
“Darcy, hentikan!” teriak suara yang baru saja masuk ke rumah dan segera berlari setelah melihat apa yang terjadi.
“Betsy?” Betsy yang ternyata datang. Dia pulang lebih awal karena hari ini tugasnya sudah selesai di kantor.
Dia menarik tangan Darcy dan menahan lengannya agar tak melayang dan mengenai Jorell.
“Astaga! Jorell, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?” Betsy tersentak kaget melihat muka Jorell kembali lebam parah. “Apa kau yang melakukannya?” Betsy beralih menatap Darcy dan menuduhnya.
Sebagai istri di rumah, belakangan ini dia mengetahui sendiri jika suaminya itu menghajar Jorell. Alasannya sepele, hal kecil saja tapi bisa membuat emosinya meledak-ledak.
Dia juga sempat punya pikiran dulu suaminya itu mungkin sering menghajar Jorell yang berefek pada psikisnya. Namun sampai saat ini dia belum membuktikannya dengan membawanya ke psikiater.
“Kau tahu? Dia selalu saja membuat masalah, di runah, juga di sekolah. Lihat ini!” Darcy memberikan surat yang dibawanya tadi dan menaruhnya ditangan Betsy.
Betsy kemudian segera membacanya dan beralih menatap Jorell.
“Kenapa kau berkelahi, Nak?”
“Kakak membelaku, juga membela Ibu. Dia tidak bersalah. Kakak hanya bermaksud melindungi kita.” Aroon yang masih ada di sana menjelaskan yang sebenarnya,karena Jorell diam, seperti biasanya.
“Apapun itu alasannya berkelahi tetaplah berkelahi dan itu sama saja dengan membuat masalah. Aku tak mau memenuhi panggilan ke sekolah! Aku juga sibuk!” Darcy menolak tegas.
“Baiklah, biar Ibu yang memenuhi panggilan ini.”
Darcy pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih bicara. Dia kesal, Betsy datang dan melindungi Jorell. Namun meskipun begitu dia tetap mengulas senyum seringai.
“Carl, setidaknya aku bisa membuat anakmu bodoh dan membuat mentalnya tak sehat. Entah apakah dia bisa terus hidup atau tidak nanti?”
***
Betsy memenuhi panggilan dari sekolah. Dia izin sebentar untuk pergi ke Institut Florimont.
“Mr. Paul, bagaimana dengan Jorell?” Betsy menemui guru BP tersebut.
“Oh, Nyonya Betsy, mari masuk dan duduk.” Mr. Paul mempersilahkan masuk ke ruangannya.
Sebelumnya pria tinggi berusia memasuki awal usia lima puluh tahunan itu sudah menemui lima wali murid lain yang dipanggilnya.
Ibunya Jorell masuk, kemudian segera duduk berseberangan dengan Mr. Paul.
“Nyonya mengenai Jorell, sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan denganmu.”
“Ya, Mr. Paul, apakah ada hal lain yang mengganggu Jorell atau semacamnya?”
“Ini mengenai kesehariannya di kelas. Dari IQ anak itu sebenarnya cerdas, namun entah kenapa berbeda dengan realitanya. Dia cenderung malas bahkan sering tidak mengerjakan tugas dari sekolah.” Mr. Paul menjelaskan.
Pria itu menunjukkan hasil tes IQ beberapa waktu yang lalu pada Nyonya Betsy. Dari hasil tes menunjukkan jika IQ nya superior, harusnya dia di atas rata-rata tapi hasil yang sekarang sungguh berbeda. Nilainya di bawah nilai rata-rata kelas.
“Ada masalah psikis pada Jorell yang menyebabkan anak ini menolak semuanya. Apakah ada seseorang di rumah yang melakukan kekerasan pada Jorell?” tanya Mr. Paul lagi.
Tentu saja hasil itu bukan dari hasil tes kemarin tapi dari hasil tes beberapa waktu sebelumnya. Di Institut Florimont ini rutin setiap setahun sekali diadakan piskotes untuk mengetahui kendala belajar setiap siswanya. Dan mereka rutin memantau seluruh siswa yang ada di sana, juga membicarakannya dengan orang tua mereka seperti sekarang ini.
“Itu ... sebenarnya, terkadang ayahnya terlalu keras jika marah pada Jorell, Mr. Paul.” Betsy menjelaskan sedikit. Dia tak berani memaparkan yang sebenarnya jika suaminya itu memang kerap menghajar Jorell.
“Maaf, Nyonya. Perilaku kekerasan bukannya membuat anak paham jika melakukan suatu kesalahan tapi akan meninggalkan trauma mendalam baginya, dan membuat mentalnya sakit. Jika ini dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk pada perkembangannya nanti.”
“Baik, Mr. Paul. aku akan membicarakannya dengan suamiku nanti. Terima kasih.”
“Jadi, Darcy selama ini dia memang menghajar Jorell? Hiss. Kenapa aku tidak mengetahui itu lebih awal?” gumam Betsy di tengah jalan menuju ke kantor.
***
Malam hari di rumah, di saat Jorell dan Aroon tidur, Betsy bicara empat mata dengan Darcy.
“Ada sesuatus yang ingin ku bahas denganmu.” Betsy menarik selimutnya kemudian duduk.
Darcy berbalik dan ikut menarik selimutnya turun ke bawah kemudian duduk.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Sayang? Apakah kau ingin program hamil lagi?” Darcy menimpali.
“Kau bercanda! Mana mungkin aku ingin hamil lagi di usiaku sekarang. Ini mengenai Jorell. Aku sudah lama perhatikan kau akhir-akhir ini kerap memukuli Jorell. Kenapa? Apa kau tahu itu akan berdampak buruk pada perkembangan mentalnya nanti?”
Darcy seketika terdiam. Dia menghela napas berat.
“Betsy, apa aku salah memberinya pelajaran? Dia sudah besar. itu sudah waktunya memberinya hukuman fisik seperti itu. Lagi pula, apa kita tahu dia anak siapa? Siapa yang tahu jika dia sebenarnya anak seorang mafia, pembunuh atau lainnya?”
Tapi Betsy tidak terprovokasi oleh hal itu.
“Aku yang membesarkannya sejak kecil jadi aku tahu seperti apa dia. Entah siapa orang tua kandungnya tapi dia tak mungkin tumbuh menjadi orang seperti itu.”
“Betsy, kau ini berlebihan. Sudah bagus kita mengasuhnya sampai sekarang dan memberinya fasilitas baik, dia itu bukan anak kita jadi kau jangan memperlakukannya sama dengan Aroon. Paham?!”
Darcy tak mau bicara lagi dan kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan memunggungi Betsy.
Betsy tak mau berdebat lagi dan hanya bisa menghela napas panjang. Tak ada gunanya berdebat dengan pria itu.
***
Jorell duduk di tempat tidur, tertunduk setelah melihat pantulan wajahnya dari cermin yang ada di depan tempat tidurnya.
“Aku heran, di rumah ini hanya ayah saja yang memperlakukanku berbeda. Sejak kecil pria itu selalu menyiksaku, memullkulku dan menendangku. Dia bahkan sama sekali tak pernah menyentuh Aroon meskipun dia bersalah.”
Bukannya Jorell meminta keadilan, tapi dia hanya meluapkan isi hatinya saja yang mendapatkan perlakuan berbeda dari Darcy.
“Apakah ada yang salah dengan diriku hingga ayah membenciku seperti itu? Apakah hanya karena wajahku yang berbeda saja dia memperlakukanku begitu?”
Jorell kembali mendesau panjang melepas beban juga sakit di hatinya. Bahkan pikiran negatif pun terlintas dalam pikirannya.
“Apa mungkin benar perkataan orang-orang di luar sana, jika aku bukan anak mereka?”
Jorell seperti dihantam batu besar memikirkannya saja. Jika kemungkinan itu benar, lalu anak siapa dirinya?
Jorell yang tak bisa tidur dengan pikiran melayang tak jelas ke mana, berjalan limbung menuju ke ruangan Darcy.
Dia kemudian iseng membuka laci yang ada di ruangan itu dan mengeluarkan isinya, juga membacanya.
“Dugaanku tak beralasan.”
Di saat Jorell mengembalikan semua berkas yang dilihatnya, ada sebuah gelang karet bayi terjatuh di sana. Dia mengambilnya dan membaca nama yang terlampir pada karet tersebut.
“Jorell Watson?”