
...Bangkitku adalah hadirmu yang membara. Runtuhku adalah kau pergi menghadirkan kesunyian lekas perginya harapan dan tak kunjung lekang oleh waktu yang mendatang. Selamat tinggal harapan. Tanpa harapan aku hilang....
...-RanayahSabilah-...
"Emm.. kayaknya mama lo liburan sama Rania Bil. Mereka gak ada dirumah." Jerry yang tak tega menjelaskannya pun hanya mengelus kepala botak Bilah.
Bilah tersenyum dan menganggukan kepala. "Gapapa kok. Makasih ya."
Brakk!!
"Halooooo Bilahh!!" teriak Putri yang tiba-tiba masuk dengan tentengan di tangannya.
"Putri bikin Bilah kaget tau," ucap Bilah memanyunkan bibirnya.
Putri menyodorkan makanan ke Bilah. "Nih gue bawain makanan sehat satu kresek buat lo semua. Di makan! Awas gak lo makan!"
Karena kecanggungan yang terjadi antara Jerry dan Putri mebuat Jerry harus segera pergi darisini. "Bil gue balik ya. Mama minta anter arisan."
Bilah mengangguk. "Makasih Jer. Hati-hati ya."
Ketika Jerry menjauh, Putri duduk di bangku yang di duduki Jerry tadi. "Nanti Dirga nyusul bawa makanan gue Bil, sekarang lo yang makan dulu ya."
"Put.."
"Iya?"
"Mmmm... Kelvin sama Mario--" ucapan Bilah terpotong oleh Putri. "Ih ngapain sih lo mikirin mereka yang gak peduli sama lo. Gak ada peduli pedulinya banget sama sahabat dih."
"Bilah cuman pengen tau gimana mereka sekarang. Baik-baik aja kan?" tanya Bilah memastikan.
Putri yang gemas pun menceritakan pada Bilah dengan jiwa kegosipan yang ingin keluar dari jiwa wanitanya. "Dih, asal lo tau Bil! Mereka kek blangsak gitu gak ada lo!"
"Maksudnya?"
"Mereka sekarang musuhan! Musuh terbengis di sekolah! Alasannya gara gara cewek Bil! Siapa lagi kalau bukan gara gara Selena!" ucap Putri menggebu-gebu.
"Musuhan? Kenapa bisa gitu? Mereka udah temenan sejak dulu."
"Apa yang gak mungkin Bil? Lo juga temenan sejak dulu sama mereka juga jadi gini gara gara Selena doang. Bener-bener ya cewek itu ngebuat hancur semuanya secara perlahan! Gue gak nyangka Bil, si Mario sama Kelvin otaknya aja encer, akalnya ilang gara-gara cewek. Apa emang semua laki-laki kelemahannya wanita?" Putri mengatakannya dengan menggebu-gebu karena terlalu greget dengan Mario dan Kelvin.
Bilah yang mendengarnya sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Rasa sedih menghampiri hatinya kembali. Kenapa sekarang tak ada lagi satu puing yang tersisa? Persahabatan kecil mereka benar benar hancur berantakan seperti tak ada lagi harapan. Setidaknya sebelumnya Bilah bersyukur karena Mario dan Kelvin masih berteman meskipun tanpa dia. Tapi sekarang? "Apa mereka bener-bener musuhan? Maksudnya, kayak apa musuhannya?"
"Pernah tuh tonjok-tonjokan di lapangan. Bahkan sekarang kalau ketemu dijalan kayak orang gak kenal. Bener-bener musuh deh! Beda banget kayak dulu."
Bilah menghembuskan nafas berat. "Bilah jadi kepikiran. Bilah sayang banget sama mereka. Bilah gak mau mereka kayak gini."
Bilah menggenggam tangan Putri. "Put, bisa bawa mereka berdua kesini? Bilah pengen ketemu mereka. Sebelum semuanya terlambat."
"Bil! Yang lo pikirin sekarang kesembuhan lo! Bukan mereka! Lo boleh baik Bil, tapi setidaknya buat diri lo merasa baik juga Bil! Kesehatan lo sekarang yang penting!" ujar Putri dengan nada sedikit keras.
Bilah meneteskan air matanya. "Mereka juga penting Put."
Putri memijit pelipisnya pusing. "Gue usahain. Gue gak bakal berusaha keras kalau mereka gak mau. Mereka yang butuh lo buat sifat childish nya bukan lo yang harusnya memohon sama mereka Bil!"
Bilah mengangguk. "Makasih Put. Baik deh!"
...***...
"Apa secepat itu menghilangkan memori masa kecil kalian?" ujar Dirga yang tiba-tiba datang duduk disebelah Kelvin saat di ujung taman belajar sekolah.
Kelvin yang tersentak kaget menoleh kearah Dirga. "Apa maksud lo?"
"Gue yakin lo tau apa yang gue maksud. Lo gak sebodoh itu," ujar Dirga sambil meminum minuman kaleng ditangannya.
Kelvin memandang Dirga penuh keanehan. "Aneh lo! Gak usah ikut campur masalah gue!" ujar Kelvin dan lekas berdiri meninggalkan Dirga.
"Kasih gue waktu buat ngomong sebelum lo menyesal bro!" ucap Dirga. Kelvin terdiam dan duduk kembali menatap Dirga penuh benci. "Apa mau lo?!"
"Jangan sok lo! Lo pikir gue anak kecil yang harus lo nasehati?! Gue tau mana yang baik dan gak buat gue!"
Dirga tertawa dan tersenyum miris. "Kadang kita bisa berfikir mengatur dan menyeleseikan permasalahan orang lain. Tapi nyatanya kita sering buta nyelesein masalah sendiri."
Dirga menepuk pundak Kelvin. "Bro, gue gak mau cari musuh. Dia sahabat lo. Lo inget berapa tahun kalian bareng. Gak mungkin hancur hanya dengan satu masalah kan? Sayang banget. Kalau emang lo gak mau deket lagi sama Bilah, jauhi dia baik-baik jangan buat dia menderita. Lo gak kasihan dengan semua masalah yang udah dia punya ditambah lagi masalah dari lo?"
Kelvin menatap bengis Dirga. "Kenapa lo jadi sok bijak? Gue sama sekai gak peduli! Itu konsekuensi dari apa yang dia lakukan! Dia berhak dapat lebih dari itu."
Dirga menggelengkan kepala mendengat ucapan Dirga. "Wow gue terkejut! Lo sebrengsek itu ternyata. Gimana kalau Bilah gak salah? Terus kalau lo nyesel dan gak sempet minta maaf? Lo akan menderita seumur hidup lo! Dia sahabat lo! Dia udah kayak adek buat lo, gak seharusnya lo kayak gitu, dia gak punya siapa-siapa. Lo yang dulu jadi pegangannya tapi sekarang lo jadi pembunuhnya."
"Dia biasa ngehadapin kesendiriannya. Dia bisa mandiri tanpa gue. Gue sama sekali gak peduli, Selena lebih menderita dari apa yang dia alami!"
"Lo yakin? Lo percaya sama ular itu? Lo gak nyesel? Apa yang buat lo percaya sama dia sampai sahabat lo sendiri lo buat menderita! Ini gak adil buat Bilah, Vin!"
Kelvin berdiri dari tempat duduknya dan menatap Dirga kesal. "Bacot lo! Jangan ngomong sama gue seakan gue adalah orang terdekat Bilah. Semua udah berubah! Gue, Mario, Bilah! Semuaa hancur! Jangan kait-kaitkan kita lagi. Sekarang gak ada saling peduli diantara kita. Urus hidup lo sendiri! Jangan ganggu gue!"
"Terserah. Yang penting gue udah kasih peringatan buat lo."
...***...
...K...
ondisi Bilah selalu naik turun tergantung bagaimana nasib yang mengujinya. Kondisi yang tanpa disangka selalu datang padanya. Pagi tadi ia terlihat membaik, namun tanpa disangka malam ini kondisinya kembali memburuk.
Air mata selalu keluar dari ujung matanya. "Hiks.. hiks... Sa---kit," ujar Bilah pada sang dokter dengan wajahnya yang begitu pucat seperti tak ada darah yang mengalir di wajahnya. Lihat saja bibirnya yang putih membiru dengan paduan kantung mata yang begitu hitam. Kepala botaknya dan alat yang membantu dirinya untuk tetap bertahan membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa kasihan.
Setelah melayani Bilah, dokter tersebut tersenyum memberi semangat pada Bilah. "Sekarang kamu istirahat ya. Jangan banyak pikiran, kamu masih muda." Mendengarnya Bilah hanyak mengangguk dengan matanya yang terpejam menahan sakit ditubuhnya. Rasanya ia benar-benar ingin menyerah. Menyerah dengan keadaan hidupnya. Jika ini begitu lama, ia begitu tak sanggup menghadapinya.
Disisi lain Mario yang berada ditarikan mommy merontah. "Mommy kenapa sih?! Aku capek. Jangan paksa aku buat ketemu dia sekarang Mom."
Mommy terus menarik Mario keluar dari parkiran. "Setidaknya bicaralah sedikit dengan Bilah. Beri dia semangat." Mommy menatap Mario memohon dan sedikit berkaca-kaca membuat Mario bingung. "Mommy mohon."
Mario berdecih dan mengusap wajahnya kasar. "Bilah cuman kecapekann Mom! Mommy gak perlu sekhawatir itu!"
Tanpa basa-basi Mommy menarik Mario meskipun ditengah jalan Mario terus mengomel pada Mommy nya. "Mommy apa apaan sih!" Ketika hendak masuk ruangan Bilah, Mommy berhenti sebentar dan menatap Mario. "Jangan banyak bicara."
"Tapi mom--" Mommy menarik Mario kedalam sebelum Mario semakin mengomel. Tiba-tiba saja ucapannya berhenti melihat keadaan Bilah begitu memprihatinkan diatas ranjang. Sungguh, Mario tak pernah melihat sisi lemah Bilah yang seperti ini. Ia tak sekalipun melihat Bilah yang seperti diujung kematian. Ada apa dengannya? Pikir Mario.
Suasana menjadi hening satu ruangan. Mario terbeku dan menatap ranjang dan wajah Bilah terus menerus. Apa itu benar-benar Bilah? Sahabat kecilnya? Yang dulu sering mengisi harinya? Apa itu benar-benar dia? Kenapa berubah sekali. Wajahnya tak sebewarna dulu. Keceriaannya tak nampak, yang tersisa hanya sendu mencuat.
"Bi---Bii--Bilah.." merasa namanya terpanggil, Bilah membuka kelopak matanya yang begitu berat untuk sekedar membuka. Matanya sedikit membelak melihat Mario ada didepannya.
Melihat Bilah yang seperti itu membuat hati Mario sakit. Sahabatnya seperti itu, keadaanya bahkan jauh dari kata orang sehat. Apa yang selama ini ia lakukan adalah kesalahan? Bukankah memang itu salah Bilah juga? Tak salah bukan jika Mario bersikap seperti itu pada Bilah? pikiran Mario terus berputar dan berperang antara hati dan logikanya.
Bilah menatap Mario lekat dengan tatapan yang sayu. Tiba-tiba saja air mata Bilah tumpah. Mengalir begitu deras, tubuhnya yang lemas rasanya ingin sekali memeluk Mario. Sudah lama ia tak melihat sahabat tercintanya, ia sangat merindukan Mario. Sangatt rindu hingga hanya angan dan air matanya yang mewakili. Untuk sekedar menyapanya saja Bilah tak sanggup. Bilah terus meneteskan air matanya dan mengangkat bibir biru pucatnya pada Mario dan tersenyum. "Mmmmm---Maaa--riiiii--ooo." Bilah berusaha mengejakan pengucapannya meskipun hanya sekedar mengucap namanya saja.
Mario hanya terdiam dan membeku menatap Bilah seperti itu. Mommy yang melihat Mario seperti itu menyenggol lenggannya untuk membuyarkan lamunannya. "Mommy mohon hibur dia," bisik Mommy dengan mata yang berkaca-kaca.
Mommy menghampiri Bilah dan mengelus kepala botaknya. "Apa sakit? Kamu lapar? Mommy panggil suster ya?" ujar Mommy yang membuat Bilah menggelengkan kepalanya tak berdaya.
Mario terus diam dan perperang dengan batinnya. Apa ini alasan Mommy nya jarang dirumah? Tiba-tiba saja Mommy menarik tangan Mario tiba-tiba mendekat ke arah Bilah. "Bilah senangkan sayang? Mommy bawa Mario kesini," ucap Mommy dengan senyum prihatin pada Bilah. Bilah memberikan senyuman pada Mommy sambil menganggguk sebagai jawaban.
Mommy terus menyenggol kaki Mario tapi Mario tak berkutik sama sekali. Hatinya begitu kacau dan benar-benar kacau.
"Mom, aku mau pulang sekarang." Ucapan Mario mengejutkan mommy membuat mommy melebarkan matanya pada Mario dan memandang kesal anaknya itu. Mendengar ucapan Mario senyuman Bilah pudar seketika. Hatinya sangat sakit melihat sahabatnya yang tidak seperti dulu.
Mario melangkahkan kakinya keluar dari sana. Tapi sebuah tangan menarik kaosnya dengan tarikan yang lemah membuat Mario ingin meneteskan air matanya. Tangan itu berusaha dengan keras menarik kaosnya. "Jaa-jaa--ngan--- pee--perr--gii." Mendengarnya membuat hati Mario begitu terenyuh dan tak berani menoleh kearah Bilah. Ia takut pertahanannya runtuh untuk menjauhinya. Ego nya masih begitu besar.
Hening seketika. Tak lama suara isakan terdengar diruang yang hening itu, membuat Mario ingin melepas telinganya sekarang juga. Tangisan yang terdengar lirih dan begituu menyedihkan. Tangisan yang paling sedih yang pernah Mario dengar. Mendengarnya saja ia tak sanggup apalagi menatap empuhnya dengan kondisi yang tak memungkinkan. "Maa---maa--maaf hiks...hikss..."
Melihatnya Mommy meneteskan air matanya juga. "Jangan nangis sayang. Mommy gak mau kesehatan kamu menurun." Mommy menatap punggung Mario dan memanggilnya penuh harap. "Mario."
"Hiks... Hiks.. maa-- maaf-- Bi---Bii--" Mommy menggenggam tangan Bilah yang berusaha keras untuk berbicara. "Kamu jangan bicara sayang. Tenaga kamu belum pulih."
Bilah tak menghiraukan mommy dan terus berusaha menarik Mario dengan tenaga yang tersisa dan terus berusaha mengucap kata maaf yang tidak sepantasnya keluar dari mulutnya. "maa...maa-- Bii-bii--lah maa- maa--" tiba tiba saja mulutnya tak sanggup lagi mengucap sesuatu. EKG disampingnya berbunyi dengan sangat cepatt dann matanya perlahann semakin memejam dan semakin memejam.