Disappeared

Disappeared
27



"Lagi dan lagi lo berulah Bil! Jangan lagi nunjukin wajah lo lagi! Lo emang sekejam itu!"


"Kelvin, Mario. Bilah gak ngedorong Selena kok. Bilah cuman--"


Belum sempat Bilah melanjutkan kalimatnya mereka sudah membawa Selena kesalah satu mobil mereka dan pergi meninggalkan Bilah yang penuh kekecewaan.


Bilah terjongkok dan meneggelamkan wajahnya di pahanya sambil menangis sesenggukan. "Bukan Bilah hiks hiks."


...***...


"Mario! Mario! Bukain pintunya! Bilah mau ngomong, sebentar aja ya." Bilah kembali pergi ke rumah Mario. Ia tak akan menyerah secepat ini meskipun daritadi hujan menimpannya. Ia tak peduli, toh itu hanya air kan?


Ketukan demi ketukan tapi tetap saja Mario tak memerdulikan panggilan Bilah. Toh, Mario sudah sangat jengkel dengan Bilah. Ia tak tau ternyata Bilah seperti ini. Tentu saja itu semua tipu daya yang handal, pikir Mario.


Disisi lain Mommy duduk disamping Mario yang tergeletak di tempat tidurnya. Perlu kalian tau disitu juga ada Kelvin yang sibuk memainkan HP-nya. Mereka sungguh tak memerdulikan panggilan Bilah sama sekali. Menurut mereka untuk apa peduli dengan orang yang sama sekali tak peduli dengan orang terdekatnya juga.


"Kalian ini kalau ada masalah ya diseleseikan dong. Kasihan Bilah kalau kayak gini, diluar juga hujan. Kalian gak pernah loh berantem sampai kayak gini," ujarĀ  Mommy Mario.


Mario menghela nafas jengah, dari kemarin ia selalu mendapat pertanyaan tentang Bilah dari Mommy-nya. "Ya karena aku gak ngerti kalau selama ini Bilah kayak gitu. Mommy pikir deh, sekarang Bilah udah berani main tangan sama sahabat aku juga."


Kemarin Mario sudah menceritakan semua pada mommy-nya. Justru orangtua itu tak percaya dengan cerita Mario. Ia menepuk tangan Mario. "Kalian gak seharusnya mudah percaya kayak gitu. Mommy yakin Bilah itu anak yang baik. Toh kita udah bareng sama dia dari dulu kan? Bahkan sejak kalian belum sekolah kan? Seharusnya kita udah tau gimana Bilah sayang."


"Tapi sayangnya aku lihat sendiri Mom. Itu yang sampai buat aku percaya," ujar Kelvin yang sedaritadi diam.


Mommy berdiri dan beranjak keluar. "kalian terlalu keras sama Bilah. Dia udah usaha banget buat minta maaf. Jangan sampai kalian menyesal cuman karena ini."


Mommy pergi keluar dari kamar Mario dan menemui Bilah diluar. Wajah Bilah yang terlihat pucat sambil memegang kepalanya seperti kesakitan. "Sayang, ayo masuk." Mommy memeluk Bilah mengajaknya masuk. Sungguh ia tak tega melihat Bilah yang menangis dan berantakan seperti itu. Mommy mengajak Bilah ke kamarnya untuk bicara dan memberi pakaian agar ia ganti terlebih dahulu.


Mommy membelai rambut Bilah dan menangkup wajah Bilah. "Mario udah cerita semua. Bisa ceritakan yang sebenarnya sama Mommy, sayang?"


Bilah mengangguk, ia menceritakan secara detail kepada mommy yang sesungguhnya sambil sesekali mengeluarkan air mata. Perkataanya tidak ada yang dilebih-lebihkan.


"........... dan tadi, Selena megang tangan Bilah sama diputer. Bilah kesakitan dan reflek buat lepasin tangan Bilah sampai Selena jatuh, mom. Bil--Bilah takut--" Bilah kembali meneteskan air mata nya dan mommy memeluknya. "Mommy percaya kok sama Bilah."


"Tapi sayang, kalau kamu minta maaf kayak gini semakin menambah kepercayaan mereka kalau kamu bersalah."


Bilah menggeleng, "karena kalau Bilah jujur mereka gak akan percaya dan semakin jauhin Bilah. Bilah gak mau jauh dari mereka."


Brakk!


"Gausah sok ngarang cerita deh lo Bil! Cerita yang sebenarnya gak gitu," ucap Mario ketus, lalu menatap mommy-nya. "Mommy ngapain sih denger cerita dari dia? Aku udah bilangin kan kemarin? Mommy gak percaya sama aku?"


Kelvin jalan dengan santainya dengan muka datarnya. "Gue balik dulu."


Bilah tertunduk, jika begini ia serba salah. "Gak ada lagi waktu buat Bilah ya?"


"Itu juga udah gua bilang kan? Buat apa? Pergi Bil."


"Diluar hujan Mario! Kasian Bilah!" bentak Mommy menatap tajam anaknya itu.


Bilah berlari mengejar Kelvin. Langkah demi langkah akhirnya tangan dinginnya bisa menarik tangan Kelvin. "Maafin Bilah Vin. Dulu waktu Bilah buat salah kalian selalu maafin Bilah. Bilah minta itu sekali lagi ya? Bilah mau kesempatan itu. Kelvin tau sendiri kan Bilah gak bisa semangat hidup tanpa kalian. Kalian udah kayak jantung Bilah. Bilah bisa mati kalau kalian---"


"Bisa lo berhenti minta maaf dan berubah. Dan perlu lo inget, itu duli saat gue belum tau lo yang sebenarnya Bil!"


Bilah menggeleng dan memegang tangan Kelvin erat. "Bilah takut sendirian. Kelvin harus maafin Bilah."


"See? Lo egois karena lo takut sendirian dan--" Kelvin menghentikan perkataan dan menyerngitkan alisnya terkejut. "Hidung lo..."


Bilah menyerngit bingung saat Kelvin tiba-tiba mengatakan itu. Bilah memegang hidungnya.


Darah?


Jujur saja Kelvin terkejut saat melihat wajah pucat dan lemas Bilah. Apa ia tak makan teratur? Tak makan seharian? Kenapa tiba-tiba Bilah mimisan?


Bilah menahan darah di hidung-nya dengan sapu tangan di sakunya. Persetan dengan darah, itu hanya cairan merah! "Vin, Bilah gak mau se-sendiri kayak gini. Ma- maaf." Bilah mengatakan itu dengan nafas tersenggal-senggal. Cairan merah itu dengan mengalir dari hidungnya.


"Jangan sekarang," batin Bilah.


Kelvin semakin menatap Bilah intens, ada apa dengan Bilah? Ia tak pernah melihat kondisi Bilah selemah ini. "Lo--"


"Maaf Vin, Bilah--" Bilah mengatakan itu dengan mata berkunang-kunang. Pusing yang amat teramat sangat mendera kepalanya. Ia rasa badannya juga mulai tak seimbang. Tak lama setelah itu tubuhnya jatuh ditanah,


Brukkk


Terjatuhnya Bilah ditanah membuat pelipisnya terluka terbentur tanah.


Ada apa dengan Kelvin? Kenapa ia tak langsung menangkap Bilah agar ia tak sampai terbentur seperti itu? Ia malah terbengong dan berjongkok menatap Bilah sambil tersenyum sinis. "Ini bukan bagian agar lo dapet maaf dari gue kan Bil?" gumam Kelvin dengan pikiran jahatnya, jelas jelas darah itu masih terbekas di bawah hidung sampai bibir Bilah, kenapa Kelvin masih menganggap ini drama?


Mommy yang keluar langsung terkejut dan sangat panik. "Kelvin!! Kenapa kamu lihatin aja! Angkat Bilah kedalem! Kamu ini gimanaa sih? Itu sahabat kamu, bukan waktunya buat curiga!"


Karena utusan mommy membuat Kelvin menurut saja apa yang ia katakan. "Ya tuhan Bilah! Kamu kenapa nak? Hidungnya juga mimisan gini. Badannya panas juga."


Mario hanya terdiam melihat itu. Bahkan pedulipun sebenarnya sedikit terselip dihatinya. Tapi mengingat perilaku Bilah akhir-akhir ini membuatnya jengah untuk peduli. "Biarin aja sih mom. Dia gitu juga ulah dia sendirikan gayaan pake sok-sokan hujan-hujan didepan."


"Mommy gak pernah ngajarin kamu gitu! Cepet ambilin air hangat sama kompres!" Mario menghela nafas gusar dan menuruti Mommy-nya. Sementara Kelvin sudah pulang sejak tugasnya menggendong Bilah telah usai.


***


Bilah telah terlelap dikamarnya. Tadi Bilah sudah sadar dan menolak perintah Mommy untuk menginap disana. Ia pesan gojek untuk pulang, ia hanya tak mau merepotkan Mario disana yang membuatnya semakin marah padanya nanti.


Bilah mengambil obat dilokernya. "Banyak banget sih, Bilah capek."


Disisi lain Kelvin termenung dikamar. Ia mengecek handphone-nya. Ia tak bisa tidur malam ini. Biasanya jika ia tak bisa tidur, ia akan menelfon Bilah mendengar ocehan Bilah yang membuat Kelvin tersenyum sendiri kadang bisa menjadi penghantar tidur untuknya. Jujur saja cerita khayalannya sungguh menyenangkan.


Kelvin mengambil buku biografi didalam loker meja belajarnya. Setelah dibuka, ia baru sadar banyak sekali slime dan squishy yang sengaja ia simpan untuk mainan Bilah jika ia berkunjung. Kelvin mengambil kresek dan memasukan semua barang yang membuatnya ingat pada Bilah.


Ketika ia membuka kulkas untuk mengambil makanan. Isinya kebanyakan coklat dan permen. Makanan kesukaan Bilah. Kelvin sangat suka ekspresi Bilah jika ia memberi makanan kesukaan Bilah. Kelvin menutup keras pintu kulkas. "Kenapa sih gue jadi kepikaran terus!"


Berbeda dengan Kelvin, Mario kini melamun bertarung dengan pikirannya sendiri. Ia bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan Bilah. Kenapa akhir-akhir ini wajahnya begitu pucat? Lalu kenapa juga Bilah sering mimisan? Dan tadi Bilah mengeluh tubuhnya sulit sekali untuk digerakkan.


Mario menggelengkan kepalanya menolak untuk memikirkannya. "Enggak enggak! Dulu dia cuman pernah bilang dia kecapekan."


"Iya kecapekan."


"Andai aja lo gak berubah Bil!"


...Gambaran kebodohanku. Benar menjadi luka saat aku tidak dibutuhkan. Meskipun begitu aku bahagia dia pernah membutuhkanku. Oleh waktu, aku menolak untuk hilang dihadapanmu karena aku tau detik itu aku tak sanggup menahan rintihan rindu. Namun oleh waktu akupun menolak malu berdiri didepan mu karena akupun tau untuk tak siap menahan rintih cemburu....


...-RanayahSabilah-...


TBC


Jangan lupaaaaa komennnn yaaaa manteman.


Aku tanya, kalian yang mana?


A. Tim Bilah meninggal


B. Tim Bilah hidup


Wkwkwkwk, pengen tau aja sih. Bingung soalnya