Disappeared

Disappeared
Prolog



Gadis berambut lurus, berkulit putih dengan mata bulat itu melangkahkan kakinya menuju apartment dimana ia tinggal sendiri. Jangan tanya kenapa.


Sungguh sial nasibnya saat orangtuanya bercerai karena papanya ketahuan selingkuh dengan perempuan lain. Ibunya sangat marah dan memilih meninggalkan gadis itu dan ayahnya yang sama sekali tidak peduli kepadanya. Bukan tak peduli, gadis itu selalu mendapat uang dari kedua orang tuanya, namun tidak dengan kasih sayang. Poor you.


"Kenapa apartment jadi berantakan?" gumam gadis itu meletakkan tas nya ke sofa dan melihat kamarnya yang terbuka lebar.


"Oh tidak, apa mereka datang lagi untuk mengacaukan ini semua, hm? Apa mereka tidak tahu betapa sulitnya mebersihkan semua sendiri saat setumpuk tugas melambaikan tangan untukmu? Dasar!"


Gadis itu lari kekamar dan melihat 2 remaja lelaki yang tertidur pulas dengan polosnya. Lucu. 1 popcorn dipegang cowok berambut hitam dalam keadaan tidur, dan satu cowok berambut coklat tua memegang stick PS sambil tertidur.


"Hei bangun kalian berdua!" mereka tak kunjung bangun dari tidurnya malah menguap dan melanjutkan kembali tidurnya. Apa harus gadis itu menyiram mereka lagi dengan air ikan? Tidak, mereka akan kesal dan membuat gadis itu menangis.


Gadis itu berkacak pinggang "Kalo kalian gak bangun, bawa pulang ps kalian dari rumah gue! Jangan pernah main lagi kesini!"


Seketika 2 lelaki tampan itu terkejut dan membelakan matanya "Gue udah bangun Bilah!" ucap mereka kompak dengan ekspresi yang membuat gadis bernama Bila itu menahan tawa. Ranaya Sabilah tepatnya.


Ekspresi dengan mulut terbuka sambil melempar popcorn kesembarang arah dengan mata yang masih memerah. Lucu sekali. Dia lelaki berambut hitam, Kelvin Reynand. Sahabat Bila sejak kecil yang sangat usil menggoda Bila seperti makan kesehariannya. Seperti mengejek Bila dengan sebutan jerapah? Bukan karena tinggi melainkan karena dia memilik postur tubuh yang pendek.


"Jangan panggil jerapah! Itu menjengkelkan Kelvin!"


"Kenapa? Kan gue bilangnya kutu jerapah yang ukurannya beribu-ribu bahkan bermilyar-milyar besarnya dari jerapah?"


"KELVINNNN!!!!"


Ekspresi polos dengan melirik Bila tajam sambil meletakan stick PS diatas kepalanya. Dia lelaki berambut coklat, Mario Alvedro. Sahabat kecil Bila juga, yang memiliki hobi yang sama dengan Kelvin yaitu menggoda Bila. Menurutnya Bila yang sedang marah adalah seperti Panda yang mengamuk.


"Mario! Jangan jadi seperti Kelvin!"


"Kenapa? Panda psikopat itu lucu, Bila sayang."


"-_-"


Dan gadis itu sendiri, Ranaya Sabilah, gadis kelahiran Jakarta dengan mata hijau bulatnya yang mampu membuat ia memiliki daya tarik sendiri. Tapi tidak dengan Kelvin dan Mario. Menurut mereka, Bila itu gadis aneh, manja dan menyebalkan. Misalnya saja, Bila yang sudah sebesar sekarang tapi masih suka menggunakan sikat gigi anak kecil, jika ditanya kenapa dia selalu menjawab


"Sikat gigi anak kecil itu lucu, gak buang-buang tempat. Yang paling aku suka saat membelinya mendapat miniatur kartun yang sangat lucu. Itu koleksiku tau!"


Bila juga sangat tidak menyukai pelajaran matematika. Bertolak belakang dengan Kelvin dan Mario yang selalu menjadi juara kelas, hal itu juga menjadi bahan ejekan untuk Bila. Malang sekali nasibnya.


"Ngitung rumus aja gak bisa, gimana mau ngitung duit bulanan kalo udah jadi istri." kalimat andalan mereka.


Lagi dan lagi Bila juga punya jawaban untuk itu "Cari suami yang kaya lah, yang pasti buka lo-lo semua. Wleek."


Dan satu lagi, hal yang disukai Bilah, bisa dibilang menjadi teman sehari-hari Bilah, yaitu menulis apapun yang berada di hatinya pada buku diary bewarna putih dengan motif bewarna merah. Menulis sesuatu yang tidak jelas dan terkadang hanya ingin menulis itu tanpa tahu apa artinya. Itulah hatinya.


..."Dan saat itulah aku ingin kau menjadi tanah, yang selalu ada dan menampung saat aku terjatuh. Namun sayang, kaulah tanah yang tak menerima hujan semacamku."...


...-RanayaSbl...