Different One

Different One
Eps. 34 Reka Ulang Kejadian



Jorell dan Xavier akhirnya tiba di rumah Tuan Fisher. Beberapa tetangga juga datang ke rumah pria itu. Entah untuk apa mereka ke sana, berbela sungkawa, ataukah hanya memeriksa keadaan saja?


“Kau mau masuk?” tanya Jorell saat Xavier mengikuti beberapa tetangga yang masuk ke rumah Tuan Fisher.


“Tentu saja. Aku ingin melihat kondisi Miss Gaby untuk terakhir kalinya sebelum jasadnya diurus.”


Jorell pun akhirnya mengikuti temannya itu masuk ke rumah Tuan Fisher. Di dalam rumah nampak ramai. Ada sepuluh orang tetangga yang datang saat itu. Kesemuanya merupakan laki-laki, tak ada satu pun wanita yang berkunjung ke sana malam ini.


“Xavier, kau datang?” ujar Tuan Fisher, setelah menyapukan pandangan pada Xavier, diantara para lelaki lainnya yang hadir.


“Ya, Tuan Fisher. Aku turut berduka cita atas meninggalnya Miss Gaby.”


Saat itu Xavier berdiri di depan pintu kamar Gaby. Dari luar nampak wanita itu terbujur kaku di ranjang, mengenakan piama hitam pekat.


“Apakah benar, Miss Gaby bunuh diri, Tuan Fisher?” Xavier memberanikan diri bertanya.


Pria itu menghela napas panjang sebelum menjawabnya. Dia sendiri tak menyangka jika putrinya akan meninggal dengan cara seperti ini. Ada rasanya penyesalan yang bersarang di hatinya setelah apa yang ia lakukan tadi sore. Niatnya ingin menyampaikan pendapatnya saja namun tak disangka dia malah emosi hingga terjadilah kekerasan fisik. Mungkin itu cukup membuat Gaby terpukul.


“Ya, aku menyesal kenapa tadi aku marah padanya. Jika akhirnya seperti ini aku tak akan berteriak padanya,” ungkap Tuan Fisher dengan wajah tertekuk.


“Fisher, jenasah Gaby dipindah sekarang atau bagaimana?” tanya seorang pria yang saat itu ada di dalam kamar Gaby.


“Ya, boleh. Sebentar lagi ada petugas yang datang kemari untuk mengurusi jenazah Gaby.”


“Apakah aku boleh membantu, Tuan?” tawar Xavier pada seorang pria yang ada di kamar Gaby.


“Ya, boleh. Masuklah, Xavier.”


Xavier masuk ke kamar Gaby untuk membantu pria tadi mengangkat tubuh Gaby. Jorell yang ada di sana pun mengikuti temannya itu masuk, tanpa diminta. Daripada dia menjadi orang asing di daerah itu.


Di dalam kamar, ruangan itu nampak berantakan. Sprei di kamar berantakan. Selimutnya jatuh ke lantai. Di meja dekat kamar ada botol obat yang terbuka dengan beberapa isinya yang tercecer.


“Obat apa ini?” Jorell sekilas melihat kemasan botol obat. “Ternyata propofol,” imbuhnya.


Propofol adalah sejenis obat penenang yang dikonsumsi untuk menenangkan pikiran seseorang dengan efek seperti obat tidur, sehingga membuat orang yang mengonsumsinya terlelap. Tapi konsumsi obat tersebut harus diresepkan oleh dokter.


Jorell merasa aneh dengan cara peletakan obat itu yang berceceran tak rapi.


Apa benar, dia meminum obat itu dan mengembalikannya sendiri? Harusnya Jika dia mengembalikannya sendiri botol obat itu harusnya rapi, tidak berantakan begini.


Jorell lalu kami menatap setiap bagian tubuh Miss Gaby untuk memeriksa luka sayatan bunuh diri.


Di tangan wanita ini sama sekali tidak ada bekas sayatan pisau atau benda tajam lainnya. Lalu apa penyebabnya meninggal? Kurasa bukan karena overdosis obat, simpul Jorell.


Dia kembali mengamati intens Miss Gaby yang kali ini sudah diangkat oleh beberapa orang, termasuk Xavier.


“Itu ... kenapa leher wanita itu tampak membiru?” Jorell tersentak kaget melihatnya.


Warna biru di bagian leher hingga wajah biasanya menunjukkan jika seseorang kekurangan oksigen.


“Xavier, ada yang mencurigakan pada tubuh wanita ini. Dia sepertinya kekurangan oksigen. Itu artinya ada yang memang sengaja membuatnya kekurangan oksigen,” bisik Jorell lirih di telinga temannya itu.


“Apa kau yakin?”


“Coba saja periksa bagian tubuhnya, apa ada guratan tali pada bagian leher atau sayatan pada bagian tangan?”


“Xavier, apa yang kau lakukan?” tanya Tuan Dereck, pria yang ada di kamar Gaby.


“Sebentar Tuan, aku hanya ingin memeriksa bagian tubuh yang terluka. Untuk memastikan Apakah Miss Gaby benar-benar bunuh diri atau tidak?”


Langsung saja Xavier memeriksa dua pergelangan tangan wanita itu, hasilnya tangannya mulus tanpa sayatan sedikitpun di sana. Ia beralih memeriksa bagian leher, dan tak ada guratan tali pada leher.


“Jorell, benar yang kau katakan. Lalu apa penyebab Miss Gaby meninggal?”


“Fisher bilang dia overdosis obat penenang.” Tuan Dereck menyahut, sembari menunjuk botol protokol yang tercecer di atas meja dengan sepasang matanya.


“Maaf, Tuan. Miss Gaby bukan meninggal karena overdosis propofol, tapi karena kehabisan oksigen. Tepatnya ada yang dengan sengaja menghalangi oksigen itu masuk tubuhnya.” Bukan Xavier yang bicara, melainkan Jorell.


“Jadi menurutmu dia bukan meninggal karena bunuh diri tapi dibunuh oleh seseorang?” tegas Tuan Dereck.


Pria itu mendengar kesaksian yang berbeda dari Jorell, seorang anak kecil.


“Ada apa ini, kenapa kalian tak segera membawa keluar tubuh Gaby?” ujar Tuan Fisher dari luar melihat sedikit keributan di kamar putrinya.


Karena tadi yang menjawab maka pria itu pun masuk ke kamar Gaby. Dia melihat tiga orang yang ada di sana masih berdebat.


“Apa yang kalian debatkan?” tanya Tuan Fisher.


“Anak ini bilang, putrimu meninggal bukan karena bunuh diri tapi ada seseorang yang membunuhnya,” jelas Tuan Dereck.


Tuan Fisher menautkan sepasang alis coklatnya mendengar itu. Omong kosong apa lagi yang diucapkan oleh anak kecil seperti Jorell. Dan haruskah dia mempercayainya?


“Bagaimana kau bisa jelaskan itu?” Sepasang manik mata pria itu menyelidik Jorell.


Jorell kemudian menjelaskan panjang lebar argumentasinya mengenai kecurigaannya itu. Ia bahkan mendemonstrasikan argumentasinya itu untuk meyakinkan Tuan Fisher dengan bantuan Xavier sebagai modelnya.


“Uhuk! Jorell, aku sudah tidak tahan. Rasanya aku hampir mati saja!” teriak Xavier.


Jorell meminta temannya itu untuk berbaring di lantai. Dia lalu mengambil bantal dan menutupi muka Xavier dengan bantal selama sepuluh menit.


“Lihat ini, Tuan.” Jorell kemudian menarik bantal itu dengan cepat dari muka Xavier.


Nampak kini Xavier yang pucat sekali dengan area leher sampai ke muka berwarna biru, persis seperti kondisi Gaby.


“Apakah Anda bisa melihat persamaannya, Tuan?”


Tuan Fisher dan Tuan Dereck kemudian menatap kembali tubuh Xavier dan Gaby secara bergantian. Memang ada kesamaan di sana.


“Apa kau yakin, Gaby tidak bunuh diri tetapi dibunuh oleh seseorang?” tukas Tuan Fisher, mulai mempercayai apa yang dikatakan oleh Jorell.


“Jika Tuan berkenan, aku akan mencoba memecahkan masalah ini,” tawar Jorell.


Namun ia tidak memaksa. Itu pun juga jika pria itu percaya padanya. Karena dia sendiri Sudah tahu orang dewasa akan meremehkan dirinya dalam hal ini.


Tuan Fisher nampak ragu. Dia diam untuk berpikir mempertimbangkan tawaran Jorell. Ia menatap kembali Jorell, juga Xavier. Melihat anak itu tadi mendemonstrasikan kemungkinan kejadian perkara, membuat pikirannya terusik.


“Baiklah, kau boleh menyelidikinya. Dengan syarat kau menemukan siapa pelaku sebenarnya kurang dari 24 jam. Jika lebih dari itu maka aku tak akan mempercayai segala argumenmu itu.”