Different One

Different One
Eps. 23 Bujukan Xavier



Kabar meninggalnya Richard sang rentenir pun tersebar dengan cepat di wilayah itu.


“Xavier kenapa kau kemari? Apa kau mau mengantarku sekarang ke tempat seseorang yang kau bilang bisa melatihku bela diri? Bukannya tadi kau bilang besok saja?” ujar Jorell di depan pintu menyambut kedatangan tamu, yang ternyata adalah temannya sendiri.


Xavier menggelengkan kepala.


“Salah. Aku kemari bukan karena hal itu. Tapi karena hal lain. Ini mengenai Tuan Richard. Kau masih ingat bukan, dengan pria rentenir yang tadi kita temui di toko Tuan Charlie?”


Jorell mengangguk menanggapinya. “Lalu kenapa?”


“Ada yang aneh dengan kematiannya. Kau ingat tidak, Tuan Charlie bilang padanya agar datang tiga jam lagi untuk mengambil uang ke tokonya? Nah, Tuan Richard meninggal tepat di saat pria itu akan menagih hutangnya. Kau tidak penasaran?” papar Xavier panjang lebar.


Masih di depan pintu dan belum mempersilahkan Xavier masuk, Jorell masih setia mendengarkan temannya dengan baik.


“Dia sudah menghajarku. Menurutmu alasan apa yang harus membuatku penasaran lalu membantunya. Biarkan saja dia mati. Dia pantas untuk mati,” kesal Jorell. Nyeri di punggungnya pun akibat dilempar oleh Richrad sampai sekarang pun masih terasa.


Jorell bermaksud menutup pintu, sungguh ia tak mau jika harus membantu rentenir tadi.


“Bukan untuk rentenir gila itu, tapi Tuan Charlie. Tuan Charlie dituduh dan menjadi tersangka pembunuh Richard. Kau yakin tak ingin membantu Tuan Charlie? Menurutmu, apakah orang tua seperti dia adalah seorang pembunuh?” cerocos Xavier panjang lebar, untuk meyakinkan Jorell.


Jorell diam berpikir, orang tua dan lembut seperti Tuan Charlie mungkin saja bukan pembunuhnya. Tapi apa urusannya itu dengannya?


“Jangan bilang kau minta aku untuk menyelidiki peristiwa kematian ini, Xavier. Kau pikir aku seorang detektif apa?”


Jorell menutup pintu, namun Xavier dengan cekatan menahan pintu tersebut supaya tetap terbuka.


“Xavier, apa yang kau lakukan?”


“Ayolah Jorell. Aku tahu kau bukan detektif. Tapi aku penasaran saja. Dan kita bisa menyelidikinya bersama.”


“Kau pikir apa yang bisa dilakukan oleh dua anak kecil seperti kita?” Jorell hampir menutup pintu.


“Jika kau membantu Tuan Charlie, mungkin saja dia bisa membantu membetulkan mekanisme komponen jam tanganmu itu. Kau bisa menyempurnakan mesin waktumu.” Hanya ini kesempatan terakhir yang Xavier gunakan untuk membujuk Jorell.


Dia berharap taktiknya ini berhasil bisa mempengaruhi pikiran Jorell.


Benar saja, Jorell membuka pintunya dan menarik Xavier masuk ke rumah, lalu menutup pintunya kembali.


“Tunggu aku. Aku akan bersiap sekarang. Aku akan bawa jam tanganku juga.”


Jorell meninggalkan Xavier yang duduk menunggu di ruang tamu, masuk ke kamar.


“Kau ini benar-benar pintar menghasut. Cepat keluar, sebelum aku berubah pikiran.”


Xavier pun mengekor di belakang Jorell, keluar dari rumah bercat putih bersih berlantai dua itu.


***


Jorell dan Xavier tiba di rumah Tuan Charlie. Toko masih buka, namun pelayan tokonya sudah pada pulang hanya tinggal dirinya seorang. Sengaja, Tuan Charlie meminta mereka pulang. Karena ada petugas penyidik dari kepolisian yang datang ke sana tiga jam yang lalu.


“Permisi ... Tuan Charlie,” panggil Xavier dari luar.


Nampak dari luar, Tuan Charlie yang sedang duduk merenung sekarang bangkit setelah mendengar suara memanggilnya.


“Maaf, aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk meminta bantuan padamu, Tuan Charlie. Tadi, aku sudah merakit kembali komponen jam tanganku dengan komponen yang barusan aku dapat dari toko ini. Tapi jamku masih belum berfungsi. Mungkin Anda bisa membantuku?”


Jorell menyerahkan jam tangan miliknya. Tadi dia sepulang dari toko ini segera merakitnya ulang, namun entah apa yang salah, jam itu malah tidak berfungsi sama sekali.


Tuan Charlie menerima jam Jorell kemudian memeriksanya dengan cepat.


“Aku bisa perbaiki jam tanganmu ini. Tapi kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk memperbaikinya. Kau pasti sudah mendengar berita tentang diriku bukan? Mungkin saja polisi akan menangkapku setelah ini.”


Tuan Charlie menggeser kembali jam tangan Jorell. Wajah murungnya tertunduk, juga ditekuk.


“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan? Salahnya diriku berhutang padanya sehingga terkena sial seperti ini. Apa bisa aku melawan tuduhan polisi? Meskipun aku sama sekali tidak bersalah? Aku tidak melakukan pembunuhan pada Richard,” imbuh Tuan Charlie penuh sesal.


Xavier dan Jorell pun saling menatap. Mungkin pikiran mereka sama saat ini setelah mendengar penuturan panjang lebar Tuan Charlie. Iba.


“Anda yakin tidak melakukan itu?” tanya Jorell.


“Tentu. Seputus adanya diriku, aku tidak akan sampai mengakhiri nyawa seseorang seperti itu. Siapa yang mau mendekam di balik jeruji besi selama puluhan tahun? Tapi aku tak berdaya. Pisau yang merupakan barang bukti pembunuhan Richard ada di rumahku. Padahal aku sama sekali tidak tahu-menahu dengan pisau tersebut.”


Lagi, Tuan Charlie menghela napas panjang dan cukup berat penuh penderitaan. Dia memikirkan tokonya mungkin akan ditutup, padahal toko cukup ramai tiga bulan akhir ini.


“Tuan, kami akan berusaha membantumu dengan usaha semaksimal mungkin untuk mencari siapa pelaku pembunuh sebenarnya, asal Tuan mau memperbaiki jamku sampai bisa,” papar Jorell.


“Kalian berdua?” Tuan Charlie menatap Xavier dan Jorell bergantian sembari mengangkat sepasang alis coklatnya.


Dia ragu. Tentu saja. Apa yang bisa dilakukan oleh dua orang anak seperti mereka untuk dirinya? Apa bisa mereka membantu dirinya?


“Aku tahu, Tuan pasti ragu pada kami. Tapi percayalah kami tulus membantu Anda. Bukankah akan ada jalan selama ada kemauan untuk mencari kebenaran? Maka kebenaran itu akan terkuak sendiri.” Xavier meyakinkan.


“Dan kebenaran pasti akan menunjukkan jalan keluarnya,” imbuh Jorell menambahkan.


Tuan Charlie menatap dua anak kecil di hadapannya secara bergantian. Dari sorot mata mereka terpancar sebuah ketulusan juga sebuah keyakinan yang membuatnya meremang sekaligus merasa terenyuh, ada dua bocah yang mengkhawatirkan dirinya.


“Meskipun aku baru mengenal kalian hari ini tapi aku percaya kepada kalian. Kuharap kalian bisa membantuku. Aku menaruh harapan besar pada kalian berdua.”


Setelahnya dia mengajak Jorell dan Xavier untuk masuk ke rumahnya.


“Aku akan tunjukkan bukti pisau itu pada kalian.” Ia kemudian mengajak Jorell dan Xavier masuk ke dapur.


“Ini pisau yang dipakai untuk membunuh Richard. Tertinggal di sini dengan berlumuran darah.” Tuan Charlie menunjuk sebuah pisau tajam yang tergeletak di lantai.


Pisau itu masih ada di sana untuk proses visum selanjutnya. Melihat ujung pisau yang mungkilat rasanya seperti disayat.


“Jangan sentuh itu!” hardik Jorell saat Xavier akan menyentuh pisau tersebut. “Sidik jarimu akan tertinggal di sana.”


Xavier seketika menarik tangannya dan nampak gemetar.


“Aku tahu aku bukan seorang detektif. Tapi dengan penyelidikan secara bertahap dan menyeluruh aku yakin bisa mencari petunjuk dan menemukan pelakunya,” papar Jorell.


“Tuan, bolehkah aku minta catatan kecil juga pen padamu?” tanya Jorell.