Disappeared

Disappeared
chapter 16



Happy Reading!


Mereka berempat duduk di meja persegi disalah satu cafe favorite di kota itu. Gadis manis itu melambaikan tangannya ke Bilah. "Hai, aku Selena."


Bilah menatap Selena kagum. Selena begitu cantik dengan kulit putihnya, mata bulatnya, badannya cukup proporsional, jangan lupakan kepintarannya yang semakin menambah aura kecantikannya. Bagaimana bisa dia punya kesempurnaan impian itu, pikir Bilah.


Bilah menjabat tangan Selena dengan senyum semangatnya. "Aku Bilah! Semoga kita bisa jadi teman ya."


"Tentu."


Bilah duduk tepat menghadap Selena, sementara Mario menghadap Kelvin.


Bilah terlebih dahulu membuka suara, "Selena, kenapa bisa kenal Mario dan Kelvin? Kenapa Selena mau temenan sama mereka? Mereka kan jahil." Kelvin dan Mario hanya menggeleng melihat Bilah yang begitu songong dengan mereka.


Selena tersenyum sembari minum jus jeruknya. "Mereka baik kok Bilah. Mereka ramah dan suka bantu aku kalo ada masalah. Maka dari itu aku agak terbuka lah kalo sama mereka."


"Tuh denger Bil, gue itu ramah. Masa iya lo gak bersyukur gitu punya sahabat kayak gue yang ramah, baik, tampan dan mempesona, hm?" ucap Mario dengan nada sombongnya yang membuat Bilah ingin meludah sekarang juga.


"Selena ngomong gitu karena gak enak sama kalian," balas Bilah mengejek mereka berdua dengan lidahnya yang menjulur. Begitu aneh.


"Dasar jerapah kalau ngomong suka nyablak lo Bil," ujar Kelvin meledek Bilah lagi dengan sebutan yang sangat Bilah benci.


"Udah deh jangan berantem. Kalian ini udah lama kenal ya pasti? Keliatan deket banget," ujar Selena pada mereka bertiga.


"Lwaaamaaaa banget! Tapi Bilah gak pernah bosen sama mereka meskipun tingkahnya bukan kayak manusia. Tapi kayak jin tomang kurang kasih sayang," ujar Bilah meledek lagi. Rasanya mereka menyesal mengajak Bilah jika dia cerewet seperti ini. Tapi tetap saja, rasa sayangnya pada Bilah tak bisa dielakkan.


"Hehehe lo lucu deh Bil, pasti seru temenan sama lo," ujar Selena.


Tiba-tiba saja Mario menahan tawa rasanya ingin meledak saat itu juga saat Selena bilang Bilah lucu, "Belum tau aja lo sikap Bilah, Sel."


"Nyesel nyesel dah lo!" tambah Kelvin menatap Bilah kembali mengejek.


Bilah menatap mereka sinis dengan tangannya yang sudah melipat-lipat sedotan. "Ihh! Bilah orangnya pendiam kok! Bener kata Selena, kelucuan Bilah ini tidak tertandingkan!" ucap Bilah dengan tingkat percaya diri yang tinggi.


Kelvin dan Mario hanya tersenyum menanggapi Bilah, "Sel, lo kalau main suka kemana?" tanya Kelvin.


"Aku mah bebas kemana aja, tapi paling suka yang banyak wahana sih," jawab Selena.


Mario sembari menyesap kopi nya tersenyum menatap Selena. "Ternyata lo suka yang kayak gitu ya. Gue kira doyan lo belajar doang."


"Enggaklah. Garing dong hidup gue."


"Eh Sel, lain kali kita berempat bisa main bareng kok. Mungkin ke Dufan gitu? gapapa kan Bil?" tanya Kelvin pada Bilah.


Bilah hanya melamun dan menatap mereka sembari mengangguk, "Iya gapapa lah. Kita semua kan teman."


"Sel, kemarin lo gapapa kan?" tanya Mario khawatir. Pasalnya kemarin sepulang saat mereka bertiga belajar bersama ada seorang anak laki-laki yang mengganggu Selena.


"Gapapa kok. Kan ada kalian! Rasanya enak ya jadi Bilah bisa sama kalian terus," gumam Selena yang membuat Kelvin dan Mario sedikit tersanjung.


Mario menjentikkan jarinya. "Yaudah, lo jadi temen main kita aja. Bisa nambah personil ini!"


"Emang bisa?" tanya Selena dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih. "Kenapa enggak Sel?" sahut Kelvin.


"Oh ya! 3 hari yang lalu kue buatan mama aku gimana? Enak?" tanya Selena. Ya, 3 hari yang lalu Kelvin dan Mario beserta sepupu Selena diajak jalan-jalan oleh orangtua Selena secara mendadak. Setelah pulang, mama Selena membawakan mereka makanan.


"Eennnnaakkk bangettt Sel! Gak ada yang ngalahin!" ujar Kelvin sedikit lebay meyakinkan Selena. Meskipun memang enak.


"Lain kali boleh dong lo yang buatin buat gue?" ujar Mario yang membuat Selena tertawa. "Gue mah gak bisa masak kali! Lain kali deh bakal belajar khusus buat kalian!"


Bilah jadi bingung. Bukan-kah 3 hari yang lalu Bilah menunggu Kelvin dan Mario yang tak kunjung datang saat mereka berjanji mengajak bertemu di bioskop? Jadilah Bilah menonton sendiri dan tetap menunggu mereka hingga agak larut didekat taman yang berada disana.


"Jadi 3 hari yang kalian gak datang kalian jalan-jalan?" ujar Bilah pada mereka yang hanya tersenyum meringis pada Bilah.


"Maaf ya Bil!"


"Ih, kalau kalian waktu itu bilang sama Bilah langsung kan gapapa. Bilah gak perlu nunggu kali," ujar Bilah seraya tersenyum memakan makanan-nya.


"Masalahnya..." ucapan Kelvin menggantung tak melanjutkan suaranya.


"Masalahnya apa?"


Mario terbatuk dan memutuskan untuk menjelaskan. "Jadi waktu kita rencana ajakin Selena ketemu lo. Biar kita semua saling kenal. Tapi waktu kita sampai rumah Selena, orangtua Selena ajakin kita. Terus...."


"Terus apa hayoloh!?" ucap Bilah menantang.


Kelvin menggaruk rambutnya dan menepuk jidatnya sekilas. "Terus kita lupa ada janji sama lo."


Bilah mengangguk mengiyakan ucapan mereka. Ini bukan perkara yang besar. "Oke."


Selena hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ma-maaf ya Bil. Aku gak tau kalau kalian ada janji!"


Bilah tersenyum menatap Selena. "Hehehe, ngapain minta maaf sih? Nyantai aja mah!"


Mario tiba-tiba saja mengeluarkan handphonenya dan menatap Bilah dan Kelvin semangat, "Selena kita masukin grup line kita aja gimana?"


Kelvin hanya mengangguk mengiyakan, "kalo gua sih setuju aja kok."


"Lo Bil?"


Bilah hanya menampakan deretan gigi nya, ia tersenyum senang dan mengangguk, "***--Boleh kok."


"Selena sendiri mau gak?" tanya Kelvin.


Selena menampakan mimik wajah yang senang, "Gue mau lah. Gue seneng banget akhirnya punya teman. Gue terbiasa hidup tanpa teman sih."


"Nih Bil, lo belajar dari Selena gimana cara jadi dewasa, lo kan kayak anak kecil mainannya miniatur mulu," ejek Kelvin membuat Bilah geram dan membuat Selena terkikik geli.


"Bilah udah dewasa. Gausah pancing Bilah marah Kelvin!" ucap Bilah.


"Berarti miniatur tinkerbell gak minta lagi kan? Hehehe."


"Masih lah!"


Drrrt...Drrrtt...


Suara getaran handphone terdengar, ternyata itu handphone Selena. Setelah meminta izin pada mereka mengangkat telfon, Selena mengambil tasnya, "Gue balik dulu ya, mama suruh balik sekarang."


"Biar gue yang antar," ujar Mario dan Kelvin bersama membuat Bilah menyerngitkan dahinya.


"Gak usah, gu---"


"Gausah nolak Sel, gimanapun gabaik cewek jalan sendiri. Ayok deh gue anter," ucap Mario menarik tangan Selena.


"Gak usah sungkan Sel, lo udah bagian dari kita," ucap Mario lagi sambil menarik Selena kembali.


Kelvin yang tak terima membelah tangan mereka, "gue duluan yo. Lo gabisa gitu dong."


Bilah memandang mereka bingung. Apa kedua sahabatnya menyukai Selena? Kenapa tatapan antara Mario dan Kelvin berbeda? Bilah bertanya-tanya.


Entahlah apa yang Bilah rasakan. Terselip rasa cemburu sebagai sahabat melihat kedua sahabatnya begitu peduli kepada Selena. Tapi tidak, Bilah tidak boleh menjadi egois untuk sahabatnya. "


"Engg, gausah deh. Gue udah dijemput kok sama supir. Gue duluan ya. Bil, semoga kita bertemu lagi ya. Bye!" ucap Selena dan pergi meninggalkan cafe itu.


...***...


Saat ini Mario, Kelvin dan Bilah masih berada di cafe itu. Semuanya terasa nyaman disini dengan view yang memanjakan mata, lampu klasik menggantung rapi dengan dekorasi yang unik.


Gadanta Group


Mario menambahkan Selena


Kelvin : Selamat datang Sel


Bilah : (2)


Mario : Sel udah sampai rumah belom?


Selena : gue udah sampai kok. Kalian masih disana?


Bilah : Iya sel, Bilah masih disini nungguin orang laper makan.


Mario : padahal yang makan banyak elo Bil! Gapapa deh, makan yang banyak ya biar makin gendut.


Kelvin : sukur deh kalo lo udah nyampai.


Mario : gendut


Mario : kek


Mario : gentong


"Ih Mario! Bilah itu gak gendut tau," ujar Bilah kesal melempar Mario dengan sedotan dan meletakkan HP nya di meja.


Kelvin mencubit pipi Bilah dengan menariknya hingga membuat pipinya merah. "Jangan marah-marah dong, panda nya jadi kelihatan banget Bil!"


"Aw! Sakitt ih Pin! Duhh, kalo makin melar pipi Bilah gimana? Kalian ini!Tau lah!"


Inilah yang menghibur Kelvin dan Mario, ketika Bilah marah dengan wajah yang memerah menahan amarah dan bibirnya yang cemberut aneh menurut mereka.


"Oh ya Bil, gimana lo sama Dirga?" tanya Kelvin.


Bilah merubah raut muka berbinar dengan cepat ketika mendengar nama Dirga disebut, "Baik kok, gak nyangka ya Bilah bisa sama Dirga."


Mario mendengarkan Bilah sembari memainkan handphone-nya, "Keadaan Macan gimana Bil?" tanya Mario.


"Baik juga, kalian sih jarang main sekarang sama Bilah. Kalo Bilah samperin kalian malah gak ada." Bilah cemberut mencibikan bibirnya kesal.


Kelvin dan Mario hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kita sibuk belajar matematika Bil," ujar Mario diangguki oleh Kelvin.


"Maafin kita ya Bil."


Bilah menatap mereka mengerti, "Ih ngapain minta maaf sih. Aneh tau. Kan emang belajar biar kalian pinter. Bilah gamau punya sahabat bodoh tau, kalau kalian gak belajar yang ngerjain tugas Bilah siapa?" ujar Bilah agar kedua sahabatnya tidak merasa bersalah seperti itu.


"Hehehe lo emang paling pengertian dah Bil!" ungkap Mario mengangkat jempol nya untuk Bilah.


"Oh ya Bil, besok kita mau belajar bareng, lo mau ikut gak?" tawar Kelvin yang membuat Bilah menyerngit kesal.


"Bukannya Bilah gamau, sungkan lah sama teman kalian yang lain," jawab Bilah sembari memainkan sendok ditangannya.


"Lagian kita cuman sama Selena kok. Besok dirumah Selena."


"Kayaknya besok mama-nya Selena bakal kasih kita kue buaanyak deh Bil kayak biasanya. Bakal betah lo disana. Selena juga enak diajak ngomong kok. Nyaut anaknya."


Bilah memakan cakenya dan dari raut wajahnya nampak memikirkan sesuatu. "Kalian sering belajar sama Selena bertiga doang ya kelihatannya?" tanya Bilah.


Kelvin hanya meringis dan memegang pelipisnya, "Iya Bil, lo gapapa kan? Besok lo ikut aja ya Bil?"


"Gak ikut belajar juga gapapa, lagian kita banyak becandanya kok, kan juga Selena udah jadi bagian kita kan?" ucap Mario membuat Bilah mengangguk mengerti.


Bilah mengetuk jari telunjuknya ke jidatnya berkali-kali. "Bilah gak bisa kalau besok, ada janji sama Dirga."


"Besok Dirga ajak Bilah jalan, kencan, berduaan, pacaran."


"Demi Cinta Laura goyang itik, demi tikus beranak kuda, demi cintaku untuk neng curut, Ariana Grande beranak Kelvin, gue yang jomblo liat lo Bil bisa apa?" ujar Mario kesal.


...***...


Malam ini ketiga sahabat itu berada diatap rumah Kelvin sambil tiduran memandang bintang yang tak kunjung habis ketika dihitung membuat Bilah geram dihubungkan kembali dengan matematika.


Bilah melirik mereka berdua yang sibuk dengan chat di handphone-nya. Bilah penasaran. Apasih yang mereka sibukkan.


ThreeLion?


Sebuah grup chat yang Bilah lihat. Bilah lihat nama Selena digrup itu. Keduanya tersenyum sambil memainkan handphonenya. "Kalian ngapain sih sibuk banget?" Mereka kaget meletakkan handphonenya dibalik punggungnya.


Tangan Bilah kembali terangkat sambil membayangkan bentuk pola bintang dilangit itu akan jadi apa jika ia satukan.


"Bilah gak suka menghitung bintang, menggambarnya lebih seru," tutur Bilah.


Mario yang berada di sebelah kanan Bilah pun menoleh padanya, "lo kan emang gak suka berhitung.


Bilah mengangguk mengiyakan kebenaran yang diucap Mario. "Bintang itu letaknya absurd ya, kita gak bisa ngatur letak bintang."


"Kelvin, Mario," panggil Bilah pada kedua sahabatnya itu dan dijawab deheman oleh keduanya.


Bilah mengatakannya sambil terus matanya masih menatap langit gelap dengan berbagai butiran indah itu, "Kalian bisa enggak geserin bintang yang itu ke kiri dikit aja," ucap Bilah polos membuat keduanya terkekeh, "Buat apa Bil? Ya enggak bisa jugalah."


Bilah hanya tersenyum, "Bilah mau buat bentuk bebek, tapi mulutnya terlalu ke kanan, nanti moncongnya pesek. Kalo dikiriin dikit kan pasti bagus."


"Nyebut gue lama-lama. Kenapa gak gambar sendiri aja di buku?" tanya Kelvin yang berada disebelah kiri Bilah.


Bilah menghela nafas layaknya membuang sesuatu entah apa itu. "Manusia gak akan pernah merasa puas kan? Manusia kayak kita punya kerakusan."


"Yaudah deh Bilah cari pola lain aja, bintang yang diatas gak akan ada yang bisa menggeser. Dari bintang, Bilah belajar sesuatu," gumam Bilah.


Mario dan Kelvin hanya menikmati ucapan Bilah, Bilah yang seperti inilah yang mereka suka, Bilah yang menemukan kesulitan namun yang diambil hanyalah moral yang didapat. Sungguh ciri-ciri orang beruntung.


"Bintang yang dilihat semua manusia itu gak akan pernah bisa digeser sesuai kehendak kita. Bintang bagus dengan letaknya sendiri, itu udah contoh ya, bintang aja gak bisa diubah oleh kita, apalagi takdir kita. Jika tuhan sudah berkehendak kita gak bisa apa-apa. Takdir kita mungkin jelek untuk kita, tapi pasti bagus dengan cara tuhan yang menyebunyikan keindahan dibaliknya, sama kayak bintang," ucap Bilah tersenyum menampilkan deret gigi putih dengan pipi yang membuat mereka ingin mencubitnya.


"Gue suka lo yang banyak omong Bil," ujar Kelvin sambil mengelus rambut Bilah pelan dengan senyumnya.


"Bilah emang berisik kalo sama kalian," ucap Bilah.


"Daripada berisik, itu terdengar damai," ujar Mario sambil memejamkan matanya.


"Kalau lo cerita jadi inget mama yang dongengin," tambah Mario yang masih memejamkan mata.


Bilah ikut memejamkan matanya sambil menarik nafas dan membuangnya secara teratur. "Bilah juga selalu damai kalau kalian disekitar Bilah. Jangan tinggalin Bilah ya? Kalian segalanya bagi Bilah," ucap Bilah sambil menitihkan air mata. Entah apa yang membuatnya menitihkan air mata seperti ini.


Mario menolehkan kepalanya kearah Bilah dan menghapus air mata itu. "Jangan nangis Bil. Gak ada alasan yang menbuat kita ninggalin lo."


Kelvin mengangguk, "apapun masalahnya, kita tetep sahabat Bil, gue gak akan ninggalin lo kok."


Bilah mengangguk, "Bilah cuman takut sendiri. Bilah takut semua yang Bilah punya mundur. Menjauh dari Bilah."


"Jangan kepikiran kayak gitu dong. Kita udah jadi sahabat dari kecil. Apa yang kita punya juga punya lo Bil. Lo gak boleh merasa sendiri."


Bilah menggeleng. "Bahkan sedikitpun Bilah gak pernah merasa sendiri kok. Kan ada kalian yang setiaaaa jadi bodyguard Bilah. Hehehe."


Mereka semua tersenyum dan memejamkan matanya, "jangan ada perselisihan diantara salah satu dari kita ya?" ucap Bilah.


Entah apa yang membuat Bilah terdorong untuk mengucapkan seperti itu. Bilah hanya merasa kedua sahabatnya menyukai Selena. Dan yang Bilah takutkan adalah terjadi perselisihan diantara mereka, dan semua persahabatan akan hancur.


"Kalian berdua suka sama Selena?"


Mereka hanya diam tak menjawab apa yang Bilah katakan. Ini cukup menjawab pertanyaan Bilah. "Perasaan gak akan pernah salah. Kalo kalian suka, bersaing secara sehat ya. Bilah gak mau sampai ada pertengkaran diantara kalian."


Mereka tersenyum dan mengangguk tanpa sepatah kata yang diucapkan oleh mereka. Dari sini Bilah cukup tau, kedua sahabatnya memang menyukai gadis itu, gadis cantik yang bernama Selena.


"Kita. Gue dan Selena. cuman sahabat kok Bil," ujar Mario. Bilah tau itu bohong.


"Kita jadiin Selena sahabat ya Bil. BiarĀ  persaingan ini ada hubungannya sama lo yang ngebuat kita gak renggang," kata Kelvin membuat Bilah mengangguk.


"Ingat janji kalian ke Bilah. Miniatur tinkerbell yang harus kalian dapat buat Bilah ya," ujar Bilah tersenyum pada mereka.


"Ingat ya, 'janji kalian' ."


"Bukan salah satu dari kalian."


...Jangan biarkan sebuah ikatan hancur oleh sebuah perasaan yang tak menentu yang bahkan kita tak mengetahui kapan itu berakhir. Tetap jadilah orang yang hidup tanpa keegoisan yang timbul dari sebuah perasaan....


...-Ranayah Sabilah...