
HAPPY READING!
..."Penyesalan adalah pilihan dari kejadian awal yang tak seharusnya berada dalam titik dari sebuah pilihan pribadi. Hilang dan musnah adalah satu, yang entah kembali atau tidak adalah hal yang tak sentuh dan kelabu."...
...-RanayahSabilah-...
Bilah yang tak mau memperkeruh suasana langsung berdiri. "Ah gapapa kok mom, Bilah mau pulang aja sekarang. Bilah aman kok, nanti kalau sampai Bilah hubungi mommy. Bye mom!" ujar Bilah langsung keluar dari rumah mommy.
Mommy menatap tajam Mario. "Jangan buang waktu sia-sia atau melakukan sesuatu yang buat kamu membenci diri kamu sendiri kedepannya. Mommy gak mau kamu jadi orang yang gak peduli sama sekeliling kamu. Mommy lebih gak mau kalau kamu sudah gak ada kesempatan buat memperbaiki itu. Inget kata mommy baik-baik."
***
Siang yang sangat panas. Tapi siang di sekolah adalah yang indah bagi seorang Ranayah Sabilah. Sekolah ini mungkin yang menjadi saksi kebahagiaan masa remaja Bilah.
Tanpa Bilah duga seseorang menarik Bilah ke taman yang cukup sepi dan menatap tajam kearah Bilah. "Jangan pernah ganggu atau berusaha deketin Mario sama Kelvin! Lo pikir gue gak tau lo sering masukin sesuatu ke loker mereka?!"
Bilah yang terkaget dengan tarikan yang tiba-tiba itu reflek melepas tangannya dan melihat siapa yang menariknya. "Selena? Emang kenapa kalau Bilah kasih sesuatu sama mereka?"
"Jelas nggak boleh! Mereka itu milik gue, lo sama sekali gak berhak bertindak agar mereka kembali sama lo!" teriak Selena dihadapan Bilah.
"Bilah salah apa sama Selena? Bilah selalu ngalah kalau mereka sama Selena. Bilah selalu ngalah kalau mereka lebih pilih Selena. Apalagi yang kurang buat Selena?"
"Lo gak pantes!"
"Kenapa?" tanya Bilah ragu.
"Yang pantes itu gue. Lo cuman anak kampungan, anak buangan, anak yang tak seharusnya disini! Lo nyadar gak sih? Gak ada satupun orang yang bener-bener sayang sama lo! Kalau itupun ada, cuman rasa kasihan lihat lo yang selalu nunjukin sikap manja lo itu!" ujar Selena dengan ringisan kejam di bibirnya.
Bilah menghembuskan nafas berat dan jengah mendengar penuturan Selena. "Bilah sama sekali gak peduli kalaupun yang Selena bener adanya. Semua yang tinggal di bumi ini berarti masih pantas buat hidup disini. Masih layak diberi kesempatan dari tuhan. Mungkin Bilah gak seberuntung Selena."
"Lo harusnya inget. Satupun orang tua lo yang peduli sama lo! Mana? Gak ada kan? Atau sebenarnya lo bukan anak mereka? Atau lo anak haram yang sama sekali gak diinginkan? Bisa juga lo anak bergilir?" ucapan Selena benar-benar membuat Bilah geram dan tak ada keraguan sedikitpun untuk menampar Selena.
Plaakkk!!
"Shit!"
"Bilah tau mama sama papa emang lagi jauh sama Bilah! Tapi Selena gak punya hak buat nuduh orangtua Bilah kayak gitu! Bilah gak suka ada yang ngejatuhin orangtua Bilah!"
Selena yang memegang pipinya tersenyum sinis. "Anak iblis kayak lo harusnya mati aja!"
Plakk!
Bilah yang geram menampar Selena lagi bahkan tak segan mendorongnya hingga tersungkur ke tembok. "Cukup!" teriak Bilah dihadapan Selena.
"Berhenti!" suara serak seseorang yang mengulurkan tangan untuk membantu Selena. Dia adalah Kelvin.
Bilah yang masih dikuasai amarah ta segan untuk meluapkan emosinya bahkan didepan Kelvin sekalipun. "Selama ini Bilah diem ngehadapin Selena! Bilah tau Selena gak suka sama Bilah! Selama ini Bilah diem demi janji Bilah ke Kelvin sama Mario! Tapi Bilah gak suka kalau Selena secara gak langsung bilang orangtua Bilah pelacur!"
Bilah meneteskan air mata membuang kekesalan batin yang selama ini ia tahan. "Sekalipun Bilah jadi anak yang gak diinginkan. Sekalipun yang diucap Selena benar, tapi Bilah benci kalau ada orang yang ngejatuhin orangtua Bilah!"
"Cukup Bil! Lo inget ini disekolah!" bentak Kelvin menatap Bilah tajam.
Bilahpun tak kalah menatap Kelvin dengan tajam. "Kenapa?"
"Kenapa Vin? Apa Bilah salah Bilah ngebela diri? Apa Bilah salah kalau kesel orangtua Bilah dijatuhin? Apa Bilah salah kalau muak dia yang selalu baik didepan kalian tapi selalu jatuhin Bilah dibelakag kalian! Bilah selama ini diam karena Bilah tau mungkin kalian suka sama dia! Bilah masih menganggap kalian sahabat Bilah, meskipun gak sebaliknya. Bilah cuman mau bilang kalau dia gak baik buat kalian! Tapi gak bisa Vin. Bilah udah bukan siapa-siapa buat kalian. Kelvin tau apa yang dia bilang tadi?!" ujar Bilah menunjuk Selena.
"Jangan percaya Vin! Dia selalu berusaha ngejauhin gue dari lo. Lo tau sendiri tadi siapa yang akan celaka karena tamparan dan dorongan dia!" ujar Selena yang tak mau kalah membelah diri.
Bilah mengangguk. "Yah, Bilah jelasin yang sebenarnyapun Bilah tau Kelvin gak akan percaya sama Bilah. Karena Kelvin yang dulu beda sama yan sekarang. Kelvin yang ramah, yang perhatian, yang berusaha ngelindungi Bilah, itu semua udah hilang! Bila yang usaha buat kalian kembali buat susah payah dengan banyak syarat yang haus Bilah lakuin, Bilah juga selalu berharap kalian berubah sampai sekarang Bilah masih tunggu. Jangan karena satu wanita, kalian berdua jad banyak berubah. Bahkan seperti gak kena satu sama lain. Ikatan kalian, persahabatan kalian dari kecil lebih berharga deripada diperbudak sama satu wanita Vin!"
Plakk
Bilah terdiam. Tamparan ini sungguh menyaya hati Bilah. Bilah tak bisa terima jika Kelvin yang melakukan ini. "Gue ga butuh nasehat lo Bil!"
Bilah mengangguk dengan air mata yang mengalir. "Ya. Bilah minta maaf." Bilah menghadap Selena untuk mengatakan sesuatu. "Bilah gak pernah menyesal dilahirin di dunia ini. Yang terpenting Bilah cukup tau Bilah lebih terhormat dari seorang pengadu domba."
****
Hari demi hari kian Bilah lewati. Aktivitas sehari-hari yang justru akan dirindukan. Bilah terduduk di balkon sambil membawa peliharaan kura-kura di tangannya "Macan.."
"Besok Bilah harus kembali ke rumah sakit. Sebenernya Bilah gak mau ninggalin Macan. Tapi.."
"Kalo Bilah tetep disini, Bilah akan ngecewain mommy dan mami. Macan baik-baik ya disini. Doain Bilah ya..."
"Makasih udah jadi tempat curhat absurd Bilah selama ini."
Bilah menelungkupkan wajahnya ke kedua lututnya. Ia benar-benar merasa lelah. Yang sesungguhnya Bilah rasakan adalah rasa sakit yang semakin mendalam dan parah setelah ia keluar dari rumah sakit. Tapi ia tak mau memberi tau mommy karena takut akan langsung membawa Bilah pulang ke rumah sakit.
Rasa demam dan pusing yang hebat kembali terlingkup pada Bilah. Rasa ini semakin sering Bilah rasakan akhir-akhir ini. Bilah berjalan tertatih menuju tempat tidur sambil memegang kepalanya yang terus berdenyut. Serangkaian obat ia ambil di nakas sebelah tempat tidurnya. Sungguh minum obat sebanyak ini adalah hal yang paling Bilah benci. Ia mengambil kertas dan buku diary yang selalu ia bawa kemanapun ia berada. Lagi dan lagi ungkapan hati yang ia tuliskan untuk orang yang Bilah sayangi. Khayalan Bilah yang ingin Bilah lakukan ia tulis disana. Dan berbagai tulisan yang benar-benar ingin Bilah sampaikan.
Tes..
Darah lagi, darah lagi. Bilah menghembuskan nafas lelah. Ia mengambil tissue untuk membersihkannya. Tak cukup satu kata untuk mendiskripsikan perasaan yang kian tak ada habisnya. Tak cukup satu harapan yang ada untuk meyakinkannya bahwa ia masih layak berada disini. Masih layak bersama mereka. Mereka yang tersayang yang tak sudi sekali melirik kearahnya.
Drrt.... Drrt...
Bilah mengangkat telfonnya. "Halo mommy?"
"...."
"Iya mom, Bilah udah siapin semuanya buat besok."
"...."
"Makasih mom. Bilah sayang sama mommy."
*****
Bilah masih dengan wajah pucatnya dengan mata sayu yang sebenarnya tak kuasa menahan derita yang kian semakin menggerogoti tubuhnya. Kini diatas kursi roda dengan sekotak kado ditangannya masih terdiam diatas rooftop rumah sakit menunggu kehadiran kedua orang yang sangat berharga bagi Bilah. Di malam ini Bilah memaksakan kondisi fisiknya untuk bertemu mereka. Sementara mereka memaksa hati nya untuk bertemu Bilah. Tadi pagi Bilah pingsan di depan rumah sakit dengan keadaan yang lebih buruk dari biasanya. Mommy melarang Bilah untuk bertemu Kelvin dan Mario di atap, lebih baik Bilah istirahat dan mendapat perawatan yang intensif. Bilah yang keras kepala hika berhubungan dengan sahabatnya oun menolak.
sampailah malam ini dengan keadaan yang cukup menguras kesehatan energi Bilah diatap ini untuk mengahadapi hari-haru yang Bilah tunggu. Bilah sudah menyuruh suster untuk menunggu diluar agar mereka bisa benar-benar bertiga.
Tap.. tap.. tap...
"Mereka datang" batin Bilah.
Bilah menoleh kebelakang dengan senyum pucatnya kearah mereka dengan perasaan yang takut dan trauma akan penolakan yang akan kembali terjadi. Mengingat juga ia cukup berani kemarin berhadapan dan berucap banyak dihadapan Kelvin. Keduanya begitu terkejut melihat Bilah yang sesungguhnya tanpa riasan dan polesan make up sedikitpun, terlebih rambutnya yang sama sekali tak tumbuh dikepalanya dan kantung mata yang hitam, pipinya yang kini terlihat kurus dan bibirnya yang putih pucat. Sangat berbeda dengan Bilah yang terlihat di sekolah minggu ini. Terkecuali Mario yang sempat melihat kondisi Bilah seperti ini meskipun lebih parah sekarang terlihat tak begitu terkejut. "Bisa kalian duduk disebelah Bilah?" ucap Bilah lemas dengan membenarkan infusnya agar mereka bisa lebih dekat dengan Bilah.
Mario dan Kelvin berjalan kearah Bilah disisi kanan dan kiri Bilah dan terduduk dikursi yang sudah disediakan oleh Bilah. Kali ini mereka hanya diam tanpa penolakan dan seperti tak berani sedikitpun melihat wajah Bilah yang naas.
Bilah tersenyum dan menatap langit yang penuh bintang. "Bilah seneng.."
"Bilah bisa kayak gini lagi sama kalian. Dulu kita selalu tertidur di atap rumah Kelvin karena kalian yang sering dengerin Bilah cerita khayalan Bilah..."
"Kalian juga sering tertidur dengan alasan rambut Bilah bau coklat.."
"Tapi sayangnya, sekarang rambut Bilah udah hilang."
Bilah tertunduk menggenggam kembali kotak kado yang ia genggam. "Gimana kabar kalian?" tanya Bilah dengan senyumnya pada Kelvin dan Mario yang tak mau menjawab.
Bilah menghela nafasnya dan tertunduk. "Maafin Bilah. Yang mungkin karena Bilah minta bantuan mommy sama mami buat ketemu kalian disini, jadi kalian dengan terpaksa kesini nemuin Bilah dan buang waktu main kalian."
"Bilah mau nostalgia dulu boleh ya?Lucu ya kalau inget kenangan kita dulu."
"Kalian yang dulu ngerengek minta makan sama Bilah."
"Bilah, gue laper," ujar Kelvin merengek seperti anak kecil.
"Masakin yang enak dong, Bil." bukan hanya Kelvin, Mario juga merengek pada Bilah jika kelaparan.
"Bil rambut susah banget di klabang, licin."
"Bil, nanti malem gue nginep ya."
"Bil nanti mommy minta lo kerumah, gue jemput ya. Lo harus nginep!"
"Bil, lo capek? Mau gue gendong?"
"Bil kita temen lo, jangan sungkan sama kita kalau ada perlu. Kita ka sahabat lo."
"Bil gue gak mau tau dimasa depan lo harus jadi istri gue!"
"Enak aja! Bilah istri gue!"
"Bil, lo kayak jerapah dah tinggi banget!"
"Bil lo kayak panda ngamuk dah!"
"Bil gue punya banyak miniatur dirumah! Lo kerumah ya!"
"Bil gue kangen sama lo!"
Flashback off
"Kenangan yang indah." Bilah meneteskan air mata yang tak bendung ia tahan. "Bilah gak tau lagi kapan sempatnya bicara sama kalian. Bilah cuma takut segalanya akan hilang."
Bilah kembali meneteskan air mata yang tak kunjung hilang dengan sekali atau dua kali usapan. "Bilah gak tau apa yang harus Bilah lakuin agar kalian percaya sama Bilah. Tapi..."
"Yang paling penting saat ini adalah Bilah mau kalian berdua baikan lagi. Bilah gak mau kalian jadi musuh. Kalaupun nantinya kalian masih benci sama Bilah. Bi... bilahh mohon kalian jangan sekalipun jadi musuh."
Bilah menatap langit dan sesekali menekan pelipisnya yang sering dilanda pusing. "Sekarang Bilah gak mau mencari alasan untuk membela diri, Bilah tau kalian gak akan percaya. Sekarang Bilah cuman mau menikmati waktu sebelum malam tahun baru tiba.."
"Dan.... sebelum hari ulang tahun Bilah datang." Ucapan Bilah membuat mereka tertegun. Mereka saja baru mengingatnya, besok adalah hari dimana Bilah dilahirkan. 1 Januari. "Kalian baik-baik ya disini. Bilah sangat bahagia malam ini bisa duduk satu tempat lagi sama kalian sedekat ini. Yah mungkin dengan kondisi yang beda."
Bilah terisak dengan tangisnya karena sebuah bayangan takut tak mendapat maaf dari kedua sahabatnya untuk selamanya. "Bilah..."
"Bilah takut.. Bilah cuman mau bi..bilangg makasih sama kalian. Dulu yang selalu ada buat Bilah. Yang selalu menghibur dan ngelindungi Bilah dan bantu apapun keadaan Bilah disaat Bilah kesepian dan benar-benar sendiri. Kalian cahaya dalam gelap masalah hidup Bilah. Bilah gak bisa balas apa-apa sama kebaikan kalian mulai dari Bilah kecil sampai saat ini.. hiks..hiks.."
"Bilahh cuman takut gak ada lagi kesempatan buat sampaiin rasa terimakasih dan beribu maaf buat kalian yang paling berperan dalam hidup Bilah. Mungkin kalian benar.."
"Bilah.. gak pantas buat ada disini sama kalian. Bilah cuman jadi benalu. Bilah cuman nyusahih semua orang. Bilah sadar hadirnya Bilah adalah bencana bagi semuanya. Hiks.. hiks.."
"Bilah udah gak ada harapan. Dulu harapan Bilah adalah hidup bersama lagi sama mama. Sekarang hal itu benar-benar jauh."
Sedikit tergoyah hati Mario dan Kelvin melihat sahabat kecilnya yang dulu mereka berjanji untuk menjaganya, membuat dia bahagia dan sekarang menangis dengan penuh luka hati dan fisik dihadapannya. "Harapan Bilah saat ini adalah kalian bahagia. Menggapai mimpi kalian dimasa depan. Entah itu jadi dokter, pengusaha, ataupun pengacara. Bilah bahagia kalian bisa menjadi apa yang kalian mau, dengan atau tanpa Bilah yang mungkin sudah tak ada lagi nama itu dihati kalian saat itu. Teman semasa kecil kalian, yang hanya sebuah memori. Sekarang, dengan kalian baikan saja cukup buat Bilah lega, dan kedepannya kalian gak boleh berantem lagi. Kalian udah bersama dan tumbuh bersama sejak kecil. Sebuah masalah harus kalian tangani secara dewasa daripada kalian kehilangan teman yang sudah mengerti kalian dari 0. Bilah mau kelak kalian menjadi Kelvin dan Mario yang menjadi sahabat selamanya saling menguatkan dan bahagia dengan pasangan kalian masing-masing."
Bilah tersenyum dan menghapus air matanya. Suara itu tiba-tibar terlontar membuat Bilah terenyuh mendengar suaranya kembali. "Terus gimana lo?" tanya Kelvin.
"Bilah mungkin hanya mengawasi dan melihat kalian dari kejauhan. Melihat kalian bahagia Bilah juga bahagia. Hanya tuhan yang tau bagaimana takdir berpihak pada Bilah."
Bilah mengambil beberapa rantang dan membukanya di atas meja yang sudah disediakan oleh suster. "Bilah udah masak ini. Makanan kesukaan kalian dulu, Bilah gak tau sekarang udah berubah atau gak. Bilah mohon kalian mau terima dan makan ini. Ini permintaan Bilah. Bukan sebagai seorang sahabat. Anggap saja sebagai pengemis yang meminta tolong kepada kalian. Dimakan ya? Bilah pulang dari rumah sakit demi buat ini." Bilah mengambil rantangnya dan memberikan kue-kuenya pada Kelvin dan Mario yang kemudian mendengar penuturan Bilah, mereka langsung mengambilnya tanpa pikir panjang. Entah mengapa kini mereka hanya kembali nyaman berada disebelah Bilah. Yang mungkin memang pada awalnya hanya sebuah paksaan dari mommy dan mami.
Gigitan kue ini benar-benar membuat mereka teringat kesehariannya yang selalu bersama Bilah. Kue kesukaan yang selalu menjadi bahan rebutan mereka berdua.
10 menit mereka makan secara hening. Dan Bilah menatap langit malam dengan suara terompet yang sedari tadi berbunyi tak sabar dengan bergantian tahun yang akan terjadi. "Maafin Bilah baru bilang ini. Bilah sakit udah dari dulu. Sejak kalian melihat Bilah sering mimisan."
"Bilah gak mau bilang karena Bilah takut kalian khawatir karena dulu kalian posesif sama Bilah."
"Kanker darah. Ya, Bilah bilang sekarang karena Bilah cuman ingin kalian tau dari mulut Bilah langsung. Dan Bilah rasa sekarang waktu yang tepat. Mungkin kalau dulu---" Bilah meringis disertai senyuman miris. "Kalau dulu kalian tau, kalian bakal posesif dan sedih buat Bilah. Bilah gak mau itu. Kalau sekarang, suasana udah beda."
Kelvin dan Mario tersedak dengan makanannya. "Kenapa gak bilang? Egois." ujar Mario yang menatap Bilah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bilah terlalu banyak nyusahin kalian. Penyakit itu yang dulu Bilah fikir adalah hal yang kecil bisa diatasi selama kalian hal yang paling berharga dalam hidup Bilah ada disisi Bilah. Itu cuman penyakit, Bilah gak takut sama itu."
"3 menit lagi pergantian tahun..." ujar Bilah tersenyum. Bilah membuka kotak kado yang ada digenggamannya.
"Ini buat kalian."
"Ini kenang-kenangan dari Bilah. Bilah buat ini udah lama. Ada nama kalian dan nama Bilah. Dan warna favorit kalian. Bilah harap kalian suka."
"Bilah ingin buat ini dari dulu, kalau kalian ingat kita berencana pergi ngerasain salju di luar negeri. Jadi Bilah mau kalian pakai sesuatu buatan Bilah. Tapi rencana ke luar negeri sekarang gak akan terjadi. Jadi kalian simpen aja ini. Kalau kalian gak suka boleh buang, tapi jangan bilang-bilang sama Bilah. Bilah buatnya dari hati."
"Boleh Bilah pakaiin ini buat kalian? Setidaknya Bilah ingin lihat langsung kalian pakai ini," ujar Bilah dan mereka hanya mengangguk dengan pikiran yang kacau dengan ego masing-masing.
Bilah memakaikan syal itu satu-satu di leher Mario dan Kelvin. Bilah tersenyum melihatnya sambil meneteskan air mata. "Ini juga, kalian baca nanti ya kalau udah dirumah," ujar Bilah memberikan surat itu.
"Bil hidung lo. Darah," ujar Kelvin yang melihat kondisi Bilah yang begitu lemah yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dan sadar atau tidak Kelvin meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Bilah yang dulu ceria yang suaranya membuat telinganya tak hening. Senyumnya yang tak pernah luntur. Matanya yang selalu terpancar penuh semangat. Sikapnya yang manja mewarnai harinya. Tapi kini? Sisi lemah yang selama ini tak pernah ia lihat. Yang selama ini disembunyikan.
Bilah mengusap hidungnya dengan bajunya, "Ah ini sudah biasa." Bilah menggelengkan kepala yang semakin nyeri yang ia rasakan disekujur tubuhnya. "Bo..boleh Bilah peluk kalian berdua? Bilah mohon sekali ini," ujar Bilah bergetar menangis menahan sakit yang tak kuasa ia rasakan. Suster bilang jika terjadi apa-apa Bilah harus teriak memanggil suster. Tapi Bilah tak ingin melewatkan kesempatan ini bersama mereka.
Tanpa menunggu lama mereka berdua memeluk Bilah erat. Bilahpun begitu memeluk mereka dengan erat menyalurkan segala rindunya dan kesakitan yang ia rasakan. "Bilah kangen kalian. Maafin Bilah.."
"Maafin gue juga hiks.. Bil.. gue gak ada disamping lo saat lo di titik rendah lo. Gue nyesel Bil," ujar Mario yang ikut menangis.
"Andaikan gue tau lo kayak gini. Gue gak akan biarin lo berjuang sendiri Bil hiks..hiks.."
"Gue juga ga akan sekerasa itu ngehukum lo waktu itu. Maafin gue Bil, gue terlalu kejam," ujar Kelvin.
"Gue minta tolong Bil. Berjuang! Gue gak mau lo sakit."
"Gue gak mau lo kesakitan. Lo harus sembuh dan kita bisa kayak dulu. Kita ulang kejadian kayak dulu Bil."
"Lo harus terus sama kita. Gue mohon."
Duaar!!!! Suara kembang apik yang sahut menyahut menunjukan pergantian tahun. "Happy Birthday Bil," ucap Mario dan Kelvin bersamaan dengan tangis yang tak pernah tertunjuk sebelumnya.
"Bil.." tak ada sautan daritadi dari Bilah. Mario hanya merasa ada yang basah dibajunya. Ia mencoba melihat. "Darah?"
Mereka melepas pelukan yang ada dan menatap Bilah penuh kekhawatiran. Bilah memejamkan matanya dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya. Wajahnya yang kian memucat dengan mata yang terpejam yang tak pernah Kelvin dan Mario bayangkan sebelumnya. Membayangkan Bilah tak bernyawa membuat mereka kembali meneteskan air mata itu.
Kelvin menangis tak peduli siapapun yang mendengarnya. Ia menepuk pipi Bilah beberapa kali. "Bil..Bil.. bangun Bil.. jangan bercanda Bil. Bil gue mohon. Maafin gue Bil, hiks..hiks.."
Mario menggenggam erat tangan Bilah dengan mata yang memerah mengingat kenangan yang dulu mereka rasakan sampai peetengakan yang membuat Bilah merasa sendiri. "Bilah! Maafin gue bil, ini hari ulangtahun lo Bil. Lo harus bertahan! Kita bertiga bakal liburan bersama kalau lo sadar Bil. Gue janji Bil. Bil! Bilah! Hiks..hiks.."
Kelvin menggendong Bilah dengan berlari dan Mario membawa infus Bilah dengan tak kalah khawatirnya. "Bil bangun Bil! Jangan tinggalin kita Bil!"
Suster yang terkejut melihat Bilah yang sudah dalam gendongan Kelvin pun ikut berlari mengikuti mereka. Setelah akan sampai ruangan mommy dan mami langsung berdiri menghampiro mereka. "Ya tuhan Bilah! Kenapa Bilah? Mario, kenapa Bilah yo?!" tanya mommy yang mengejar Mario meletakkan Bilah dalam ruangan. "Maaf, kalian boleh keluar biar pasien saya yang atasi."
"Selamatkan sahabat saya dok. Saya mohon."
"Saya akan berusahan sebisa mungkin." Pintupun tertutup berganti suasana isak tangis dari mommy. Mamipun hanya memejamkan mata meramalkan doa yang ada.
"Gue mohon, jangan jadikan ini hari terakir buat ketemu lo secara baik-baik."
"Gue sayang sama lo, Sahabat kecilku."
Ending or not?