yang bener-bener tulus itu susah. Maafin gue Bil. Gue sadar gue salah, gue janji bakal putus dari Dirga secepatnya. Gu-- gue--" Putri semakin terisak melanjutkan kata-katanya. "Gue kangen sama lo Bil."


Bilah yang tak kuatpun memeluk Putri sambil menangis. "Bilah kangen Putri. Putri gausah minta maaf dan Putri gausah mutusin Dirga. Sekarang Bilah bener-bener gak ada rasa sama Dirga. Putri sama Dirga sama-sana suka jadi kalian gak usah putus. Kita masih bisa jadi sahabat Put tanpa harus Putri putusin Dirga." Bilah semakin memeluk Putri erat. "Dengan Putri yang bisa jadi sahabat Bilah lagi aja Bilah udah bahaagiaaaa banget."


Putri kembali memeluk Bilah. "Maafin gue Bil. Gue salah." Bilah menggelang keras. "Enggak, sekarang Putri gausah pikirin itu. Yang penting sekarang kita jadi sahabat lagi?" Bilah melepas pelukan mereka dan menunjukan jari kelingkingnya untuk memulai persahabatan kembali. Putri mengaitkan kelingkingnya sambil tersenyum dengan hidung yang memerah.


"Putri kayak badut."


"Bilah!"


...***...


Bilahh berjalan kembali ke arah lapangan. Dia tak sengaja bertemu Selena yang menatap Bilah dengan seringai di bibirnya. Bilah tak menghiraukan dan terus melangkah. Selena mencekal tangan Bilah. "Apa kabar lo?"


"Lepasin Bilah!" ujar Bilah membuat Selena semakin mencekram tangannya.


"Lepas? No! Gue cuma pengen lihat wajah seorang Ranayah Sabilah. Ternyata, cukup buruk," ejek Selena sambil meneliti wajah Bilah.


"Lo capek? Yaudah mati aja. Hidup lo jangan buat susah dong. Kalau lo capek hidup ya tinggal mati aja."


Bilah tersenyum pada Selena. "Bilah bukan orang yang lemah. Selama Tuhan masih memberi umur buat Bilah, maka Bilah akan berjuang sampai Tuhan tak memberi waktu lagi buat Bilah."


"Oh ya? Lo bakal kuat meski tanpa kedua sahabat kecil lo itu, yang sekarang udah ada dipihak gue?" ujar Selena sinis dan tersenyum kemenangan.


Bilah menatap Selena dengan kesedihan. "Apa dengan membuat Bilah menderita itu kebahagiaan buat Selena? Bilah yakin orangtua Selena gak ngajarin hal buruk sama Selena."


"Lo bawa-bawa nama orangtua seakan lo tau apa yang orangtua didik buat anaknya. Apa lo sadar lo gak pernah di didik orangtua lo?" ujar Selena menekankan setiap kata yang dilontarkan untuk Bilah.


Bilah merasa tertampar dengan ucapan Selena. "Orangtua Bilah selalu kasih yang terbaik buat Bilah."


"Dengan nelantarin lo maksudnya? Lo dibuang dan dilempar sana-sini? Lo itu gak diharapkan sama orangtua lo! Lo itu cuman pembawa sial bagi mereka! Kalau dipikir emang mana mau orangtua punya anak kayak lo!" ucapan Selena membuat amarah Bilah menaik. Bilah hanya diamm dan menggenggam erat tangannya sebagai pelampiasan diri.


Selena mendekatkan tubuhnya pada Bilah dan mengangkat telunjuknya di wajah Bilah "ORANGTUA LO ITU BIADAP, GAK ADA BEDANYA SAMA LO!"


Bilah yang sudah emosi langsung menampar Selena karena sudah menghina orangtua Bilah.


Plakkk


"Selena jahat! Jangan pernah menghina orangtua Bilah!" Untung saat itu sebagian besar murid pulang. Tersisa anggota yang ikut ekstrakurikuler dihari itu. Meskipun begitu para murid yang tersisa menatap Bilah yang terlihat emosi. Seperti bukan Bilah.


Selena tersenyum mengejek. "Gak terima? Artinya yang gue bilang itu bener! Atau jangan-jangan lo anak haram?"


Bilah mengangkat tangannya untuk Selena sekali lagi. Tapi sesuatu menahan tangannya. "Buang tangan kotor lo!" ujar Mario yang kala itu ia dilapangan mau memulai ekstrakurikuler basketnya.


Bilah meneteskan air matanya ketika Mario membentaknya. "Kenapa?" tanya Bilah.


Ia kesall, amat teramat kesal. "Selena jahat sama Bilah udah ngehina orangtua Bilah!" jawab Bilah yang kini membela diri sambil menangis. Sementara Kelvin, dari lantai 2 ia mengamati Bilah, Mario, Selena dan beberapa pasang mata yang mulai terlihat kepo dengan urusan mereka.


"Gak mungkin. Kenapa lo malu-malu in dia di depan banyak orang dengan nampar dia!" jawab Mario kembali membela Selena.


Bilah menghapus airmatanya yang selalu menetes. "Bilah gak akan nampar Selena kalau Selena gak jahat mulutnya! Bilah gak akan emosi kalau Selena gak mulai duluhan sama Bilah. Bilah kesel sama Selena yang udah bermuka dua! Bilah gak suka sama tingkah Selena yang baik didepan Mario sama Kelvin tapi jahat didepan Bilah kalau gak ada kalian! Mario sama Kelvin terlalu buta dan udah dicuci otaknya sama Selena. Selena itu jahat, Rio! Harusnya kalian sadar, gamungkin Bilah bohong. Bilah sayang sama kalian makanya Bilah---" belum sempat Bilah melanjutkan ucapannya, Mario reflek menampar Bilah tanpa sadar.


Plakkk


"Jaga mulut lo Bil!"


Bilah memegang pipinya sambil terisak. "Mar---Mario bukan lagi-- Bukan lagi Mario yang Bilah kenal dulu. Kalian udah berubah! Bilah cuman kangen sama kalian yang dulu. Dulu kalian selalu lindungi Bilah. Tapi sekarang kalian kasar sama Bilah. Kalian jahat sama Bilah! Bilahhh gak suka kayak gini. Bilah tau mungkin kalian nganggep Selena lebih butuh kalian. Tapi kalian udah ditipu sama dia!" ucap Bilah sambil menunjuk Selena.


"Turunin tangan sialan lo!" ujar Mario sekali lagi sambil menghempas telunjuk Bilah.


Bilah yang sudah kesal pun sedikit mendorong Selena, "Puas kan Selena? Ini kan yang Selena mau?" Bilah berbalik dan meninggalkan mereka berdua.


Mario yang tak terima Bilah berbuat seperti itu memanggil Bilah. "Bilah!"


Bilah tak menghiraukan Mario dan terus melangkah dengan menulikan telinga.


Mario yang geram pun sedikit menarik rambut Bilah agar mudah dijangkau.


Tapi hal ini membuat semua orang terkejut.


Deg


Jantung Bilah seakan berhenti. Waktu seakan berhenti membuat Bilah kaku di tempat sambil menundukkan kepala dan memunggungi Mario. Sementara Mario benar-benar speechless melihat rambut Bilah yang terlepas seluruhnya berada digenggamannya. Hening. Mario bungkam. Ia terus menatap rambut itu sampai menjatuhkannya ke tanah. Bahkan Kelvin yang melihat dari ataspun terkejut membelakan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang ia lewatkan?


Semua hening. Hanya air mata yang mewakili perasaan Bilah saat ini. Bilah begitu maluu untuk semua ini. Ia memberanikan diri mengeluarkan suara. "Bil--Bilah ud-- udah gak ada siapa siapa lagi. Apa ini semua belum cukup?! Apa ini balesan buat Bilah dari Mario karena udah namper Selena di depan banyak orang?" Bilah terisak dan mengusap air matanya dengan masing memunggungi Mario. Karena merasa tertekan dan pusing hidung Bilah mengeluarkan darah. Bilah tak peduli.


Bilah membalikkan tubuhnya ke arah Mario. Mario semakin tak bisa berucap melihat darah mengalir di bibir Bilah. Ia bertanya-tanya. Ada apa dengan Bilah? "Bil hidung--" Bilah tak mau mendengar langsung menyelah perkataan Mario. "Dan sekarang ini balesan Bilah? Ngebuat Bilah malu didepan banyak orang?" Bilah menunduk. Ia tak peduli dengan kacaunya dirinya hari ini. Bilah berbalik dan berlari menjauh dari keramaian.


Putri yang sedari tadi ke kamar mandi membulatkan matanya melihat fakta Bilah yang baru ia ketahui juga. Putri melihat Bilah lari dengan keadaan yang kacau. Putri menghampiri Mario dan mengambil wig Bilah yang sempat terjatuh dan menatap Mario bengis. "Gue kira cuman gue yang jahat. Ternyata, teman dari orok bisa juga lakuin ini. Gue bahkan gak pernah ngebayangin kalian bakal gini ke Bilah. Lo gak akan pernah tau rasanya menyesal sebelum tau artinya kehilangan. Dan gue harap lo gak akan pernah menyesal."


Putri menatap ke Selena dan tersenyum mengejek. "Gue gak nyangka orang kayak gini yang bisa buat kalian berubah sama Bilah." Putri mengangkat telunjuknya ke arah Selena. "Lo gak nyadar? Standart lo udah turun di mata kita semua! Lo bisa aja ngebutain mereka berdua. Tapi semua orang malah ngasih predikat buruk ke lo. Jadi, apa yang lo harepin?"


Selena membuang telunjuk Putri kasar dan menarik tangan Mario pergi, "Ayo kita pergi sekarang!"


Putri menghembuskan nafas seperti membuang beban hidup dari hidungnya. "Seperti hal nya gue yang menyesal setelah gue kehilangan sahabat terbaik gue. Mereka gak ada yang mau temenan sama gue. Tapi bedanya gue gak terlambat, semoga kalian juga."


...Hai semua! untuk tau kelanjutannya yuk beli novelnyaaa di shopee @rigel_publisher...