Different One

Different One
Eps. 21 Toko Jam Lengkap



Jorell berpikir dengan cepat, mengasah otak kecilnya untuk mencari jawabannya. Jika tidak maka akan tamat dia.


“Dari tadi aku di rumah, Bu. Aku ada di teras depan,” ujar Jorell akhirnya beralasan.


Dia berharap kali ini dewi fortuna berpihak padanya, meskipun itu sedikit.


“Oh, ya. Ibu memang tidak memeriksamu sampai ke teras tadi.”


Jorel benar-benar lega mendengar jawaban ibunya. Padahal dia sudah takut jika ketahuan bohong.


Setelahnya, Betsy keluar dari kamar Jorell.


“Aneh, aku tadi sempat ke teras sebentar, tapi tidak melihatnya di sana?” lirih Betsy saat menutup pintu.


Dia jadi ragu dan menyalahkan dirinya yang kurang teliti tadi. Dia merasa ada sesuatu yang aneh, tapi tak bisa mendiskripsikan.


Jorell bisa bernapas lega setelahnya. Sekarang dia kembali fokus pada jam tangannya.


“Kenapa mesin waktu ini tidak berfungsi? Padahal tidak ada gangguan sebelumnya. Tidak jatuh, atau terkena air.”


Ia meraih kembali jam tangan itu dan mulai membongkarnya. Berbekal sorot senter, Jorell melepas item yang berukuran sangat kecil sekali.


“Akhirnya aku selesai juga membongkarnya. Jadi apa masalahnya biar kulihat.”


Bagian jam yang sudah terbongkar itu tercecer di depan Jorell. Anak itu mengambil item berbentuk kotak kecil yang merupakan prosesor mesin waktu.


“Salah satu komponennya terbakar. Jadi, aku harus menggantinya dan merakitnya ulang. Tapi sebelum itu aku harus merumuskan ulang sebelum merakit komponen mekanismenya.”


Jorell mengambil buku dan duduk di meja setelah membereskan jam yang dibongkarnya. Berbekal sebuah pen saja, ia menulis ulang rumus dan rangkaian mesin waktunya.


Lama, hampir tiga jam lamanya dia duduk untuk menyelesaikan dan menggabungkan banyak rumus sulit yang jawabannya sampai sepuluh lembar.


“Jadi ini kesalahanku sebelumnya. Ada yang salah sedikit hingga membuat komponen mekanismenya terbakar.”


Selesai merumuskan ulang, bahkan Jorell pun sudah tak kuat menahan rasa kantuknya lagi Hingga dia tertidur di meja sampai pagi.


Terdengar suara kicau burung di luar. Pelan, Jorell membuka kelopak matanya.


“Apakah ini sudah pagi?” Harusmya dia percaya waktu saat ini menunjukkan pukul 05.00 pagi, pada jam digital yang ada di sebelah tangannya. Tapi Jorell memutuskan memilih membuka korden kamar untuk memastikannya.


“Benar-benar pagi yang cerah.”


***


“Ibu ... kami berangkat,” pamit Jorell dan Aroon bersamaan saat melewati ibunya.


Betsy hanya mengangguk saja. Di sampingnya ada Darcy, namun dia tak bicara padanya. Entah kenapa setelah mengetahui pria yang beridentitas sebagai ayah kandungnya itu ternyata bukanlah Ayah biologisnya, membuatnya hambar saat menatapnya.


Rasa hormat dan rasa takut itu hilang begitu mengetahui fakta tersebut.


Darcy memutar bola mata menatap Jorell.


“Hey, Jorell apa kau tidak mau ini?” Darcy memberikan papan catur pada Aroon. Ada dua papan di sana.


Jorell hanya menatap papan catur yang dipegang oleh Darcy.


“Tidak, terima kasih,” jawabnya berbalik kemudian berjalan dan menunggu Aroon di luar.


Bukannya dia menolak pemberian dari Darcy, tapi dia tak ingin melihat pria itu untuk saat ini. Sungguh, itu membuat frustasi.


***


“Kenapa kau duduk melamun lagi? Apa kau kesulitan mengerjakan soal tadi? Kau tidak bilang padaku, jika kau butuh bantuan, aku akan tunjukkan lembar jawabanku sebentar padamu tadi,” ujar Xavier.


Hari ini mereka masih mengikuti ujian kelas, tepatnya ujian Sastra Swiss. Dan mata pelajaran itu tidak terlalu sulit bagi Xavier.


“Kau terdengar sombong sekarang. Seperti orang pintar saja jawabanmu. Mari kita lihat nilaimu nanti setelah hasilnya keluar,” ledek Aroon.


“Kau pasti di bawah nilaiku nanti,” canda Jorell sembari melempar senyum tipis.


“Ayolah, apa yang kau pikirkan? Apakah ini mengenai ayahmu? Maksudku pria yang yang mengasuhmu sejak kecil?” tandas Xavier lagi.


“Bukan. Aku memikirkan jam tanganku. Salah satu komponen mekanismenya rusak, terbakar. Jadi aku harus merakit ulang mesin waktu tersebut. Dan susah mencari komponennya.”


Xavier diam dan berpikir. Dia tahu beberapa tokoh komponen jam di tempat ini. Biasanya orang akan cenderung membuang jam tangan mereka jika itu rusak dan menggantinya dengan jam baru.


“Aku tahu ada satu toko komponen jam lengkap di sini. Kau bisa ke sana,” ungkap Xavier sambil menyibak poni depannya ke belakang dengan bangga.


“Baik, antar aku ke sana.”


***


Sepulang sekolah Jorell dan Xavier pergi ke Toko Sein. Toko komponen jam. Toko itu menerima jam bekas dan mengambil komponennya yang masih bagus untuk dijual ulang. Jadi bisa dikatakan toko itu merupakan toko terlengkap di antara toko jam yang ada.


“Tuan, apa Anda menjual komponen untuk jam ini?” Jorell menunjukkan komponen mekanisme yang dibutuhkannya pada pemilik toko.


“Komponen ini jarang sekali dipakai. Jam jenis apa yang kau pakai?” balas pemilik toko setelah melihat komponen yang ditunjukkan Jorell.


Jorell diam tak menjawab, jam jenis apa yang dipakainya. Tak Mungkin dia memberitahukan itu, karena itu komponen untuk mesin waktunya.


“Jika tak ada, tak apa, Tuan.” Jorell mengambil kembali komponen tersebut dan berbalik.


“Tunggu! Siapa bilang aku tak punya komponennya.”


Jorell yang nampak kecewa, kembali terlihat setelah mendengar panggilan dari pemilik toko.


“Aku hanya punya satu komponen yang kau cari. Itu pun bukan barang baru. Barang bekas tapi masih bagus kondisinya,” terang pemilik toko sembari membutuhkan letak kacamatanya.


“Tak apa Tuan. Ada komponennya saja aku sudah beruntung,” jawab Jorell.


“Tunggu sebentar.”


Pemilik toko masuk ke dalam dan beberapa saat setelahnya membawa komponen yang dicari oleh Jorell.


“Ini, komponennya.”


Jorell mengambil komponen tersebut lalu membayarnya. Tepat di saat dia akan kembali, tiba-tiba saja ada seorang pengunjung yang datang dengan marah-marah.


“Charlie! Kau belum membayar hutangmu!” Seorang pria datang dengan menyentak, juga mata Emang bulat penuh menatap pemilik toko.


“Oh, Tuan Richard, bisakah kumpulannya sedikit suaramu, ada pelangganku di sini.”


“Pelan katamu? Aku bahkan bisa menutup mulutku jika kau melunasi utangmu hari ini juga.”


Tuan Charlie menatap Jorell dan Xavier dengan malu, tapi dia tak bisa berbuat apapun karena memang dia punya hutang ada retenir tersebut.


“Baiklah, Tuan Richard aku minta tenggang waktu. Besok aku akan melunasinya,” balas Tuan Charlie bermaksud untuk mengusir pria tersebut. Sungguh, ia takut pria itu akan mengusir semua pelanggannya jika dibiarkan tetap berada di toko.


Terdengar suara gebrakan meja. Richard marah. Bukan hanya meja saja yang dia gerak, tapi tangannya pun kali ini sudah mencengkram kerah baju Tuan Charlie.


Bahkan terdengar suara Tuan Charlie mendesis lirih, tatkala Richard mengayunkan tangan ke mukanya hingga membuat kacamata yang dikenakannya saat ini pecah.


“Bayar sekarang atau aku akan menghancurkan tokomu!” ancam Richard.


“Jorell, ayo kita pergi dari sini,” ajak Xavier. Sungguh dia takut lulusan dengan berandal atau preman seperti Richard.


“Tidak.”