
"Udah tidur Bil?"
"Dirga, itu pertanyaan yang gak perlu Bilah jawab oke?"
Dari sana Dirga terkikik geli mendengar suara gemas Bilah. Tapi juga terselip rasa tercubit dihatinya. "Kamu lagi apa?"
"Lagi tiduran ini, kepala Bilah migrain ini kayaknya. Kayaknya otak Bilah rontok kebanyakan denger Dirga ngomong rumus."
"Serius Bil? Besok kedokter ya?"
"Gausah! Ih cuman pusing doang. Alay nih Dirga!"
"Oke sampai jumpa dirumah sakit!"
"Ih Dirga kok gitu?"
"Lagiann gamau diperiksa."
"Bilah takut sama dokternya. Pakai baju putih terus. Mereka itu mau nyelamatin orang terkesan kayak pocong!"
"Hushh! Gaboleh bilang gitu Bil! Gitu gitu mereka berjasa!"
"Iyain aja"
"Bil, besok cari baju ya buat promnight. Kita harus jadi couple sweet kan besok? Itukan yang kamu pengen?"
Bilah mengangguk semangat meskipun Dirga tak melihatnya. "Oke dadah!"
...****...
Balutan dress bewarna merah maroon dengan flatshoes yang senada. Kali ini Bilah sedikit mengikal-kan rambutnya dan menggunakan sedikit polesan make up. Meskipun terlihat cantik, tetap saja namanya Bilah ya Bilah dengan bau minyak kayu putih dan bedak seperti bayi melekat ditubuhnya.
Tentu saja Bilah berjalan bersama Dirga di karpet merah yang disediakan. Bilah dan Dirga menghampiri Kelvin, Mario, Selena dan Putri yang kebetulan ada disana. Mungkin saja salah satu dari kedua pria itu mengajak Selena dan Putri.
"Hai semua," sapa Bilah pada mereka yang sedang asik mengobrol.
Kelvin dan Mario menatap Bilah takjub, "Wah temenn gue cantik bangettt malem ini."
"Ohhh jadi sebelumnya Bilah gak pernah cantik gitu?"
"Ya emang," jawab Kelvin meledek Bilah.
"Ish."
Bilah emang terlihat cantik sekarang. Benar-benar cantik dengan balutan dress-nya. Bukan berarti sebelumnya tak cantik, hanya saja biasanya Bilah tak pernah bepakaian feminim.
"Cantik, suisuit." Yang benar saja, anak laki-laki banyak sekali yang menggoda Bilah. Bilah hanya terdiam tak membalas. "Jangan ganggu pacar gue!" ujar Dirga pada teman laki-laki itu.
"Tau ih! Bilah udah punya pacar tau! Jangan gangguin Bilah! Mending kalian cari yang lain," ucap Bilah sambil menggandeng tangan Dirga.
"Duhh galak banget sih neng cantik, anak siapa sih?"
Bilah memandang mereka jijik, "Anak konda!" setelah mengucap hal itu Bilah membisikkan sesuatu pada Dirga membuat Dirga sedikit menahan tawa. Mereka bingung, apa yang dibisikkan Bilah.
"Yaudah gue sama Bilah duluan ya ngambil makan," ujar Dirga pada mereka semua dan menarik pinggang Bilah. Sungguh, Dirga bingung kenapa Bilah selalu sukses menghiburnya dengan Bilah menjadi diri sendiri. Bilah yang konyol. Salah, bukan konyol. Bilah lugu.
Bilah memakan kuenya dengan lahap, kuenya begitu enak dengan baluran coklat yang sempurna. "Enak ya? Mau aku beliin yang kayak gitu?" tanya Dirga mengusap bibir Bilah dengan tisu.
"Di--Dirga malu gak kalo Bilah makan rakus gini?" tanya Bilah dengan berbisik pada Dirga. Dirga menggeleng dan tersenyum berkata, "semakin rakus semakin lucu."
"Bil, tunggu sini ya. Aku ada perlu,mau kesana dulu. Boleh?" Bilah mengangguk membolehkan Dirga meninggalkannya.
25 menit. Tapi Dirga tak kunjung datang menemui Bilah. Bilah memutuskan untuk ke toilet yang ada disebelah taman.
Saat hendak memasuki toilet Bilah mendengar suara seseorang. Seseorang yang begitu Bilah kenal. Bilah bersandar pada dinding dan menguping pembicaraan orang itu.
"Kamu nyantai aja oke?" Laki-laki itu menangkup pipi perempuan itu dengan pandangan sayang. "Gak lama pasti aku putusin dia."
"Aku gak benar-benar cinta sama dia," ujar laki-laki itu sambil memeluk perempuan yang didepannya. Ya, jika kalian mengira itu Dirga kalian benar. Siapa lagi?
Bilah terkejut. Apa yang Dirga lakukan? kakinya seakan lemas seperti tak ada yang menopang. Apa yang Dirga katakan barusan? Apa itu tertuju untuknya?
Bilah Pov
Jika kalian tanya bagimana perasaanku, sungguh ini membingungkan. Apa yang Dirga katakann? Kenapa Dirga memeluk perempuan itu? Kenapa juga aku meneteskan air mata dengan hal yang tidak pasti. Dirga tidak jahat. Aku yakin.
Apa maksud perkataan Dirga 'Aku gak benar-benar cinta sama dia.' 'Gak lama aku pasti putusin dia'
Apa yang dimaksud adalah aku? Tapi kenapa Dirga melakukan itu? Apa ada manusia setega itu. Kurasa tak ada manusia yang begitu jahat di dunia. Apa Dirga berbohong selama ini?
Tidak.
Aku tidak boleh berburuk sangka pada Dirga. Dirga pacarku. Artinya aku harus percaya padanya. Sampai dia yang mengatakannya sendiri. Aku tak boleh menangis seperti ini. Ini hanya aku yang salah paham. Aku yakin.
Aku memutuskan kembali ke tempat makan tadi. Karena kata Dirga ia akan kembali menemuiku. Memang benar, Dirga sudah disana. Aku mencoba bersikap biasa saja tanpa menanyakan sesuatu yang aku sangat takutkan jawabannya.
"Udah kenyang, hm?" tanya Dirga sambil tersenyum padaku. Senyumannya yang selalu membuatku luluh.
"Dirga.."
"Hm?"
"Jangan pernah pergi ya, pergi perlahan jika memang harus. Berpura-puralah jika begitu."
Dirga mengerutkan dahinya bingung. "Maksudnya?" dia begitu bingung dengan pernyataanku. Mungkin saja Dirga tak paham karena ia tak berniat begitu. Aku tak perlu khawatir.
Aku menggeleng dan menggenggam tangan Dirga. Sungguh, aku hanya takut tangan ini tak bisa aku genggam lagi. "Enggak, Bilah cuman ngeluarin quote yang mau Bilah bikin di novel. Bagus gak?" Dirga hanya mengangguk mengiyakan.
Author Pov
"Aku kesana dulu ya. Sebentar aja," ujar Dirga pada Bilah. Bilah kembali duduk dan memandang semua keadaan party. Putri tiba-tiba saja datang sambil mengangetkan.
"Tes.. tes.."
Bilah berhenti karena Bilah mengenal suara itu. Itu suara Dirga. Dirga, laki-laki itu terduduk disebuah kursi diatas panggung dengan gitar dipangkuannya. Bilah bingung, kenapa dengan Dirga diatas panggung?
"Malam semua. Gue disini mau nyanyiin lagu buat orang special. Semoga dia suka," ujar Dirga saat itu. Bilah hanya diam tak bisa berkata. Ia hanya merasa bingung. Suara keramaiaan iri pada Bilah terdengar, mulai dari orang yang berkata jika Bilah beruntung memiliki Dirga, Dirga yang begitu romantis pada Bilah sampai ada yang mau menjadi pacar Dirga.
Suara petikan terdengar begitu merdu dikehinangan malam, menggema begitu hangat. Telinga ini begitu dimanjakan.
Some days you don't feel beautiful,
some days you wanna change it all.
I answer with a question mark,
I love you just the way you are.
I changed myself you ask me too,
but there's one thing that I could not do.
No I wouldn't change a thing... About you.
.
.
.
.
But some day you wake up
and feel like you need love,
you can't see your smile,
your eyes not the way that I do.
Don't ever feel worthless,
just know that you're perfect,
and I'd change the world before
I change a thing about you.
"Makasih buat dia yang selama ini ada buat gue. Semoga suka. Tapi disini gue gak cuman mau nyanyi, gue mau menyatakan cinta gue. Udah lama, hanya masalah waktu gue baru bisa bilang sekarang."
Semua begitu membingungkan. Menyatakan cinta? Bukankah Dirga sudah menyatakan cinta pada Bilah? Bilah hanya berdiri, sungguh ia hanya takut.
"Gue suka sama lo sejak dulu. Ketemu sama lo itu takdir, jatuh cinta sama lo juga di luar kendali gue." Dirga mengucapkannya begitu dengan percaya diri.
"We have different past time, but now i want to talk about our future, could you be mine?" Ucapan Dirga seakan membuat seluruhnya terdiam. Sangat terdiam, benar-benar hening. Pada siapa Dirga meminta seseorang untuk jadi miliknya, bukankah Bilah sudah jadi miliknya?
Bilah berdiri kaku dengan wajah yang membingungkan dan menunduk kebawah. Bilah hanya merasa hal yang ia takutkan semakin dekat.
"Please, give me an answer now, Putri."
Deg
Jantung Bilah seakan berhenti disana. Apa yang harus Bilah lakukah sekarang. Bilah tak sanggup menatap Dirga, ia hanya menunduk, ia hanya merasa tak mampu. Yang Bilah dengar seakan membuat otaknya berputar keras. Putri? Apa yang Dirga maksud---Kenapa harus Putri? Bilah ada dibelakang Putri, namun Bilah bisa melihat ekspresi Putri saat ini. Ia tersenyum malu. Bilah juga bingung, apa Putri bahagia saaat ini? Apa yang didepan bukanlah Dirga?
"Once again, will you be mine Putri?"
Putri tersenyum menutupi mulutnya karena ia begitu terharu. Ia sangat menantikan hal ini. Putri mengangguk menerima pernyataan cinta Dirga, "Yes, I will." Suara sorakan begitu menggema menyoraki mereka berdua.
Satu kata itu. Satu kata yang membuat Bilah tak bisa bergerak sedikitpun. Semua begitu sulit bagi Bilah. Apa maksud Dirga? Kenapa dia setega itu. Semua seperti menatap Bilah iba. Setetes air mata turun tanpa permisi pada pipi-nya. Dirga turun ke panggung dan memeluk Putri saat itu.
Ya, Dirga memeluk Putri dengan Bilah dibelakangnya. Kenapa semua menjadi begitu menyakitkan. Bilah menghapus air matanya dan ingin berbalik lari menjauhi mereka. Bahkan ia masih bingung dengan keadaan sekarang. Sungguh air mata sialan itu terus saja mengalir jika Bila masih disana. Bilah membalikkan badannya dengan mata yang berkaca-kaca. Saat ia berlari tiba-tiba saja...
"Tunggu Bil!" Bilah menghentikan langkahnya dan diam tanpa berbalik.
"Mulai saat ini kita putus." Begitu sialan, Dirga mengucap hal itu tanpa belas kasihan, begitu enteng seperti tak terjadi apa-apa. Para murid juga bingung dengan keadaan ini.
"Sejak awal, gue cuman mau main-main sama lo. Gue gak bener-bener suka sama lo. Gue cuman suka sama Putri," ucap Dirga yang begitu menyayat hati Bilah.
Bilah hanya tak menyangka jika ia akan putus cinta yang berhungungan dengan sahabatnya. Ini benar-benar diluar nalar Bilah. Seakan semua tidak benar.
Bilah membalikkan badannya dan meberanikan diri menatap Dirga. "Kenapa Dir? Bilah salah apa sama Dirga? Kalau emang Dirga gak suka sama Bilah gak harus sampai pacaran. Selama ini semua cuman kebohongan kan?" ujar Bilah dengan suara yang bergetar.
"Ya, selama ini semua cuman bohongan. Perilaku gue selama ini, semua gak tulus. Itu cuman rencana," ujar Dirga.
Bilah hanya tersenyum. Sampai saat ini, ia tak bisa marah pada Dirga. Awalnya semua indah, siapa yang sangka sedetik bisa membuatnya sirna. Bilah mengangguk dan tersenyun dengan mata berkaca-kaca pada Dirga. "Oke----" Bilah berusaha dengan menelan ludahnya agar ia tak terdengar gemetar dan ingin menangis. "Bagaimanapun Putri juga sahabat Bilah. Dir--Dirga juga teman yang baik." Bilah menarik nafas menyesuaikan suaranya. "Selamat ya buat kalian berdua. Bil--Bilah ikut seneng."
Bilah kembali membalikkan badannya. Tapi suara lain mengentikan Bilah. Bilah bingung, kenapa ia tak dibiarkan lari saja, kenapa semua begitu tega menahan Bilah disini. "Jangan pernah anggep gua sahabat Bil. Gue pun gitu. Dari awal gue benci sama lo! Lo ngrebut semua dari gue. Gue suka Dirga dari dulu, tapi lo ngrebut semua kan? Bukan hanya Dirga."
Bilah meneteskan air mata lagi. Sungguh ia tak ingin kehilangan sahabatnya. "Pu--Putri... Kita sahabat, jangan karena hal ini kita renggang oke?" ucap Bilah begitu lirih.
"Enggak Bil. Lo bukan lagi sahabat gue." Putri pergi menggandeng Dirga menjauhi Bilah.
Bilah sangat hancur saat ini semua begitu tidak bersahabat dengannya. Semua berakhir dengan pergi dari-nya. Bilah merasa seharusnya ia sudah kebal, tapi kenapa rasa sakitnya begitu sama. Masih sama menyakitkan rasanya. Bilah lari dengan sesenggukan dan memanggil taxi untuk kembali ke apartment. Malam itu, malam yang hancur, menghancurkan perasaan Bilah.
...Bukan. Aku hanya penyuka debu. Dia terbang tanpa tau kemana, orang membencinya. Tapi dia selalu datang bersama membentuk suatu tanda bahwa dia sudah lama. Dia seperti tanda dari kenangan...
...-RanayahSabilah-...
TBC