Disappeared

Disappeared
32



...Ketika hadirmu tak lagi sama tak lagi guna. Tertakuti oleh hadirnya duri tubuhmu yang menusuk segalanya. Hanya ingat, duri itu melindungi hal yang indah dari mereka yang hendak mengambil dengan salah langkah....


...-RanayahSabilah-...


"Bilahh!!!" Mommy datang dengan terkejut melihat Bilah yang terduduk di pojok kamar dengan kepala botaknya yang tenggelam diantara kakinya.


Mommy segera meluruskan kaki Bilah. Wajah Bilah yang pucat dengan darahh yang mengalir melewati bibirnya. Tangannya yang begitu dingin. Seperti halnya mayat hidup. Mommy menangis tersengguk sambil lari keluar mencari bantuan. Terlalu lama untuk menelfon satpam. Ia menggedor apartment tetangga Bilah.


Tok..tok..tok..


"Tolongg!!! Tolong!! Tolong anak saya! Hiks.. hiks.. "


Keluarlah seorang pria dengan wajah bangun tidurnya. "To..Tolong anak sayaaa hiks..hiks.." Mommy langsung berlari ke kamar Bilah dengan pria itu yang mebgikuti dibelakang Mommy.


Pria itu Jerry. Ingatkah kalian? Jerry yang waktu itu menjadikan Bilah bahan taruhan. Jerry begitu terkejut dengan keadaan Bilah yang sangat memprihatinkan. Bahkan ia tak tahu sejak kapan Bilah seperti ini.


"Bilah..." desis Jerry dan langsung menggendong Bilah ke rumah sakit bersama Mommy.


***


"Kalian minggu ini ada acara gak?" tanya Selena saat mereka bertiga kumpul suatu cafe.


"Gue gak ada, festival nya juga 2 minggu lagi," sahut Mario.


Kelvin mengedikan bahu. "Gue gak tau, hidup gue gini aja gak jelas."


"Wahhh kebetulan banget, gimana kalau kita berlibur? Gue bosen banget asli, dirumah selalu kesepian, mama sama papa jarang dirumah," ujar Selena dengan muka cemberutnya.


Kelvin mengelus kepala Selena dengan senyum tampannya. "Udah lupain aja masalah lo, kan masih ada gue," ujar Kelvin membuat Selena tersenyum dan menganggukan kepala.


"Ajak aja temen lo juga, kita ke puncak? Disana ada villa bokap kalau mau," ucap Mario mencoba menghibur Selena.


"Kalian baik banget, gue gak tau kalau gak ada kalian gimana. Kalian udah ngebantu banget buat ngehibur gue. Gue gak bakal lupain kalian."


"Oh ya, gimana Bilah? Maksud gue, waktu itu gara-gara gue diaa jadi--" ucapan Selena terpotong oleh Mario. "Udah gausah bahas itu lagi. Itu udah lama Sel."


"Gue takut dengan adanya gue, gue malah ngeganggu kalian," ujar Selena lagi.


Kelvin menatap Selena lekat. "Seharusnya gue makasih, dengan gitu gue tau gimana Bilah sebenarnya. Tenang aja, gue ngejauh cuman mau ngasih pelajaran aja ke dia biar dia gak gitu lagi."


"Apa itu gak berlebihan? Maksud gue, kasihan Bilah kalau kalian kayak gitu."


Mario tersenyum pahit. "Gue rasa enggak. Mungkin dia bakal kaget pada awalnya. Dan resikonya mungkin kita gak akan sama dekatnya kayak dulu. Dan gue gak menyesal, karena itu emang salah dia."


Drrt.. Drrt.. Drr..


Suara getaran handphone Selena menginterupsi membuatnya harus mengangkat telfonnya.


"...."


"Iya Ma, habis ini Selena pulang."


Selena menatap mereka sambil membersihkan barangnya. "Maaf ya, mama kayaknya marah-marah gatau kenapa nyuruh gue pulang. Gue duluan ya."


"Gue anterin?!" ucap mereka bersama, membuat Kelvin dan Mario saling menatap. Selena menggeleng menolak mereka berdua, "enggak usah, udah dijemput kok sama supir kata mama. Gue duluan ya. Bye!"


"Okey, take care Sel," sahut Mario.


Setelah Selena pergi. Suasana hening seketika. Namun hanya sebentar, Kelvin menghancurkan keheningan itu.


"Gimana?" ujarnya.


"Maksud lo?"


Kelvin hanya terkekeh menatap Mario. "Gue tau lo suka Selena lebih dari sahabat."


Mario berdecih dan menagkupkan kedua tangannya dengan menyenderkan punggungnya di kursi kayu itu. "Lo pikir gue juga gak tau lo juga suka Selena?"


"Baiknya lo mundur. Gue lebih dulu kenal Selena. Kalau lo lupa, gue yang ngenalin Selena ke lo. Lo gak berhak," ujar Mario dengan santainya.


"Itu salah lo ngenalin gue ke dia. Tanpa lo kenalin juga gue pasti kenal dia. Kalau lo lupa juga kita pernah bertiga bimbingan matematika bareng."


Mario menganggukan kepalanya dan mengangkat tangannya. "Oke, sekarang kita bersaing tanpa ada ikatan persaingan sehat atau gak."


Kelvin menjabat tangan Mario. "Oke, sungguh kejutan takdir kita gini."


...****...


Bilah mendapat perawatan di rumah sakit. Kondisinya sungguh buruk. Berbagai alat terpasang ditubuhnya. Ia telah sadar setelah 3 hari tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Meskipun begitu, kondisinya sungguh mengenaskan.


Bahkan ia jauh dari kategori orang sehat. Tubuh kurusnya, wajah pucatnya, bahkan tak ada rambut yang menghiasi kepalanya dan matanya yang sayu dengan kantong hitam dibawahnya, juga suara detak yang hanya menghiasi ruangan itu seakan maut bisa datang kapan saja.


"Sayang, gimana sekarang? Apa sakit?" tanya Mommy. Bilah yang tak kuat menjawab-pun hanya menatap Mommy tanpa jawaban.


Mommy sungguh tak menyangka harus seperti ini kejadiannya. Sungguh mengenaskan putrinya ini, kenapa di masa muda ia harus seperti ini. Bilah ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak mampu untuk menggerakan mulutnya. Bibirnya bergetar, "Mmm..... Maam.. my.. pu... Ppupu.. lang.. cc..caa..pek.."


Mommy yang melihat Bilah seperti ini menangis mengelus kepala botaknya. "Mommy gak capek sayang. Kamu harus sembuh ya."


Ceklek...


Jerry membuka pintu dan tersenyum pada Mommy. "Ini aku beli buat tante jaga."


"Makasih ya, gak usah repot repot Jer," ujar Mommy.


"Tante bisa mandi dulu, biar Jerry yang jaga Bilah." Mommy menganggukan kepala memutuskan untuk pulang sebentar untuk menghilangkan bau ditubuhnya. "Mommy titip Bilah ya. Jaga dia baik baik, Mommy percaya sama kamu." Setelah itu Mommy keluar dari ruangan Bilah.


Jerry menarik kursi duduk disebelah ranjang Bilah sambil menggenggam tangannya. "Gimana Bil? Pasti sakit."


"Maafin gue waktu itu ya. Gue bener bener bodoh."


Bilah hanya diam dan menatap langit kamar dengan matanya yang berkaca-kaca. Sungguh sekarang ia benar-benar seperti mayat hidup. "Gue bakal tebus itu semua. Gue bakal jaga lo Bil. Gue anggep lo kayak adik gue. Gue gak mau lo kayak gini."


"Mungkin dulu lo sendirian. Gue tau itu, tapi gue diem aja. Sekarang lo gak perlu khawatir. Gue bakal disini sama lo Bil," ucap Jerry.


Bilah meneteskan air matanya. Bilah tak mengerti kenapa ia ingin menangis. Ia hanya mengingat rasanya memiliki saudara. Sikap Jerry yang seperti ini mengingatkan Bilah pada Mario dan Kelvin. Bilah yang mengingatkmnya hanya terus menerus meneteskan air matanya. Tangan Bilah menggenngam kembali tangan Jerry. Jerry tersenyum melihatnya sambil mengusap air mata Bilah. "Jangan nangis ya."


"Mmm.... Ma.. kaa.. Sih..." ucap Bilah terbata-bata.


"Gak sepantasnya lo bilang makasih Bil. Gue pernah jahat sama lo."


...***...


"Apa yang mommy lakuin?! Aku gak pernah nyusahin dia!" teriak Mario.


Mommy menatap tajam anaknya tajam yang terduduk di tempat tidurnya. "Apa salahnya?! Bilah sakit! Apa susahnya jenguk Bilah bentar aja. Mungkin dia lebih semangat kalau kamu sama Kelvin datang!"


Mario menghembuskan nafas kasar dan sesikit melempar handphonenya ke kasur. "Mom denger aku. Mommy udah ngebuang waktu mommy buat jaga dia? Terus apalagi? Mau buang waktuku juga? Gaklagi!"


"Apa yang buat kamu jadi kayak gini? Ini cuman masalah sepele! Kalian itu udah deket dari kecil! Marahan lama lama malah buat mommy setress! Kalian dimata mommy sama. Sama-sama anak mommy! Mommy gak mau kalian gini!"


"Aku juga gak minta kayak gini mi! Aku udah muak. Suatu saat mommy bakal tau gimana dramanya Bilah. Mi! Bilah gak sesakit itu kenapa mommy khawatir? Dia udah biasa kan hidup sendiri? Takdirnya emang udah sendiri! Takdir yang ia benci juga karena ulahnya!" ucap Mario terus membantah perkataan Mommy.


Mommy mulai panas dan menggelengkan kepala melihat anaknya yang begitu berubah. "Gak sesakit itu kamu bilang?! Kamu gak tau apa-apa."


"Emang aku gak tau apa-apa. Apa masih kurang perhatian mommy direbut sama Bilah? Masih kurang semuanya? Dan aku juga gak peduli dia sakit apa! Mommy udah ngelewatin semua tentang aku. Mommy gak tau kan apa yang aku lakuin? Sekarang aku suka sama orang mommy gak tau kan? Sekarang sainganku Kelvin mommy gak tau kan? Masa kecil cuman masa kecil mi! Aku, Bilah, Kelvin. Semua udah beda. Kita gak kayak dulu."


Mommy menangis mendengar perkataan Mario. Ia menghampiri anaknya dan duduk dikasurnya. "Sayang. Pertama. Mommy gak pernah ngelupain kamu, sampai kapanpun dan apapun keadaanya kamu tetap anak mommy. Sayang mommy ke kamu gak pernah berubah. Gitu pula dengan Bilah. Kamu sendiri tau gimana sayangnya mommy ke kamu sama Bilah. Mommy cuman sedih hiks.. mommy cuman takut Bilah... hiks..." Mommy menundukkan kepalanya dan menangis dan tak bisa melanjutkan ucapannya karena terikat janji untuk tak membocorkan penyakit Bilah ke Mario dan Kelvin.


Mario yang melihat mommynya menangispun memeluk mommynya. "Maafin aku udah ngebentak mommy. Mommy jangan lagi nangis," ucapnya sambil menghapus air mata mommynya.


"Terus kenapa lagi kamu sama Kelvin? Mario, cukup seleseikan masalah kalian dengan Bilah. Kalau kalian bertengkar semua, Bilah pasti sedih."


Mario memijat pelipisnya pening. "Kenapa harus Bilah lagi mom alasannnya?" ucap Mario dengan lembut.


"Dia pasti sedih liat kalian berjarak. Mario, kasihani Bilah sekali iniii saja nak. Kalian kunjungi mereka ya."


"Aku gak bisa mi."


"Mario..."


"Iya tapi gak dalam waktu dekat ini. Cuman demi mommy. Jangan salahin aku kalau buat dia lebih sakit gara gara aku mom!"


...***...


"Brengsek lo!"


Dugh! Dugh! Pukulan bertubi tubi diterima Kelvin. Kelvin yang tak mau kalah pun memukulnya balik dengan penuh amarah tangannya mengeras menahan emosi. "Bacod lo!"


Pertengkaran terjadi antara Kelvin dan Mario. Semakin hari hubungan mereka berdua semakin renggang. Semakin tak terkendali dan semakin beda.


"Lo gak sadar? Selena gak suka lo! Harusnya lo ngaca! Dia nyaman sama gue bukan lo!" ucap Kelvin


"Cih! Lo halu? Atas dasar apa lo ngomong kayak gitu? Yang ada dia risih sama lo yang sok!"


"Lo bakal ngerasain kalah dari gue!" ujar Kelvin.


"Gak ada kata kalak dalam sejarah hidup gue!" kata Mario penuh penekanan di setiap kata-nya.


Kelvin menuding Mario dengan telunjuknya. "Mulai sekarang! Lo bener-bener jadi musuh gue!"


Mario tersenyum sinis. "Tanpa lo bilang gue udah tau!"


"Dan jangan sekali-kali lo pengaruhi Selena dengan kelicikan lo!"


"Perjanjian kita adalah persaingan tanpa kata 'sehat'. Semua resiko bisa terjadi bego! Lo lupa? Cih!"


Bisikan-bisikan siswa pun menggema terkejut melihat pertengkaran mereka.


"Kenapa mereka jadi sering berantem?"


"Sejak hubungan mereka sama Bilah renggang mereka jadi musuhan."


"Gue rasa tuh cewek gatel Selena bawa pengaruh buruk bagi mereka."


"Kasihan Bilah. Bukannya dia sakit ya? Tapi sayang banget mereka gak ada disana."


"Sakit? Sakit apa?"


"Mana gue tau. Coba deh lo bayangin. Dulu dia mimisan terus Mario tarik rambut Bilah. Eh tau nya botak. Menurut lo itu wajar? Apa coba kalau gak lagi sakit."


"Yah bisa aja dia pengem botak."


"Mana ada! Kalai pengen botak gausah ditutupin pakai rambut palsu juga kali."


...***...


Hari demi kesehatan Bilah membaik. Tapi tetap saja, kata 'Baik' untuk Bilah adalah hal yang buruk bagi manusia normal. Kabar baiknya dia agak bisa bicara daripada yang lalu sangatt terbata-bata. Yang awalnya dia tak bisa menggerakan badannya jadi bisa untuk sekedar duduk.


"Janji gak bakal mencoba nyakitin diri lo lagi?" kata Jerry sambil mengupas buah apel ditangannya. Untuknya sendiri.


Bilah mengangguk. "Bilah janji. Maafin Bilah udah ngerepotin Jerry dan semuanya."


"Santai aja. Lo udah gue anggep adek gue. Jangan sungkan gitu."


Bilah menata Jerry dan ragu untuk menanyakan sesuatu yang terpendam di hatinya. "Emm.."


"Kenapa?" tanya Jerry mengangkat alisnya bingung.


"Mama?" ucap Bilah ragu.


"Emm.. kayaknya mama lo liburan sama Rania Bil. Mereka gak ada dirumah." Jerry yang tak tega menjelaskannya pun hanya mengelus kepala botak Bilah. "Masih banyak yang sayang sama lo."


Bilah tersenyum dan menganggukan kepala. "Gapapa kok. Makasih ya."


TBC