Disappeared

Disappeared
chapter 17



Happy Reading!


...Karena cinta membuatku sedikit percaya. Sebuah angan-angan tak nyata tetap terasa indah bagi orang yang perindu. Tapi kenyataan akan pahit tertelan oleh orang yang berharap dibalas rindu....


...-Ranaya Sabilah-...


Pagi ini tak ada bedanya dengan pagi-pagi lain Bilah. Bilah yang bangun mencuci muka, menggosok gigi, mandi, melakukan aktivitas segalanya dan tak lupa untuk membersihkan miniatur koleksinya. Ya, mengenai miniatur tinkerbell itu, sebenarnya Bilah memang menyukainya, hanya saja itu alibi agar kedua sahabatnya tak pernah melupakannya dengan cara mencari cara mendapatkannya dengan mengingat Bilah. Karena sebenarnya miniatur tinkerbell dari sikat gigi memang sangat sulit dicari.


Hari ini Dirga mengajak Bilah pergi jalan-jalan. Bilah menggunakan pakaian seadanya, asal ambil asal sopan asal tidak membuatnya risih.


"Sudah siap?" tanya Dirga dan Bilah mengangguk.


"Dirga, memang kita mau kemana?" tanya Bilah yang sudah duduk di kursi mobil sebelah Dirga.


"Kita jalan-jalan. Ke kebun binatang, kan kemarin kamu yang minta, Bilah," ujar Dirga tersenyum kearah Bilah.


Bilah tersenyum bersemangat, "Dirga serius? Kita jadi jalan-jalan? Yes! Akhirnya!"


Dirga ikut tersenyum melihat Bilah tersenyum. Sebenarnya, ia hanya teringat almarhumah adiknya yang memintanya jalan-jalan mencari orang utan, tapi saat itu Dirga menolak ingin menggantinya dengan lain hari. Tapi takdir berkata lain, adiknya sudah pergi meninggalkannya. Risa dan Bilah. Semua itu terasa dekat dengan Dirga entah kenapa.


"Dirga tau gak? Tadi Bilah terlanjur tegang waktu Dirga jemput Bilah. Bilah takut tau," ujar Bilah sambil memainkan plastisin yang ada di mobil Dirga. Entah untuk apa Dirga menyimpannya.


Dirga menyerngit bingung, "takut apa? Kamu takut aku ajak pergi?"


Bilah menggeleng dan berucap, "Bukan gitu Dirga! Bilah nyangkanya, Dirga mau bawa Bilah ke tempat les buat belajar karena Bilah ketiduran waktu itu. Bilah kira hari ini hari hukuman." Bilah menoleh ke Dirga dengan tersenyum lebar. "ternyata enggak, Dirga malah ajak Bilah ke kebun binatang! Yeay!"


"Tapi aku gak ngajak mama ya Bil, kan ini kita kencan. Mama juga lagi capek."


Bilah berdecih sebal. "Pasti emang Dirga yang gak gak ngajak kan? Hayo ngaku!"


"Ya---ya bukannya gitu. Kita mau kencan Bilah sayang, kalau bawa mama mending kita berkebun aja sekeluarga!"


"Ih sewot pelit!"


"Yaudah kapan-kapan kita ajak mama okeh?"


Bilah hanya mengangguk mengiyakan sambil mengambil slime di mobil Dirga, "Dirga, kenapa banyak mainan disini? Dirga suka koleksi ini?"


Dirga menggeleng dan mengelus rambut Bilah gemas, "pengen tau kenapa?"


"Apa?"


"Karena sekarang aku punya pacar yang sukaanya gak ada bedanya sama anak kecil," ujar Dirga sambil menoel hidung Bilah, "biar kamu gak bosen juga."


Dirga juga bingung, jika dipikir-pikir membuat Bilah senang itu bukan dengan cara perlakuan pria pada perempuan biasanya, melainkan seperti mengajak atau merawat anak kecil. Sangat mudah dan aneh. Jika seperti ini, Dirga tak bisa membedakkan, ia punya pacar atau punya anak.


Pipi Bilah memanas dan bilah menangkup kedua pipinya, "Dirga jangan bilang gitu lagi ya?"


"Bilang apa?"


"Bilang sesuatu yang buat pipi Bilah panas kayak gini," ujar Bilah sambil menunjuk pipinya sendiri.


Dirga tertawa dan gemas kepada Bilah. Entahlah, ini bukan rencananya. Hanya saja Dirga memang senang membuat Bilah seperti itu. Karena Risa. Risa dan Bilah terasa dekat baginya.


"Kita udah sampai."


...***...


"Dirga ayoo ajak Bilah foto sama gajah ya?" pinta Bilah sambil memakan es krim ditangan-nya.


Dirga menghembuskan nafas dan menoleh pada Bilah. "Bil, tadi kamu udah foto sama 6 hewan sekaligus."


"Terus kenapa?"


"Ya terus kalo kamu foto sama hewan terus, sama aku-nya kapan Ranayah Sabilah," ujar Dirga mencubit pipi Bilah. Dirga sangat kesal, daritadi Bilah begitu antusias jika berfoti bersama hewan. Pertemuan Bilah dengan hewan sudah seperti pertemuan anak yang tidak bertemu ibunya. Sangat heboh.


Bilah hanya menggaruk telinganya dan menyengir ke Dirga. "Hehehe, Bilah lupa. Yaudah sekarang kita foto ya."


Bilah menatap kanan dan kiri. "Apa kita minta orangutan buat motoin kita aja ya? Yang paling mirip sama tangan kita cuman orangutan sih," ujar Bilah dengan lugunya membuat siapa saja ingin menamparnya. Eh tidak, tentu saja takkan tega.


"Hahaha! Kenapa gak minta tolong sama yang lain aja Bil? Atau sama petugasnya?" ujar Dirga terkekeh pada pemikiran Bilah. Selau aneh.


"Yang lain sibuk liburan, petugasnya lagi sibuk juga, kasihan tau. Terus kita minta tolong siapa?" tanya Bilah.


Dirga menghembuskan nafas halus dan memanggil orang asal. "Mbak bisa minta tolong fotoin kita berdua?"


"Boleh boleh mas," ujar perempuan yang membawa anaknya itu.


"Tuhkan gapapa."


"1, 2, 3"


Ckrikk...


10 foto sudah mereka ambil dengan gaya yang begitu aneh menurutnya. Ada foto wajah Bilah yang menirukan gaya orangutan. Ada foto Bilah dan Dirga yang menirukan gaya singa, semua itu perintah Bilah. Dirga yang geram-pun menggendong Bilah belakang dan mereka saling pandang agar salah satu fotonya ada yang romantis. Jika menuruti Bilah, bisa-bisa semua fotonya bergenre komedi.


"Dek, ini buat adek ya snacknya. Maaf ya ganggu liburannya dek, mbak," ujar Bilah memberi snack kepada anak dari ibu itu.


"Bilang apa sayang? Makasihh kakak," ujar ibu itu mengajarkan anaknya mengucap terimakasih.


"Permisi ya nak."


"Iya bu."


Dirga dan Bilah terdiam disalah satu tempat makan. Rasanya begitu lelah bercampur bahagia berjalan dengan seseorang yang ia suka menurut Bilah.


"Gimana seneng enggak?" tanya Dirga sambil memotong steak yang ia pesan.


Bilah sumringah dan berkata dengan penuh semangat, "Seeennnneeeenggg baaaangeettttt!"


"Dirga tau gak? Bilah pernah mimpi kayak gini," ucap Bilah.


"Mimpi kayak apa?"


"Mimpi jalan berdua sama Dirga, tapi waktu itu Bilah belum pacaran sama Dirga," ujar Bilah menyeruput teh angetnya.


"Oh ya?"


Bilah mengangguk mengiyakan sambil mengelapi keringat Dirga. Pasti dia lelah, pikir Bilah. "Iya, waktu itu Bilah terbangun dan tidur lagi. Biar mimpinya gak putus. Meski cuman mimpi waktu itu Bilah seneng banget tau!"


Dirga hanya tertawa dan membersihkan mulut Bilah yang terkena es krim. "Segitunya?"


"Iya, Bilah kan suka sama Dirga."


"Tapi sekarang mimpi kamu berubah kenyataan kan? Kalo suatu saat aku nyakitin kamu gimana? Atau aku menghilang mungkin? Kan dunia ini semua hanya sementara," ujar Dirga.


Bilah menghembuskan nafas kasar, "kalau takdir memang begitu yaudah."


"Kamu gapapa emang?"


"Kenapa-kenapa lah. Gatau ah, Bilah seneng yang sekarang. Bilah gamau bayangin sesuatu yang belum terjadi. Nikmati aja hari ini. Let it flow aja."


Dirga mengangguk dan menggenggam tangan Bilah. "Aku janji berusaha jadi apa yang kamu mau."


"Enggak. Dirga cukup jadi Dirga yang sekarang aja..."


"Dirga yang baik, pengertian, sayang orang tua, peduli sama orang."


"Kalo aku egois gimana?"


"Bilah bakal ingetin Dirga."


"Bil, wajahnya kok pucet? Kamu sakit?" tanya Dirga khawatir pada Bilah. Bilah hanya menggeleng. "Enggak, Bilah cuman capek sih makanya pusing sekarang."


"Yaudah, kita pulang sekarang ya?" tawar Dirga dan diangguki oleh Bilah.


...***...


...-RanayahSabilah-...


"Bil, nanti ikut yuk!" itu Mario. Mereka berdua -Bilah dan Mario- asik bercengkerama lewat telfon sedari tadi hingga membuat Bilah mengantuk.


"Kemana?"


"Ke atap. Biasa. Rumah Kelvin," ucap Mario.


Bilah bingung seketika, "yaelah yoyok! Biasanya juga kalo pengen juga kalian jemput Bilah langsung atau Bilah yang kerumah Kelvin kan?"


"Iyasih."


"Tumben banget sih telfon segala Maboy."


"Soalnya kali ini beda."


"Beda kenapa? Direnovasi rumah kelpin?"


"Bukan. Kita ajak Selena juga. Biar dia tau aja kebiasaan kita." Bagaimana bisa Bilah lupa, kini Selena juga sahabatnya.


"Oh gitu. Yaudah nanti Bilah kesana ya."


...***...


Bilah menyiapkan segala sesuatu untuk dibawah kerumah Kelvin. Makanan kesukaan Kelvin dan Mario. Bilah tak pernah tau apa yang pantas diberikan kepada mereka berdua. Semua materi yang mampu Bilah berikan, pasti mereka sudah punya. Ya ini salah satu bentuk sayang Bilah pada mereka. Ya, Bilah sangat menyayangi kedua sahabatnya itu.


Saat selesei memasukan semua makanan ke tas ransel Bilah langsung bergegas pergi. Sampai dirumah Kelvin, Bilah disambut dengan mami-nya Kelvin. "Eh Bilah anak cimut dateng," sapa Mami a.k.a ibunya Kelvin tentunya.


"Hehehe, malem mami tercintah terkasih sepanjang beta dengan gembira Bilah datang dengan sehat tanpa cacat dan sedikit noda," ujar Bilah sedikit alay sembari memeluk mami. Bilah memang sudah akrab dengan mami seperti yang kalian tau. Mereka seperti adik kakak yang baru dipertemukan jika bertemu.


Mami tersenyum dan menangkup pipi Bilah. "Kapan kamu nginep lagi huh? Heran, makin lama makin gede udah gak pernah tidur disini lagi. Dasar kamu ya. Hari ini harus nginep!"


"Ih yang bener mi?" ucap Bilah membuat mami bingung. "Apanya yang benar?"


"Bilah makin gede mi!? Bilah udah tinggi mi? Serius nih mi?! Yes! Bilah udah tinggi yeyeye!" ujar Bilah berjoget riya membuat mami bingung.


"Ya--yah terus apa yang penting Bil? Mami tanya kamu harus nginep kok malah tinggi badan sih yang difokusin? Kamu daridulu ya segini ga tinggi-tinggi!" ucap mami membuat Bilah cemberut menatap mami.


"Ih mami, perusak bahagia sesaat Bilah. Eh mi, mana 2 curut itu? Kok sepi sih, biasanya juga heboh sendiri. Anak siapa sih?!" ujar Bilah tanpa sadar jika didepannya ada ibu salah satu dari mereka yang melotot tajam kearah Bilah, "siapa yang kamu bilang curut? Berarti kamu bilang mami curut dong?!"


Bilah menepuk bibirnya kesal merutuki mulutnya yang blong rem, hal ini membuat mami makin suka menggoda Bilah. "Bu--bukan gitu mi! Maksud Bilah mereka yang curut, mami enggak kok. Masak cantik gini disamain kayak curut."


Mami hanya manggut-manggut tersenyum. "Berarti ayahnya dong curut!"


Bilah melengos tak percaya. Salah ngomong, pikirnya. "Au ah Mi! Bilah keatas ya nyamperin mereka! Bye mami!"


"Gak dicium ini mami Bil?" ujar nya membuat Bilah yang sudah berlari malah berhenti dan berbalik lari kembali.


Cup


"DADAH MAMI!" ujar Bilah keras membuat mami menggeleng-geleng tersenyum dengan tingkah Bilah. "Dasar anak itu," gumam mami.


Saat Bilah ke atap. Ia melihat tiga orang yang duduk santai sambil tertawa terbahak hingga tak peduli suara derap langkah semakin mendekat.


"Malammm semuaaa!" teriak Bilah membuat mereka menoleh kearah Bilah.


"Malamm juga Bilah!" sapa Selena.


"Akhirnya lo dateng juga! Lama banget elah Bil!" ujar Kelvin sambil memakan burger yang dibawakan Selena.


Bilah hanya senyum meringis dengan 2 jari terangakat. "Peace deh! Abang ojek-nya tadi mogok! Hehehe!"


Mario menepuk jidatnya lupa. "Ya ampun Bil! Maafin gue, gue lupa jemput lo! Tadi niatnya kesini cuman mampir eh Selena udah ada terus omong-omongan jadi gak nyadar. Hehehe," ujar Mario panjang lebar.


"Nyantai mah. Tadi Bilah juga baru bangun, kecapean juga," ucap Bilah. Bilah bohong. Sedari tadi Bilah menunggu Mario, tapi ia tak kunjung datang dan jadilah ia memesan ojek online. Ternyata Mario hanya lupa karena terlalu asik.


"Pantes, biasanya lo bawa sesuatu kalo kesini. Sekarang gak bawa?"


Bilah melihat banyak makanan yang tersedia seperti pizza, burger, kentang, dan junkfood lain yang tersedia dengan jumlah yang banyak. Mario yang menyadari itu berkata, "itu Selena yang bawa Bil. Banyak banget kan? Heran. Coba lo makan deh Bil, banyak banget tau. Gak habis ini kalo dimakan malam ini."


"Bilah ahlinya deh ngehabisin ginian," ujar Bilah. Melihat apa yang dibawa Selena, Bilah jadi ragu mengeluarkan makanan yang ia bawa. Jelas tak sebanding dengan yang dibawa Selena pikir Bilah.


"Lain kali, aku bawain makanan kesukaan kalian ya. Nanti aku belajar masak dulu, hehehe."


"Udah cantik, pinter, bisa masak. Jangan terlalu sempurna deh Sel," ujar Mario.


"Lo beneran gak bawa makanan kan Bil!?"


"E---enggak kok."


"Sukur deh, takut kebuang. Makanann yang Selena bawa banyak banget sih, enak-enak lagi kan sayang kalau makanan lo kebuang." Bilah tersenyum menanggapi mereka. Tentu saja Bilah tak mau membuat sahabatnya merasa bersalah dengannya.


"Kalian ngapain sih rame banget tadi?" tanya Bilah.


Selena menyerahkan minuman untuk Bilah sambil berkata, "tadi aku cerita tentang tragedi lucu waktu aku kecil Bil. Terus sama bahas itu tuh, Kelvin yang katanya pernah putus cinta."


Bilah mengangguk antusias. "Iya eh, Kelvin galau parah sih waktu itu."


"Oh iya, gue mau nanya. Kalian bertiga sering main kesini?" tanya Selena.


Mereka bertiga berpikir dahulu dan Mario yang menjawab, "gak juga sih, paling sering kita ke apartment Bilah." Selena manggut-mangut mengiyakan.


"Kita juga sering sih kesini kalo mau aja," tambah Kelvin.


"Damai sih disini, sepi, gelap tapi terang, sejuk, enaklah santai disini kalo malam," imbuh Bilah dengan memakan burger-nya.


"Damainya itu dari suara Bilah yang selalu ngomong gak jelas. Yang kadang ada maknanya, kadang gue gak ngerti dia ngomong apa, kadang juga gak damai juga," ujar Kelvin membuat Bilah bingung, "gak damai kenapa?!" cetus Bilah.


"Karena kalo kita tiduran disini lo sering baca dongeng. Dan nangis-nangis sendiri sama dongeng lo. Yakan?" ujar Mario menambahkan membuat Bilah berdecak sebal, "ck, jangan bocor dong!"


"Dia cerita cinderella yang sepatu kaca-nya lepas terus dia nangis nyangkut pautin waktu dia pake heels kesleo jatuh. Sakit katanya, kasihan sama cinderella," imbuh Kelvin.


"Inget deh Bil, lo juga sedih kan waktu tinkerbell makan apel beracun terus pingsan."


"ITU SNOW WHITE MARIO!"


Mereka tertawa menghabiskan waktu mereka. Selena merasa nyaman berada didekat mereka. Mereka humble.


Ya, 2 jam terakhir ini Mario dan Kelvin lagi ungkit topik dan bahas kenapa dia suka matematika. Begitupun Selena. Yang Bilah lihat, mereka memiliki kesamaan yang membuat mereka nyambung ketika mengobrol. Bahkan kini, mereka saling merayu ala anak matematika yang membuat Bilah kebingungan. Bukannya baper, Bilah malah semakin pusing. Bilah hanya diam sebagai penonton karena tidak tau apa yang dibicarakan.


Karena sudah larut malam, Selena pamit pulang begitupun juga Bilah. "Sel, gue anter ya," ucap Kelvin.


"Gausah vin, bisa sendiri kok."


"Gak enaklah, kan gue yang jemput lo. Kita udah kayak sahabat lagi, sayang gue ke sahabat itu kayak tangen 90 derajat. Kalkukator aja gak kuat ngitungnya. Hehehe," ucap Kelvin.


Mario yang menengahi langsung berkata, "Yaudah sih Vin, gue sama Selena searah kali. Biar gue aja yang nganter. Ibarat korelasi positif, cuman gue sama Selena kali hubungan yang sifatnya satu arah." ujar Mario tersenyum menggoda, lalu membenarkan kembali ucapannya itu, "eh maksud gue rumahnya yang searah."


"Apaan sih kalian berdua daritadi ngacoh ngomongnya," ucap Selena.


Bilah yang disana hanya cengo seperti mencerna perkataan mereka. Apasih yang mereka omongin,pikir Bilah.


"Bilah gak ngerti tau daritadi yang kalian omongin apa," ujar Bilah.


"Makannya belajar matematika!"


"Yaudah deh Bilah kebawah ya gengs. Vin, Bilah nginep sini ya disuruh mami. Bye!"


"Hehehe maaf ya Bil kelepasan, terlalu asik sih," ujar Kelvin dan Bilah hanya mengangguk dan langsung turun kebawah menemui mami jika ada.


Vote dan comment yaa!! Makasih semua! Semogaa suka!