Different One

Different One
Eps. 39 Desain Nail Art



Tuan Thomas menoleh ke belakang. Kekasihnya itu memang ada di sana, belum pulang. Renacananya wanita itu mau bermalam di rumahnya hari ini.


“Aku tidak tahu apakah dia mau bertemu dengan kalian,” balas Tuan Thomas.


“Aku ingin bicara dengannya sebentar, Tuan Thomas. Nona Fiona terlihat mengunjungi rumah Miss Gaby sehari sebelum kematian wanita itu.” Kali ini Jorell sendiri yang bicara begitu. Tak mungkin dia terus-menerus mengandalkan temannya itu.


Tuan Thomas menatap dua anak di depannya bergantian. Dia tak punya pikiran apapun dan tidak tahu jika maksud kedatangan dua anak itu ke rumahnya adalah untuk mengungkap pelaku pembunuhan. Dia lu yang gak pernah gak berdua sebagai anak kecil biasa.


“Baiklah, tunggu di sini. Aku akan bicara dengannya semoga saja dia mau keluar.


Tanpa rasa curiga pria itu kembali masuk ke rumah. Entah Apa yang diucapkan olehnya lima menit kemudian dia keluar bersama Nona Fiona.


“Kalian berdua kenapa mencariku? Aku tidak mengenal kalian, lagi aku juga tidak ada urusan dengan kalian berdua,” tandas Fiona.


Jorell sudah menduga akan seperti itu jawaban yang didapatkannya. Tapi, wanita itu mau keluar saja menemuinya itu sudah lebih dari cukup baginya. Tinggal bagaimana dia mengolah kata untuk menggali informasi tanpa menyinggung perasaannya saja.


“Nona, ini tentang pemb--” Xavier seketika menghentikan ucapannya kala Jorell yang berdiri di sampingnya menginjak kakinya dengan keras, meski dia tak tahu kenapa dia harus berhenti bicara.


Setelahnya Jorell langsung menyambung pembicaraan. “Nona, ini tentang Miss Gaby. Sepertinya dia meninggalkan pesan untuk Anda.” Padahal itu semua hanya karangan Jorell saja.


Gaby sama sekali tak meninggalkan catatan atau pesan untuk Fiona. Itu ide rekaan Jorell sendiri untuk menarik perhatian Fiona.


Pesan apa yang Gaby tinggalkan untukku?


Jorell berhasil membuat Fiona penasaran. Dia pun membuka pagar dan membiarkan dua anak itu masuk, meski hanya di teras saja.


“Apa pesan yang ditinggalkan oleh Gaby untukku?” lontar Nona Fiona.


“Dia menitipkan ini.” Jorell menyerahkan buku diary kosong pada Nona Fiona.


Tadi, di rumah Tuan Fisher dia menemukan buku diary kosong. Karena merasa aneh dengan buku tersebut dia pun membawanya. Buku itu terlihat seperti buku lama dengan sampul berwarna kuning yang sedikit kusam. Tapi anehnya tak ada satu tulisan pun di sana.


“Buku apa ini? Kenapa kosong begini?”


Xavier menatap Jorell. Ia bahkan tak tahu kapan temannya itu mengambil buku diary tersebut. Lagi, omong kosong apa yang diucapkan oleh Jorell itu, jika Miss Gaby menitip pesan pada Nona Fiona. Tapi dia tak berani berucap sedikit pun daripada salah bicara.


“Aku tidak tahu, Nona,” balas Jorell. “Jika boleh bertanya, apa hubungan Anda dengan Miss Gaby, Nona?” Jorell setelah mengajukan pertanyaan saat melihat wanita itu melunak.


“Dia adalah teman main di luar, kami memiliki hobi yang sama.”


“Hobi sama?”


“Ya, kami menyukai nail art. Kami sering bertemu di gerai nail art dekat sini. Dari situlah kami kenal.”


“Desain di kukumu unik, Nona Fiona. Aku menyukainya Bagaimana anda bisa membuat desain secantik itu?” Bukan Jorell yang bertanya, tapi Xavier.


Sepasang bola matanya langsung menangkap desain geometris pada jemari Fiona yang mencolok mata. Di mana biasanya wanita menyukai motif feminin seperti bunga, bintang dan main sejenisnya.


“Aku menggunakan teknik water marble untuk membuatnya.”


“Lalu kenapa di salah satu jari tangan kanan Nona, kuku itu tak terpasang satu?” Mata hazell Jorell tak sengaja melihat jari manis di tangan kanan wanita itu tak menggunakan kuku palsu.


Nona Fiona langsung menutup jari tangan kanannya dengan cepat, menutupi kuku palsu yang terlepas dari tempatnya. Entah karena apa wanita itu seperti menyembunyikan jari tangan itu agar tak ada seorangpun yang melihatnya.


“Ini ... sepertinya lepas. Aku tidak tahu di mana kuku itu lepas. Aku bahkan baru menyadarinya sekarang.”


Pernyataan dari Nona Fiona terasa janggal bagi Jorell. Dia yakin sekali wanita itu mengetahui kuku palsunya lepas tapi kenapa bilang sebaliknya? Lagi, pada jari manis itu sudah ada warna hitam bekas lem kering. Jika memang kuku itu baru terlepas maka tak akan muncul tanda hitam seperti itu. Biasanya tanda bekasnya muncul setelah dua hari kuku terlepas, karena sebelumnya kuku sudah terlem dengan rapat.


Jorell bicara dengan wanita itu hampir tiga puluh menit lamanya. Dia pun berpamitan meskipun belum mendapatkan petunjuk.


“Aku sudah terima buku diary ini, tapi aku kembalikan lagi padamu. Buat apa aku menyimpan buku kosong seperti ini? Aku punya banyak buku catatan untuk menggambar desain kuku.”


Nona Fiona menyerahkan kembali buku tersebut pada Jorell. Namun tiba-tiba saja Thomas datang dari rumah. Pria itu keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman untuk tamu mereka.


“Astaga! Thomas! Kenapa kau tidak hati-hati?” pekik Fiona.


Kekasihnya itu menubruk dirinya, hingga membuat gelas yang di bawanya tumpah. Parahnya air tak hanya membasahi bajunya, tapi juga buku catatan yang baru saja dipegang oleh Jorell.


“Maaf, aku tak sengaja melakukannya. Jika mau aku akan buatkan lagi minuman untuk kalian.” Thomas menawarkan di antara rasa sesalnya.


“Tidak. Tak apa Tuan Thomas. Kami memang mau kembali sekarang.” Setelahnya Jorell dan Xavier kembali ke rumah Tuan Fisher.


***


“Bagaimana dengan buku yang basah tadi? Apa sebaiknya dibuang saja?” ceplos Jorell.


Mereka saat ini berada di kamar Miss Gaby. Jenazah wanita itu masih ada di kamar, belum dipindah. Karena menunggu hasil dari Jorell.


“Aku tidak tahu. Mungkin saja buku itu akan berguna jika dikeringkan. Apa kau tidak ngeri membuang barang milik orang yang sudah meninggal?”


“Tidak. Orang meninggal tak bisa melakukan apapun. Kau sepertinya percaya pada takhayul saja.”


Jorell tak merespons ucapan Xavier. Dia akan mengembalikan barang yang bukan miliknya. Iseng dia membuka kembali buku catatan kuning yang basah tersebut.


“Astaga! Apa ini?” pekik Jorell.


“Ada apa?” Xavier langsung merebut buku yang ada di tangan Jorell untuk melihatnya sendiri.


Xavier sampai terperanjat dibuatnya. Dalam keadaan basah, muncul tulisan pada buku itu. Full dari halaman awal sampai dengan halaman akhir, seperti buku diary.


Xavier dan Jorell saling menatap untuk beberapa detik. Suatu Kebetulan sekali karena kecelakaan mereka mendapatkan sebuah petunjuk.


“Apa ini?” Xavier merasa ada yang mengganjal di bawah sepatunya. Dia mengangkat sepatunya.


Sungguh mengejutkan sekali, di lantai yang baru saja diinjaknya ada sebuah kuku palsu. Yang lebih mengherankan lagi, motif kuku tersebut adalah motif yang dipakai oleh Nona Fiona. Motif geometris.


“Apakah Nona Gaby juga memakai desain yang sama dengan desain yang dibuat oleh Nona Fiona?” pekik Xavier, mengambil kuku palsu tersebut.