Disappeared

Disappeared
22



Happy Reading!


Bilah mencoba untuk merelakan semua. Pada akhirnya keikhlasan lah yang membantunya. Tapi tetap saja, rasa sakitnya membuat Bilah sesekali meneteskan air mata-nya. Jika tidak apa yang harus dilakukan? Semua kenangan bersama Dirga seolah berputar dikepala Bilah, namun seakan sirna saat mengetahui semua itu hanya sebuah sandiwara. Sungguh jika begini lebih baik Bilah memilih untuk tidak memiliki hubungan dengan Dirga, apalagi semua ini berhubungan dengan Putri. Siapa yang menyangka? Putri adalah sahabat perempuan terbaik Bilah selama ini.


"Manaaa dimanaaaa anakkk kambing saya!"


"Anakk cucu saya ada di kampung baru!"


"Cacamaricaaaaa hehe! Cacamarica-"


Bilah membuka pintu kamarnya begitu mendengar kegaduhan yang sangat Bilah tau siapa orangnya.


Saat membuka pintu, Bilah dikejutkan dengan dua badut yang begitu besar. Satu berbadan panda, satu berbadan jerapah.


"Surprizee!!" Dua badut itu menyodongkan hadiah pada Bilah. Sungguh Bilah sangat beruntung memiliki mereka berdua. Seakan hanya mereka lah yang membuat Bilah bisa tertawa renyah. Semua kebahagiaan Bilah juga gara-gara mereka. Jika tidak ada mereka Bilah tak tau akan bagaimana.


"Kita ke atap ayo Bil! Lo harus liat sesuatu!" kedua badut itu menarik Bilah ke atap tempat apartment Bilah berada. Tanpa disangka, Bilah melihat berbagai kue disana. Apa mereka menyiapkan semua? Bilah sangat terharu melihatnya.


"Buka kado-nya dong. Bukaa kadonya, buka kadonya sekarang juga, sekarang jugaaa! Sekarang juga!" Kelvin dan Mario masih bernyanyi sedangkan Bilah membuka kado yang mereka berikan. Saat Bilah buka--


Miniatur jerapah dan Panda? Bilah ingin menangis sekarang. Bilah memang tak suka keduanya memanggil Bilah dengan sebutan jerapah dan panda. Tapi entah mengapa, Bilah bahagia dengan miniatur ini.


"Biar lo bisa inget kita Bil," ujar Kelvin  tersenyum dibalik kostum badutnya.


"Bil, lo pernah bilang sama kita kan. Didunia ini manusia sebenarnya gak ada yang jahat. Lo ubah pikiran itu Bil, ini semua demi lo biar gak keulang kayak gini," ujar Mario.


Bilah tersenyum dan menggeleng sambil berkata, "enggak. Biarin Bilah ya berpikir kayak gitu. Itu salah satu cara Bilah biar Bilah gak punya kebencian sama orang. Pada dasarnya jika orang itu bikin Bilah sakit, mungkin dari awal Bilah yang punya salah. Mereka gak akan jahat kalau Bilah gak punya salah kan?"


"Terlalu baik juga gak baik Bil."


"Bilah gak baik. Bilah cuman mencoba membuat orang disekitar Bilah senang dan gak terbebani sama Bilah. Bilah gak mau mereka pergi."


Bilah tak tau mana yang Kelvin dan Mario. Ia menarik kedua badut untuk didekatkan, setelah itu Bilah memeluk keduanya yang begitu empuk. "Bilahh sayangg kalian berdua," gumam Bilah lirih. Bilah menangis kembali. Tapi kali imi adalah menangis kebahagiaan.


"Kalau gitu, jangan pernah takut sama manusia. Kalau mereka jahat, bilang ke kita," gumam Kelvin dan Bilah mengangguk bahagia.


"Janji kalian harus terus jadi sahabat Bilah ya?" Mereka mengangguk setuju.


"Kalau kalian yang jahat, Bilah harus apain kalian?"


"Tampar, Peluk, minta kita buat kembali sadar." Bilah tersenyum senang dan memeluk mereka.


Saat Bilah memeluk mereka berdua, kakinya terasa begitu lemas, entah kenapa Bilah tak punya tenaga. Kelvin dan Mario merasakan pelukan Bilah yang merosotpun membuka kostum dikepala-nya. Lalu melihat Bilah yang memegang tangan Mario dan Kelvin, Bilah mencoba untuk berdiri.


"Bil lo kenapa?"


"Bilah kecapekan mungkin, daritadi belum makan," ujar Bilah tersenyum dengan wajah pucat pasihnya.


"Bil..." wajah Kelvin dan Mario begitu khawatir melihat Bilah yang begini.


"Hidung lo ada darah," gumam Kelvin mengusap darahnya di kostum badut itu.


Bilah menggeleng pelan dan berkata,"Bilah gapapa kok."


Mario memberi punggungnya pada Bilah untuk digendong. Bilah menyandarkan kepalanya pada pundak Mario dengan lemas. Disebelah Bilah ada Kelvin yang terus menatapnya dengan khawatir. Bilah tersenyum pada Kelvin di pundak Mario, Bilah mengangguk tanda agar Kelvin tak usah terlalu khawatir.


"Lo yakin gapapa?"


Bilah mengangguk dan tersenyum dengan wajah pucatnya. "kan kalau kecapekan selalu gini. Kalian gausah khawatir gitu. Anterin Bilah ke kamar gapapa kan?"


Saat sampai kamar, Mario menaruh Bilah di kasurnya. "Kalian pulang aja ya, Bilah gak mau kalian dimarahin."


"Orangtua kita pasti ngerti lah Bil, mereka bakal marah kalo kita ninggalin lo kayak gini." Kelvin memijat tangan Bilah, sementara Mario memijat kepala Bilah.


"Bilah kangen mama," gumam Bilah lalu tertidur setelah mengucap itu.


Mario mengusap rambut Bilah halus sampai menunggu Bilah benar-benar tertidur. "Jangan sakit ya Bil, gue khawatir."


...Seperti halnya aku benci mereka memanggilku Jerapah dan Panda, seperti itu juga aku benci ketika aku merindukan mereka memanggilku Jerapah dan Panda. Jadi, panggil atau jangan?...


...-RanayahSabilah-...


...***...


Bilah datang pagi sekali ke sekolah, tujuan-nya hanya satu. Menemui Putri dan bicara padanya. Bilah tak mau kehilangan Putri sebagai sahabatnya. Putri memang suka berangkat pagi, dan Bilah hafal itu.


Saat melihat kelas keadaan begitu sepi. Tapi tas Putri sudah berada dibangku itu. Bilah mencari Putri seantero sekolah. Dan ternyata Putri duduk dikursi taman belakang sekolah. "Put..." Bilah memberanikan diri.


Bilah semakik dekat dengan Putri, lalu ikut duduk disebelah Putri. "Ya--yang kemarin Putri bilang itu gak benar kan? Putri masih anggep Bilah sahabat kan?"


"Jangan pernah deketin gue," ucap Putri menjauhi Bilah. Bilah yang tidak kehilangan akal pun menarik tangan Putri. "Kenapa put?"


"Bilang sama Bilah, apa salah Bilah. Jangan jauhin Bilah ya?" ujar Bilah yang masih menggenggam tangan Putri.


"Bil--Bilah gak masalah kalau Putri sama Dirga. Tapi jangan jauhin Bilah ya Put," ujar Bilah dengan mata berkaca memohon pada Putri. "Bilah janji gak akan ganggu hubungan kalian."


"Bilah cuman gak mau kehilangan sabahat terbaim Bilah," ujar Bilah berkaca-kaca sambil menggenggam erat tangan Putri.


Putri tertawa renyah, "lepasin gue! Gue gak butuh orang sok baik kayak lo!"


"Asal lo tau Bil, gue benci sama lo karenaa dulu gue suka Kelvin. Dan Kelvin ngejauhin gue, dia gak mau sama gue karenaa lo!"


"Hanya karena lo! Kelvin ngehindar demi buat lo gak kesepian! Dan sekarang---" Putri tersenyum sinis dan memandang Bilah jijik, "gue rebut Dirga dari lo. Tapi lo gak perlu khawatir. Gue sekarang emang sukak sama Dirga."


"Dan sampai detik gue benci sama lo!" Putri melepas genggaman Bilah dan sedikit mendorong-nya lalu pergi. Tentu saja Bilah tak patah semangat. Lagi lagi ia menghadang Putri dan menggenggamnya lagi.


"Putri tunggu!"


Kedua lutut Bilah terduduk menyentuh tanah seolah bersujud pada Putri, "Maafin Bilah ya Put. Bilah gak tau. Bilah mohonn maafin Bilah." ucap Bilah yang masih terduduk dan matanya menatap kebawah.


"Meskipun lo duduk bahkan sujud gue gak akan mau Bil!"


Putri terkekeh lalu menatap kebawah meski hanya rambut Bilah yang terlihat. "Lo inget BuddyBear yang hancurin nama lo itu? Asal lo tau! Itu gue! Gue terlanjur benci sama lo!"


Bilah terdiam. Yang sebenarnya adalah Bilah sudah mengetahui sejak awal jika itu Putri. Ia sempat melihat HP Putri yang mempunyai 2 aplikasi yang sama. Tapi Bilah diam, mungkin Putri hanya melakukan sesuatu yang baik untuk Bilah. "Bil--Bilah gapapa kalau buddybear itu Putri. Maafin Bilah ya? Bilah pingin kita kayak dulu Put."


...***...


Hari ini begitu melelahkan. Bilah merasa selalu menjadi bahan pembicaraan teman-temannya. Seakan semua orang membahas kejadian di pesta itu. Semua begitu menyedihkan. Bilah menganggap itu cobaan, cobaan yang harus dianggap kecil agar tak menjadi beban pikiran. Bilah juga tak ingin dikasihani seperti itu. 


Sekarang adalah saat-nya pulang sekolah yang ditunggu-tunggu. Bilah pulang bersama Kelvin. Mario tak bisa ikut dengan mereka karena sibuk dengan kegiatan basketnya. "Ayo Bil pulang. Lo mau jalan-jalan atau langsung apartment?"


"Terserah. Boleh apa aja!"


"Gimana hari lo?"


"Emm, kayak biasa."


Bilah menaiki motor Kelvin dan mereka berangkat berdua menuju apartment Bilah. "Sekarang jadwalnya lo belajar kan Bil!" ujar Kelvin sedikit menaikan suaranya agar Bilah dengar. Karena ini jalan.


Bilah memangunkan bibirnya gemas. "Emm, iya. Tapi Bilah males belajar tau."


Andai saja ini bukan dijalan, Kelvin pasti sudah mencubit pipi Bilah.  "Buang males lo dong!"


"Terserah, kan ada kalian yang mau bantu Bilah," ujar Bilah sumringah.


Saat ditengah perjalanan. Kelvin melihat seseorang yang berjalan dengan langkah yang pincang. Kelvin bergumam pada Bilah, "Bil itu Selena bukan sih?"


"Mana?" tanya Bilah sambil menolehkan kepalanya kekanan kekiri.


"Oh iya itu Selena!" ujar Bilah.


Kelvin menepi dan berhenti tepat didepan Selena. Bilah dan Kelvin turun dari motornya dan menyapa Selena. "Kakinya kenapa Sel?" tanya Bilah.


"Tadi habis jatuh. Nunggu supir jemput lama banget tadi."


"Terus lo jalan kaki gitu? Ya jangan dong Sel! Kalo kaki lo makin luka gimana?" tanya Kelvin khawatir dan Bilah mengangguk setuju.


"Ya gimana lagi.."


Kelvin menggaruk kepalanya bingung. "Duh gimana ya? Masa iya kita boncengan tiga sih. Galucu banget."


"Bil...." gumam Kelvin ragu. "Iya?" tanya Bilah yang sedikit bingung. "Emmm... Elo--" ucapan Kelvin menggantung. Tentu saja Bilah langsung mengerti maksud Kelvin, "Oh iya! Selena bareng Kelvin aja ya. Bilah udah ada janji kok."


"Ta--tapi Bil. Lo gimana?" tanya Selena yang terlihat begitu mencemaskan Bilah. Bilah tersenyum dan menggeleng. "Kayaknya Bilah dijemput. Udah gih kalian berangkat aja. Keburu makin sakit kakinya Selena."


Dijemput? Sama siapa? Mama papa? Ngimpi.


Kelvin sedikit berfikir, siapa yang akan menjemput Bilah? Teman dekat Bilah hanya mereka berdua. Keluarganya lebih tak mungkin jika menjemput Bilah. Kelvin tak amvil pusing untuk memikirkan itu,"Yaudah ayo Sel."


"Bil lo bener gapapa kan?" tanya Kelvin yang sudah menaiki motornya bersama Selena. "Gapapa nyantai aja."


Bilah berjalan, dan keluar dari jalan sini menuju jalan yang dilewati angkutan umum. Saat dia menunggu, ia melihat mama-nya dan Rania yang menepi dengan mobilnya. Mungkin saja membeli minuman. Bilah menghampiri mereka. "Mama!" ujar Bilah senang dan salim pada tangan Arini. "Mama sama Rania apa kabar?" tanya Bilah.


"Baik kok, kamu sendiri?" ujar Arini dan Rania hanya diam tak merespon.


Bilah menunjukan deretan gigi putihnya yang rapi dengan bersemangat. "Bilah juga baik ma."


Rania menghembuskan nafas kasar. "Ayo ma! Anterin aku les, keburu telat ini! Disana aja beli minumnya," ujar Rania menarik Arini. "Iya sayang sabar dong. Bilah, mama pergi ya." Bilah mengangguk dan melambaikan tangannya, "hati-hati ma."


Perkataan Arini justru membuat Bilah sakit hati. Seakan perkataan itu bukanlah interaksi untuk seorang ibu dan anak.


...***...


Bilah sedikit merebahkan badannya yang begitu pegal tadi. Tapi kecapekaannya tak membuatnya berhenti semangat, ia harus berkutik didapur atau Bilah tidak akan makan. Bilah berinisiatif untuk menelpon Mario, mungkin saja urusan basket-nya udah selesei.


"Halo Mario."


"Hai Bil! Lagi apa?"


"Em, habis buat makanan. Mario sama Kelvin mau? Bilah nunggu kalian aja kalau kalian mau kesini."


"Eng.. enggak Bil, kayaknya kita gak kesitu deh."


"Oh oke gapapa. Kenapa? Cieee ketua emang sibuk ya."


"Sekarang gue lagi sama Kelvin."


"Oh ya? Bukannya tadi--"


"Gue jengukin Selena sekarang."


"Oh gitu ya.."


"Gue sama Mario temenin Selena bentar ya Bil. Gapapa kan?"


"Gapapa lah, ngapain gak boleh. Yaudah, kalau gitu sampai jumpa!" Bilah langsung mematikan telfonnya, tentu saja dengan alasan agar sahabatnya tak mendengar nada kecewa darinya.


"Asal kalian masih jadi sahabat Bilah, Bilah rasa gapapa. Bilah gak boleh berlebihan kayak gini." Bilah mencoba meyakinkan diri.


Ting..tung...


Suara bel berbunyi menandakan ada tamu diluar. Apa itu Mario dan Kelvin? Mungkin saja mereka mengerjai Bilah. Bisa saja. Mereka berdua selalu tak terduga.


Bilah menutup makanan dimeja setelah itu bergegas untuk membuka pintu. Saat dibuka, Bilah begitu terkejut dengan kehadirannya.


"Halo Bilah, apa kabar?"


Bilah diam seakan tak bisa berkata dengan bibir sedikit terangkat.


Orang ini, orang yang membuat Bilah rindu telah lama tidak bertemu. "Tante Aima?"


TBC


Semoga kalian suka ya.


Oh ya aku mau tanya, tokoh favorite kalian disini siapa? Dan kenapa?