
Happy Reading!
Mario datang ke kelas lebih dulu daripada Kelvin dan Bilah. Tak lama Kelvin datang dengan santai dan meletakan tas nya dibangkunya. Mario menatap Kelvin aneh, matanya mencari sosok lain. Mungkin saja akan sampai sebentar lagi. "Vin," panggil Mario.
Kelvin menatap Mario dan mengangkat alisnya untuk panggilan Mario. "Mana Bilah?" tanya Mario.
Pertanyaan Mario membuat Kelvin tertohok dan menegakkan duduknya, "Gue lupa kalo dia ada dirumah."
"Bego lo! Hari ini kita ada jam ke 0." cetus Mario sinis.
Kelvin menatap jengah Mario. "Gue jemput Selena tadi."
Tak lama suara kaki terdengar, guru yang terkenal galak seantero sekolah datang membawa buku ditangannya. Kelas mendadak hening. Suara sepatunya begitu legend. Jika tengah malam terdengar mungkin semua orang akan berpikir itu suara hantu kaki kuda.
Mario masih saja begitu khawatir. Ia membuang nafas jengah. Mana sih lo Bil.
"Buka bab 3, kalian buat analisis setelah itu presentasikan. Kerjakan sekarang juga. Yang maju pertama dapat poin plus 2," ujar guru itu sembari membuka laptop membuat murid begitu tegang dan mengerjakan tugasnya.
Suara kaki berlari mendekati kelas yang begitu hening. "Ma--maaf pak saya terlambat." Siapa lagi kalau bukan Bilah, datang dengan nafas yang tidak teratur dengan suara yang gemetar, bahkan dasi yang seharusnya menggantung rapi dileher malah masih berada di tangannya.
Guru itu, Pak Toni menatap Bilah sinis dengan pandangan yang tajam. "Kamu keluar sekarang, hormat ditiang bendera sampai jam saya selesei. Dasar anak jaman sekarang, dimana aturannya. Dasi cuman buat koleksi Ranayah Sabilah?"
Bibir Bilah gemertuk gemetar ditambah keringat yang mencucur di dahinya hanya sekedar untuk menjawab ucapan Pak Toni. "Ba--baik pak. Maafkan saya."
Bilah berjalan keluar kelas dan melakukan hormat menghadap ke bendera. Banyak yang memandangnya karena jam ini merupakan jam anak normal datang ke sekolah. Sayang nya pak Toni mengadakan kelas tambahan dikelas Bilah, dan sayangnya lagi kelas pak Toni akan berakhir pukul setengah sembilan. Itu sangat lama. Melelahkan.
"Apes banget dah pakek kesiangan, mana belum sarapan lagi," gumam Bilah cemberut.
Air mineral dingin menempel di pipi Bilah secara tiba-tiba. "Minum gih," ujar Dirga yang membuat Bilah tersenyum. Dirga begitu perhatian dengan Bilah. Bilah merasa beruntung ada Dirga sekarang.
"Gak usah Dirga. Cepet gih pergi, nanti Dirga dihukum juga."
Dirga menggeram kesal dan membuka tutup botol dan mengarahkan ke mulut Bilah pelan. "Cepet Bil, minum."
"Makasih."
Dirga berdiri disebelah Bilah dan melakukan hal yang sama dengan Bilah. Bilah terkaget, "jangan lakuin itu Dirga! Nanti Dirga malu." Ya, anak-anak begitu banyak menonton Bilah, karena ini jamnya anak datang kesekolah. Mengingat Bilah dihukum karena terlmabat kelas pagi.
"Kalo ada kesempatan berdua bareng pacar kenapa gak dipakek," ucap Dirga menenangkan Bilah, agar Bilah tak merasa sungkan. Bilah hanya diam dengan mata yang memejam mengurangi cahaya yang mulai panas menusuk mata.
Mereka berdua hanya diam merasakan hangat yang menusuk kulit. Sekarang sudah cukup lama. Sudah pukul 8. Bilah cukup lemas. Kurang setengah jam lagi. "Dirga gak masuk kelas?"
Dirga menggeleng, "lagian aku biasa bolos Bil. Lagian juga hari ini jam pelajaran gurunya gak galak kok, gak pernah absen juga."
"Bil, mau minum lagi?" tanya Dirga dan Bilah hanya menggeleng.
"Bil, kamu udah sarapan kan?" tanya Dirga curiga melihat raut wajah Bilah. Bilah hanya diam dan sedikit menggeleng. Tak lama setelah itu---
Brukkk...
"Bilah!" Dirga lekas mengangkat Bilah menuju ruang uks. Dirga begitu khawatir melihat Bilah pingsan.
Tak lama itu Bilah terbangun. Dirga membawa makanan dan minuman untuk Bilah. "Makan ya Bil. Gua suapin?" Bilah menggeleng. "Bilah bisa makan sendiri Dirga."
"Sekarang jam berapa? Dirga gak kembali ke kelas?" tanya Bilah.
"Tenang aja, sekarang jam istirahat kok."
"Duh, pak Toni pasti marah deh gak nemuin Bilah di tiang bendera."
"Nyantai. Udah aku urusin kok Bil. Kamu makan gih? Aku suapin aja ya?" ujar Dirga mengambil piring makanan dan menyuapi Bilah secara tiba-tiba. Dan Bilah hanya bisa menurut, kepalanya terasa sedikit pusing sekarang.
Brakkkk....
Suara dentuman pintu terdengar. 2 orang itu siapa lagi jika bukan 2 curut. "Bil, lo-- lo apanya yang sakit?" ujar Kelvin memegang tangan Bilah.
Lalu Mario menempelkan tangannya ke kening Bilah dan mengusap rambutnya yang terasa hangat. Pasti bekas matahari. "Lo gapapa kan Bil? Gue beliin martabak deh!"
"Kaki lo pegel ya Bil? Gue pijitin ya?" Kelvin dengan semangatnya berpindah kearah kaki Bilah dan memijitnya pelan takut jika Bilah merasa kesakitan.
Mario yang tak mau kalah memijit tangan Bilah. "Pasti tangan lo pegel hormat di tiang bendera."
Bilah tersenyum senang dengan deretan giginya yang ia tunjukan kepada Mario dan Kelvin, "Bilah gapapa kok. Tapi kalo mau kalian pijetin gapapa juga sih. Lumayan. Hehehe."
"Bisa lo tunggu di luar bentar?" ucap Kelvin menatap Dirga tajam. Tanpa jawaban Dirga melangkah keluar ruangan.
"Bil--"
"Apa Pin?"
"Maafin gue ya?"
Bilah menyerngit menatap Kelvin bingung. "Minta maaf? Buat apa?"
"Karena gue gak nemenin lo berangkat sekolah."
Mario menekan tangan Bilah hingga Bilah menjerit kesakitan. "Mario! Sakit tau!"
"Lagian! Kalo lo gak ada yang nganter itu bilang gue Bil! Kesel kan gue, ngerasa gak guna banget jadi temen lo!" ucap Mario sinis sambil mendorong dahi Bilah dengan telunjuknya. "Dasar!"
"Ih kalian kenapa sih! Lagian cuman berangkat sekolah doang apanya yang dipermasalahin? Tadi Bilah kesiangan bangunnya tau. Kelvin lupa ih gak bangunin Bilah," ujar Bilah mengerucutkan bibirnya.
Kelvin menekuk wajahnya dan melepas pijitannya dikaki Bilah. "Ya maap Bil. Tadi gue terlalu seneng."
"Seneng kenapa sih sahabat aku ini, huh?" tanya Bilah terkekeh, bahkan Bilah lihat buku tulis Sejarah Kelvin tertinggal diruang tamu. Untung saja Bilah membawanya, "sampai buku tulis sejarah ketinggalan loh. Seneng apasih jadi kepo tau."
Kelvin menyunggingkan senyumnya, "Tadi pagi gue nganterin Selena. Gue terlalu bahagia sampe lupa segalanya." Kelvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "gue bahkan gak nyadar kalo buku gue ketinggalan. Untung lo bawa kan buku gue Bil?"
Bilah tersenyum dan mengangguk. Tentu saja Bilah membawanya, tidak mungkin ia membiarkan sahabatnya dihukum oleh guru galak. "Bilah mau bilang sama kalian."
"Apa?"
"Kalo kalian menyukai hal yang sama, jangan buat kalian semakin jauh ya? Tetep jadi orang Bilah kenal. Bahkan jangan lakukan sesuatu yang buat kalian berdua sampai punya dendam di antara kalian masing-masing. Bilah bilang gini, Bilah cuman takut." Mendengar ucapan Bilah, Mario dan Kelvin hanya mengangguk mengerti.
"Gue gak bakal lupain lo juga kok Bil. Apapun yang terjadi. Lo tetep jadi prioritas gue," ujar Mario.
"Gue juga."
...****...
Saat Bilah keluar dari pintu UKS, ia melihat Dirga masih berdiri dengan memainkan handphonenya. "Dirga, kenapa masih disini?"
Dirga meletakkan HP nya disakunya dan tersenyum menatap Bilah. "Nungguin kamu."
"Kenapa gak masuk aja daritadi?"
"Gapapa. Tadi ada perlu bentar kok."
Bilah dan Dirga berjalan melewati lorong demi lorong dengan obrolan Bilah yang membuat Dirga tertawa. Saat obrolan sepi dan mereka sejenak menikmati keheningan. Bilah banya mendengar bisikan dari teman-temannya.
"Sekarang Bilah jadian sama Dirga?"
"Dulu bukannya Dirga benci banget ya sama Bilah."
"Dirga kok mau sih sama Bilah? Bukannya Dirga deket ya sama Rania? Kenapa gak sama Rania aja?"
"Bilah sedikit gak cocok ya kalau sama Dirga."
"Apa gak malu ya Bilah ngejer Dirga mulu?"
"Dirga terpaksa kali pacarin Bilah karena males digangguin mulu."
"Dirga kenapa sih sama matanya? Mati kali syaraf dia."
"Bilah beruntung banget. Deket sama Kelvin sama Mario yang jadi inceran cewek-cewek. Eh malah pacaran sama Dirga."
"Bilah kebanyakan doa kali bisa deket sama cowok-cowok kayak mereka."
Bilah yang mendengar itu hanya terdiam saja. Sungguh, bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan perasaanya saat ini. Ia tak peduli jika merasa sakit hati. Hanya saja satu yang Bilah khawatirkan. Bagaimana dengan Dirga? Apa Dirga merasa nyaman di bicarain banyak orang jika bersama Bilah? Bilah hanya takut kehadirannya membuat Dirga menjadi bahan omongan. Jika Bilah terbiasa menjadi bahan omongan buruk, tapi Dirga? Bilah hanya takut, selama ini ia terlalu menutup telinganya agar tak memperdulikan perkataan buruk orang lain, tapi yang didapat justru orang lain a.k.a Dirga yang kena dampaknya. Apa Bilah begitu egois?
Bilah tersenyum melepas genggaman erat Dirga. "Dirga baiknya pergi aja dulu ya. Bilah bisa sendiri."
"Kenapa?"
"Engg-- enggak papa."
"Jangan dengerin mereka Bil, omongan kayak gitu cuman angin lewat ditelinga." Apa benar yang diucapkan Dirga? Bilah harap benar begitu adanya.
"Dirga gak merasa keganggu?"
"Ngapain keganggu sama orang yang ngurusin hidup kita?"
"Dirga kalau keganggu bilang ke Bilah ya. Kalau Dirga minta Bilah buat pergi, Bilah bakal pergi kok." Perkataan Bilah membuat Dirga tertohok. Yang dimaksud Bilah memang pergi untuk kejadian yang seperti ini. Tapi entah kenapa Dirga membayangkan jika ia sudah menyakiti Bilah dan meminta Bilah menjauh darinya. Apa Bilah akan pergi saat itu?
...***...
...B...
...ilamana dia pergi jangan harap akan kembali, bilamana kita memutuskan pergi jangan harap dikejar kembali. Dia bukan seseorang yang harus dimengerti, begitupun dia tak harus tau jika kita mencintai...
...-Ranayah Sabilah-...
Hari ini Bilah jalan-jalan berempat ke wahana yang pernah Bilah minta kepada Mario dan Kelvin. Ditengah jalan Bilah mengusulkan untuk mengajak Selena ikuy dengan mereka. Tentu saja dengan senang hati Kelvin dan Mario menjemput Selena.
Kini Selena berada di antara Mario dan Kelvin. Bilah berada disebelah Kelvin senang dengan semangat menaiki wahana.
"Kita naik tornado itu ayo! Bilah pengen naik itu daridulu. Kita dulu pernah pengen foto disana kan? Ayo naik!" ajak Bilah.
Kelvin dan Mario semangat menjawab ajakan Bilah, "Eh iya Bil! Ayo sekarang aja!"
"Yeay! Ayo cepet!" Bilah sangat semangaat, karena dari dulu Bilah sangat ingin menaikinya karena umur dan tinggi yang tidak cukup. Tapi sekarang mungkin saja bisa.
"Tunggu!" tiba-tiba saja Selena menahan Kelvin dan Mario untuk naik kesana.
"Kenapa Sel?" tanya Bilah.
"Gu--gue takut naik wahana itu. Gue gabisa. Gue punya trauma."
Mario yang mendengar itupun bingung harus memilih menemani Bilah atau Selena? "Yah, gimana ya terusan?" jawab Mario bimbang.
"Yaudah gue temenin Selena disini, lo temenin Bilah naik kesana. Beres deh!" ujar Kelvin membuat Mario geram, "Gabisa gitu dong! Enak di elo!"
"Terus lo maunya gimana? Lo yang temenin Selena? Selalu lo minta menang sendiri," ujar Kelvin.
Bilah berpikir, apa permintaanya memberatkan kedua sahabatnya sampai saling melempar begini? Bilah benar-benar merasa bersalah.
Bilah sungguh tertohok mendengar ini. Ia merasa cemburu, tapi disisi lain Bilah merasa egois jika cemburu. Ia benar-benar tak mau egois membuat kedua nya bertengkar. "Udah udah! Kalian jangan bertengkar dong. Bil--Bilah gak jadi naik wahana itu kok," ujar Bilah meskipun ada rasa kecewa disana.
"Tuh kan, Bilah itu udah kepingin dari dulu. Masa lo tega sih," ujar Mario.
"Ya kenapa gak lo aja?" jawab Kelvin menantang.
"Gue nemenin Selena. Kasian dia!"
Bilah yang semakin pusing pun telah memutuskan sesuatu, "stop! Bilah bisa naik sendiri kok jangan khawatir. Kalian tunggu sini ya? Bye Mario, Kelvin, Selena!" Dan keputusan berakhir Bilah menaiki tornado sendiri tidak sesuai harapannya dulu. Ketakutan menaiki wahana seakan berkurang karena efek memikirkan kedua sahabatnya.
Setelah lemas menaiki wahana, Bilah menghampiri mereka yang mengobrol sambil makan burger. "Udah selesei Bil?" tanya Selena dan Bilah hanya mengangguk lemas.
"Yaudah sekarang kita kemana?" tanya Kelvin.
"Kerumah hantu ya! Pasti seru kesana!" ujar Selena yang bersemangat.
Bilah kaget mendengar ucapan Selena. Bilah tidak bisa pergi kesana, Bilah sangat takut dengan hantu dan Bilah membenci dikageti dengan hantu. Mario dan Kelvin tau itu.
"Kali ini gue deh yang gabisa, hehe," ucap Bilah memaksakan tawanya.
Mario dan Kelvin menatap Bilah dan menghembuskan nafas halus, "kali ini aja ya Bil ikut kita. Please, ini pertama kalinya kita seneng-seneng bareng sama Selena." Bilah begitu sedih.
"Tap-- tapi--" Bilah semakin pucat ketika dipaksa masuk ke pintu itu. Keadaan begitu tak mendukung. Bilah sangat benci dengan rumah hantu, apalagi jika dia harus berjalan kaki. Ingin pingsan rasanya.
"Please Bil. Kali ini lo nurut ya."
TBC
Maap ya kalau aneh ceritanya. Belum buat baper. Belum konflik soalnya.hehe