Different One

Different One
Eps. 24 Olah TKP



“Catatan dan pen?” Tuan Charlie menegaskan kembali sebelum mengambil.


Jorell mengangguk dengan cepat.


“Catatan itu akan membantuku, Tuan. Aku tidak bisa menulis semuanya di otakku. Jadi aku bisa melihat semua yang tertulis di otakku pada catatan itu nanti,” tandas Jorell menjelaskan.


Tuan Charlie menatap Jorell sejenak. Menurutnya anak itu cerdas dari apa yang dia ucapkan. Meski masih seorang bocah.


“Baiklah, aku akan ambilkan catatan dan pen untukmu.”


Tuan Charlie masuk ke kamar dan kembali lagi dengan membawa catatan kecil beserta pen.


“Ini untukmu.”


Jorell menerima catatan dan pen dari Tuan Charlie. Dia tahu jika dirinya hanyalah seorang anak kecil tanpa bakat detektif. Juga tak mempunyai peralatan seperti yang karena detektif punya, tapi dia akan mencoba berusaha sebaik mungkin tanpa semua itu, hanya berbekal jutaan neuron di otaknya.


“Baiklah, Tuan Charlie. Aku ingin tahu apa aktivitasmu enam jam yang lalu, di mulai sejak Tuan Richard pergi dari toko ini.” Jorell memulai penyelidikannya.


Ini pertama kalinya dia menyelidiki kasus seperti ini. Dan untuk kasus pertama baginya ini dia hanya berharap bisa menemukan pelaku yang sebenarnya.


“Yang aku lakukan adalah rutinitas harianku seperti biasanya,” tutur Tuan Charlie.


Dia menjelaskan setelah kepulangan Richard tadi hanya berada di toko melayani beberapa pembeli dan menyervis jam beberapa pembeli.


Toko itu selain menjual komponen jam, juga melayani service. Untuk melayani pelanggan dia dibantu oleh tiga pelayan. Tapi untuk menyervis jam, Tuan Charlie sendiri yang melakukannya.


“Jadi, Anda sama sekali tidak keluar dari toko?” sambung Jorell bertanya.


“Bisa dibilang begitu. Aku hanya berada di toko udah di rumah saja, karena hari ini banyak pembeli.”


“Lalu Anda tahu siapa saja yang ke dapur hari ini?” sambung Jorell bertanya lagi.


“Semua ke dapur keluar masuk. Dan aku tidak hafal jam berapa saja mereka ke sana.”


Sulit mencari jika seperti itu, batin Jorell.


Xavier meskipun diam, namun dia juga ikut berpikir.


“Tuan Charlie, apakah di toko ini ada CCTV? Mungkin kita bisa melihatnya dari sana jika ada fasilitas itu.”


“Ya, tentu saja ada. Ada dua kamera CCTV di sini. Satu ada di toko dan satu lagi ada di dapur. Tadi pihak polisi juga sudah memeriksa rekaman CCTV ini,” ungkap Tuan Charlie.


“Jika ada boleh kami melihatnya lagi, Tuan?”


Tuan Charlie mengangguk. Ia kemudian membuka monitor yang ada di ruangan lain di rumah.


Jorell dan Xavier duduk di samping Tuan Charlie. Menatap monitor di depan mereka.


Dari monitor terlihat ada beberapa pembeli di luar yang datang silih berganti. Lalu di dapur juga terlihat Tuan Charlie makan siang di sana duduk sendiri.


Tiga pelayan toko Tuan Charlie juga keluar masuk dapur beberapa kali. Ada yang mengambil air minum, makan dan lain sebagainya. Hingga ditemukan sebuah pisau berlumuran darah tergeletak di lantai, sama dengan posisi pisau saat ini yang belum berubah.


“Permisi Tuan, bisakah Anda memutanya ulang?” pinta Jorell.


Menurutnya ada yang aneh dengan rekaman CCTV itu.


Rekaman tayangan CCTV itu diputar ulang, Jorell memperhatikan dengan seksama. Bahkan beberapa kali dia minta rekaman itu di-pause di beberapa bagian.


“Tuan, siapa nama pelayan Anda yang keluar paling belakang dari dapur ini?” tanya Jorell menunjuk seorang pria berpakaian serba hijau gelap.


Menurutnya pria itu nampak mencurigakan jika dinilai dengan pelayan toko lainnya. Gerak-gerikya mencurigakan sekali. pria itu selalu menetap ke arah kamera CCTV berada tanpa alasan. Cukup aneh jika di lakukan oleh seseorang yang berniat ke dapur hanya untuk makan siang atau mengambil air minum saja.


“Itu Herald. Dia pelayan pertama yang bekerja di sini. Memang seperti itu kesehariannya, selalu nampak cemas dan gelisah. Namun lihat ada masalah sama sekali di sini,” jelas Tuan Charlie.


Ia juga menambahkan dua pelayan lainnya bernama Foster dan Bernie.


“Aku merasa ada yang aneh saat melihat rekaman ini, Tuan. Pada rekaman ini seperti ada bagian yang dihapus. Tidak mungkin pisau ini terletak begitu saja di sini tanpa ada yang menaruhnya.”


“Tapi dari rekaman rekaman itu terlihat tersambung tak ada bagian yang terputus,” sanggah Xavier.


“Entahlah, jika memang itu benar harusnya pihak kepolisian tahu mengenai hal itu dan tidak menetapkan diriku sebagai tersangka?” kilah Tuan Charlie.


“Apakah tiga pelayan toko di sini mengenal Tuan Richard sebelumnya?” tanya Jorell lagi, sebelum berasumsi dan membuat dugaan sementara.


“Mereka bertiga mengenal Richard, tentunya. Siapa di sini yang tak kenal pria itu?”


“Bukan begitu maksudku, Tuan. Dari tiga pelayan toko Anda, apa ada di antara mereka yang kenal baik dengan Tuan Richard dan berhubungan dengan pria itu? Semisal juga punya pinjaman atau keterikatan pada hubungan lainnya?” Jorell menjelaskan karena sepertinya Tuan Charlie salah menangkap maksudnya.


Pria itu diam nampak berpikir. Dia mencoba mengingat lagi.


“Herald dan Foster pernah meminjam uang pada Richard dulu. Tapi entah untuk saat ini apakah sudah lunas atau belum? Apakah kau mencurigai mereka?”


“Jika Tuan Bernie, apakah dia tak berhubungan rentenir itu?” Jorell kembali bertanya.


“Bernie adalah tetangga Richard. Sedikit banyak, jika bertetangga pasti berurusan.”


Jorell mencatat semua yang dijelaskan oleh Tuan Charlie pada catatan yang dibawanya. Ia membaca ulang tulisan tangannya tersebut.


“Tuan, ini hanya dugaanku sebelum menemukan bukti. Masalah ini sepertinya ada hubungannya dengan salah satu pelayan Anda di toko ini.”


Kesimpulan Jorell itu, bukanlah suatu hal tak berdasar, tapi dia mempunyai argumen yang cukup kuat sebagai pondasinya. menurutnya seseorang yang bisa meletakkan pisau di dapur itu adalah pihak terdekat Tuan Charlie yang mengetahui seluruh beluk rumah tersebut.


Karena keluarganya tidak tinggal di rumah itu, maka tiga pelayan itu cukup dekat dengannya sebagai pengganti keluarga.


“Apa kau yakin akan hal itu?” tegas Tuan Charlie nampak ragu pada argumen Jorell.


“Aku hanya mengatakan itu sebagai dugaan sementara. Dan akan terbukti jika aku menemukan buktinya. Lagipula aku belum mencurigai satu pun diantara mereka bertiga, Tuan. Tapi, apakah bisa jika Anda memanggil mereka bertiga kemari? Aku ingin bertanya pada mereka.”


Awalnya Tuan Charlie ragu dengan perkataan Jorell. Namun pada akhirnya dia mencobanya juga. Setelah berpikir mungkin beberapa saat lagi agen polisi akan datang dan menyeretnya ke bui.


Tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan? batin Tuan Charlie. Karena bisa saja dewi fortuna berpihak padanya kali ini. Siapa yang tahu?


“Baik, aku akan panggil mereka bertiga sekarang untuk kembali ke toko ini.”


Tuan Charlie kemudian menghubungi satu per satu pelayan tokonya dan memberitahunya untuk masuk kembali.


“Bernie, apa kau bisa datang ke toko sebentar saja?” ucap Tuan Charlie setelah panggilan tersambung.


“Ada apa Tuan Charlie Anda memanggilku? Bukankah tadi Anda bilang untuk pulang saja dulu?” Suara di ujung telepon itu terdengar resah.