
Xavier tidak tahu kenapa Jorell malah menolak ajakannya untuk pergi. Padahal jika pria bernama Richard itu sampai marah pada mereka berdua, sudah pasti mereka tak bisa melawannya.
“Ayo, Jorel. Kita pergi dari sini. Ini bukan urusan kita.” Kali ini Xavier sampai menarik kerah belakang Jorell dan menyeretnya.
“Lepas, Xavier. Apa kau hanya akan diam saja dan melihat orang tua seperti Tuan Charlie dihajar?”
“Jangan bilang kau mau melawan retenir itu?” Xavier bergidik ngeri, hanya dengan melihat penampilan Richard yang bisa dibilang lebih mirip sebagai berandal daripada seorang retenir.
Bagaimana orang tidak mengira pria itu sebagai berandal jika dibagian lehernya terdapat tato besar. Mungkin tato itu memenuhi seluruh tubuh bagian depannya, bukan pada lengannya saja.
Plus tato tiga dimensi itu bersimbol ular putih yang cukup mengerikan jika dipandang. Seakan ular itu benar-benar hidup dan tampak merayap akan menerkam siapa yang melihatnya.
“Aku tak bisa melihat orang teraniaya di depanku begitu saja tanpa membantunya,” papar Jorell.
Bukannya dia sok pahlawan atau merasa kuat tapi memang bukan jiwanya membiarkan orang teraniaya dan hanya melihatnya saja.
“Jorell, kau tak akan bisa melawannya,” ungkap Xavier.
“Jika kau takut, maka kau boleh pergi. Tinggalkan aku disini.”
Jorell tak mempedulikan lagi ucapan Xavier. Ia malah mendekat pada Richard. Hanya berbekal keberanian dan hati nurani saja, dia mengajak bicara Richard.
“Tuan, apa kau tidak pernah belajar sopan santun? Bagaimana cara bicara dengan orang yang lebih tua dari kita?”
Sontak saja Richard melepas cengkraman tangannya yang kini sudah berada pada leher Tuan Charlie, beralih menatap Jorell.
“Anak kecil, kau bicara denganku?” Richard membulatkan matanya yang lebar, menatap Jorell dengan tajam.
“Ya, Tuan. Aku bicara denganmu,” jawab Jorell dengan nada sopan seperti saat bicara sebelumnya.
Tentu saja itu membuat Richard terusik dengan perkataannya.
“Kau, anak kecil baru lahir kemarin sore. Tahu apa kau tentang sopan santun? Apa hakmu menghujatku?”
Jorell sama sekali tidak gemetar dengan perkataan Richard yang bernada tinggi. Meskipun perawakan pria itu besar melebihi dirinya yang hanya tak sampai bahu Richard.
“Maaf, Tuan. Menurutku Anda membuat takut Tuan Charlie. Kau bisa bicara baik-baik dengan orang tua sepertinya. Jangan menakuti begitu. Terlebih sampai main kekerasan.”
Perkataan Jorell yang sederhana ternyata menyinggung perasaan Richrad. Jelas, pria itu tak bisa diajak kompromi ataupun negosiasi.
“Diam kau anak kecil! Apa yang kau ketahui hingga bisa menceramahiku seperti itu? Kau akan menyesal berani mengusikku!” Richard menyentak.
Tuan Charlie beralih menatap Jorell. Dia mengirimkan kode mata dengan arti memintanya pergi dari sana. Namun Jorell yang menangkap kode itu meskipun mengerti, tetap tidak beranjak dari sana.
Tuan Charlie yang melihat itu hanya diam saja. Ia bukannya tak mau membela Jorell, tapi tak berani melawan, takut.
Tangan besar pria itu terayun ke udara dan jangan cepat mengincar bagian leher Jorell.
Dia pasti ingin menghajarku.
Jorell bisa membaca gerakan pria itu. Dia tahu Richard akan mengincar lehernya. Sedikit banyak gerakan itu sangat familiar baginya. Gerakan yang biasa dilakukan Darcy padanya.
“Kurang ajar kau! Berani menghindariku?!” hardik Richard tatkala Jorell bisa menghindari tangannya yang akan mencengkram leher Jorell.
Dia semakin bertambah emosi saja dan kembali melayangkan tangan ke udara. Kali ini dia mengepalkan tangannya erat dan mengincar bagian dada Jorell.
“Apa kau tidak malu menghajar seorang anak kecil sepertiku?”
Jorell memang tidak punya kemampuan bela diri yang mumpuni, tapi dia sedikit-sedikit bisa membela dirinya. Berbekal dengan ingatan pada kebiasaan Darcy yang suka mengejarnya sendiri kecil mulai dari berbagai bentuk penyiksaan, membuatnya hafal dan bisa membaca gerakan lawan.
“Tutup mulutmu! Atau aku sendiri yang akan menutupnya agar mulut itu tak bisa bicara lagi!”
“Anak kecil sialan kau! Mulutmu itu harus diajar!” Setelah pukulannya tadi hampa dan tidak mengenai sasaran, maka Richard sekali lagi melayangkan pukulan ke wajah Jorell.
Terjadi pertukaran pukulan setelahnya. Meskipun Jorell bisa menghindar dan menyarangkan beberapa pukulan pada Richard, tetap saja. Dia yang anak kecil jatuh tersungkur juga dengan tendangannya.
“Tolong, hentikan! Aku akan bayar hutangku padamu dua jam dari sekarang. Datanglah kemari untuk mengambilnya,” histeris Tuan Charlie tak bisa menahan lagi apa yang sudah terjadi pada Jorell.
Richard yang saat itu akan menarik Jorell dan melemparnya melepaskan cengkraman kerah baju Jorell.
“Jika kau bilang begitu dari awal semua ini tak perlu terjadi.” Richard beralih menatap tajam Tuan Charlie, kemudian berlalu dari sana.
“Kau tak apa?” Xavier dan Tuan Charlie datang menghampiri Jorell.
“Ya, aku tak apa.”
Jorell bangkit berdiri. Mukanya sama sekali tidak lebam. Hanya saja dia merasakan nyeri di punggungnya setelah dilempar tadi.
“Terima kasih anak muda kau sudah membantuku. Tapi jangan membahayakan dirimu seperti itu lain kali. Kau tidak tahu, Richard itu orang yang berbahaya,” tutur Tuan Charlie.
“Ayo, kita pulang,” ajak Jorell.
Jorell hanya mengangguk kemudian berjalan bersama Xavier.
***
“Menurutmu apa aku harus belajar bela diri?” ceplos Jorell di tengah jalan.
“Jangan bilang kau memintaku mencarikan pelatih atau guru profesional beladiri untuk melatihmu.” Xavier menanggapi.
Dia tahu seperti apa karakter temannya itu. Jorell tak sering bertanya saja, tapi ada maksud dibalik pertanyaannya yang mengandung umpan.
Umpan di mana dirinya harus membantu temannya itu memberikan sinyal padanya.
“Kau pasti tahu itu. Katakan padaku,” sahut Jorell tanpa basa-basi.
Dia bertanya seperti itu bukan tanpa alasan, tapi karena dia tahu kelebihan Xavier yang serba tahu seperti kamus berjalan jika ditanya berbagi hal di sekitarnya.
“Kau pasti tahu kan?” cicit Jorell.
“Aku akan mengajakmu menemuinya besok. Lagipula untuk apa kau belajar bela diri segala?”
“Untuk melindungi diriku sendiri tentunya.”
***
Siang hari, Jorell duduk di teras rumah bersama Aroon. Mereka sedang main catur. Terdengar tawa renyah di sana, saat Aroon memenangkan satu putaran.
“Kau hebat, Aroon.” Jorell memuji adiknya, setelah mengalah sengaja kalah karena ingin melihat adiknya itu menang setelah tiga kali kalah berturut-turut darinya.
“Akhirnya, aku bisa mengalahkan Kakak.”
Di depan mereka ada orang yang berjalan berlalu lalang. Suara mereka terdengar keras juga jelas karena letak jalan dengan teras rumah sangat dekat.
“Kau sudah dengar belum kabar meninggalnya Richard si retenir itu?”
“Ya, kenapa dia mendadak meninggal? Aneh sekali. Tadi dia baik-baik saja saat pagi bertemu dengannya.”
“Richard? si rentenir yang tadi menghajar Tuan Charlie? Dia meninggal? Apa penyebabnya?” lirih Jorell, tersentak kaget mendengar percakapan mereka.
Ia menyentuh punggungnya yang bahkan sampai saat ini pun masih terasa nyeri.