
Tuan Charlie menerima jam tangan Jorell.
“Aku akan perbaiki ini. Tapi aku tidak tahu pasti kapan akan selesai. Rangkaian komponennya rumit sekali,” ujar Tuan Charlie setelah memeriksanya.
“Terima kasih, Tuan.”
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Karenamu, aku batal ditahan polisi.”
Jorell dan Xavier kemudian pergi dari toko jam Tuan Charlie.
“Kau bilang kau mau mengantarku pada seseorang yang ahli bela diri di sini,” celetuk Jorell di tengah jalan.
“Ah ... aku hampir lupa itu. Ternyata kau masih ingat. Baik, aku akan mengantarmu ke sana setelah ini.”
“Kau mau belajar apa? Muay Thai, Capoeira, atau Krav Maga?” imbuh Xavier.
“Semuanya.”
“Kau gila? Kenapa tidak pilih salah satu saja?”
“Akan lebih bagus jika aku menguasai tiga daripada satu dari yang kau sebutkan.”
Jorell yakin dengan pilihannya. Dia ingin menguasai seni bela diri setelah kasus yang dialaminya, disiksa oleh Darcy, ayah yang mengasuhnya selama ini. Setidaknya, dia bisa bertahan jika ada yang menyerang. Masalah menyerang balik atau tidak, bisa dipikirkan nanti.
“Aku sarankan kau menemui satu ahli beladiri dulu, daripada tiga sekaligus. Besok aku akan mengantarmu ke guru beladiri lainnya. Bagaimana?” tawar Xavier.
“Ya, jika begitu antar aku ke guru Muay Thay sekarang. Ingat, janjimu untuk mengantarku ada dua guru seni bela diri lainnya.”
Xavier mengangguk kemudian mereka berbalik arah menuju ke rute lain.
***
Jorell dan Xavier kemudian berhenti di sebuah rumah yang lebih mirip seperti sebuah dojo daripada sebuah rumah.
“Ada orangnya atau tidak?” tanya Jorell menatap pintu bercat hijau terang yang tertutup.
“Entahlah.”
Xavier sendiri tidak tahu, maka dia pun segera menekan bel yang ada di samping dinding tiga kali.
Kamera pintar yang ada di dinding sisi utara kemudian menyala. Muncul sosok seorang pria berwajah Asia berkulit putih, berusia menginjak 50 tahunan.
“Xavier, ada apa kau kemari?” tanya pria dengan uban yang mulai muncul di bagian samping kepala.
“Guru Anuwat Suksom, aku ingin bertemu denganmu tepatnya aku ingin mengantarkan temanku kemari.”
Xavier lalu menarik Jorell mendekat pada kamera, karena dia tidak menunjukkan muka temannya itu.
“Ini teman dekatku Jorell, Guru Anuwat Suksom. Dia mengajakku kemari karena ingin berguru padamu.”
Kamera pintar mati dam setelahnya terdengar derap langkah kaki cepat diiringi suara pintu yang terbuka.
“Masuklah,” ujar Guru Anuwat Suksom.
***
“Siapa namamu?” tanya pria yang sudah berusia tak muda lagi itu.
“Jorell, Guru.”
“Kenapa kau ingin belajar Muay Thay padaku?”
“Untuk membela diriku, Guru. Jika bisa dan memungkinkan untuk membantu yang lain.”
Guru Anuwat Suksom tak langsung menjawab ucapan Jorell. Dia menatap anak lelaki itu dengan tajam juga penuh selidik. Baginya, dia tak akan sembarangan memilih seseorang untuk menjadi muridnya.
Dia sangat picky sekali. Karena dia tak ingin sampai salah memilih murid. Dia tak ingin salah membesarkan murid yang nantinya akan berada di jalan hitam, atau berbuat kebatilan.
Jorell nampak tenang sekali, meskipun Guru Anuwat Suksom menatapnya intens dengan penuh curiga.
Sepertinya anak ini bukan orang yang perlu kukhawatirkan. Dari tatapannya nampak tegas juga kuat. Tak ada sorot picik di sana.
“Baiklah, Jorell. Aku akan menerimamu sebagai muridku dengan sebuah syarat,” tukas Guru Anuwat Suksom.
“Ya, Guru, katakan saja syaratnya, semoga aku bisa memenuhi persyaratan tersebut.”
“Aku menyanggupi persyaratan dari Guru.”
Jorell langsung berdiri dari duduknya, dengan memberi hormat sekaligus berterima kasih pada Guru Muay Thay.
“Bangkitlah. Mulai besok aku akan mengajarimu ilmu bela diri Muay Thay.”
Jorell yang sedikit banyak tahu bagaimana cara memberi hormat pada seorang guru dari wilayah Asia, menegakkan tubuhnya setelah sebelumnya membungkuk.
“Terima kasih, Guru.”
Jorell mengulas senyum lebar karena sebelumnya dia berpikir pria itu akan menolaknya menjadikan dirinya sebagai murid.
***
Berita tentang penangkapan pelaku pembunuhan Richard sang rentenir, dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Swiss.
Berita itu ramai diperbincangkan setelah diketahui ada seseorang yang berjasa dibalik pengungkapan kasus itu, terlebih sosok itu ternyata seorang anak usia sekolah.
“Apa? Reporter itu menyebutkan nama Jorell Anderson?! Apa itu benar Jorell putraku?”
Betsy sore itu sedang duduk di ruang tengah sembari menyalakan televisi setelah menaruh tas sepulang kerja. Dia sedang melihat tayangan berita dan tak sengaja mendengar nama putranya disebut.
“Darcy! Kemari cepat!”
Darcy yang ada di kamar segera keluar begitu mendengar panggilan dari istrinya.
“Ada apa, Sayang?”
“Duduklah kemari.” Betsy melambaikan tangannya kemudian menepukkan lima jemarinya itu di samping.
Darcy tidak tahu pasti ada apa tapi dia segera duduk di samping Betsy.
“Lihat itu!” Betsy segera menunjuk televisi yang ada di depannya dan juga masih menayangkan berita penangkapan kasus pembunuhan Richard sang rentenir.
Darcy penasaran dengan apa yang tayang di televisi saat ini. Betapa terkejutnya dia mendengar seseorang menyebut-nyebut nama Jorell Anderson.
“Aku tak menyangka, Jorell punya bakat seperti itu. Darcy, Sepertinya itu menurun dari bakatmu sebagai seorang detektif. Aku tahu dulu kau adalah seorang detektif yang hebat.”
Betsy nampak bangga juga senang mengetahui Jorell mempunyai bakat warisan dari Darcy sebagai seorang detektif.
“Bagaimana itu mungkin?”
Sungguh reaksi Darcy berbeda sekali dengan reaksi Betsy. Pria itu tersentak kaget. Bagaimana bisa Jorell yang bodoh tiba-tiba saja bisa mengungkap sebuah kasus pembunuhan? Padahal dia sama sekali tidak mengikuti sekolah akademis khusus detektif, tapi mampu menganalisa suatu masalah seperti seorang detektif.
Apa mungkin itu karena gen dari Carl? Tapi Carl juga bukan keturunan dari keluarga seorang detektif.
Tulang rahang Darcy nampak mengeras saat mendengar berita itu. Sungguh, ia tak menyangka sama sekali Jorell yang menurutnya tak bisa apa tiba-tiba saja membuat gempar.
***
“Lihat, itu kan Jorell. Namanya disebut oleh seorang tersangka yang menyatakan diselamatkan oleh dirinya,” ungkap seorang teman sekelas Jorell.
Anak lelaki itu menunjukkan tangannya pada Jorell. Tak hanya teman sekelas Jorell yang mulai membicarakannya, tapi siswa dari kelas lain pun mulai membicarakannya.
“Mereka pasti sedang membicarakanmu,” tutur Xavier lirih.
Xavier sedang berjalan bersama Jorell melewati beberapa siswa yang nampak menatap Jorell lalu berbisik-bisik setelahnya.
“Entahlah, biarkan saja mereka. Aku sudah biasa dibicarakan, jadi tidak kaget.”
Bahkan hingga masuk ke kelas pun, guru kelas yang saat ini mengajar juga menatap takjub pada salah satu murid di kelasnya.
“Bapak tidak menyangka, ada seekor larva yang kini sudah bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu. Jorell, Bapak salut padamu setelah melihat track recordmu selama ini di kelas dengan di sebutnya namamu dalam sebuah kasus pembunuhan.”
Sungguh, Jorell sendiri tertegun mendengar pujian dari seorang guru kelasnya. Bahkan banyak pasang mata kini mengunci tatapan pada dirinya.
***
Dear akak semua...
Maaf lama banget tidak update karena masih nunggu ibuku. Selain itu juga masih sepi pembaca. Padahal di karya super Detektif banyak yang baca
Jangan lupa dukung dg beri comment, vote, atau gift. Terima kasih🙏