Disappeared

Disappeared
26



Happy Reading!


Plakkkk


Tamparan Kelvin membuat bibir Bilah membungkam dan air matanya semakin tak terkendali. "Tutup mulut lo Bil!


"Setelah lo ngelukain dia, sekarang lo fitnah dia?" ujar Kelvin dengan nada yang tak pernah Bilah dengar. Kelvin frustasi dan menatap tangannya tak percaya. Tamparan itu benar-benar reflek. "Pergi darisini Bil!"


"Tap-- tapi Bilah."


"Pergi atau gue paksa lo keluar darisini?"


"Kelvin, Mario harus percaya sama Bilah ya. Bilah gak mungkin kok jahat sama Selena," ujar Bilah berusaha memegang tangan Kelvin namun sayang gagal dan dihempaskan.


Suasana semakin panas, kilatan amarah muncul dari keduanya. Baik itu Mario maupun Kelvin. "Pergi Bil."


Jika sudah begini Bilah bisa apa, hal satu satunya adalah menuruti perkataannya dan pergi dari sini.


Bilah tertunduk berjalan keluar rumah sakit dengan wajah yang murung dan bersedih. Ia berfikir, apa yang ia punya sekarang? Semua telah musnah. Bahkan kedua sahabatnya tak lagi bersamanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bilah harus bertahan untuk siapa sekarang? Semua jalan hidupnya seakan sangat buruk.


Mamanya? Papanya? Saudaranya? Sahabatnya? Temannya? Bilah rasa ia tak punya siapa siapa lagi sekarang. Bilah terduduk ditempat tidurnya sambil merajut syal yang ia pegang. "Bilah harap Kelvin dan Mario akan suka." Ya, Bilah sudah merajutnya sejak lama, saat itu jika kalian ingat Bilah ingin menyerahkan kado untuk kedua sahabatnya. Bilah membuat gelang untuk mereka, sekedar kenang-kenangan. Tapi Bilah rasa syal  ini akan lebih berguna untuk mereka. Coklat untuk Kelvin, merah bata untuk Mario.


Hari ini Bilah merasa bahwa ia harus berkunjung kerumah Kelvin atau Mario. Bilah akan meminta maaf, meskipun ia tau ia tidak salah. Jika tidak, mungkin persahabatan mereka hanya sampai disini. Bilah tak mau itu terjadi. Salag satu dari mereka harus mengalah bukan?


10 menit perjalanan Bilah telah sampai di rumah Kelvin. Bilah disambut hangat oleh Maminya Kelvin, "Bilah kok sendiri? Kelvin sama Mario mana?"


Bilah kelagapan mendengar pertanyaan itu. Apa yang harus ia katakan? Apa harus berbohong? Ya, mungkin untuk saat ini. "Bilah tadi ketiduran mi. Oh ya mi, mami tau gak kemarin malam di salah satu acara televisi Bilah baru tau ada acara lomba masak loh mi. Bilah rasa mami ikut deh, kan masakan mami itu juara!"


"Ih Bilah! Mami mana mau ikut gituan. Mending dirumah kali Bil. Oh ya, kamu sama orangtua kamu gimana?"


"Emm ya gitu mi, sama aja."


Mami menghela nafas dan menepuk pundak Bilah. "Kamu sabar aja, doa aja mereka gitu gak selamanya Bil. Kan masih ada kita, kamu kan udah Mami sama Mommy anggap anak. Jadi kamu tenang aja ya."


Bilah memeluk mami penuh sayang. Selalu saja ada orang yang menyayangi Bilah, Bilah fikir bagaimana bisa ia tidak bersyukur dan merasa sendiri. "Makasih Mi. Bilah sayang sama kalian."


Suara sepatu melangkah mendekat dengan suara kunci yang menjadi mainan oleh pemilik tangan. Kelvin membuka pintu dan masuk menatap Bilah sebentar seperti berfikir, "Ngapain dia kesini?" tapi tak lama itu Kelvin nyelonong masuk kamar tanpa suara dan sedikit berlari.


"Kenapa itu anak?" tanya mami. Bilah segera berdiri dan berjalan mengikuti Kelvin, "Bilah keatas juga ya mi." Mami mengangguk dan tak ambil pusing. Karena mamin-nya mengira mungkin pertengkaran kecil seperti biasa.


Bilah membuka kamar Kelvin perlahan, "Kelvin--" belum sempat membuka suara lagi, Kelvin membentak Bilah, "keluar darisini Bil!"


Bilah bungkam. Ia begitu terkejut Kelvin sekasar ini padanya. "Kelvin maafin Bilah. Bilah minta maaf ya. Bilah janji gak akan buat kalian kecewa. Bilah juga udah usaha Vin."


"Tapi nyatanya? Bil, rasa iri lo buat kebaikan lo musnah! Gue gak suka Bilah yang sekarang. Biarin gue sendiri."


"Lo tau kan arah pulang! Atau mau gue paksa?"


Bilah terdiam tak mau keluar sampai Kelvin bangkit dan menarik Bilah keluar rumah. "Lo bisa pulang kan?"


Bilah menarik tangan Kelvin, "maafin Bilah Vin! Bilah mohon. Waktu kita buat main full bareng tinggal 3 hari lagi kan sesuai perjanjian."


"Anggap aja janji itu gak berlaku Bil! Gue kecewa sama lo!"


Bilah meneteskan air matanya dan memeluk Kelvin. "Kalian gak kangen sama Bilah?"


Kelvin melepas pelukan Bilah, "lo pulang!" Setelah itu Kelvin menutup pintu dengan keras. Semarah itukah mereka? Kenapa tak mau mendengar perkataan Bilah? Bilah pantas dipercaya mengingat persahabatan mereka sangat lama berjalan bukan?


Kelvin kembali memasuki kamarnya. Tapi mami mencegah dengan tangannya. "Kalian bertengkar?"


Kelvin melepas tangan mami-nya dan kembali berjalan. "Kalian udah sahabatan lama udah kayak saudara. Seharusnya kalau ada masalah selesein baik baik ya Vin."


"Tapi mi, Bilah udah ngelakuin kesalahan."


"Vin, semua orang pasti pernah ngelakuin kesalahan. Bukan seharusnya kamu ngejauhin kayak gini nak. Bilah itu anak yang baik--" lagi dan lagi Kelvin menyelanya, akhir-akhir ini emosinya sangat memuncak, "ternyata Bilah gak sebaik itu mi! Asal mami tau! Bilah udah nyelakain temen Kelvin mi! Bilah juga ngomong yang enggak-enggak tentang dia! Bilah--"


"Kelvin!"


"Percuma Kelvin bilang gini, mami juga belain Bilah anak kesayangan mami itu kan? Yaudah, gak guna ngelanjutin pembicaraan ini mi!"


...***...


Bilah tak pernah putus asa. Ia tak semenyerah itu untuk mempertahankan persahabatannya. Ia pergi ke rumah Mario untuk menemuinya. Bilah berharap jika Kelvin tak menerimanya, Mario bisa menerimanya kan?


Tok.. tok.. tok ..


Tak lama suara pintu terbuka, sangat tepat sekali Mario yang membuka pintu. Melihat Bilah yang dihadapannya, Mario tak segan menutup kembali pintu rumahnya. Namun Bilah menahannya sambil berkata, "Bilah pengen bicara!"


Mario kembali membuka pintunya, "bicara apa lagi?"


"Maafin Bilah ya?"


"Udah berapa kali minta maaf?"


Bilah menunduk, "Bil--Bilah gak tau harus ngapain selain minta maaf."


"Gak ngaruh. Lo pergi aja." Mario kembali menutup pintu dengan keras.  Kali ini Bilah tak bisa menahannya. Bilah mengetuk kembali pintu rumah Mario sambil sedikit berteriak. "Mario, maafin Bilah ya! Rio! Bukain pintunya. Kasih Bilah kesempatan ya? Sekali aja. Bilah mohon."


2 jam Bilah menunggu Mario didepan rumahnya. Bilah pikir masalah ini harus cepat selesei. Tak apa jika menunggu Mario keluar sedikit lama. 2 jam sama sekali bukan masalah jika tentang sahabat.


Setelah menunggu sekian lama dengan Bilah yang duduk didepan pintu, pintupun terbuka dengan Mario dengan baju yang berbeda. "Batu ya lo. Gue bilang pulang ya pulang!"


"Maafin Bilah ya?" isak Bilah didepan Mario. "Bilah gak mau kalian ngejauh dari Bilah."


"Ini semua karena ulah lo sendiri Bil. Cepet lo pulang sebelum mommy datang."


"Habis."


***


Malam hari Bilah hanya memikirkan bagaimana cara agar mereka baikan. Detik demi detik ia tak menemukan cara selain mencobanya langsung. Malam yang meresahkan membuat Bilah tak bisa tidur hingga kini.


Bilah mengambil handphone disamping tempat tidurnya.


^^^Selena ini Bilah^^^


^^^23.03^^^


Ada apa?


23.05


^^^Bilah gak ngerti lagi harus gimana, Bilah mohon bilang ke Kelvin sama Mario buat maafin Bilah ya? Bilah gak tau apa yang buat Selena gak suka sama Bilah. Tapi Bilah mohon setidaknya biarkan mereka tetep disamping Bilah ya?^^^


^^^23.05^^^


Lo pikir gue yang ngebuat kalian pisah?


23.05


^^^Bukan gitu Sel maksud Bilah. Intinya Bilah minta maaf ya. Bilah gak tau lagi harus gimana^^^


^^^23.06^^^


Bilah kembali mengambil rajutan syal yang ia simpan tepat di box samping kasur nya. "Apa bisa syal ini nyampai ke tangan mereka? Mereka bakal maafin Bilah?" semuanya membuat Bilah khawatir dan takut.


...Ketakutan adalah hal yang membuatku menyerah. Tapi ketakutan adalah boomeraang bagiku untuk melangkah. Simpan takutmu, ia hanya membuang energi. Hanya lakukan. Jadi, jangan takut. ...


...-RanayahSabilah-...


...****...


Esoknya Bilah berangkat sekolah dengan terburu-buru. Karena tidur malam membuatnya harus bangun sedikit siang.


Saat sampai kelas, Bilah memerhatikan tiap bangku. Semua hampir terisi kecuali bangku guru dan bangku miliknya. Bilah menghembuskan nafas lega. Ya, sekarang Bilah duduk sendiri dibangkunya. Semua seaakan terasa kaku. Tak ada lagi Mario, Kelvin dan Putri yang menghiasi kehidupan Bilah dikelas.


Pergantian jam pelajaran terus berlalu. Bunyi bel tanda istirahat membuat Bilah tersenyum. Ini adalah kesempatan untuk mengajak Kelvin dan Mario bicara. Bilah melangkah mendekat Kelvin dan Mario yang sudah keluar kelas terlebih dahulu. "Kelvin Mario! Bilah ikut ya sama kalian."


"Ngapain?" ujar Kelvin menatap Bilah sengit.


"Bukannya biasanya kayak gitu? Emm, Bilah bawa kue juga buat kalian. Kita makan bareng ya?" ujar Bilah tapi tetap saja Kelvin dan Mario melangkah lebih cepat membuat Bilah sedikit berlari menyamai mereka.


Dari arah yang berlawanan, seorang wanita melambaikan tangan dengan garis bibir yang terangkat. Wanita itu semakin mendekat kearah mereka. "Hai Sel. Gimana keadaan lo?" tanya Mario.


"Udah mendingan kok. Em, mau ke kantin ya? Gue ikut ya? Sekalian ini ada makanan oleh-oleh dari papa," kata Selena mengangkat box kue ditangannya.


Kelvin dan Mario tampak senang, "wah! Itu pasti enak. Yaudah yuk langsung cari tempat duduk."


Bilah terdiam. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk menemui mereka. Hati Bilah semakin panas jika kalian tau. Ia tak mau hilang kendali melihatnya, Bilah juga manusia bukan?


"Bilah kangen kalian."


...***...


Bel pulang sekolah telah bunyi. Hiruk priuk sepatu semakin bersorak menandakan semangat para murid keluar dari tempat semedinya. Bilah tak hilang akal untuk mengejar mereka saat menuju parkiran.


"Kelvin, Mario, Selena! Tungguin!" teriak Bilah membuat mereka akhirnya benar-benar menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa?" tanya Kelvin.


Untungnya sekarang mereka berada diparkiran paling ujung. Tidak ada siswa yang parkir disana mengingat sangat jauh dan gelap. "Bilah mau minta maaf lagi. Bilah mohon."


Bilah meneteskan air mata dengan wajah yang pucat dan badan yang kurang enak. "Ki--kita udah sahabatan kan dari dulu? Bilah gak mau semua berakhir kayak gini aja."


Bilah menyeka air matanya kembali. "Bilah gak tau lagi harus berapa lama lagi Bilah minta maaf. Bilang sama Bilah apa yang harus Bilah lakuin biar kalian maafin Bilah?"


Kelvin dan Mario melihat wajah pucat Bilah dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ingin sekali rasanya memeluk Bilah. Tapi rasaa amarah mengalahkan segalanya. "Bil-- Bilah minta maaf ya?"


"Kalian boleh dan bebas bales ngelukain Bilah kok. Asal kalian mau maafin Bilah ya?"


Kelvin yang tak mau terlalu lama kembali melanjutkan jalannya dan membuka pintu mobil. Bilah menahan tangan Kelvin. "Jangan gini. Bilah takut kalian pergi dan Bilah gak punya temen lagi."


"Kalian maafin Bilah ya. Kasian Bilah kalau kalian giniin dia terus. Gimanapun juga kalian udah sahabatan sejak lama. Gue rasa gue yang ngeganggu disini," ujar Selena sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Emm, gue pergi dulu ya."


Mario menarik tangan Selena mendekat. "Bukan lo yang seharusnya pergi. Lo liat kan Bil? Dia baik sama lo, gak seharusnya lo iri sama dia."


"Mending sekarang lo pergi." Kelvin dan Mario berjalan memasuki mobil masing-masing. Selena masih didepan Bilah dan menatapnya sambil berbisik, "see? Mereka bilang lo yang harusnya pergi."


"Kenapa Selena jahat sama Bilah?"


Selena mencengkram tangan Bilah dan sedikit memutarnya membuat Bilah meringis. "Karena gue benci sama lo."


Bilah yang semakin kesakitan menghempaskan tangan Selena membuat Selena terjatuh. "Aw!"


Mendengar teriakan membuat Kelvin dan Mario keluar dari mobil membantu Selena.


"Lagi dan lagi lo berulah Bil! Jangan lagi nunjukin wajah lo lagi! Lo emang sekejam itu!"


TBC