Disappeared

Disappeared
Chapter 1



Hal yang paling menyebalkan bagi Kelvin dan Mario ketika menemani Bilah di apartment nya, tetapi yang ditemani malah sibuk sendiri melihat drama korea tanpa menghiraukan keduanya. Yang tiba-tiba menangis, tersenyum sendiri, tertawa keras.Itulah Bilah.


"Bil, kenapa lo diemin kita sih? Emang apa bagusnya tuh drama? Menye-menye banget, Bil." Kelvin bersandar pada pundak Bila sambil memainkan rambutnya itu.


Sementara Mario yang tiduran di paha Bilah sambil memainkan handphone-nya angkat suara "Tau loh Bil, enakan juga main sama kita kan daripada lo liat mereka. Gantengan juga gue Bil daripada mereka."


"Muka kalian standart, tap----" tiba-tiba saja Mario dan Kelvin menutup mata Bilah.


"Mata Bilah woi! Kenapa sih kalian aneh! Ganggu aja!"


Kelvin dan Mario masih menutup mata Bilah, "18+ Bil gaboleh lo liat ginian! Wah parah otak lu Bil!"


"Wah wah wah Bil! Sumpah lo jangan nonton drama Bil! Bahaya lo masih kecil!"


"Apasih kalian! Itu cuman drama kok, anggap aja Bilah pake sandal gak lihat!"


Mario dan Kelvin melepas tangannya dan menggelengkan kepalanya, "Jadi lo udah biasa lihat orang yang semuanya mirip itu enak-enakan kiss scene?" Bilah mengangguk dan kesal.


Bilah memutar bola matanya jengah "Kalian ganggu aja sih! Nih ya, mereka semua itu ganteng, ceritanya menarik gak kayak yang kalian bayangin..." Bilah menatap mereka berdua mengangkat kepala Mario dan mendorong kepala Kelvin "kalian kalo bosen mending pulang aja, lagian ngapain sih repot-repot nemenin Bilah disini."


Mario memeluk Bilah "Emang gak boleh nemenin sahabat sendiri, gue gak suka lo sendirian, Bilah."


Bilah tersenyum pada mereka semua dan mematikan drama yang dimainkannya "Ih sweet banget! Yaudah, sekarang kita ngapain?" tanya Bilah.


Kelvin mengalungkan tangannya di pundak Bilah dari samping dan menaruh kepalanya disana "Bilah, gue laper," ujar Kelvin merengek seperti anak kecil.


"Masakin yang enak dong, Bil." bukan hanya Kelvin, Mario juga merengek pada Bilah jika kelaparan.


Bilah berdecak sebal "Gimana kalo satu sekolah tau kalo ketua osis dan ketua basket SMA Brawijaya itu manja-nya setengah mati dan selalu ngrengek kayak anak kecil kalo kelaperan?"


Mereka mendengus "Kan ngrengeknya sama lo, gak disekolah. Udah deh Bil, cepet sana masakin, sumpah gue laper banget!" ujar mereka dengan wajah memohonnya.


Bilah mengerucutkan bibirnya kesal "Jerapah gak bisa masak karena terlalu tinggi buat megang sutil." Bilah menyindir menatap Kelvin, lalu beralih ke arah Mario "Panda yang lagi ngamuk juga gak bisa masak, dia cuman marah-marah doang kerjaanya kalo masak malah ngehancurin dapur."


Mereka hanya meringis dan memegang tangan Bilah "Bilah cantik kayak barbie yang tingginya samain aja kayak Cinta Laura, masakin gue dong," bujuk Kelvin.


"Bil, gue baru nyadar bener dah kalo lo itu orangnya buaaaaikkk dan gak pernah marah," ujar Mario yang tak mau kalah dari Kelvin.


Bilah memandang mereka sinis dan berjalan kearah dapur "Gini aja muji, iyain aja orang bego ngomong!"


"Siapa Bil yang lo bilang bego?" tanya Kelvin sedikit teriak.


"Inget Bil, besok PR Matematika banyak!" ujar Mario meledek Bilah.


"Siap Pak Boss!! Bilah dah yang bego! Bilah masakin yang enak ini kesukaan kalian!" Bilah hanya mengiyakan permintaan sahabatnya daripada ia tak mendapat contekan matematika dari mereka.


...****...


"Bil!Bil!Bil sumpah gile demi dewa neptunus bin suparno! Ini enak banget Bil!" Kelvin memakan ayam asam manis ala Bilah dengan semangat, begitu juga dengan Mario. Sangat lahap.


"Bil, lo mah kalo gini masakin kita setiap hari aja gimana?" tabya Mario.


Bilah menatap mereka polos "Selalu lebay kalo Bilah masak, alay kalian berdua."


"Bil! Gue booking lo jadi istri gue aja Bil! Gue jamin nafkahin lahir batin dah!" ujar Kelvin menggoda Bilah.


"Lo pikir Bilah kupu-kupu terbang apa!"


Mario menatap ejek Bilah, "Kumat begonya, kupu-kupu malam Bil!"


"Ih Bilah kan mau ngelucu!"


"Tapi gak lucu."


Kelvin merangkul Bilah, "Lo bego juga gapapa, yang penting nanti dampingin hidup gue kan, Bil?"


"Jangan mau Bil! Mendingan sama gue aja lebih sejahtera hidup lo!" Mario tak mau kalah.


"Gausah ngrebut deh lo! Bilah istri gue ya!"


"Apaan lo songong! Istri gue yang ada!"


"Istri gue!"


"Gue!"


"Gue!"


Mereka tak kunjung berhenti bertengkar membuat Bilah menggebrakan meja dengan satu tangannya "RIO! KELVIN! DIAM ATAU Bilah BUNUH KALIAN!"


Yang benar saja, mereka benar-benar terdiam menatap Bilah "Emang lo bisa bunuh kita? Narik rambut kita aja syukur-syukur lo," ujar Mario.


"Pegang pisau aja gak bener, apalagi mau ngebunuh kita, bisa apa dah lo Bil."


"Mulut kalian manis bener! Tadi aja pada rebutin Bilah! Ckck, emang gitu ya emang nasib orang jomblo."


Kelvin dan Mario menaruh piring di wastafel dan mendekat ke Bilah "Kayak lo gak jomblo aja Bil," ujar Mario.


Wajah Bilah seketika muram "Iyasih, lagian Bilah gak akan bisa dapetin dia. Mustahil." Bilah meletakkan piring kotor ke dapur dan kembali ke sofa disusul oleh Kelvin dan Mario juga.


"Yah, kok baper sih Bil?"


Kelvin mengelus puncak rambut Bilah lembut "Mana ada Bilah, lo gak boleh putus asa gini Bil."


Bilah menatap mereka "Bilah buruk dari segi apapun, gak mungkin dia suka sama Bilah."


Bilah menghembuskan nafas memainkan kukunya "Bilah jelek, Bilah pendek, kecerdasan standart, kalo urusan matematika bukan standart lagi, dibawah rata-rata iya...." Bilah menyandarkan kepalanya di bahu Mario "Kalo dibandingin sama Rania, gue jauh...."


"Dia cantik, tinggi, dia pintar, berbakat, IQ nya bukan main, sama kayak kalian. Badan seksi-lah, cowok mah suka yang kek gitu. Udah jelas kan Dirga bakal pilih siapa?" Bilah tetap menyandarkan kepalanya di bahu Mario "Kayak bumi sama langit kan? Udah kebukti, Mama lebih memilih tinggal sama Rania, dan Bilah malah ikut papa yang nikah lagi. Keputusan mama udah tepat."


Kelvin menggenggam tangan Bilah memberi kekuatan disana "Jangan lo ungkit-ungkit itu Bil, masih ada kita disini sama lo."


"Lo sama Rania emang kembar meski gak sama, tapi lo gak serendah yang lo bilang tadi Bil. Gue malah suka lo yang kayak gini," ujar Mario memeluk Bilah erat.


Bilah tersenyum kecut "Menurut kalian, seorang model cantik kayak Rania, kenapa gak bisa ngakuin Bilah sebagai saudara kandung disekolah? Dia malu?"


"Malu? Emang malu kenapa? Gak ada yang buruk di lo, dari pandangan gue sih, lo salah kalo lo menilai cowok bakal suka yang tipe kayak Rania gitu, mungkin kalo dari segi fisik emang oke, tapi gue sebagai cowok sih gue bakal pilih lo, fisik gak menjamin semuanya Bil," ujar Kelvin yang terdengar bijak yang justru membuat Bilah geli, "Jangan jadi Kelvin teguh kalo dari sononya Kelvin Tarno dah!" ujar Bilah membuat Kelvin menatap Bilah intens, "Bodoh Bil! Ngerusak suasana ya lo."


"Lagian lo kenapa sih suka sama Dirga? Udah tau dia sering campakin lo Bil! Kenapa lo keras kepala masih ngejar dia? Kenapa juga lo capek-capek ngasih perhatian lebih ke dia Bil, gak guna dan malah bikin lo malu di cuekin dia terus," ujar Mario.


"Kalo masalah Dirga Bilah bisa sabar, Bilah bakal berhenti kalo Bilah udah capek. Bilah gak mikirin Dirga sekarang."


Bilah mengalihkan kepalanya dari bahu Mario ke boneka yang diambilnya disofa, Bilah menenggelamkan kepalanya di boneka besar itu. Kelvin dan Mario hafal, jika seperti ini, artinya Bilah sedih dan menahan tangis.


Mario menepuk bahu Bilah "Lo kangen sama mama?" Bilah mengangguk.


"Bil, kenapa gak kerumahnya aja?" tanya Kelvin.


"Udah, Rania bilang mama sibuk dan gak bisa diganggu...


Malah, 3 bulan yang lalu gue kekeh pengen ketemu mama tapi ketika gue ketemu, mama emang kelihatan sibuk dan gak berniat nyambut gue. Padahal waktu itu udah setengah tahun kita gak ketemu, mungkin emang gue gak diharapin?"


Bilah mendongakkkan wajahnya dan memeluk mereka berdua "Makasih kalian selalu ada buat Bilah."


"Bil, lo kalo nangis kayak cewek ftv tau gak, kebanyakan nonton drama sih lo," ujar Kelvin yang selalu mengejek Bilah.


"Diem dah lo upil! Kita kan emang magnet yang gak bisa dipisahin Bil. Upin ipin mah lewat!" ujar Mario.


Mereka menonton film horror, film yang disukai Kelvin, ini semua juga perintah Kelvin menonton film itu.


Kelvin bersandar di bahu Bilah, sementara Bilah bersembunyi di lengan Mario. Selalu begitu. Dan ini selalu karena Kelvin dengan sifat pemaksanya menyuruh menonton film yang disukainya. Menyebalkan.


"Bil, lo pake shampoo coklat ya? Enak tau wanginya pingin gue makan Bil," gumam Kelvin sambil memainkan rambut Bilah.


"Ih jangan! Kasihan rambut Bilah terkontaminasi oleh air liur anjing."


"Mulut lo Bil, gue cium tau rasa lo," ujar Kelvin.


"Ya!Ya! Najis!"


Keadaan semakin tegang karena film horror yang ditontonya ternyata juga bersifat tragis yang membuat Bilah ingin muntah "Gue nyerah! Gue kekamar! Kalian lanjutin aja sendiri!" Bilah berlari kekamarnya dan memandang buku diary putihnya. Ia kembali menulis sesuatu disana.


Aku dibawah langit, dewa matahari menawarkan kehangatan, dewi hujan menawarkan kedinginan. Aku memilih cinta yang menawarkan  hangat, dingin, panas, sakit, kebahagiaan dan luka. Apa aku salah?


-RanayahSblh


Bilah menutup buku itu, dan memainkan handphonenya untuk sekedar stalking akun media seseorang yang tak bosan ia lihat beberapa fotonya "Tampan." Bilah tersenyum melihat itu.


Tersedengar suara derap langkah dan suara pintu terbuka, sudah pasti itu Mario dan Kelvin.


"Udah nonton film potong dagingnya? Jijik!" ujar Bilah yang masih melihat HP-nya.


Kelvin menguap dan menjatuhkan tubuhnya disamping Bilah yang sibuk dengan HP nya "Stalking lagi, hm?" tanya Kelvin dan Bilah mengangguk.


"Gak capek apa lo kerjaanya liatin foto Dirga mulu."


Sementara Mario menjelajah kamar Bilah, sudah pasti ia mencari snack yang selalu disembunyikan Bilah dari mereka "Bil ini apa'aan? Gue buka ya laper ini."


Bilah mengangguk tanpa melihat Mario "Ketahuan deh snack-nya gue sembunyiin dimana. Buka aja deh sini duduk bagi-bagi."


Mario mendekati Bilah dan duduk didepan Bilah dan Kelvin "Bil.."


"Ini apaan Bil? Udah gue buka tapi kok isinya begini? Kok kayak bantal kecil ya Bil, empuk-empuk gitu," ujar Mario bingung.


Bilah menoleh menatap bungkus yang dioegang Mario sambil membelakan matanya "KENAPA BUKA ITU RIO!!!! AH RIO MAH GAK SERU! TAU AH NGAMBEK Bilah!" Kelvin tertawa keras, Bilah merampas barang yang dipegang Mario dan menyembunyikannya di lemari dan menguncinya.


"Hahahahah! Mario bego! Itu pembalut perempuan bego! Lo udah SMA gitu aja gatau! Bego lo! Hahah!" Kelvin tertawa dengan keras membuat Mario mendengus kesal "Mana gue tau! Lagian ngapain Bilah naruh gituan dikresek gak disembunyiin lagi."


Bilah menatap horror Mario "Bilah baru beli bego! Bilah lagi masanya tolol! Tau lo pergi sono!"


"Makan noh amukan macan!" ujar Kelvin mengejek Mario.


"Pin bilang Bilah macan? Pergi juga! Udah ah Bilah mau tidur! Kalian pulang sana! Gak mood gue sumpah!" ujar Bilah dan tertidur.


Mereka menahan tawa ingin menggoda Bilah tapi yang ingin digoda malah menutupi tubuhnya dengan selimut tebal tanpa ada pergerakan sedikitpun, "Mampus lo marah dia," ujar Kelvin.


Kelvin dan Mario mendekat ke arah Bilah yang menutup dirinya dengan selimut. Mario dan Kelvin membuka selimut itu perlahan. Bilah tertidur? Secepat itu?


Mario naik ke kasur Bilah dan tidur disamping Bilah bersama Kelvin juga. Sudah biasa jika mereka tertidur di apartment Bilah, bagaimana tidak jika Kelvin dan Mario memang seperti kakak kandung Bilah dan seperti memiliki tanggung jawab untuk menjaga Bilah sejak mereka kecil.


"Nice dream, princess."


...****...


Bilah terbangun dari tidurnya yang lelap, ia melihat jam merah darah yang tergantung di atas pintu kamarnya. Jam 4, waktunya memasak.


Ia mengucek matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam penglihatannya, Bilah melangkahkan kakinya ke lantai putih dan membuka pintu kamar menuju dapur dan terbelak kaget,


"AAAAA! KELVIN! RIO!" Bilah teriak reflek menutup matanya, karena teriakan Bilah membuat Kelvin dan Mario sontak terbangun dan berlari kearah Bilah.


"Bil, kenapa Bil?" ujar Mario khawatir.


Kelvin terkaget dengan matanya yang memerah "Bil, lo gapapa? Kenapa teriak? Ya ampun Bil, kenapa wajah ditutupi gitu? Lo habis liat setan?"


Bilah mengintip mereka sebentar dan menghadap kebelakang sambil menutup matanya dengan tangan "Kalian ngapain gak pulang dari kemarin! Kalian lupa?"


"Kenapa sih Bil?"


"Bilah udah bilangin ke kalian kalo Bilah gasuka ya liat kalian gak pake baju gini, apalagi ada Bilah disini! Bilah udah bilang kekalian berkali-kali, mana tuh celana pendek banget ya ampun bego! Cepet pake baju kalian," ujar Bilah yang masih menutup matanya. Selalu begini jika Kelvin dan Mario tidur di apartment Bilah. Mereka memang tidak suka memakai kaos apalagi celana panjang yang membuat mereka terasa gerah saat tidur.


Kelvin dan Mario tertawa "Hahahah! Gue kirain kenapa Bil, lebay lo. Bukannya kita emang sering gini waktu masih kecil? Lo juga biasa aja Bil," ujar Mario.


"Tetep aja! Sekarang kita udah pada gede! Jangan samain sama yang dulu dong, kalo lo samain kayak dulu sekalian aja pake celana dalem aja kayak kalian kecil dulu! Ini udah beda gaes!" ujar Bilah yang masih menghadap belakang memunggungi Kelvin dan Mario.


Mario mendekat kearah Bilah dan menatap Bilah dari depan "Harusnya lo bersyukur Bilah, ini kejadian langkah. Semua cewek berharap gue buka baju waktu tanding, kenapa lo marah-marah?" ujar Mario melepas tangan Bilah yang menutupi wajahnya.


"Jangan dilepas Rio! Satu lagi, jangan samain Bilah sama fans lo! Itu beda! Bilah gak suka ya kalo kalian caper caper gak jelas ke mereka. Cepet pake baju kalian!"


Kelvin juga mendekat kearah Bilah dan menoel-noel pipinya "Idih bilang aja lo seneng kan? Bonus ini dari kita buat lo!"


"Bonus kepala lo! Cepet pake baju kalian atau gue mutilasi kalian sekarang juga!" ujar Bilah marah kepada mereka.


Dengan santai tanpa memakai pakaian mereka dengan hanya memaikai boxer mereka dengan santainya duduk disofa dan menonton televisi "Gamau enakan gini," ujar Kelvin sambil memakan snack Bilah.


"Apa harus Bilah yang makein kalian baju lagi? Oh my god!"


Dengan cekatan Bilah mengambil kaos mereka dan memakaikan mereka baju. Sungguh menyenangkan bagi Kelvin dan Mario jika menggoda Bilah seperti ini. "Susah banget ngerawat 2 bayi gede yang bandelnya minta ampun gak bisa pake baju sendiri," ujar Bilah yang sedang memasukan kaos Kelvin kekepalanya.


"Angkat tangan idiot!" perintah Bilah.


"Gamau, nanti lo tambah terpesona sama ketiak gue. Hot banget gue, nih liat perut gue kotak-kotak, hot banget kan? Beruntung lo sebagai perempuan yang cuma lo doang yang lihat ini, kebanggaan itu," ujar Kelvin santai dan terus menggoda Bilah.


"Bilah gak bakal terpesona bego! Ketiak kampungan aja gayaan! Sok-sokan lagi Bilah yang lihat pertama, biasanya juga kalian caper buka-buka baju waktu futsal bego! Caper banget jijik gue sumpah!" setelah memakaikan baju Kelvin, Bilah mendekat kearah Mario yang tersenyum menggoda Bilah dengan cengiran andalannya.


"Ini juga! Kayak anak kecil kalian!"


Bilah memasukan kaos keleher Mario yang dengan santainya membuat mereka ingin tertawa melihat Bilah marah "Kita udah besar, kalian gak boleh samain kita kayak yang dulu. Kalian juga punya kesibukan dan gak mungkin nemenin Bilah mulu. Kalian juga perlu waktu buat diri kalian, Bilah gak suka kalian ngorbanin waktu main kalian samaa temen kalian demi gue."


"Bil..." gumam Kelvin mulai serius.


Mario menarik Bilah untuk duduk disofa dan memeluknya "Lo juga temen kita Bil, lagian kita juga sering main sama temen kita. Kita bakal tetep kayak gini dan gak akan berubah. Lo gak boleh ngerasa gak enak kayak gini, kita udah berapa lama sih sampai lo punya rasa sungkan sama kita?" ujar Mario menepuk puncak rambut Bilah lembut.


Kelvin menghembuskan nafasnya dan menghadap kearah Bilah yang terduduk disofa sementara Kelvin berjongkok dilantai sambil menatap Bilah "Kita udah bicarain ini Bil, kenapa sekarang lo yang bandel Bilah. Lagian kita kalo main sama temen ya main kok, kalo waktunya ke lo yaudah itu emang keinginan kita Bilah. Lo gak boleh kayak gini lagi."


Bilah mengangguk dan tersenyum "Yaudah sekarang kalian pulang aja."


"Gak mau bareng sama kita?" tanya Kelvin


Bilah menggeleng "Gak mau, dan jangan maksa Bilah! Bilah mau naik angkot aja."


"Naik angkot bisa bikin lo telat Bilah, buang-buang duit aja, kalo ada tebengan kenapa gak dimanfaatin?" ujar Mario.


Bilah menggeleng "Udah Bilah bilang Bilah gak mau, Bilah gak mau terusan bergantung sama kalian."


"Yaudah kita pulang dulu. Lo hati-hati jaga diri baik-baik. Kalo ada apa-apa telpon kita. Kalo ada yang mencurigakan dikit aja langsung telpon kita, ngerti?" ujar Kelvin.


Bilah memutar bola mata malas "Bilah bukan anak kecil lagi kayak dulu gaes! Udah cepet sana pulang."


...*****...


Bilah melangkahkan kakinya menuju kelas dengan seragam lengkap dengan rambut panjang yang diikat. Dengan gayanya yang sangat simpel dan alami tanpa makeup.


Bilah dikenal dengan cewek yang ceria dikelas, Bilah sangat suka pelajaran Biologi. Jika dikelas, Bilah selalu dekat dan mengobrol dengan teman sebangkunya dan selalu pergi istirahat dengannya juga. Alice Putri, yang sering dipanggil Putri oleh Bilah.


"Hari ini masih bawa bekal Bil?" tanya Putri saat Bilah duduk dikursinya.


Bilah mengangguk dan tersenyum "Kayak biasanya, Put."


Putri mengembuskan nafas kesal "Dirga sering nolak bekal lo Bilah, dia kasih bekalnya ke temen-temennya, bahkan bekal lo gak dia sentuh seujung kuku-pun. Buang-buang tenaga masakin dia Bil, mendingan lo makan sendiri."


"Gak masalah, Bilah seneng yang penting dia masih nerima masakan Bilah, meskipun dia cuek dan kayaknya risih ke Bilah. Tapi Bilah gak peduli."


...***...


Bilah melangkahkan kakinya mencari keberadaan Dirga dan ternyata Dirga terduduk bersama teman-temannya di ujung koridor.


Bilah tersenyum dan pergi kearah Dirga "Emmm...  Dirga." Dirga dengar panggilan Bilah namun sayang, Dirga tak peduli dengan itu.


"Hai Bilah, mau kasih bekal lagi ke Dirga?" ujar teman Dirga yang hafal siapa itu Bilah


Bilah mengangguk "Iya, hari ini Bilah masakin spesial buat Dirga."


"Bawa pulang aja, percuma gak gue makan," ujar Dirga dingin.


"E.. Enggak papa kok, dimakan sama temen-temen lo juga gapapa. Nih."


Dirga mengambil bekal itu dan melempar bekalnya kepada teman-temannya "Nih."


Bilah sedih. Tapi ia harus menerimanya, sudah menjadi resiko Bilah mendapat ini.


"Eh Ran!" teriak Dirga pada Rania yang berjalan didepannya.


Rania mencari siapa yang memmanggilnya dan mendapati Dirga mengangkat tangannya "Hei Dirga!" ujar Rania menghampiri mereka.


Rania menatap tajam ke arah Bilah dan berlalu ke Dirga "Dir, udah makan?" tanya Rania.


"Belum, lagi males nih."


Rania menyodorkan roti pada Dirga "Nih gue ada roti, lo makan aja buat janggal perut."


"Makasih, gue makan ya."


Jangan tanya lagi bagaimana perasaan Bilah, saat ia susah-susah memasakan untuk Dirga dan berakhir ditolak. Sementara Rania, yang membeli sebungkus roti namun diterima. Jangan tanya lagi apa yag dirasakan Bilah kini.


"Bro! Lo nyesel gak nerima makanan ini, ini lebih enak daripada roti! Gue gak bohong sumpah," ujar teman Dirga.


"Enggak, kalian aja yang makan. Gue gak suka."


Jleb


"Belom dicoba udah bilang gak enak, payah lo dude!" ucap Alex, teman Dirga yang lain.


"Kamu dimasakin sama dia?" tanya Rania menunjuk Bilah dan diangguki oleh Dirga.


"Bumbu-bumbu kayak gitu gak baik sehat buat kesehatan, bikin gemuk juga, olahraga kamu bakal sia-sia kalo gitu," ujar Rania menasehati Dirga.


"Maka dari itu gue gak suka. Lo lebih cerdas dan ternyata lebih paham tentang gue, gue suka gaya lo yang gak hanya cantik doang," ujar Dirga membuat hati Bilah menciut.


"Balik dulu ya, Bye," ujar Bilah berlari kecil kearah lain.


Bilah berlari ke halaman belakang sekolah dan menghirup udara sejuk disana dengan kuat, ia memejamkan mata merasakan angin yang menerpa setiap celah ditubuhnya.


"Bilah gak secerdas Rania, Bilah gak secantik Rania juga, Bilah bodoh dan kurang paham sama Dirga. Dirga bener....." Bilah terduduk menatap tupai yang berlarian di dahan pohon itu.


"Ya, dari segi manapun Rania emang paling unggul, gimanapun juga Dirga pasti pilih Rania. Bahkan untuk dia ngomong aja udah syukur buat Bilah..."


"Gue gak selevel dan gak pantes, apa Bilah mundur aja ya?" gumam Bilah. Perlu kalian tahu, Bilah tidak bicara sendiri pada angin. Kebiasaanya adalah selalu curhat pada hewan yang ia temuin apapun itu. Kali ini ia berbicara pada katak disebelahnya.


Seorang duduk disamping Bilah "Kata siapa lo gak pantes, dia aja yang bodoh."


Vote and comment gaess ^_^