Different One

Different One
Eps. 7 Ke Rumah Sakit Lucerne



Jantung Jorell bergemuruh, juga berdebar memegang karet gelang berwarna hijau pudar bertuliskan nama yang mirip dengan namanya.


“Siapa itu Jorell Watson? Apakah ayah punya anak lain bernama Jorell selain aku?” Jorell membaca nama yang tertera di sana mirip dengan dirinya hanya saja beda nama belakangnya.


“Ini aneh sekali. Sungguh, apakah ada dua orang Jorell di sini? Dari keluarga Watson dan Anderson?”


Banyak pertanyaan berjejal di otak kecil Jorell saat ini. Dia kembali membaca gelang karet tersebut, ada nama Rumah Sakit yang tertera di sana, Rumah Sakit Pusat Lucerne.


Dari tulisan yang masih tertempel di sana jelas sekali terlihat jika karet gelang itu usianya lama sekali, tulisannya sedikit pudar dengan sisi kertas yang sudah menguning, juga karet gelang yang warna hijaunya juga sudah pudar menjadi hijau muda dengan warna kuning di bagian sudutnya.


“Pasti ada sesuatu di sini yang melengkapi petunjuk ini.” Jorell kembali membuka laci lain dan mengeluarkan semua isinya dengan hati-hati.


Namun sayangnya setelah semua isinya dia keluarkan tak ada satupun yang dia temukan. Jorell menyerah begitu saja. Dia mencoba membuka arsip dokumen akta kelahiran keluarga dan memeriksa sekali lagi, namanya.


“Jorell Anderson berstatus sebagai anak kandung Darcy Anderson.” Entah kenapa dia punya pikiran ada yang aneh dengan nama belakangnya.


Tapi sayangnya tak ada bukti ataupun petunjuk yang mengarah ke sana.


Jorell sekarang menata dan merapikan kembali semua dokumen yang sudah dikeluarkannya, seperti sebelumnya atau dia akan ketahuan oleh ayahnya dan mungkin akan dipukul habis-habisan lagi.


“Aku harus keluar sekarang.” Ia kembali ke kamar dengan membawa gelang karet tadi, lalu menyimpannya dalam tempat yang tak akan terjangkau oleh siapapun.


Pikiran Jorell bukannya tenang setelah menemukan gelang tadi namun pikirannya malah semakin kacau. Dan nama itu membuatnya penasaran sekali.


“Setidaknya aku harus mencari tahu siapa itu keluarga Watson.”


Di tengah malam yang sunyi, Jorell mengeluarkan laptonya dari balik lemari belajarnya.


“Mungkin aku bisa mengetahui siapa itu keluarga Watson.”


Dengan cepat Jorell lalu mengetikkan nama Watson, mungkin saja dia akan menemukan sesuatu.


“Astaga! Di Swiss tak ada seseorang dengan nama keluarga Watson. Tapi di karet gelang ini sungguh tertulis nama itu, bagaimana ini bisa terjadi?” Jorell sampai menyentak bahunya ke kursi karena tak mendapatkan informasi yang dicarinya.


Jorell tidak menyerah, dan terus mencari hingga satu jam ke depan, namun sayang usahanya tak membuahkan hasil.


“Aku akan melanjutkan pencarian besok.” Akhirnya, Jorell pun memasukkan kembali laptopnya.


Ia berbaring di tempat tidurnya dengan pikiran berkelana tanpa arah.


“Adakah hubunganku dengan Jorell Watson?” Hanya itu yang sedari tadi dia pikirkan saja.


***


“Jorell, kenapa kau nampak merenung?” tanya Betsy di ruang makan.


Mereka berempat sedang sarapan pagi. Sejak tadi, Jorell belum memakan sesuap pun dari piring yang ada di depannya. Padahal yang lain, sudah separuh piring yang mereka makan.


“Jorell, cepat habiskan makanmu!” sentak Darcy, barulah dia tersadar dari lamunannya.


“Ah, iya, Ayah.” Jorell nampak tidak kaget dan segera mengambil sesuap makanan dari piringnya.


“Jorell, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” Betsy kembali bertanya.


Jorell tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala saat meresponnya. Karena tak mau ada pertanyaan dan tak ingin menunjukkan kegelisahannya, maka Jorell segera menghabiskan makannya.


***


“Ibu, Ayah, aku berangkat dulu.” Jorell keluar dari ruang makan lalu mengambil tas dari kamarnya.


“Ya.” Betsy dan Darcy menjawab bersamaan.


Aroon mengikuti berjalan di belakang Jorell.


Jarak sekolah mereka dari rumah jika ditempuh dengan berjalan kaki hanya membutuhkan waktu tak sampai 20 menit.


Di kelas, Jorell kembali melamun seperti biasanya. Dia menatap kosong ke luar jendela saat pelajaran dimulai dan sama sekali tak memperdulikan paparan guru.


Siapa sebenarnya Jorell Watson itu?


Nama itu terus mengusiknya sampai sekarang. Dan tak tahu lagi harus mencari ke mana.


Apa aku sebaiknya memeriksanya dulu di Rumah Sakit Pusat Lucerne? Mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk di sana.


“Jorell, apa yang barusan Ibu jelaskan?” Guru Geografi menghampiri Jorell sembari mengetukkan spidol ke meja.


Guru itu sudah mengetahui Jorell melamun, dan ingin memberinya kejutan.


Jorell tersadarkan dari lamunannya mendengar suara ketukan spidol di mejanya.


“Miss Laura? Maaf, apa yang Anda tanyakan tadi?” Jorell benar-benar tidak tahu apa yang diterangkan oleh gurunya itu.


“Terangkan lagi deskripsi Laut Mati yang ibu jelaskan tadi.”


Jorell diam dan menunduk. Dia tak bisa menjawab. Sebelumya dia juga tidak membaca materinya. Kosong. Tak ada apapun yang bisa dia persiapkan sebagai jawabannya.


“Jorell, keluar kau dari kelas dan bersihkan lapangan bola dalam satu jam!” sentak Miss Laura, sembari membetulkan letak kacamatanya yang turun.


“Baik, Miss Laura.”


Jorell keluar dari kelas dengan banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan remeh. Namun Jorell tak memperdulikan itu.


Dia pergi ke lapangan bola dan mengambil pemotong rumput yang ada di sudut lapangan.


Ia memulai memotong rumput di lapangan bola tersebut.


“Akhirnya selesai juga.” Setelah hampir satu jam lamanya barulah dia selesai memotong rumput di lapangan bola.


Jorell yang belum habis masa hukumannya kemudian merebahkan diri di lapangan rumput tersebut. Pikirannya kembali melayang menembus cakrawala.


“Aku harus mencari informasi tentang nama itu.”


***


Sepulang sekolah, Jorell meminta Aroon pulang duluan. Dia kemudian pergi ke Rumah Sakit Pusat Lucerne.


“Permisi, aku ingin bertanya apakah gelang ini benar berasal dari rumah sakit ini?” Jorell bertanya pada petugas umum bagian informasi yang ada di rumah sakit sembari menunjukkan gelang yang di bawanya.


“Ini memang gelang dari Rumah Sakit ini lima belas tahun yang lalu.” Petugas Informasi mengembalikan gelang tersebut setelah melihatnya.


Deg! Lima belas tahun? Itu benar-benar sama dengan umurku saat ini. Apakah ini suatu kebetulan atau apa?


“Permisi, bolehkah aku mengetahui siapa nama orang tua bayi ini?” Jorell mendesak.


Dia menyerahkan kembali gelang karet hijau itu pada petugas informasi.


“Bisa tapi mungkin perlu waktu lama untuk menemukannya karena itu sudah lama sekali.” Petugas informasi Itu menjelaskan.


“Baik, Aku akan menunggunya.”


Jorell kemudian duduk di kursi tunggu. Dengan sabar dia menunggu.


Tik-tak! Bahkan waktu sudah berlalu dua jam namun tugas informasi tadi belum kembali juga. Barulah dua puluh menit kemudian petugas informasi itu datang.


“Apakah Anda sudah menemukannya?” tanya Jorell setelah menghampiri petugas umum.


“Jorell Watson adalah salah satu putra kembar dari pasangan Tuan Carl Watson dan Nyonya Scarlet Timothy yang lahir pada tanggal 17 Juni 2017, namun meninggal dalam waktu kurang dari 24 jam Setelah dilahirkan.” Petugas informasi menyampaikan.


Jorell tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh petugas tersebut.