
Darcy masih mencerna apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Sebagai pengacara, memang Betsy harus selalu membela klien yang menyewanya, entah klien yang membayarnya itu benar atau salah.
Tapi Betsy selalu berhati-hati saat memilih klien. Dia sedikit banyak melakukan penyelidikan sebelum benar-benar mau menjadi pengacara dari kliennya. Jadi, dia menerima tawaran dari klien begitu saja. Mayoritas tawaran yang diambilnya adalah tawaran dari klien yang berada di pihak benar.
“Apa ada masalah dengan Tuan Claire yang kau bela?” tanggap Darcy cepat.
Betsy tak langsung menjawab. Dia memutar sepasang bola matanya. Masih ada Aroon dan Jorell di sana. tentunya hal itu tak pantas didengarkan oleh anak mereka. Belum waktunya bagi mereka untuk mengetahui urusan orang dewasa.
“Aroon, Jorell, makanan kalian sudah habis. Cepat berangkat sekolah sana ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan dengan Ayahmu saja,” ujar Betsy menatap dua putranya secara bergantian.
Tanpa bicara ataupun bertanya, Jorell dan Aroon pun segera pergi dari sana. Biasanya ibunya itu akan bicara begitu jika ada hal serius yang ingin disampaikan.
Setelah kepergian Jorell dan Aroon, Betsy kembali melanjutkan percakapannya yang sempat terpotong tadi.
“Lawan Tuan Claire, yaitu Tuan Fox, menunjukkan bukti jika Tuan Claire memberikan laporan transaksi palsu keuangan. Sebelum aku melanjutkan menjadi pengacaranya, kau bantulah aku melakukan investigasi kecil untuk menyelidiki kebenaran itu,” papar Betsy panjang lebar.
“Sayang, kau tahu aku bukan seorang detektif lagi. Jadi aku tak punya kuasa untuk melakukan penyelidkan.”
Jorell ternyata berhenti sebentar, mendengarkan pembicaraan mereka.
Ternyata ayah Darcy benar seorang detektif dulunya. Tapi kenapa kantornya ditutup? Apa ada masalah serius?
“Kak, ayo berangkat. Kita hampir terlambat!” Aroon berteriak dari luar, melihat kakaknya yang masih di dalam rumah.
Tanpa menjawab, Jorell pun segera berlari keluar, menyusul adiknya. Mereka lalu berjalan bersama menuju ke Institut Florimont.
Siapa itu Tuan Claire dan Tuan Fox? Lalu apa maksud ibu tentang laporan keuangan palsu tadi? Sungguh, perkataan Betsy tadi membuatnya berada dalam rasa penasaran. Dan terus berada dalam pikirannya.
***
“Hey, apa yang kau pikirkan, Jorell? Kau kembali melamun seperti biasanya,” tukas Xavier di kelas.
“Tidak. Aku tidak melamun, aku hanya memikirkan masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh ibuku saja.” Jorell menoleh pada Xavier yang duduk di sebelah kanannya, menatapnya dengan penuh tanya.
Ia tak suka dengan tatapan temannya itu. Tatapan menyelidik juga tatapan dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Seolah menelanjanginya. Tapi selama ini Jorell memang sering merasa begitu di hadapan Xavier.
Tak ada sesuatu dari dirinya yang tidak diketahui oleh Xavier. Begitu juga dengan Xavier, Jorell bahkan mengetahui rahasia temannya itu yang hanya diketahui oleh dirinya saja.
“Ibuku seorang pengacara dan dia sedang bimbang kali ini. Sepertinya dia butuh bantuan. Aku ingin membantunya,” terang Jorell.
“Sebagai anak yang baik, kenapa kau tidak membantunya saja? Terlebih kau punya jam tangan istimewa sekarang.” Xavier menyorot jam tangan di pergelangan tangan kanan Jorell.
Jorell mengerti maksud temannya itu yang menatap jam tangan miliknya. Dia sendiri sebenarnya berniat untuk menggunakan jam tangan itu juga. Meskipun sampai saat ini dia belum sempat merakitnya ulang. Karena dia sibuk, sibuk belajar. Mempelajari materi yang ketinggalan.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik dan memperbaiki nilainya yang selama ini kurang, di bawah rata-rata kelas, setelah hinaan keras yang diberikan oleh Darcy padanya. Dia berniat untuk merubah dirinya.
“Jorell, Xavier, kalian berdua mengobrol saat pelajaran di kelas. Coba salah satu dari kalian apa ada yang bisa mengerjakan soal ini?” Guru di depan kelas tiba-tiba saja menyorot mereka berdua.
Tentu saja Jorell dan Xavier tersentak kaget dan langsung diam. Sungguh mereka terlalu terbawa suasana hingga melupakan keberadaan guru matematika yang saat ini menatap tajam pada mereka.
“Kau saja yang kerjakan, Jorell. Aku tak bisa mengerjakan rumus itu.” Spontan Xavier merespon, setelah membaca soal yang tertulis di papan.
“Ini, Pak Alberto.” Jorell menyerahkan kembali spidol hitam pada guru matematikanya, setelah menjawab soal darinya.
Pak Alberto menatap papan tulis setelah melihat dan memeriksa jawaban dari Jorell.
“Oh, apa kau semalam belajar? Jawabanmu benar. Ya, kau boleh duduk kembali,” ujar Pak Alberto heran.
Biasanya Jorell tak bisa menjawab soal yang diberikan. Ia pun mengulas senyum tipis saat Jorell berbalik dan kembali ke tempat duduknya.
Tak hanya Xavier yang juga terkejut akan hal itu, namun teman sekelasnya ikut terkejut. Jorell ternyata bisa mengerjakan soal matematika serumit itu.
“Kau pasti curang dan menggunakan jam tanganmu untuk menyelesaikan soal tersebut, bukan?” tuduh Xavier.
“Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak. Aku memikirkannya sendiri menggunakan ini.” Jorell menunjuk kepalanya.
***
Sekilas Jorell menatap jam yang tergantung di dinding kamarnya.
“Ibu benar-benar pulang terlambat,” gumamnya. Sekarag sudah lewat dari jam biasanya Betsy pulang.
“Apa aku harus gunakan jam ini sekarang?” Jorell melirik jam di pergelangan tangan kanannya. “Baiklah, aku ingin membantu ibu.”
Jorell lalu memutar jam tangannya mundur ke waktu tiga hari ke belakang. Detik jam berputar mundur ke waktu yang di tuju. Hingga jam itu berhenti berdetak, barulah Jorell keluar dari kamar.
“Waktuku tidak lama. Sampai jam ini berdetak lagi maka aku akan kembali ke waktu sebenarnya.”
Jorell masuk ke kamar Betsy yang sedang terbuka lebar pintunya. Bahkan ibunya itu masih ada di kamar juga. Dia menunggu hingga ibunya itu keluar ruangan.
“Sekarang ibu sudah keluar, jadi, aku bisa memeriksa berkasnya.”
Jorell langsung mengoperasi kamar ibunya. Terutama nakas dan semua laci di sana.
“Di mana ibu menaruh berkasnya? Semoga saja itu masih ada di rumah.”
Saat ini Betsy hanya keluar untuk sarapan bukan untuk berangkat kerja. Jadi, waktu Jorell pun tak lama untuk menemukan berkas tersebut.
“Apakah ini berkasnya?” Setelah lama mencari, akhirnya Jorell menemukan sebuah berkas yang tersusun rapi dalam sebuah map.
Langsung saja, ia mengambil berkas tersebut. Ia membacanya dengan cepat, tak lupa dia memotret setiap file berkas tersebut menggunakan ponsel yang di bawanya.
Terdengar derap langkah kaki masuk, cepat-cepat Jorell mengembalikan berkas itu ke tempatnya semula.
“Hampir saja.” Tepat setelah ia mengembalikan dan merapikan dokumen tersebut, Betsy masuk ke kamar.
Dia lalu mengambil tas kerjanya beserta dokumennya tadi.
“Pasti ibu akan berangkat kerja. Sebaiknya aku mengikutinya saja untuk menemukan informasi tambahan. Dan apa yang sebenarnya terjadi?”
Jorell berjalan mengekor di belakang Betsy, keluar dari kamar.