Different One

Different One
Eps. 9 Kemarahan Puncak Darcy



Jorell menatap buliran air yang menetes dari langit dan membasahi tanah bumi yang dia pijak.


“Kapan hujan akan berhenti?” Jorell menatap langit. Sudah hampir 60 menit lamanya dia berdiri menunggu di depan sebuah bangunan rumah kosong untuk menunggu hujan reda.


Ia memutar bola matanya melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanan. Waktu sudah menunjukkan hampir sore. Jika dia tidak segera pulang, maka ayahnya itu akan mencarinya.


“Aku harus pulang sekarang.” Beruntung hujan agak reda, meskipun masih ada gerimis yang mengguyur.


Jorell berlari setelah melepas sepatunya, karena jalanan di depannya tergenang air setinggi sepuluh senti. Lebih nyaman saja baginya berlari tanpa alas kaki di tengah air yang menggenang seperti ini.


Klak! Pintu rumah terbuka tepat di saat dia akan menarik gagang pintu.


Darcy menyembul dari balik pintu. Tulang rahangnya terlihat menegang, sorot matanya nampak tajam menyambut kepulangan Jorell.


“Dari mana saja kau? Kelayapan setelah pulang sekolah. Basah lagi, tubuh dan tasmu. Sebenarnya apa saja yang kau lakukan bersama Xavier setiap hari sepulang sekolah?” tanya Darcy dengan nada tinggi juga mengintimidasi.


“Aku mengerjakan tugas, Ayah.”


“Tugas apa yang kau kerjakan sekarang, berikan padaku biar ku lihat apa benar kau mengerjakan tugas atau hanya sekedar main?”


Jorell hanya diam, karena memang dia berbohong dan tak ada tugas yang dia kerjakan, jadi dia tak bisa menunjukkannya.


Terdengar suara tamparan keras mendarat di pipi Jorell. Wajah putih itu seketika memerah.


Jorell hanya bisa menahan sakit sembari memegang pipinya yang berdenyut hebat itu.


“Kau betandal kecil! Kau adalah sampah di rumah ini. Kau selalu berbohong setiap hari mengerjakan tugas padahal semua nilaimu jelek. Kau tak pantas menjadi bagian keluarga ini!” Lagi di saat marah, Darcy menampar kembali sisi pipi Jorell yang lain.


Jorell meremat kedua tangannya dengan erat. Bukan hanya rasa nyeri panas dan sakit di tubuhnya yang dia rasakan kali ini, tapi hatinya terasa dicubit kemudian diremat sampai remuk oleh ucapan, juga tindakan Darcy.


Kemarahan Darcy kali ini sangat memukul dirinya.


“Apakah selama ini Ayah menganggapku sebagai anakmu? Aku tidak minta diperlakukan sama, tapi setidaknya ayah memanusiakan aku.” Entah keberanian dari mana yang Jorell dapatkan saat ini hingga dia berani mengungkapkan semua isi hatinya, semua beban hidup yang menghimpitnya sampai 15 tahun ini.


Darcy menatap tajam Jorell. Bukannya dia menyadari apa kesalahannya, tapi hal itu malah membuat emosinya tersulut.


“Jorell, berani sekali kau melawan Ayahmu ini!” Darcy menarik kerah baju Jorell.


Dia kemudian menghempaskan tubuh kecil itu hingga jatuh tersungkur setelah membentur dinding dengan keras. Tak hanya itu saja, bahkan Darcy menendangnya cukup keras, juga memukulnya. Entah kenapa yang terlihat saat itu bukanlah Jorell, tapi wajah Detektif Carl. Sehingga membuatnya ingin terus menyiksa.


Akh! Apa yang bisa dilakukan Jorell kecil? Tak ada yang bisa dia lakukan untuk membalas ataupun melawan saat dihajar habis-habisan seperti itu.


“Apakah aku benar anakmu? Apakah seorang Ayah akan menghajar anaknya sendiri dan mungkin juga akan membunuh anaknya sendiri? Bunuh aku sekarang, Ayah. Bunuh aku, jika memang aku tak pantas berada di keluarga ini.” Jorell malah menantang, sejujurnya dia pun tak ingin hidup lagi sudah sejak lama.


Jika memang dia harus mati sekarang itu tak apa.


“Ayah! Hentikan! Apa yang Ayah lakukan pada Kakak?” teriak Aroon dari belakang dengan keras.


Dia syok melihat ayahnya sendiri menganiaya kakaknya hingga kondisi Jorell mengenaskan begitu.


“Kenapa Ayah berhenti? Pukul aku lagi lebih keras hingga tulang rusukku sama remuk. Bukankah itu yang Ayah inginkan? Ayah menginginkan aku mati setelah selama ini menjadikanku bulan-bulanan. Bunuh aku sekarang, Ayah. Aku sudah lelah.” Jorell menatap Darcy dengan mata berembun.


Sekuat tenaga ia menahan rasa kesedihannya itu agar tidak keluar yang hanya menunjukkan kelemahannya saja. Bisa saja dia membalas semua pukulan ataupun tendangan ayahnya, tapi dia tak bisa melakukan itu semua. Bagaimanapun juga, pria itu tetaplah ayahnya.


“Ayah, jangan! Jangan lakukan itu! Berhenti Ayah!” Aroon menahan Darcy yang akan kembali melayangkan tangannya yang terkepal erat.


Darcy menyentak tangan Aroon dengan kasar. Amarahnya mereda dengan kedatangan putra kandungnya itu. Dia pun segera pergi setelahnya.


“Kakak, Kakak tak apa?” Aroon membantu Jorell berdiri, lalu memapahnya berjalan sampai ke kamar.


“Kau tak perlu menghiburku Aroon. Pergilah. Aku ingin sendiri sekarang,” tutur Jorell. Sungguh ia tak bermaksud mengusir adiknya itu, di hanya ingin menenangkan dirinya.


Aroon pun kemudian keluar dari kamar Jorell dan menutup pintunya. Dia hanya bisa membuang napas panjang pada penderitaan kakaknya.


***


Jorell mengurung dirinya sampai malam. Ia tak keluar dari kamar sejak tadi. Bahkan, Betsy pun yang biasanya bisa membujuknya kali ini tak bisa membujuknya keluar.


Di dalam kamar dia menangis. Dia tak ingin ada siapapun yang melihat air matanya yang tumpah itu, air mata yang menunjukkan kerapuhan dan kelemahannya.


“Ayah, kenapa selama ini kau selalu memperlakukanku berbeda? Padahal selama ini aku selalu menurut padamu, aku juga selalu membantumu, aku juga berbakti padamu. Lalu apa salahku?”


Jorell mrngusap air matanya dengan punggung tangannya. Dadanya benar-benar terasa sesak sekali.


“Apakah ini suatu kesalahan aku lahir di keluarga ini? Kenapa kau tak menginginkan diriku? Kenapa?” Jorell mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini dia pendam.


Dia meringkuk di sudut ruangan dengan lampu gelap yang sengaja ia matikan. Karena selama ini hatinya selalu gelap dan tak ada yang menerangi. Hatinya selalu dingin. Dalam kegelapan, membuatnya sedikit tenang.


“Jika boleh dan jika bisa merubah keadaan, aku tak ingin lahir di keluarga ini aku tak ingin menjadi putramu, Ayah. Putra yang selalu kau siksa,” ratap Jorell.


Ia menyandarkan punggungnya ke dinding sembari menatap ke atas dengan tatapan kosong.


“Jorell Watson ... Jorell Aderson ...” Di antara rasa sedih dan kacau hatinya, Jorell kembali teringat nama itu.


“Ataukah sebenarnya hanya ada satu Jorell saja? Dan hanya satu yang nyata di antara dua nama itu?” Tiba-tiba Jorell tercerahkan.


Itu artinya bisa saja ada kemungkinan jika dia bukan anak Darcy.


“Apakah aku bukan anak ayah?” Jorell mengucapkan kata itu sendiri, meski hatinya sesak hanya dengan mengucapkannya.


Dia amati lagi gelang hijau dari Rumah Sakit Lucerne yang dipegangnya.


“Apa aku harus memeriksanya sendiri dan memastikannya, apakah aku memang anak kandungnya atau bukan?”


Jorell mengulas senyum kecut setelah mengucapkan itu. Ada rasa takut yang menyergap hatinya kala berpikir dia bukan anak kandung Darcy.


“Apapun itu, aku akan mencari kebenarannya.”