Different One

Different One
Eps. 33 Kematian Miss Gaby



“Lepaskan dia Xavier!” Pria berkumis tebal itu juga mengenali Xavier.


Miss Gaby yang sudah melepaskan tangan Xavier, kini malah bersembunyi di balik tubuh Xavier yang setinggi bahunya.


“Tuan Fisher, apa yang Anda lakukan pada Miss Gaby?” tanya Xavier. Dia khawatir pria itu akan memukuli Miss Gaby.


Selama ini, pria itu kerap membentak putrinya, mungkin juga melakukan kekerasan padanya. Siapa yang tahu?


“Xavier, apa yang kau lakukan di sini?” Tuan Fisher menatap tajam Xavier. “Jangan bantu dia dan pergilah! Anak seperti dia tak pantas hidup di dunia ini. Dia hanya membawa sial saja untuk keluarga ini.”


Pria jangkung itu menarik tubuh Xavier minggir lalu mencengkeram kerah baju Gaby.


“Apa kau tidak malu bersembunyi di balik anak kecil seperti dia?” hardik Tuan Fisher sembari menunjuk Xavier.


Gaby hanya diam, tubuhnya nampak bergetar hebat, kala ayahnya itu mulai mengangkat tubuhnya.


Terdengar suara tubuh beradu dengan lantai


Brak! Bukan tubuh Gaby yang terbanting ke lantai. Tapi tubuh Jorell.


Jorell menangkap tubuh Gaby yang dilempar oleh Tuan Fisher, namun dengan tubuh kecilnya itu dia tak kuat menahan berat badan Gaby, hingga membuatnya terjatuh dan menjadi alas wanita itu.


“Kau juga, anak kecil ... jangan pernah ikut campur urusanku.” Tuan Fisher membentak Jorell dengan melempar tatapan tajam.


“Tuan, sebagai orang tua kau tak patut melakukan kekerasan fisik pada putrimu apapun itu alasannya. Semua bisa dibicarakan baik-baik,” ungkap Jorell.


Sebagai anak yang mendapatkan perlakuan yang sama dari Darcy, sedikit banyak dia bisa merasakan sakit yang diderita akibat kekerasan verbal dan fisik dari orang tua yang mengasuhnya. Jadi dia tak suka bila melihat ada orang tua yang melakukan kekerasan pada anaknya sendiri.


“Hey! Anak kecil! Jaga mulutmu jika bicara. Kau bicara dengan siapa? Kau bermaksud menguliahi aku?” hardik Tuan Fisher merasa digurui oleh anak ingusan seperti Jorell.


Sungguh dia tidak suka anak kecil yang banyak bicara seperti Jorell, terlebih ikut campur dengan urusannya.


“Pergi kau dari sini!” Tuan Fisher menarik Jorell berdiri. Dia akan memukul anak itu.


“Hentikan!” Seorang warga yang ada di sana akhirnya tak tahan juga dengan aksi Tuan Fisher.


Warga lainnya yang masih ada di sana dan melihat kejadian itu segera menahan pukulan Tuan Fisher.


“Mundur, atau menepilah,” ujar pria yang menyelamatkan Jorell, membuat Jorell mundur. Ia memilih berdiri di samping Xavier.


“Hey, Fisher! Kau tak pantas menghukum anakmu sendiri jika dia memang berbuat salah. Atau jika kau tetap bersikeras menghajar putrimu sendiri, maka aku akan menelepon polisi untuk mengurusmu.” Seorang warga lain yang juga tidak tahan melihat aksi tersebut mengancam Fisher.


“Kalian ... pergi semua! Jangan ikut campur masalah keluargaku!” hardik Tuan Fisher.


Pria itu semakin bertambah amarahnya setelah ada lagi beberapa orang yang ikut campur dalam masalahnya.


Selanjutnya para warga yang kebanyakan merupakan orang dewasa itu yang berurusan dengan Tuan Fisher. Terdengar mereka beradu mulut. Umpatan dan cacian terlontar dari bibir mereka.


“Jorell, orang dewasa ini sudah mengatasi masalah ini. sebaiknya kita pergi saja dari sini,” saran Xavier.


“Ya.”


Jorell dan Xavier segera pergi dari sana. Mereka sesekali menoleh ke belakang saat mendengar para orang dewasa itu saling berteriak.


***


“Menurutmu karena apa, pria tadi sampai menghajar putrinya sendiri?” tanya Jorell di malam hari, saat berada di kamar Xavier.


“Entahlah. Aku juga tidak jelas apa masalahnya. Tapi aku sering mendengar Tuan Fisher membentak Miss Gaby.” Xavier juga menceritakan jika pria itu mencoba mencari-cari kesalahan Miss Gaby, hampir setiap harinya.


Dari masalah sepele yang dibesar-besarkan hingga akhirnya menjadi masalah besar dan setelahnya terdengar bagian kasar. Hal itu sudah sering dia dengar.


Menurutnya orang tua kandung akan bersikap buruk atau melakukan kekerasan pada Putra mereka sendiri, kecuali orang tua sambung.


“Mengenai hal itu, aku juga tidak tahu,” sahut Xavier.


Xavier duduk di samping Jorell. Nampak muka Jorell dan anggota bagian tubuh lainnya lebam.


“Aku akan obati memarmu. Buka bajumu juga,” kata Xavier tiba-tiba.


Jorell menurut saja. Dia melepas bajunya kemudian berbaring di tempat tidur Xavier. Nampak lebam biru di bagian pinggang dan punggung, selain di muka.


“Tahan sedikit.” Xavier mengambil salep dari nakas kemudian mengolesnya pada semua bagian tubuh Jorell yang memar.


Jorell hanya diam saja tak merintih sama sekali, meskipun dia merasakan sakit saat kulitnya itu disentuh.


“Sudah selesai.”


“Terima kasih, Xavier.” Hanya temannya itu yang peduli pada dirinya. Membuat Jorell merasa berhutang budi padanya.


Di luar sana kembali terdengar suara keributan, entah siapa yang ribut dan ada apa?


“Kau dengar tidak suara keributan apa itu?” tanya Jorell yang saat ini sudah berdiri di dekat jendela.


“Aku akan periksa.”


Xavier tidak melihat nya dari jendela kamar tapi dia keluar, dan Jorell mengikuti.


“Jorell, Xavier, kalian berdua mau ke mana?” tanya Nyonya Vicky, Ibunya Xavier yang saat itu duduk di kursi yang berada di dekat kamar Xavier.


“Kami mau keluar Nyonya Vicky, sepertinya ada keributan di luar,” balas Jorell.


Ibunya Xavier itu sudah terbiasa dengan kehadiran Jorell di rumahnya. Dia malah senang jika ada Jorell di rumah, menemani Xavier. Karena Xavier merupakan anak tunggal. Dia butuh teman di rumah.


“Aku dengar dari beberapa orang jika Gaby, putrinya Tuan Fisher meninggal karena bunuh diri.”


“Apa?!” Xavier dan Jorell tersentak kaget mendengar berita tersebut.


Sungguh, mereka berdua tak menyangka sama sekali jika Miss Gaby nekat mengakhiri hidupnya karena masalah dengan Tuan Fisher.


“Ya, tetangga sini bilang, dia temukan meninggal di kamarnya 30 menit yang lalu,” tambah Nyonya Vicky.


Xavier dan Jorell bukannya kembali ke kamar setelah mendengar berita tersebut. Mereka malah bergegas keluar rumah.


“Kalian berdua mau ke mana?” Nyonya Vicky menghentikan mereka berdua.


“Jangan keluar rumah jika kalian pergi ke tempat Tuan Fisher,” larang wanita semampai itu.


Xavier dan Jorell saling menatap, sepertinya pikiran mereka sama saat ini. Terlihat mereka berdua saling mengangguk.


“Ibu, kami tidak pergi ke rumah Tuan Fisher, tapi kami mau jalan sebentar untuk cari angin. Xavier bilang ingin beli susu panas,” ujar Xavier. Sementara Jorell merogoh saku celananya langsung untuk memeriksa berapa uang sakunya yang tersisa.


“Baiklah, jangan pulang terlalu larut,” balas Nyonya Vicky.


Setelah mendapatkan izin, Jorell dan Xavier akan menuju ke sembah kafe atau restoran, tapi mereka menuju ke rumah Tuan Fisher.


“Aku sedikit ragu, Miss Gaby mengakhiri hidupnya semudah itu tanpa pikir panjang,” cicit Xavier di tengah jalan. Setahunya, Gaby bukanlah tipe wanita yang gampang putus asa. Jika memang putus asa, seharusnya sudah dari dulu wanita itu melakukan bunuh diri, bukan saat ini.


“Rupanya kau punya pemikiran yang sama denganku. Aneh saja seseorang yang sudah nampak tenang tiba-tiba mengakhiri hidupnya, bukan?” balas Jorell.