
HAPPY READING!
Bilahh menangis terisak begitu kuat di tempat yang sepi selalu ia datangi. Bilah meletakkan kepalanya di lutut sambil mengusap hidungnya dengan tangannya. Ia merasa hancur dan begitu sedih. Rasanya ia ingin segera berakhir. Tapi lagi-lagi ia percaya akan takdir tuhan yang akan berakhir indah.
Sampai suasana mendung tiba pun Bilah tak beranjak dari tempatnya dan tetap menangis. Ia terlampau sedih karena penyebab ia semangat sudah menghancurkan semangatnya kali ini. Bilah berfikir, apa dengan penyakit ini cara tuhan mengakhiri segalanya?
Seseorang mengelus punggung Bilah. Ia juga menangis disamping Bilah. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat pada Bilah. Sungguh mengenaskan nasib sahabatnya ini, rasa menyesal pernah berbuat buruk pada Bilah pun terasa. Ya, ia Putri. Putri memeluk Bilah sambil menangis sedih, "Bilah. Jangan nangis. Lo kenapa? Maafin gue karena selama ini gak selalu ada buat lo Bil."
Putri terisak dipelukan Bilah. "Gu--gue jahatt sama lo Bil. Harusnya gue ada disaat-saat lo ngebutuhin gue. Hiks.. hiks...."
Bilah yang tadinya tertunduk kini menghadap Putri. "Mereka udah gak mau jadi sahabat Bilah. Sekarang mereka jahat sama Bilah. Disaat Bilah putus asa, Bilah sadar tuhan ngirim Putri buat ada disamping Bilah. Makasih ya Put, Bilah udah seneng Putri ada disamping Bilah."
Putri melepas pelukan Bilah dan memegang pundak Bilah sedikit erat dan menatapnya dengan penuh air mata. "Cerita sama gue Bil. Apa yang udah terjadi? Kenapa lo jadi kayak gini?"
Bilah tersenyum pada Putri lalu sedikit menundukkan kepalanya karena ia malu jika bercerita tentang kelemahannya pada Putri. "Bilah sakit. Ini efek kemoterapi yang Bilah lakuin. Tapi Bilah gapapa kok, Putri tenang aja."
"Tenang? Bil, lo gamungkin gapapa kalau sampai harus di kemoterapi. Lo sakit apa Bil?"
"Bilah sakit kanker darah." Setelah Bilah mengucap itu, Putri terdiam tak bisa berkata lagi. Ia sungguh merasa menjadi tidak berguna sebagai sahabat. Bahkan ia tak yakin ia layak disebut sebagai sahabat. Ia terlalu kejam pada Bilah dulu, dan sekarang ia ingin menebusnya.
"Sejak kapan?"
"Bilah lupa. Udah lama."
...****...
Saat ini Bilah dan Putri menghabiskan malam bersama. Mereka melepas rindu mereka dan menghabiskan waktunya di mall.
"Bil, ada yang mau ngomong dan ketemu sama lo," ujar Putri sambil memakan ice creamnya di meja kotak salah satu kedai di mall itu.
Tiba-tiba saja Dirga datang dan duduk di hadapan Bilah dan Putri. "Bil, gue minta maaf pernah nyakitin lo dulu."
Bilah mengangguk, "Dirga tenang aja. Bilah udah maafin. Mungkin bakal susah kalau Bilah masih ada rasa sama Dirga. Karena Bilah udah gak ada rasa lagi buat Dirga, jadi lebih gampang maafinnya. Lagian Bilah udah lupa karena ada masalah yang lebih berat yang harus Bilah hadepin."
"Lo bener gapapa kan Bil? Maksud gue, jangan pura pura--" Bilah menyelah ucapan Putri sambil memegang tangannya. "Putri, Bilah sumpah gapapa kok. Sumpah beneran, kalian jangan sampai gak enak gara gara Bilah ya? Bilah bener gapapa, Bilah udah lupain semua. Sekarang kita semua bisa temenan dan jangan ngerasa saling gak enak atau gimana." Bilah mengatakan itu sesuai fakta. Nyatanya memang Bilah sudah tidak ada rasa dengan Dirga. Sama sekali tidak ada. Bahkan sejujurnya Bilah bahagia melihat hubungan Putri dan Dirga. Bilah benar-benar tidak mempermasalahkan hal itu.
"Oh ya, kabar bunda gimana Dir?" tanya Bilah pada Dirga.
"Bunda baik-baik aja kok Bil," hawab Dirga. Membicarakan bunda, Putri jadi teringat sesuatu, "Oh ya Bil, bundanya Dirga sering nyariin lo tuh. Kangen katanya. Kapan-kapan kita kesana bareng ya?" ajak Putri dan diangguki semangat oleh Bilah.
"Boleh-boleh, waktu itu Bilah juga diajak sama bunda, cuman Bilah waktu itu gak mau karena masih gak enak sama Dirga."
Dirga-pun memakan makanannya sambil berucap. "Yaudah, gimana kalau kalian berdua kerumah besok? Kalian nemenin bunda, aku ajak Dimas main PS dirumah."
"Boleh deh."
"Bil, kata Putri lo sakit? Apa gak sebaiknya lo tinggal sama Putri aja?" ujar Dirga memberi usulan dan disetujui oleh Putri. "Bener Bil, gak baik kalau lo tinggal sendiri disana. Atau enggak, lo bisa tinggal dirumah bunda, sekalian nemenin bunda. Kan Dirga sering kelayapan."
"Husshh ngawur, apa kata tetangga Put."
"Mana peduli sih komplek rumah Dirga mah, lo ya lo, gue ya gue, ya gak Dir?" ucap Putri. "Iya juga sih."
Bilah menggelengkan kepalanya. "Enggak deh, Bilah masih suka di tempat Bilah. Banyak kenangannya juga. Nanti kalau Bilah udah gak tahan, Bilah bakal bilang kok, santai aja."
"Bener ya? Janji?" ujar Putri memberi kepastian dan dianggkui oleh Bilah.
"Kalau enggak, lo tinggal dirumah gue aja deh, Bil," ucap Putri lagi.
"Siap deh, kalian tenang aja ya."
***
Mario terlihat melamun dengan memandang televisi didepannya. Jelas sekali dari pandangannya bahwa televisi didepannya seakan hilang suara. Pikirannya kemana-kemana mengingat kejadian tadi.
Kelvin tiba-tiba saja datang dan duduk disebelah Mario. Kelvin melempar sekotak martabak titipan Mario. "Jadi gak mabar?" tanya Kelvin. Namun Mario tak menjawab tetap menatap televisi didepannya.
"Kenapa sih lu? Ngelamunin apasih?" tanya Kelvin yang mulai membuka aplikasi game favorite para lelaki sekarang.
Mario menghembuskan nafas kasar dan mengambil handphonennya dari saku hapenya. "Menurut lo, kenapa Bilah botakin kepalanya? Kenapa dia sering mimisan?"
Kelvin mengedikkan bahu tak tahu. "Gue gak tau, kalau lo inget dulu dia pernah bilang kecapekan."
"Apa yang kita lakuin ini bener?" tanya Mario.
Kelvin mengangkat alisnya bingung. "Ya, bukannya lo sendiri yang bilang buat Bilah jerah? Biar dia gak manja?"
"Ya. Lo bener. Dia bahkan udah kejam sama Selena. Gak seharusnya gue khawatirin Bilah sekarang," ucap mantap Mario.
"Mau ke apartment Bilah. Mommy kangen sama dia, kalau buat brownis gini jadi inget dia," ujar Mommy menatap Kelvin dan Mario. Mommy menghembuskan nafas kecewa. "Kalian masih belum baikan? Bukannya ini keterlaluan?"
Mario dan Kelvin tak menjawab terus memainkan handphone-nya dengan lihai-nya. "Yaudah Mommy berangkat."
15 menitan mommy berangkat menuju apartment Bilah. Dengan wajah yang berbinar mommy penuh semangat menuju kesana.
Tok..tok..tok..
"Bilah sayang..."
Mommy mengetuk pintu dengan semangat. Ia menunggu selama 1 menit tapi belum ada balasan. Ia mengetuk pintu lagi.
Tok..tok..tok..
Tetap tidak ada jawaban. Kali ini mommy mengetuk lebih keras dan banyak. Sebenarnya mommy tau password apartment Bilah. Tapi kalau langsung masuk ia merasa tidak sopan. Tapi karena menunggu lama, Mommy memutuskan membuka pintunya. Ketika masuk ruangan ia tak melihat Bilah disana.
"Bilah.. kamu dimana sayang?" Sangat aneh. Biasanya Bilah menyambut-nya dengan penuh semangat dengan sekali ketukan saja. Padahal ia juga sudah berjanjian dengan Bilah tadi pagi.
Mommy meletakkan bawaanya ke meja dan sedikit berlari menuju kamar Bilah. Mommy membulatkan matanya melihat keadaan Bilah sekarang.
"Bilahh!! Kamu kenapa nak?" Mommy begitu khawatir melihat keadaan Bilah yang pucat terbaring dilantai sambil memegang kepalanya erat dan meringis kesakitan minta tolong.
"Sakitt.... Hiks.. hiks.. hiks.. tolong, sakit.." Bilah terus memegang kepalanya erat dengan tergeletak dilantai.
"Bilah.. apa yang harus mommy lakuin sayang?" ujar mommy khawatir sambil menangis melihat Bilah.
Bilah menatap mommy sendu. "Mommy...hiks..hiks.. sakit.. Bilahh gak kuat. Mommy..." Mommy terus memeluk Bilah sambil menelfon supirnya untuk segera masuk ke apartment Bilah. "Cepet masuk kesini! Passwordnya 29052806." perlu kalian ketahui, angka itu adalah tanggal dan bulan lahir Mario dan Kelvin.
"Mommy-- Ru--rumah sakit-- Husada 10." Mommy mengangguk mengerti dan segera membawa Bilah ketempat itu. "Iya sayang sabar ya."
Setelah 5 menitan diperiksa, Mommy dan Bilah duduk didepan dokter yang selama ini menangani Bilah.
"Apa kau tak meminum obatnya? Kenapa?" tanya dokter.
"Obatnya habis. Bilah belum beli lagi," ujar Bilah.
"Kenapa gak bilang? Kalau gitu kan saya bisa mengirimnya untukmu Bilah," ujar dokter itu membuat Bilah menunduk. "Bil--Bilah.. belum cukup uang dok. Sepertinya kemoterapi ini tidak usah dilanjutkan saja."
"Apa kamu yakin? Itu bisa membahayakanmu. Lalu apa yang kamu lakukan?" ujar dokter.
Mommy yang menyimak percakapan antara dokter dan Bilah menyerngit bingung dan membelakkan matanya. "Apa maksudnya? Kemoterapi? Kenapa harus? Bilah sakit apa sayang?"
Bilah tersenyum pada mommy. "Mommy tenang aja. Bilah gak papa." Lalu Bilah menatap dokter itu, "Bilah yakin dok. Biarkan seperti itu. Sebelum Bilah tau Bilah sakit apa, Bilah udah kuat dan biasa ngehadapin ini. Terimakasih dok atas kebaikannya selama ini."
Bilah keluar dari ruangan itu dengan Mommy. "Bilah jelasin sama mommy."
Bilah menunduk. "Mommy janji gak akan bilang sama Mario dan Kelvin? Bilah gak mau mereka semakin menjauh dari Bilah." Mommy menatap Bilah ibah dan mengelus kepala Bilah. "Iya Mommy janji. Katakan sayang."
"Bilah kanker mom. Tapi Mommy gak perlu khawatir. Kanker itu akan musnah. Percaya sama Bilah," ujar Bilah dengan senyum ceria diwajahnya. Mommy yang melihatnya meneteskan air mata. Apa senyum ceria yang ditujukan padanya selama ini semuaa hanya kebohongan? Untuk menutupi lukanya? Mommy baru sadar, jika Bilah sering kali pingsan dan mimisan selama ini.
"Kanker apa Bil?"
"Kanker darah mom. Itu bukan penyakit yang menyeramkan. Mommy gak perlu khawatir," ujar Bilah dengan senyumnya. Bagaimana ia bisa berfikir seperti itu? Mommy membawa Bilah ditaman samping rumah sakit dan duduk di kursi panjang disana.
"Bilah, kanker darah itu harus kamu obati sayang. Kamu gak perlu khawatir dengan biaya. Mommy siap menanggung semuanya. Kamu seperti anak mommy Bilah," ujar Mommy memeluk Bilah dan sesekali meneteskan air mata.
Bilah menggeleng pelan. "Enggak mom. Ini semua udah cukup. Cukup mommy berada di sisi Bilah selama ini aja udah buat Bilah bahagia. Cukup mommy yang terlalu baik buat Bilah. Itu semuaa lebih dari cukup untuk Bilah. Bilah gak mau menambah beban mommy lagi. Mommy terlalu baik sama Bilah mom." Bilah mengatakan itu sambil memeluk mommy erat. "Bilah sayang mommy."
Mommy melepas pelukan Bilah dan menangkup wajah Bilah. "Bilah, kamu sama sekali gak membebani mommy dengan ini semua sayang. Bilah mau ya berobat lagi?"
Bilah menggeleng lagi. "Mommy, biayanya gak sedikit. Biaya yang sebanyak itu jugak gak menjamin Bilah sembuh. Lagian--" Bilah menunduk dan meneteskan airmatanya. "Ini semua sudah cukup. Bilah gak harus berjuang lagi. Bilah janji akan terus semangat, tapi Bilah gak mau berobat lagi. Itu semua malah menghabiskan waktu dan uang Mom."
"Bahkan, jika tuhan nantinya akan mengambil Bilah. Bukannya itu lebih baik? semua masalah tentang Bilah akan hilang." Bilah mengatakan itu sambil tersenyum dengan air matanya menatap Mommy. "Mama Arini gak perlu lagi ngurusin Bilah. Rania gak perlu lagi berusa menutupi identitas kita berdua. Papa gak perlu lagi terancam karena ngirimin Bilah uang. Kelvin dan Mario gak perlu lagi ngurusin dan direpotkan sama Bilah." Lalu Bilah menghapus air mata Mommy. "Dan Mommy, gak perlu lagi nangis kayak gini karena Bilah. Percaya sama Bilah. Semua akan baik-baik saja dengann apapun yang terjadi sama Bilah."
Mommy memeluk Bilah erat dan menangis. "Mommy lebih sedih kalau Bilah gak ada disisi Mommy lagi hiks..hiks.. Jangan pernah bilang kayak gitu lagi."
...Semuua masa akan hilang. Hadirnya aku tak lagi sama berharganya. Tetap saja aku pernah bahagia pernah seberharga itu. Maaf jika aku lancang tetap menganggapmu berharga sama seperti dulu dan tidak pernah berubah....
...-RanayahSabilah-...
TBC
KALI INI PART NYA NYANTAI AJA YA MAAP. MOODKU UNTUK MENULIS RASANYA TIDAK ADA MAAP. GA NGERTI GIMANA NAIKIN MOOD NULIS 😭😭
FOLLOW IG KU YUK @levina_afwa