
Happy Reading
...Hatiku memutuskan kamu, perasaan ini melambai rindu memanggil empunya. Dan kini hanya hanyut tenggelam takkan siap memanggil tuannya. ...
...-RayanahS...
Putri tertawa sumbang. "Gue lihat sendiri!"
"Tapi kita--" belum sempat Cakra mengucapkan kata-katanya seorang perempuan datang dan menggenggam tangan Cakra. "Gue cewek barunya. Kenapa? Syirik?"
Putri berlari entah kemana dan Bilah mengejarnya. Cewek yang menggenggam tangan Cakra itu tersenyum sinis. Dia Thalia. Si Gadis licik.
...***...
Dirga menghisap chocolate panas yang ia pesan. "Gue gak tau sampai kapan. Gue bakal usaha."
Perempuan satunya lagi tertawa menyeringai menepuk punggung Dirga. "Aku gak yakin kamu bisa Dirga."
"Lo gak tau gue. Gue bakal dapetin apa yang gue mau dari dulu!" ujar Dirga.
"Imbalan dari taruhan itu juga sangat berarti buat gue. Gue bakal menangin tantangan itu demi lo! Demi gue bisa dapetin lo," -Dirga menghela nafas dan menggenggam tangan gadis itu- "Karena gue sayang sama lo."
"Kamu yakin? Kamu yakin bakal tega ngelukain hati Bilah? Bukankah dia mengingatkanmu akan adikmu? Apa kau yakin?" tanya gadis itu.
Dirga mengangguk. "Adik gue udah pergi. Bilah gak mirip sama adik gue. Gue cuman mau lo."
"Gue yakin bisa ngalahin cowok itu dengan tantangan yang lo beri. Gua bakal berjuang demi lo."
Perempuan itu memunduk. "Maaf Dir, mungkin aku terlihat jahat. Tapi ini semua aku lakuin karena aku gak tau siapa yang aku cintai sebenernya. Kamu atau dia? Aku gak tau," ujar gadis itu.
"Aku pakai Bilah karena---"
"Kar-karena Bilah udah ngambil sesuatu dari aku."
"Gue bisa ngerti. Lo harus tunggu gue. Beri gue kesempatan," ujar Dirga lagi.
"Dan gue gak peduli sama Bilah sama sekali," gumam Dirga lagi. Dan gadis itu tersenyum.
...***...
Bilah melangkahkan kakinya menuju rumah itu lagi, rumah mamanya. Ia sangat merindukan mama-nya. Entah kapan terakhir kali Bilah mendapat pelukan dan merasakan masakan mamanya. Rasanya itu cukup berkenang.
Saat masuk Bilah melihat mama-nya yang memeluk Rania bangga dan tertawa. Pasti mereka bahagia, pikir Bilah.
"Kamu memang andalan mama sayang," gumam Arini --Mama Bilah dan Rania--
"Mama! Gimana kalo kita liburan sebagai hadiah Rania? Ke Hawai mungkin?" ujar Rania.
Mamanya mengangguk tersenyum menarik hidung Rania, "Tentu sayang, kita memang kurang liburan bukan?"
Bilah berdehem untuk menyadarkan mereka, "Bilah? Ada apa kamu kesini? Oh, bagaimana dengan raport kamu?" tanya Mama-nya.
Bilah duduk disebelah kiri Arini, ingin sekali rasanya memeluknya seperti yang dilakukan Rania, "Em, raport Bilah lumayan kok ma, seperti biasanya."
"Mama rasa kamu harus belajar banyak seperti Rania." Bilah mengangguk mengiyakan karena memang sudah biasa Rania yang menjadi teladan.
"Mama gak pernah ke apartment ya? Bilah nunggu mama loh," ujar Bilah.
"Mama sibuk disini, mama banyak urusan jadi gak bisa jenguk kamu sayang."
"Bener yang dibilang mama, mama gak ada waktu buat bersenang-senang atau cuman sekedar liat apartment lo doang. Mama juga ada urusan gak cuman diem dirumah. Lo harus ngerti itu seharusnya," ujar Rania menatap Bilah sinis.
"Bener yang dibilang Rania sayang," ucapnya lagi. Selalu seperti ini.
Bilah hanya mengangguk tersenyum dan mengambil kotak dan diberikan untuk mama-nya, "Mama, Rania! Ini Bilah buat sesuatu buat kalian."
Bilah mengeluarkan makanan dengan semangat dan menunjukan pada kembaran dan mama-nya berharap bisa makan bersama lagi, "Ah, ini dia! Bilah habis belajar bikin gule kesukaan mama sama Rania dulu, kita makan bareng ya," ucap Bilah tersenyum.
Mama-nya menghembuskan nafas kecil seraya menatap Bilah, "Habis ini mama ada meeting, mama rasa bau gule sangat mengganggu nanti."
"Apalagi gue! Gue gak bisa makan daging, baunya buat gue muntah. Entah kenapa dulu gue suka, kerasukan kali!"
Bilah tersenyum kecut dan menutup kembali tempat makannya, dulu memang mereka sangat menyukai gule. Apalagi Rania yang selalu suap-suapan dengan Bilah. Entah kenapa sekarang semuanya berubah.
"Maaf, Bilah gak tau."
"Yaudah mama mau berangkat ke kantor dulu ya," ujar Arini berjalan keluar pintu tanpa memeluk Bilah yang sudah merentangkan tangan berharap pelukan itu.
Rania yang melihat itu tersenyum sinis, "Cih!"
Bilah berfikir, bukankah mereka tadi berencana berlibur ke Hawai atau yang lainnya? Tapi kenapa mama-nya tidak membahasnya saat Bilah datang? Apa Arini a.k.a mamanya itu tidak berniat memberitahu nya? Apa mereka ingin berlibur sendiri tanpa Bilah? Entahlah.
"Ngapain lo kesini? Ada urusan penting?" tanya Rania penuh sarkasme.
Bilah menggeleng, "Bilah cuman kangen."
"Gue gak suka liat lo disini. Lo udah liat kan? Meskipun lo kesini beribu-ribu kalipun gak akan buat keluarga kita harmonis kayak dulu! Apalagi ada lo!"
"Ran---"
"Satu langkah kaki lo keluar sama dengan menambah ketenangan hidup gue sama mama. Lo udah punya papa!"
...***...
Bilah berjalan sesekali bersenandung di tepi jalan sambil menggesek-gesekan batu entah apa tujuannya. Yang jelas ia kesal sekarang. Entahlah, masalahnya dengan keluarganya begitu rumit.
Ingin rasanya melihat mamanya menyiapkan makanan dimeja makan, papanya yang membaca koran dengan secangkir kopi di area taman, kembarannya Rania yang selalu menjahilinya dan memeluknya saat menangis.
Mengenai pekerjaan Bilah yang sekarang saja membuatnya makin pusing. Entah apa yang dilakukan sahabatnya itu sehingga atasannya memecatnya dengan memberi sebuah pesangon. Atasannya bilang bahwa Bilah tak layak bekerja disini mengingat kedua kakaknya yang memohon dan memberi uang atas kenakalan remaja seperti Bilah yang kabur dari rumah. Kakak darimana? Kedua orang itu sudah pasti Mario dan Kelvin. Menyebalkan!
"Alasan mereka gak mutu banget!" gumam Bilah.
Dirga datang berjalan beriringan disamping Bilah. "Bil lihat diatas ada burung!"
Seketika Bilah melihat keatas dan reflek membuka mulutnya.
Plukk
Dirga memasukkan coklat saat mulut Bilah terbuka. Bilah tersedak karena terkejut. Dengan sengaja ia memuntahkan coklat itu dan meminum air. Bilah tak tau jika itu Dirga.
"Ini eek burung keselekk ditenggorakan Bilah! Burung nakal!" ujar Bilah terbatuk-batu dan minum.
Bibir Bilah mengecap-ngecap sambil merasakan sesuatu. "Kok eek burungnya manis ya."
"Itu coklat kali Bil!" ujar Dirga. Bilah menoleh dan membulatkan matanya.
"Dirga?! Sejak kapan? I-itu tadi coklat dari Dirga?!" ujar Bilah sedikit teriak.
"Buat Bilah? Ma-makasih."
"Maaf ya tadi Bilah buang coklatnya. Habis Bilah kirain itu eek burung."
Dirga terkekeh dan mengacak halus rambut Bilah. "Lo jangan terlalu polos sama dunia yang kejam."
Bilah menyerngit bingung. "Maksudnya?"
"Lupain."
"Kenapa Dirga jalan? Gak naik motornya?" tanya Bilah menatap depan. Ia tak berani menatap Dirga. Itu akan semakin membuatnya gugup.
Dirga menggeleng. "Sengaja nemenin lo. Gak baik cewek jalan sendiri."
Bilah menunduk malu. Kenapa ia luluh karena Dirga mengatakan itu? Rasa gugup-pun melandanya."Bil----Bilah bisa jalan sendiri kok. Lagian ini banyak orang nanti kalo ada yang ganggu Bilah tinggal teriak."
"Gue harus bisa buat lo baper sama gue. Maafin gue."
Dirga menatap Bilah kagum terus-menerus, Bilah yang menyadari itupun gugup dan salah tingkah. Bilah membuka bungkus coklat dan memakannya lahap berharap coklat itu membujuk jantungnya agar tetap tenang.
Dirga yang melihat itu hanya tersenyum. "Bil--Bilah suka coklat oreo. Makasih ya Dirga," ujar Bilah gugup. Jantungnya tak karuan antara gugup, senang dan gemetar. Mungkin ini yang namanya cinta membuat perasaan campur aduk.
Dirga mengangguk dan tersenyum. Senyuman itu yang membuat Bilah ikut tersenyum. Ia begitu menyukai pria didepannya ini. "Karena adik gue juga suka itu," ujar Dirga tiba-tiba.
Bilah menatap Dirga dan sejenak berpikir. "Dirga punya adik?"
Dirga mengangguk. "Ya. Dia udah pergi."
Bilah mengangguk mengerti. "Pasti rasanya sakit. Memang sedih kehilangan orang yang kita sayangi."
Dirga tersenyum getir. "Gue harap dia bahagia disana."
Bilah mengangguk semangat. "Dia pasti bahagia kok. Percaya sama Bilah! Dia pasti bangga punya kakak yang baik kayak Dirga!"
"Lo terlalu naif Bil. Gue gak sebaik itu," Batin Dirga
"Gue harap itulah yang terjadi," ucap Dirga.
"Kalo bisa, kalo dia sedih Bilah bakal datang kesana. Bilah bakal kasih pelukan hangat buat adik Dirga," ujar Bilah tersenyum semangat.
"Biar senang juga, Bilah bakal bawain sejuta boneka doraemon buat adik Dirga kok, hehehe," ucap Bilah kikuk dan kembali menatap Bilah, "Tapi Dir---"
"Kenapa?"
"Asal Dirga tau, diatas sana orang yang masuk surga sudah punya banyak sesuatu yang mereka inginkan. Bahkan kalau Bilah pergi kesana dengan sejuta boneka dan makanan, mungkin itu tak akan sebanding dengan apapun."
"Lo bener," ujar Dirga tersenyum setuju.
Bilah lagi-lagi mengucapkan sesuatu pada Dirga agar laki-laki itu tak larut dalam kesedihan, meskipun mungkin hanya 1 menit untuk meringankannya, "Dirga tau gak? Apa gunanya Dirga sedih kalau yang disedihin senang-senang disana! Adik Dirga udah bahagia, amat sangat terlampau bahagia yang mungkin disana dia menertawakan Dirga yang sedih karena dia udah gak ada. Cih, jangan mau diketawain ya sama adiknya sendiri."
"Bahkan mungkin adik Dirga lebih bahagia disana dibanding Dirga. Jika Dirga bisa lihat, mungkin sekarang adik Dirga lagi tertawa liat wajah murung yang kayak gini."
Dirga hanya bingung. Kenapa Bilah begitu baik? Apa dia mampu membuat Bilah sakit hati? Itu harus!
"Gitu ya Bil? Makasih ya, gue gak mau kalah sama adik gue dong!"
"Heheeh gitu dong! Masa cewek kalah sama cowok?" ujar Bilah lagi.
Biasanya jika ada orang yang mengetahui adik Dirga telah tiada. Orang itu hanya mengatakan hal yang pada umumnya. Seperti :
Turut berduka cita
Semoga dia tenang disana
Gue yakin dia udah di surga
Lo harus ikhlas
Lo harus sabar
Hal ini membosankan, tak membuat Dirga membaik malah semakin merenung.
"Dia pasti tenang! Kalo gak, Bilah bakal turun tangan buat tenangin dia!"
Jawaban dari Bilah beda dari yang lain. Dia mengatakan jika adiknya tidak tenang disana maka ia akan datang memberikan ketenanagan? Dirga tau itu tidak masuk akal. Tapi entah kenapa kata-kata Bilah membuatnya tenang.
"Kenapa lo mau nenangin adik gue disana? Bahkan lo gak tau dia."
Bilah hanya tersenyum. "Karena sedih aja. Kalo gak ada yang nenangin itu gak enak. Bilah gak suka. Bilah gak mau hal kayak gitu kejadian sama adik Dirga. Kasihan dia."
"Apa harus adik gue? Kenapa?"
"Karena itu adik Dirga."
"Kenapa gue?"
"Karena Dirga baik," ujar Bilah tersenyum.
Dirga menghela nafas kasar. "Lo jangan terlalu baik Bil. Semua gak baik seperti yang lo kira."
"Bilah tau. Tapi semua yang gak baik itu harus diiringi suatu yang baik. Kalo mereka berapi, kita gak boleh jadi api. Kita harus jadi air."
Dirga menghela nafas tak tenang. Yang dipikirannya saat ini. "Gue harus bisa."
"Udah sampai. Bilah masuk dulu ya. Bye!"
"Tunggu Bil!" Dirga menahan Bilah.
"Maafin gue Bil," batin Dirga. Dirga mendekatkan bibirnya dan mencium pipi Bilah.
Cup
Deg
Vote and comment ya!
Ngomong-ngomong kalian mau cerita ini kayak gimana? Atau saran dari kalian gimana? Keluarin aja semua uneg uneg nya kawan! Hahaha :v
Komentar kalian sangat berharga dan buat aku senang! Hehehe.