
Tuan Fisher tersentak kaget mendengar penjelasan dari Tuan Benjamin. Dia sama sekali tidak menyangka jika putrinya punya hutang sebesar itu.
“Berani sekali dia meminjam bank atas namamu?!” Terlihat Tuan Fisher kembali marah. Nada suaranya meninggi, dengan sepasang bola mata yang membulatkan penuh.
“Rumah?” ujar Xavier. Kenapa Miss Gaby membeli rumah?”
“Aku tidak tahu.” Tuan Benjamin mengangkat kedua bahunya.
Tidak mungkin baginya untuk bertanya akan ditempati siapa rumah itu, dan alasan kenapa Gaby membelinya, bukan? Yang dia tanyakan berapa tenor pelunasannya dan berapa besar setorannya per bulan.
“Menurutku itu karena Miss Gaby ingin pindah dari rumah ini. Mungkin karena dia tak nyaman tinggal di sini dan ingin mandiri.” Jorell menyahut.
Tiga orang lainnya yang ada di sana tak berani berkomentar. Takut memicu emosi Tuan Fisher dan menimbulkan masalah baru.
“Jaga bicaramu, bocah.” Benar saja pria itu tersinggung dengan jawaban Jorell.
Baginya, kalimat yang diucapkan oleh Jorell menunjukkan jika dirinya seorang pria yang buruk. Pria yang tidak bisa merawat putrinya. Pria yang menciptakan rasa tidak nyaman di rumah hingga membuat putrinya tidak betah tinggal bersamanya.
“Jika dipikir kalimat yang dilontarkan oleh Jorell ada benarnya. Jika saja Tuan Fisher memang seorang pria yang baik, tak mungkin istrinya akan menggugat cerai pria itu. Dan Miss Gaby tidak akan mungkin berencana pindah ke rumah lain,” lirih Xavier.
“Menurutku tak penting untuk apa putrimu membeli rumah itu. Yang terpenting siapa yang akan melunasi sisa hutangnya,” sahut Tuan Benjamin. Dia juga bermaksud menengahi mereka.
Rasanya tidak pantas ribut-ribut di tengah suasana duka seperti ini.
Tuan Fisher diam dan berpikir. Sebenarnya dia sama sekali tidak butuh rumah lain, rumah yang ditempatinya saat ini saja sudah cukup. Apalagi jika harus melunasi rumah itu, dan tidak menempati. Terlebih tempatnya saja dia tidak tahu. Apakah dia nanti juga cocok dengan rumah itu atau tidak? Siapa yang tahu.
“Benjamin aku tak bisa melunasinya.”
“Apa?! Karena Kau adalah ayahnya maka setelah Gaby tiada, kaulah yang bertanggung jawab.” Tuan Benjamin mendesak.
Tak mungkin dia yang akan melunasi hutang Gaby, bukan? Hanya namanya saja yang terdaftar di Bank sebagai penghutang, tapi dia bukanlah yang berhutang. Menyesal mulai merasuk dalam relung hatinya. Kenapa dulu dia setuju saja memakai namanya untuk membantu Gaby. Ia sama sekali tak menyangka wanita itu akan meninggal mendadak seperti ini.
“Sudah kubilang, aku tidak berminat menempati rumah itu. Sebaiknya kau jual saja dan ambil uang hasil penjualannya untuk menutup semua hutang di bank,” tegas Tuan Fisher.
“Hey, kau tak bisa seperti itu. Kau pikir mudah apa menjual rumah? Jika kau tak mau bayar, lalu siapa yang akan melunasi sisa hutangnya?” protes Tuan Benjamin. Dia tak mau jika kredit itu akhirnya bermasalah dan dia yang kena.
Jorell dan Xavier saling menatap, kemudian menggaruk kepala masing-masing. Menurut mereka masalah orang dewasa memang ribet.
“Aku yang akan bayar dan lunasi hutang Gaby!”
Sontak semua pasang mata kemudian tertuju pada suara seorang pria yang tiba-tiba saja masuk tanpa permisi.
“Sergio Martin?!” pekik Tuan Benjamin melihat siapa yang bicara.
Tuan Benjamin, bagai mendapat angin segar tatkala ada seseorang yang dengan sukarela akan melunasi hutang Gaby.
"Kau yakin Sergio, akan menutup sisa hutang Gaby? Tapi kenapa?”
“Rumah itu harusnya aku dan Gaby yang mengangsurnya. Tiga bulan ini aku mengalami kesulitan finansial jadi dia yang menanggung semuanya. Sekarang omonganku sudah stabil kembali maka aku akan melunasinya,” tutur pria bertubuh jangkung dengan bulu halus mulai tumbuh di bagian dagu.
Ucapan Sergio barusan membuat Benjamin dan Fisher terkejut bukan main.
Tuan Sergio mengangguk sedih. Lalu berbalik menatap Gaby. Harapannya untuk tinggal bersama wanita pujaannya itu pupus sudah.
“Apa?! Kau kekasihnya Gaby?” Tuan Fisher sama sekali tak menyangka jika putrinya menyukai pria yang cukup matang dan bahkan hampir seusia dengan dirinya itu. Padahal di luaran sana banyak pria muda yang sejajar dengan Gaby.
“Gaby sayangku, kenapa kau pergi meninggalkan aku sendiri? Jika saja kau bilang lebih awal padaku, aku akan segera membawamu pergi dari sini daripada tinggal bersama monster ini.” Sergio beralih menatap Tuan Fisher dengan murka.
Gaby sendiri sudah banyak bercerita tentang pria itu padanya selama ini. Bagaimana kekerasan yang sering dilakukan olehnya pada Gaby, juga tindakan kasar lainnya.
“Apa kau datang kemari dan mencaciku?” hardik Tuan Fisher.
Pria itu hampir saja memukul Sergio, jika saja Benjamin tak menengahi mereka berdua.
“Fisher, kau jangan bodoh begitu. Apa kau tidak malu dengan para tetanggamu? Berkelahi di hari kematian putrimu? Kau menyedihkan sekali!” makinya dengan sarkas, namun berhasil membungkam mulut pedas Tuan Fisher.
“Tuan, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Jorell tiba-tiba mendekat dan menghampiri Tuan Sergio.
“Ya, ada apa?” Dia menatap bingung pada Jorell.
“Apakah Anda bersama Miss Gaby sehari sebelumnya?”
Sergio tak langsung menjawabnya. Mungkinkah dia harus menceritakan malamnya bersama wanitanya itu? Semalam dia menghabiskan malam panas bersama Gaby di rumahnya. Bisa dibilang mereka berbagi ranjang juga berbagi puncak kenikmatan bersama.
“Ya, aku bersamanya malam sampai pagi sebelum dia berangkat kerja.”
“Lalu sebelumnya apakah anda tahu dan siapa saja Miss Gaby bertemu?”
“Aku tidak tahu. Dia jarang menceritakan kegiatannya di luar rumah padaku. Tapi aku sempat mendengar cerita Jika dia sebelum ke rumahku, dia mampir ke rumah Thomas.”
“Siapa itu Thomas?” tanya Jorell. Karena nama itu tak muncul di ponsel Miss Gaby.
“Thomas adalah teman kerjanya. Entah apa urusan Gaby dengan pria itu, tapi yang jelas, Thomas merupakan petugas bagian absensi di kantornya.”
Jorell diam. Dari penuturan yang diutarakan oleh Sergio, siapa saja bisa menjadi tersangka pelaku pembunuhan. Namun apakah dia bisa bertemu dengan Tuan Thomas?
“Tuan, apakah Anda bisa memanggil Tuan Thomas kemari?” tanya Jorell bukan pada Tuan Fisher, tapi pada Tuan Sergio.
“Itu ... aku tidak tahu apakah dia bisa kemari atau tidak. Terkadang dia kerja sampingan malam begini,” terang Sergio.
Jorell mulai berpikir jika pria yang merupakan saksi mata itu tak bisa dipanggil lalu dia akan mulai menyelidiki kasus ini dari mana? Tanpa petunjuk juga informasi yang lebih akurat?
“Bagaimana jika aku yang panggil dia ke sini?” Tuan Fisher menawarkan diri.
Sebagai ayah dari Gaby, dia ingin memberikan kebaikan pada putrinya itu sebagai penebus rasa dosanya. Mungkin saja dari Thomas akan ditemukan sebuah petunjuk.
“Baik, ikuti aku sekarang.”
Tuan Fisher keluar dari rumah, dan Jorell mengikutinya bersama Xavier.