
Jorell diam. Dia bingung bagaimana memanggil pria itu dengan sebutan ayahkah atau sebutan lainnya?
Secara dia sudah mengetahui jika pria itu bukanlah Ayah kandungnya meskipun dia belum tahu juga siapa Ayah kandungnya.
“Tidak. Aku hanya berlatih dengan Xavier,” ucap Jorell.
Darcy kemudian beralih menatap Xavier yang berdiri di samping Jorell. Nampak temannya Jorell itu tak terluka ataupun memar sedikitpun.
“Kau mau bohong lagi padaku?! Jika benar kalian berdua latihan, seharusnya Xavier sama babak belurnya dengan dirimu.”
Sepasang bola mata Darcy nampak membulat penuh mengetahui dirinya dibohongi. Bahkan saat ini tangannya pun sudah melayang di udara.
“Om Darcy, sebenarnya kami tidak latihan. Tapi Jorell melawan seorang begal di tengah jalan yang mencopet dompetku,” ujar Xavier cepat.
Membuat tangan besar yang akan mendarat di pipi Jorell tertahan di udara setelah mendengarnya. Bahkan dia pun berbalik dan berlalu pergi saat itu juga.
“Terima kasih. Berkat kau, aku tidak mendapatkan tamparan kali ini,” ujar Jorell mengulas senyum di antara rasa sakitnya.
Dia lalu masuk ke rumah dan menutup pintunya.
“Jorell, mukamu kenapa?” tanya Betsy mendekat, di dalam rumah.
Jorell diam, menatap ibunya. Dia mencari alasan yang tepat pada ibunya agar tidak marah padanya.
Tadi Xavier sebelumnya bohong jadi kenapa aku tidak melanjutkannya?
Jorell teringat jika pada kebohongan temannya tadi, selain itu jika dia mengatakan hal yang beda pada ibunya, trmtu saja dia akan ketahuan bohong.
“Tadi ada berandal yang mencopet Xavier, Bu. Aku hanya membantu untuk mengambil dompetnya saja.”
“Berapa orang yang menghajarmu?”
Menurut Betsy, jika dilihat dari memar di muka Jorell dan beberapa bagian tubuh lainnya, preman yang memukuli Jorell lebih dari satu orang.
Apakah memarku separah itu? seperti lebih dari satu orang yang memukulku? Guru Anuwat Suksom memang luar biasa jika begitu.
“Ini ... ada lima orang, Bu.” Terpaksa, Jorell mengarang cerita. Semakin banyak berandal yang ia sebutkan menghajar dirinya, maka akan semakin membuat kebohongan itu terasa nyata.
“Lain kali hati-hati jangan melawan merka para preman jika tak sanggup. Beruntung kau hanya babak belur begini.”
Jorell hanya mengangguk saja. Dengan kembali berkata, mungkin akan semakin menambah panjang daftar kebohongannya.
“Iku Ibu, biar Ibu rawat mukamu yang bengkak.” Tanpa meminta persetujuan ataupun menunggu jawaban dari Jorell, Betsy segera menarik tangan Jorell, membawanya masuk ke ruangan lain, sembari mengambil perlengkapan yang dibutuhkan untuk merawat Jorell.
***
“Bagaimana, apa hari ini sebelum sekolah kau mau menemui guru capoeira?” tanya Xavier di kelas, keesokan harinya.
Dia melihat muka Jorell yang masih sedikit bengkak dan terlihat memar, lebih baikan dari kemarin setelah latihan bersama Guru Anuwat Suksom.
“Hey! Kau ini berniat membantuku atau menyiksaku?” protes Jorell. Sudah tahu kondisinya belum boleh tapi temannya itu malah menawarkan bertemu dengan guru capoeira. Padahal sebelumnya di saat kondisinya baik-baik saja, Xavier malah dengan mengantarnya bertemu dengan para guru itu.
“Kan tidak mungkin, di hari pertama pertama kalian akan langsung latihan? Bukankah sebaiknya bertemu dulu lalu bicara dengan merencanakan kapan latihan sebaiknya akan di lakukan?”
Jorell menatap sepasang manik mata biru milik Xavier, untuk melihat Apakah temannya itu jujur dan tulus ataukah memang ada niat mengerjai dirinya? Karena terkadanh Xavier memang suka usil dengan dirinya.
“Baiklah, aku setuju saja untuk bertemu dengan guru capoeira itu. Antarkan aku menemuinya setelah pulang sekolah nanti,” putus Jorell pada akhirnya.
Menurutnya tak ada salahnya bertemu lebih dulu dengan pelatihnya. Jadi dia bisa tahu seperti apa gurunya nanti juga bisa mempersiapkan diri untuk latihan berikutnya.
“Jorell! Xavier! Kalian berdua kerjakan soal nomor dua dan tiga di depan, daripada kalian berdua bicara terus tanpa henti.” Seorang guru kelas menegur mereka berdua setelah mengawasi dari depan.
Jorell hanya mengulas senyum tipis saja melihat temannya yang menggerundel.
“Soalnya mudah, aku akan membantumu kerjakan jika mau,” tandas Jorell setelah membaca soal yang harus dikerjakan oleh Xavier.
“Kalian berdua masih saja mengobrol. Cepat maju dan kerjakan tugas yang tadi kuberikan!” bentak Guru di depan kelas kamu kedua siswanya itu seolah mempermainkan dirinya.
“B-baik.”Xavier segera keluar dari bangku dan maju ke depan bersama Jorell.
***
“Baiklah, sekarang aku akan mengantarmu menemui guru Rodrigo Gonzales,” ungkap Xavier di kelas, merapikan buku di sesi akhir pembelajaran hari ini.
“Ya.” Xavier malah meninju kecil bahu Jorell. Sebenarnya dia sebal dengan jawaban dari Jorell yang seringnya teramat sangat pendek seperti itu.
Lima menit kemudian mereka benar-benar keluar dari Institut Florimont. Xavier menunjukkan arah menuju ke rumah Guru Rodrigo Gonzales berada.
“Apa kau yakin di sini rumahnya?” tabya Jorell nampak ragu berhenti di depan sebuah rumah.
Rumah itu tertutup rapat bahkan lebih rapat daripada rumah Guru Anuwat Suksom. Ada rantai besar juga yang termasuk pada pagar.
“Ya, ini rumah Guru Rodrigo Gonzales. Rumahnya memang selalu tertutup seperti ini. Tapi muridnya banyak di dalam sana,” terang Xavier.
“Apa benar yang kau katakan itu?” Jorell tidak yakin. Karena dari luar bahkan tak terdengar suara sama sekali keramaian yang disebutkan Xavier.
Xavier tak menjawab. Dia menarik cuckoo yang ada di dekat pagar. Meskipun Guru Rodrigo adalah orang berdarah Brazil asli, tapi dia tinggal dengan menyesuaikan adat sekitar.
Lama, ada sekitar lima menit lebih barulah pintu rumah bercat kuning menyala itu terbuka.
“Xavier? Ada apa kemari? Apa kau mau latihan?” tanya seorang pria yang kemudian membuka rantai pagar, sampai pagar rumah itu terbuka, setelah mendengar kokokan cuckoo.
Pria dengan rambut dikuncir bagian atasnya itu beralih menatap Jorell, karena Xavier tak merespon perkataannya.
“Dia ... ” Guru Rodrigo Gonzales menatap anak lelaki asing yang baru dilihatnya pertama kali ini.
“Guru, dia temanku. Bisa dibilang dia adalah teman dekatku. Aku kemari mengantarnya karena Jorell ingin menjadi muridmu.” Xavier menjelaskan.
“Murid? Bukan dirimu?”
Sebelumya, Guru Rodrigo meminta Xavier untuk menjadi muridnya. Tapi sepertinya anak itu belum tertarik, entah apa alasannya dan sekarang malah datang kemari membawa teman.
“Kau mau menjadi muridku?” tanya pria berusia sekitar awal 30 tahunan, je kembali menatap Jorell.
“Ya, Guru Rodrigo. Aku ingin menjadi muridmu,” balas Jorell.
Dia memberi salam dengan membungkukkan badannya.
“Aku tidak bisa putuskan itu sekarang, tapi masuklah dulu.” Guru Rodrigo membuka pintu pagar lebar agar mereka berdua segera masuk.
Setelah mereka berdua masuk maka dia kembali mengunci pagarnya plus memasang rantainya kembali.
“Aku ingin tahu apa tujuanmu ingin menjadi muridku, Jorell? Katakan padaku apa alasannya aku harus menerimamu menjadi muridku? Kau bisa lihat sendiri, muridku di belakang sana banyak, untuk apa aku harus menambah murid lagi?” cecar Guru Rodrigo.
Dari dalam kini terlihat dan terdengar dengan jelas suara murid yang sedang latihan.
“Itu karena ...” Jorell berpikir, jawaban apa yang harus dia lontarkan setelah menatap raut muka serius dan dingin Guru Rodrigo.
***
Dear kk semua, maaf baru update. Baru sempat nulis. Sy juga ingin tahu apakah yg baca ini banyak seperti kisah super Detektif.