Different One

Different One
Eps. 20 Sesuatu Yang Terlewat



Jorell pun memutar bola mata, mencari sosok wanita hamil lain yang mungkin bisa dia temui.


“Mungkinkah itu sudah di dalam?” Ia mengayunkan kaki dengan cepat masuk ke rumah sakit.


Di dalam sana ramai sekali. Banyak orang lalu-lalang. Petugas medis yang berjalan dengan membawa catatannya, ada juga pasien yang mondar-mandir keluar dari satu ruangan dan masuk ke ruangan lain, juga dokter yang berkunjung dari ruangan ke ruangan.


“Aku harus menemukan ruangan bersalin.”


Lagi, Jorell memutar sepasang bola matanya untuk mencari ibunya Jorell Watson di jalanan yang dia lewati sebelum menuju ke ruang bersalin.


“Di sini juga tak ada.” Ada wanita hamil lain di jalanan, namun setelah ia lihat ternyata bukan. Karena tak ada Tuan Carl Watson di sisi wanita itu.


Jorell mempercepat langkahnya sembari menyapukan pandangan ke sekitar hingga akhirnya dia menemukan ruang bersalin yang ada di ujung koridor. Ia berlari agar segera sampai di sana.


“Apakah ini ruang bersalinnya?”


Jorell berada di depan bangsal bersalin. Dengan cepat dia melangkahkan kaki masuk ke ruangan tersebut.


Nampak jelas ada sepuluh wanita di sana yang akan melahirkan. Ada beberapa petugas medis yang menemani mereka.


“Mungkin satu di antara mereka adalah Nyonya Scarlet Timothy.” Jorell membaca satu per satu nama pasien yang ada di masing-masing bed.


Namun dari 10 nama wanita yang dia baca, tak ada satupun nama yang menunjukkan keberadaan ibunya Jorell Watson.


“Aneh sekali, kenapa tak ada di sini? Lalu di mana jika bukan di sini? Apakah masih ada ruangan selain ini yang tidak aku ketahui?”


Jorell keluar dari ruangan dan mencari ke ruangan lain. “Apa mungkin Nyonya Scarlet ada di ruangan khusus misalnya? Atau mungkin sudah dipindah ke ruangan lainnya?” pekik Jorell.


Entah kenapa pikiran itu terlintas begitu saja dalam benaknya. Hingga membuatnya berlarian ke sana kemari mencari dan masuk ke setiap ruangan yang ada.


“Apakah di sini?” Ia masuk ke sebuah ruangan. Hanya ada dua wanita yang berbaring di bed. Dan ia langsung menyasar nama pasien yang tertera di sana. “Bukan.”


Jorell tak membuang waktu dan kembali berlari masuk ke ruangan lain, hingga ke ujung ruangan itu. Namun tak urung jua dia menemukan yang dicarinya.


“Semua ruangan sudah aku telusuri tapi aku tak menemukannya juga. Lalu di mana lagi aku harus mencarinya? Seandainya saja aku bisa bertanya pada petugas yang ada di sini atau orang yang ada di sini, mungkin itu akan mempermudahkan aku mencarinya. Tapi aku tidak bisa bertanya di sini.” Jorell membuang napas panjang.


Dia meneruskan langkahnya dengan gontai, berjalan lesu tanpa semangat hingga seseorang berlari dengan cepat di sekitarnya.


“Pria itu kan ... dia Tuan Carl!” pekik Jorell terkejut setelah melihat dan menatap siapa pria yang barusan melewatinya dengan tergesa-gesa.


Tanpa pikir panjang, Jorell kemudian ikut berlari mengikuti pria tadi hingga berhenti di sebuah ruangan.


Jorell ikut masuk saat Tuan Carl Watson masuk.


“Pantas saja, aku kesulitan menemukannya. Ternyata ada di ruangan khusus VIP.”


Ada tulisan VIP di atas pintu ruangan tersebut yang bisa dibaca. Di depannya, ada seorang wanita sedang berbaring dengan perut yang masih besar, juga beberapa peralatan medis sepasang pada tubuhnya.


“Di mana anak kita?” tanya Tuan Carl pada istrinya.


“Petugas medis membawa mereka ke ruang bayi,” jawab Nyonya Scarlet.


Jadi ... Nyonya Scarlet sudah melahirkan? Apa aku terlambat datang kemari?


Anehnya, Jorell tak langsung keluar dari ruangan itu. Entah kenapa rasanya Ia ingin melihat sosok dua orang itu lama. Ada perasaan aneh yang menyelip masuk ke hatinya tatkala melihat dua pasangan itu sedang menggenggam tangan.


Tiba-tiba saja tanpa Jorell minta, cairan bening meleleh dari sudut matanya, menitik begitu saja tanpa bisa dia tahan.


Hatinya kembali berdesir tanpa sebab. Ada rasa kerinduan yang muncul mendadak tanpa sebab. Namun dia hanya membiarkan rasa itu tumbuh di sana.


***


Jorell kemudian mengikuti Tuan Carl menuju ke tempat lain. mereka berhenti di ruang bayi.


Tepat di saat Jorell masuk dan menghampiri box bayi yang dia duga adalah milik Jorell Watson, dia mendengar jarum jam di tangannya mulai berdetak lagi.


“Gawat, sepertinya aku akan menghilang sekarang.” Jorell hanya sempat menatap box bayi bernama Joice Watson. Itu pun dia juga belum melihat wajahnya.


Tidak! Tolong jangan bawa aku kembali!


Hanya dalam hitungan dua detik saja, Jorell segera menghilang setelah tubuhnya memudar. Ia sempat memutar kembali jarum jam saat itu, namun tak bekerja.


“Astaga!” Jorell benar-benar kembali ke rumahnya. Dia memutar bola matanya, dan background rumah sakit tadi, sudah berganti dengan kamar yang dia tempati.


“Aku harus kembali lagi. Aku harus melihat bayi Jorell.”


Ia pun kembali memutar jam di tangannya ke tanggal lahirnya.


“Aneh, kenapa jam ini tidak berhenti berdetak dan aku masih berada di sini?”


Jorell mengulanginya sekali lagi dengan memasukkan tanggal yang ingin dia kunjungi di masa lalu, namun anehnya dia tetap berada di ruangan itu dan tak berpindah ke manapun juga.


“Astaga, apakah jamku rusak?”


Jorell sampai melepas jam tangannya. Secara teknis jamnya itu masih normal namun secara fungsi jam itu sudah tak bisa membawanya ke masa lalu lagi.


“Sepertinya aku harus membongkar lagi jam ini dan merakitnya ulang,” desau Jorell menaruh jam tangan tersebut di meja.


Dia mengeluarkan peralatan dari nakas untuk memperbaiki jamnya.


Klak! Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Membuat Jorell langsung menaruh peralatan yang dia pegang saat ini.


“Ibu?” pekik Jorell melihat sosok yang menyembul dari balik pintu kamarnya.


Betsy masuk dengan senyum terbit di ujung bibirnya.


“Jorell, terima kasih hari ini kau sudah membantu Ibu.” Tiba-tiba saja wanita itu mendekat dan memeluk Jorell.


“Ada apa, Ibu?”


“Ibu berhasil memenangkan sidang pagi ini. Itu semua berkat dirimu. Berkat flash disk yang kau berikan padaku. Selain mau mengucapkan terima kasih padamu, Ibu ingin bertanya padamu. Siapa pria yang telah memberikan flash disk itu padamu, Jorell? Ibu ingin menemuinya.”


Jorell menelan salivanya dengan berat. Dia hanya ingin membantu ibunya saja tidak lebih, namun sekarang bantuannya itu seperti boomerang baginya. Sungguh, dia bingung bagaimana menjawab atau mengarang cerita.


“Itu ... itu ... sebenarnya aku juga tidak mengenal orang itu, Ibu. Pria itu memakai kacamata hitam juga masker. Aku tidak melihat wajahnya,” kilah Jorell menyangkal dengan cerita karangannya.


Yang melegakan, Betsy percaya saja dengan ucapannya, meskipun raut mukanya nampak kecewa.


“Baiklah. Tak masalah. Mungkin suatu saat aku bisa bertemu dengannya. Oh ya, kau dari mana saja tadi? Ibu berulang kali masuk ke kamarmu tapi tak menemukan dirimu.”


Jorell kembali membisu mendengar pertanyaan ibunya. Bagaimana lagi dia harus menjawabnya?