
Happy Reading!
...Aku datang hanya ingin berbicara dengan bunga. Sampaikan salamku pada lebah jika ia datang menemuimu. Katakan aku rindu...
...-RanayahSabilah-...
Mario dan Kelvin menatap Bilah dan menghembuskan nafas halus, "kali ini aja ya Bil ikut kita. Please, ini pertama kalinya kita seneng-seneng bareng sama Selena."
"Tap-- tapi--" Bilah semakin pucat ketika dipaksa masuk ke pintu itu.
"Please Bil."
Bilah memandang Kelvin dan Mario sebentar. "Kalian pergi aja yang bertiga. Bilah tunggu diluar."
Kelvin menarik tangan Bilah yang begitu dingin sekarang. "Janji kok bakal ada buat lo Bil, jadi lo gak bakal ketakutan di dalem nanti."
"Kalian tau kan kalau Bilah gak bisa pergi ketempat kayak gitu. Bilah mohon...."
"Bil, kan ada kita. Lo gak percaya?"
"Tap--tapi--" belum sempat Bilah melanjutkan perkataanya, Kelvin menarik Bilah masuk keruangan itu. Mereka berempat jalan diruangan yang begitu gelap dan sangat menyeramkan.
Kelvin dan Mario menggandeng tangan Selena yang sedari tadi ketakutan. Sementara Bilah? Karena ini di lorong, kebetulan sekalli cuman bisa digunakan 3 orang berjalan sejajar, jadi sissanya dibelakang atau didepan. Dan saat ini Bilah berada di belakang mereka.
Duaaarrr!!
Dentuman suara meledak disertai hantu yang mengageti di balik tirai itu. Mereka semua berteriak kaget. Bilah menggenggam tangannya sendiri yang gemetar, bahkan kini jantungnya terpompa sangat kuat. Bilah ingin menangis rasanya saking takutnya.
"Lo gapapa Sel? Ini minum."
"Gak kok, cuman kaget aja sih."
Sungguh Bilah sangat letih, kakinya begitu lemas. Ia takut dan tak suka pada hal yang mengagetkan seperti ini. Saat sudah mau sampai pada titik keluar, seorang berpakaian seperti genderuwo menggenggam erat kaki Bilah. Bilah yang dipegangi kakinya saking kagetnya tidak teriak, kakinya begitu lemas dan memilih untuk duduk sambil menenggelamkan kepalanya di pahanya. "Jangan pegang kaki Bilah. Takut." ujar Bilah gemetar, bahkan hanya untuk berdiri saja sangat susah rasanya. Mungkin terdengar lebay, tapi setiap orang punya ketakutan sendiri kan?
Mario dan Kelvin bahkan tak sadar jika Bilah tak ada dibelakangnya ketika sudah sampai pintu keluar. "Loh Bilah mana?" tanya Kelvin.
"Kan lo tadi yang pegangan sama Bilah dodol!" ujar Mario.
"Kayaknya udah lepas daritadi."
Kelvin dan Mario kembali kedalam dan mendapati Bilah masih menenggelamkan kepalanya di pahanya. "Bil.."
"Jangan!!!! Jangan deket-deket! Pergi hantu!" ujar Bilah berteriak tanpa melihat siapa yang datang.
"Ini kita Bil."
Bilah mendongakkan kepalanya dengan menunjukan wajah pucat dan keringat dingin yang sudah membasahi dahinya, Kelvin dan Mario terkejut melihatnya. "Maa--maafin kita ya Bil." Bilah hanya mengangguk dan berusaha berdiri dibantu dengan Mario dan Kelvin. Mario dan Kelvin dapat merasakan getaran tangan Bilah yang membuat mereka semakin merasa bersalah.
"Loh Selena mana?"
"Udah didepan kayaknya? Kita langsung pulang aja."
Saat mereka sampai diluar ia melihat Selena terduduk di tanah sambil meniup lututnya yang berdarah. Kelvin dan Mario gelisah dan menanyai banyak pertanyaan pada Selena.
"Loh, lo kenapa Sel?"
"Kok beradarah?"
"Lo jatuh?"
"Kok bisa jatuh?"
Selena hanya menggeleng meyakinkan mereka. "Gue gapapa kok tadi cuman kepleset."
"Oh iya, gimana kalo kita ngehabisin malam ini di pasar malam? Pasti seru!" usul Selena.
"Tapi kan lo habis jatuh?"
"Duh! Ini tuh gak ada apa-apanya. Kalian jangan khawatir gitulah," ucap Selena.
"Boleh kok," tambah Mario dan Kelvin yang tak sengaja bersamaan.
Badan Bilah terasa tak enak. Tubuhnya terasa remuk dan lemas semua. "Yaudah Bilah pulang duluan aja ya."
"Loh, kenapa lo pulang Bil?" tanya Selena.
"Tau lo Bil! Gak seru ih, ikutan lah!" ujar Kelvin agak memaksa Bilah.
"Iya Bil, masa iya lo lemes gara-gara kaget dirumah hantu," kata Mario yang membuat Bilah menatapnya kesal.
"Bukan gitu..."
"Yaudah dong ikutan ayo Bil! Gue pengen kita main berenpat sama sama," ujar Selena yang membuat Bilah tersenyum. "Bilah juga pingin, tapi-----"
Bilah tersenyum dan membenahi baajunya sebentar. "Bilah gak enak badan deh."
"Gak asil lah lo Bil," ujar Kelvin.
"Masa iya gak enak badan, ayolah ikut. Jangan ngeles gitu. Kenapa sih emang?" kata Mario yang membuat Bilah tertohok.
"Gak ada alasan lain. Bilah emang bener gak enak badan."
"Terserah lo deh. Pulang aja," ujar Kelvin kecewa.
"Yaudah kalian selamat menikmati malam ya. Bilah naik taxi aja. Bye!" Mario dan Kelvin hanya mengangguk tanpa berniat mengantar Bilah.
...***...
Bilah telah sampai rumah dan membersihkan diri lalu memilih untuk istirahat. Badannya terasa panas. Bilah hanya bisa menutup dirinya dibalik selimut.
Hingga jam menunjukan pukul 9 malam, Kelvin dan Mario tiba-tiba datang ke apartment Bilah dan lekas menuju kamar Bilah.
Mario hendak membangunkan Bilah dibalik selimutnya yang menutupi wajah Bilah, namun ketika ditarik Mario dan Kelvin terkejut melihat wajah pucat Bilah, bahkan ada bekas air mata disana. Entah apa yang membuat Bilah menangis seperti itu.
"Badannya demam," ujar Kelvin saat menyentuh dahi Bilah.
"Dia beneran sakit?" tanya Mario.
"Gue ngiranya juga gitu."
Mario mencoba membangunkan Bilah pelan, "Bil--Bilah, lo makan dulu ya terus minum obat."
Bilah kaget namun ia cepat menetralisir kagetnya. "Kenapa kalian bisa disini? Udah malam loh. Kalian pulang ya," ujar Bilah lemah.
Bilah bangun dan berdiri dari tempat tidurnya dan sedikit memaksa. "Bilah buatin kalian teh hangat ya. Pasti malam ini dingin. Diluar hujan. Tunggu ya."
"Gausah Bil! Lo tidur aja!" ujar Kelvin menarik Bilah untuk berbaring lagi di tempat tidurnya.
"Urusin keadaan lo dulu Bil, jangan urusin kesehatan kita kalau lo aja kayak gini," ucap Mario.
Bilah dengan wajah pucat dan tersenyumnya menggeleng menatap mereka berdua, "Gapapa kok bener deh."
"Ngeyel banget dah, dibilang tidur ya tidur," ucap Mario sambil merebahkan tubuh Bilah dan memberinya selimut hello kitty itu.
"Bil--"
"Bilah gapapa kok, kalian pulang ya. Besok sekolah untungnya masih ada belum mati jadi jangan harap bolos," ucap Bilah mengusir mereka.
"Maafin gue ya," sahut Mario.
"Gue juga," imbuh Kelvin.
Bilah menyerngit bingung, untuk apa keduanya minta maaf? Sepertinya Bilah tau, hanya saja jika ia takut salah atau terlalu percaya diri. "Maaf buat apa?"
"Karena tadi gue. Eh salah! Maksudnya 'kita'. Kita udah ngacangin lo mungkin tadi?" ucap Kelvin menatap Bilah yang terbaring lemas.
"Apaan sih kalian. Siapa yang ngacangin Bilah? Emang udah harusnya gitu kok," ujar Bilah tersenyum dan menggenggam tangan mereka. "Udah saatnya dan memang seharusnya kalian harus punya prioritas lain."
"Lagiann aku gak merasa dikacangin kok! Lebay banget gitu doang dibilang kacang. Ih!" ujar Bilah tertawa renyah.
Mario menggeleng dan melepas genggaman Bilah namun berganti ia yang menggenggam Bilah. "Kita bakal tetep kayak gini. Sekalipun sejujurnya gue sama Kelvin ngrebutin Selena. Tapi tetep aja lo yang utama selain keluarga kita dan tuhan."
"Jangan pernah berpikir gue ninggalin lo, sekalipun lo gak kepikiran kayak gitu kan?" tanya Kelvin pada Bilah. Bilah hanya tersenyum dan menggeleng, "gak sekalipun."
"Kalian ga perlu janji jadiin Bilah utama atau gak," Bilah yang tadinya berbaring kini berusaha duduk menyandarkan tubuhnya dan kembali menatap Kelvin dan Mario. "Itu sama sekali gak perlu. Bener deh. Bilah gak pernah minta kayak gitulah."
"Yang Bilah minta cuman satu," gumam Bilah membuat mereka berdua ingin tau apa keiiginan Bilah yang sebenarnya. "Apa?"
"Keberapapun Bilah dimata kalian. Kalian harus janji sama Bilah, jangan pernah ninggalin Bilah. Apalagi sampai kalian benci Bilah." Setelah mengucap itu Bilah menundukkan kepalanya. "Bilah gak mau."
Mereka tertawa kecil. "Gak akan lah Bil! Lo becanda apa? buat apa kita benci sama lo?" ujar Kelvin.
"Kalo itu mah gak akan! Mana bisa semut pergi ninggalin tubuh jerapa atau tubuh panda yang luas itu kan?"
"Ih! Bilah bukan jerapah! Apalagi panda! Gak akan!" sahut Bilah.
"Nih Bil!" tiba-tiba saja mereka memberikan boneka panda dan jerapah pada Bilah. "Ini ejekan buat Bilah?" tanya Bilah sinis.
"Salah mulu sih! Kita datengin kembaran lo biar lo gak kesepian!"
"Bilah gak kesepian, kan ada kalian yang rame mulu di otak Bilah!" sahut Bilah.
Bilah memukul keras tubuh Kelvin dan Mario. "Yaudah cepet sana pulang."
"Bil.."
"Apalagi?"
"Jangan mikir macem macem ya. Kalau sampai kita ninggalin lo, lo bisa tampar terus tarik ke lo lagi. Terus peluk deh sepuasnya! Hihihi!" ujar Kelvin becanda membuat Bilah sampai jengkel.
"Lo juga jangan pergi dari kita lah Bil! Jangan jangan lo denger orang ngomong kita gay terus lo pergi cari cewek baru. Ikutan lesbi!" ucap Mario.
Kelvin langsung mendorong kepala Mario dan memandangnya jijik. "Gila lo! Jijik gue dengernya bego!"
Bilah menggeleng dan tersenyum mengejek, "gak akan lah! Lagian Bilah selalu percaya sama kalian kok. Bilah gak akan percaya sama orang lain sebelum kalian yang bilang sendiri ke Bilah. Biasanya juga gitu kan?"
...***...
Sekolah begitu ramai dengan pembicaraan promnight 3 hari lagi. Semuanya begitu ramai membahas gaun yang akan mereka pakai, sibuk mencari pasangan yang mereka cari. Semuanya seakan menyambut hangat pesta malam setahun sekali ini.
"Lo nanti pergi sama siapa Bil?"
"Dirga lah!"
"Gue luoa sahabat gue udah gak jomblo."
Ditengah pembicaraan mereka dikantin, Selena datang membawakan mereka makanan ringan. "Nih buat kaliaan!"
"Gila enak banget sama lo dikasih makan terus!" ujar Kelvin.
Selena tersenyum dan memakan makanan yang dibawa nya. "Oh iya, nanti malem Mario sama Kelvin kerumah ya? Ada Bu Sita yang mau ketemu kalian."
"Bu Sita? Beneran? Gila gue pengen baget ketemu sama Bu Sita, udah alama gak ketemu kan sejak kita balik dari OSN waktu itu," ujar Kelvin.
"Untung aja tante gue itu," ucap Selena.
"Boleh deh boleh."
"Jam 7 malam ya dirumah gue."
"Siap!"
Bilah menyerngit bingung. Yang benar saja. Bukan kah jam 7 malan ini ia punya janji dengan Mario dan Kelvin?
"Terus kita nanti jalannya gak jadi?" ucap Bilah.
"Lain kali ya Bil!"
"Yang ini penting banget."
TBC