
Jorell mengangguk mendengar persyaratan yang diajukan oleh Tuan Fisher padanya.
“Jorell kau yakin bisa menemukan pelakunya hari ini juga?” tukas Xavier.
Ia takut temannya itu tak akan mampu menyelesaikan masalah ini dalam kurun waktu 24 jam. Selain dia tak mengenal warga sekitar sini, waktu yang diberikan sangatlah singkat. Mungkin jika waktu yang diberikan lebih dari satu hari, dia yakin Jorell bisa mengungkapnya. Tapi menemukan pelakunya malam ini juga? Sungguh ia khawatir dan ragu Jorell bisa memecahkannya.
“Aku akan berusaha,” jawab Jorell tegas.
“Baik, baringkan kembali Gaby ke tempat tidur dulu jika begitu,”ujar Tuan Fisher.
Saat itu Xavier dan Tuan Dereck sudah mengangkat tubuh Gaby dan bersiap membawa tubuh wanita itu keluar dari kamar. Setelah mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Tuan Fisher, mereka berdua menurunkan tubuh Gaby kembali ke kasur.
“Kau bisa mulai melakukan analisis yang kau maksud. Aku akan menelepon petugas perawat jenasah untuk memundurkan waktu perawatan,” tambah Tuan Fisher.
“Silakan, Tuan. Tapi ku minta izin pada Anda untuk memeriksa kamar dan apa saja yang ada di kamar Miss Gaby,” tutur Jorell.
Dia meminta izin terlebih dulu sebelum ada orang lain yang menyalahkan dirinya karena mungkin saja dia akan memporak-porandakan kamar Miss Gaby untuk mencari petunjuk. Karena bisa saja yang lain mungkin akan menyalah artikan tindakannya tersebut.
“Ya, silakan saja.” Tuan Fisher kemudian pergi dari sana dan menelepon petugas pengurus jenazah untuk memberitahukan pada mereka Jika waktu mengurus jenazah akan diundur.
***
Jorell dan Xavier ada di kamar Miss Gaby sekarang.
“Xavier, bantu aku mencari sesuatu di kamar ini. Apa saja, mungkin diary atau lainnya yang bisa kujadikan petunjuk,”ujar Jorell untuk mempercepat waktu.
“Baik.”
Xavier kemudian segera bergerak untuk membantu Jorell. Mereka kemudian berbagi tugas.
“Jorell kau periksa di sana.” Xavier menunjuk belakang Jorell. “Aku akan periksa di bagian sini.” Ia menunjuk ke depannya.
Tanpa menjawab, kemudian Jorell segera bergerak. Di belakangnya ada nakas. Dia langsung memeriksa isi nakas setelah membukanya satu persatu.
Ada gunting, tali rambut dan berbagai aksesori wanita lainnya di sana. “Bukan ini yang kucari.”
Dia memeriksa barang lainnya yang dia keluarkan di atas meja. “Apa ini?” Ada beberapa sobekan catatan kecil di sana.
Catatan itu berwarna-warni. Ada pepatah yang tertulis di sana di setiap catatan yang ada. Pepatah itu merupakan kalimat motivasi.
“Mungkin ini untuk memotivasi dirinya sendiri saat ada masalah.”
Namun itu tak bisa dijadikan petunjuk sama sekali. Jorell kemudian menemukan ponsel di sana. Ia berhasil membuka kunci ponsel setelah menanyakan tanggal lahir Miss Gaby pada Tuan Fisher. Menurutnya mayoritas orang biasanya menggunakan sandi tanggal lahir mereka.
Langsung saja Jorell memeriksa seluruh isi ponsel tersebut. Mulai dari daftar log panggilan juga kotak masuk dan kotak keluar pesan. Dia memfokuskan untuk membaca kotak masuk dan kotak keluar pesan kemarin dan juga hari ini.
“dr. Sander?!” Pada pesan yang dibaca Jorell sehari sebelumnya menyebutkan jika Miss Gaby mengadakan janji bertemu dengan dokter tersebut. Janji ketemu untuk hari ini pukul 19:00, namun Miss Gaby meninggal 15 menit sebelum janji itu terlaksana.
Dia kembali menggulir pesan lainnya untuk mencari puzzle petunjuk yang mungkin akan dia temukan.
Aneh setelah dia memeriksa pesan lainnya yang merupakan kiriman dari pria bernama Sergio. Pesan itu tak hanya berisikan motivasi untuk Miss Gaby, tapi juga kata-kata manis untuk wanita itu.
“Sergio?” Xavier berpikir dan mencoba mengingat siapa di antara tetangganya yang bernama Sergio. “Apa mungkin itu Tuan Sergio Martin?”
Ada salah satu tetangganya yang bernama Sergio Martin. Dan dia pernah melihat pria itu beberapa kali bertemu dengan Miss Gaby. Tapi untuk lebih jauhnya dia tak tahu apa hubungan mereka.
Tuan Sergio sendiri bukan seusia Miss Gaby. Pria itu 15 tahun lebih tua dari Miss Gaby. Usianya saat ini adalah 40 tahun. Dia seorang duda yang ditinggalkan oleh istrinya yang kabur bersama lelaki lain selama 5 bulan yang lalu dalam kondisi hamil.
“Menurutku pria ini adalah kekasihnya Miss Gaby. Coba lihat pesan ini.” Jorell menunjukkan semua pesan dari pria tersebut pada Xavier, untuk dibaca.
Xavier membaca isi pesan tersebut sembari mengerutkan keningnya. Dia sungguh tak menyangka sama sekali jika Miss Gaby sedekat itu dengan Tuan Sergio.
“Seperti yang kau bilang, hubungan orang dewasa itu rumit. Menurutku Tuan Sergio memang kekasihnya Miss Gaby,” simpul Xavier.
“Apa ada yang kau temukan?” tanya Jorell melihat Xavier memegang beberapa foto.
“Ini ... foto Miss Gaby bersama ibunya. Foto ini kutemukan dari dompetnya.” Xavier menyerahkan tiga lembar foto.
Nampak di foto itu Miss Gaby menerima hadiah dari seorang wanita, juga foto mereka melakukan kegiatan bersama lainnya.
“Lalu jika ini adalah ibunya maka di mana wanita itu sekarang?” ceplos Jorell, karena sedari tadi tidak melihat ibu dari Miss Gaby.
“Tuan Fisher sudah bercerai dengan istrinya, kira-kira 1 tahun yang lalu. Mungkin karena hal itu juga yang menjadi awal mula masalah Miss Gaby dengan ayahnya.”
Xavier sering mendengar keributan di rumah ini semenjak kedua orang tua Miss Gaby berpisah, sebelumnya rumah itu selalu damai.
Dari luar kamar tiba-tiba saja datang seorang pria. Entah apa sebabnya, pria itu menatap jenazah Miss Gaby dengan sedih yang bercampurkan sebuah kekesalan.
“Gaby ... sudah kubilang kau tak perlu memikirkan hutangmu padaku. Apa karena kau memikirkan hutang itu hingga kau memaksa mengakhiri dirimu sendiri?” pekik Pria itu tertunduk dengan kedua tangan yang meremat.
Sontak kalimat itu tak hanya membuat Xavier dan Jorell berdecak karena terkejut. Apa benar Miss Gaby punya hutang? Untuk apa? Wanita itu sudah bekerja dan punya penghasilan tetap setiap bulannya. Tapi kenapa sampai berhutang?
“Hey, Benjamin. Betapa hutang Gaby padamu?” Tuan Fisher menyahut dari luar mendengarkan kata 'hutang' disebut.
Tuan Fisher kebetulan melewati kamar Gaby setelah keluar dari rumah. Jadi dia bisa mendengar itu.
“Hutangnya padaku yang masih belum dibayarnya ada $ 500.000. Dia sudah membayar $ 200.000 lainnya dua bulan ini.”
Tuan Benjamin bukanlah seorang lintah darat. Dia merupakan pegawai bank. Beberapa waktu yang lalu Gaby Pernah mendatangi pria itu untuk mengajukan pinjaman di bank atas nama Tuan Benjamin, tapi Gaby yang mengangsurnya.
“Apa?! Untuk apa dia berhutang sebanyak itu padamu?!” pekik Tuan Fisher terkejut.
“Kau adalah orang tuanya. Bagaimana bisa tidak mengetahui itu?”
“Katakan saja jika kau memang mengetahuinya.” Tuan Fisher nampak tak sabar.
“Dia membeli rumah.”