Different One

Different One
Eps. 19 Pergi Ke Rumah Sakit Lucerne



Jorell duduk di kelas. Dia memegang pen sembari menatap lembaran kertas soal di depannya.


“Hey, Jorell apa kau bisa menjawab soal nomor 10? Soal kimia ini sulit sekali,” ujar Xavier lirih menunjuk soal di depannya sebelum ujian dimulai.


Hari ini ada ujian kimia di kelas. Pelajaran kimia adalah pelajaran ketiga yang susah dipelajari setelah matematika dan juga fisika.


Guru membagikan soal ujian pada siswa di kelas, satu menit sebelum ujian itu dimulai. Tak boleh ada yang bicara atau membuka buku untuk mencari jawabannya. Bahkan semua tas siswa sudah ada di depan kelas untuk menghindari aksi curang mereka yang mungkin saja akan tejadi.


Jorell tidak menjawab pertanyaan Xavier. Dia malah memegang tangan kanan temannya itu. Dia menuliskan jawabannya di sana. Karena tak ingin suaranya sampai terdengar oleh teman sebelahnya ataupun oleh gurunya.


“Apa ini?” Xavier membaca tulisan tangan pada telapak tangan kanannya. “Kau yakin ini jawabannya?” tegas Xavier ragu.


“Aku sudah beritahukan jawabannya padamu. Percaya atau tidak itu urusanmu,” balas Jorell dengan lirih pula.


“Sekarang ujian dimulai. Tak ada yang boleh bicara. Jika ada yang tidak jelas, tanyakan langsung saja padaku,” kata guru di depan kelas.


Suasana kelas saat itu juga menjadi hening. Bahkan tak ada yang berani menoleh ke samping kanan ataupun kiri.


Xavier melirik Jorell yang duduk di sampingnya. Jorell tenang mengerjakan soal.


Bahkan Jorell sepertinya tak kesulitan mengerjakan soal. Apa benar dia bisa mengerjakan soalnya?


Xavier melirik kembali soal nomor 10 yang belum dikerjakannya lalu membuka telapak tangan di mana masih ada tulisan tangan Jorell di sana.


Aku benar-benar buntu. Apa sebaiknya aku tulis saja jawaban ini? Barangkali saja jawaban dari Jorell benar.


Xavier nampak ragu dengan jawaban yang diberikan oleh temannya itu. Karena sebelum-sebelumnya, Jorell sering mendapatkan nilai jelek dalam ujian kimia. Tidak mungkin bukan dalam sekejap nilainya akan berubah jadi baik?


“Waktu kurang 20 menit lagi,” ujar guru kimia mengingatkan.


Membuat Xavier semakin panik saja. Hingga dalam keputusasaannya, dia pun menuliskan jawaban yang diberikan oleh Jorell padanya tadi.


Semoga saja jawaban dari Jorell ini benar.


Xavier kemudian menghapus tulisan tangan Jorell di telapak tangannya, untuk menghapus jejak agar guru tidak menyalahkan dirinya berbuat curang.


“Jorell kau sudah selesai?” tanya Xavier, lima menit sebelum waktu ujian berakhir. Saat itu Jorell berdiri dari tempat duduk sembari membawa lembar jawaban ujian.


“Ya, sudah.”


“Aku ada lagi satu soal yang belum kujawab. Nomor 20. Apa kau bisa membantuku?” lirih Xavier, menahan langkah Jorell.


“Aku akan mengangkat lembar jawabanku ini hanya 10 detik dan kau harus membacanya dengan cepat. Atau aku juga akan kena sanksi nanti.” Sebagai teman, Jorell tak mungkin tidak membantu Xavier. Mereka teman baik. Kalau dia kesulitan Xavier juga yang membantu dirinya.


Jorell mengangkat lembar jawabannya selama sepuluh detik. Xavier membacanya dengan cepat sembari mengingatnya.


“Jorell, apa kau sudah selesai dan mau mengumpulkan jawabanmu? Kenapa masih berdiri di sana?” tanya guru yang mengawasi gerak-gerik seluruh siswanya di kelas.


“Ya, Pak, kakiku kesemutan. Aku akan mengumpulkannya sekarang.” Jorell beralasan. Ia segera berjalan menuju ke depan dan mengumpulkan lembar jawaban plus soal.


***


“Jorell kau mau ke mana sepulang sekolah?” tanya Xavier berlari mengejar sampai ke pintu gerbang.


Hari ini siswa pulang lebih awal karena memang ujian masih berlangsung sampai lima hari ke depan. Jadi diharapkan memanfaatkan waktu dengan baik untuk belajar di rumah.


“Pulang,” jawab Jorell singkat.


“Kau tidak main ke tempatku?” ajak Xavier.


“Apa itu mengenai pencarian nama yang mirip denganmu?” selidik Xavier.


Jorell mengangguk. Sebenarnya sejak terakhir kali dia pergi ke masa lalu sampai saat ini dia belum kembali melakukan pencarian lagi. Dan dia ingin kembali ke masa lalu sekarang saat ini.


“Ya, sudahlah. Kau telepon aku jika kau berubah pikiran. Aku akan datang ke rumahmu untuk menjemput,” tutur Xavier di ujung jalan sebelum mereka berpisah.


“Tak perlu menjemputku jika memang aku mau ke rumahmu aku akan langsung ke sana saja.”


Mereka rumah kemudian berpisah dan mengambil jalan yang berbeda arah.


***


Jorell tiba di rumah. Saat itu rumah sepi. Hanya ada dirinya saja. Bahkan Aroon pun belum pulang.


“Aku tidak sabar ingin pergi kembali ke masa lalu.”


Jorell menaruh tas yang di bawanya ke meja. Tanpa berganti baju dan hanya menunggu segelas air mineral yang ada di meja, dia pun duduk menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan.


“Aku akan pergi ke tahun 2017. Di waktu aku di lahirkan.”


Jorell mengetikkan tanggal dan tahun berapa dia ingin pergi. Jarum jam kemudian berdetak mundur ke waktu yang dituju.


Pelan-pelan background di belakangnya mulai berubah. Dari sebuah bangunan yang kemudian hilang menjadi sebuah ladang, seperti sebelumnya.


Bahkan Jorell pun mulai terbiasa dengan pemandangan itu.


“Baiklah, sekarang aku harus pergi ke Rumah Sakit Pusat Lucerne. Aku ingin melihat proses kelahiran Jorell Watson. Hari ini dia tepat akan dilahirkan.”


Jorell kemudian berjalan. Dia menyusuri jalan hingga ke ujung.


“Rumah Sakit Lucerne di mana? Aku bingung dengan tampilan lama seperti ini.”


Ia kemudian berhenti, takut salah arah atau salah jalan sehingga malah tidak menemukan tempat yang dicarinya.


Sepasang bola matanya berputar mencari petunjuk di sana. “Sepertiya itu ada petunjuk arah.”


Ada sebuah papan kayu tertancap di tengah jalan. Jorell segera berlari menuju ke sana.


“Arah Rumah Sakit Lucerne ke utara, arah Rumah Sakit Muenchen ke timur.” Jorel membaca petunjuk arah yang ada di sana.


Ia pun kembali berjalan menuju ke arah utara. Terus sampai ratusan meter jalan yang sudah dia tempuh hingga akhirnya dia berhenti di depan sebuah tempat keramaian.


“Apakah itu Rumah Sakit Pusat Lucerne?” Jorell berhenti di seberang sana dan menatap tempat keramaian itu.


Ada plang besar di depannya bertuliskan 'Rumah Sakit Pusat Lucerne' di dekat pintu gerbang masuk.


“Aku akan ke sana sekarang, semoga saja aku beruntung.”


Jorell perjalanan menuju ke rumah sakit. Ia sampai ke di depan rumah sakit. Ada beberapa orang wanita berjalan dengan perut besar di sana.


“Akan ada orang yang melahirkan hari ini. Apakah salah satu diantara mereka adalah orang tua Jorell Watson?” pekik Jorell mengulas senyum tipis di ujung bibirnya.


Dengan semangat ia melihat satu per satu wanita yang sedang hamil tersebut.


“Di mana ibunya Jorell?” Dari lima wanita hamil yang dilihatnya saat ini, dia tak menemukan sosok Tuan Carl Watson yang mendampingi lima wanita itu.