Different One

Different One
Eps. 10 Melakukan Tes DNA



“Kau tak apa, Jorell?” Betsy bertanya pada Jorell, saat anak itu keluar dari kamar.


Wajahnya masih bengkak, namun dia tetap masuk ke sekolah.


Jorell tak menjawab pertanyaan dari ibunya tapi hanya mengangguk kemudian menunduk.


“Maafkan ayahmu, dia tak bermaksud seperti itu. Aku sudah bicara padanya.” Betsy memeluk Jorell. Betsy akhirnya mengetahui kejadian sore kemarin itu, dari Aroon setelah sebelumnya mencoba membujuk Jorell untuk mengajaknya makan malam.


Sepasang bola mata Jorell kembali mengembun, tapi sebisa mungkin dia tahan supaya air matanya yang mulai menggenang itu tidak tumpah. Dia merasa lega masih ada ibunya yang bersikap hangat pada dirinya. Setidaknya luka itu akan sedikit berkurang.


“Kau tidak usah masuk sekolah hari ini.” Betsy mengusap pipi bengkak Jorell.


“Tidak. Aku tidak apa-apa, Ibu.”


Jorell segera pergi dari rumah sebelum Ibunya kembali menahannya dan membuatnya berubah pikiran.


***


Di tengah jalan, dia membuka tasnya dan mengeluarkan amplop coklat serta mengintip isinya.


“Semua yang kubutuhkan untuk melakukan tes sudah siap semua. Aku hanya tinggal menyerahkannya saja nanti di rumah sakit.” Jorell mengintip kembali isi dalam amplop cokelat itu, khawatir jika isinya hilang ataupun jatuh entah ke mana.


Isi amplop coklat itu adalah helaian rambut milik Darcy dan helaian rambut miliknya sendiri.


Jorell memutuskan untuk melakukan tes DNA untuk mengetahui hubungan mereka sebenarnya, apakah dia memang anak kandung ayahnya atau bukan?


Dia membongkar celengannya untuk melakukan tes DNA karena tidak mungkin dia minta pada orang tuanya untuk membayar, atau akan ketahuan.


“Mungkin nanti setelah pulang sekolah aku akan ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.” Jorell memasukkan kembali bahan untuk tes DNA dalam tasnya.


***


“Jorell, ada apa dengan wajahmu? Apa kau habis berkelahi dengan seseorang?” tanya Xavier, saat Jorell duduk di sebelahnya.


“Tidak.” Seperti biasa, Jorell menjawab singkat.


“Atau Ayahmu yang melakukannya?” Xavier tahu itu bukan karena Jorell yang memberitahunya tapi dia melihatnya sendiri.


Pernah dulu saat mereka pulang bersama, Xavier mampir sebentar ke rumah Jorell untuk mengambil catatan yang tertinggal. Namun secara tak sengaja dia melihat sendiri Darcy memukul Jorell hanya karena masalah sepele, hanya karena sebuah piring pecah.


Ada piring pecah, entah siapa yang memecahkannya tapi yang jelas pria itu menyalahkan Jorell juga memukulnya.


“Ayahmu yang melakukannya?” ulang Xavier bertanya.


Jorell menatap terdiam anak lelaki berambut blonde berombak itu. Ia tak menjawab dan malah mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya, lalu ia sodorkan pada Xavier.


“Apa ini?” Xavier melihat helaian rambut dalam amplop tersebut dengan alis yang bertaut.


“Aku akan melakukan tes DNA nanti pulang sekolah. Mungkin uang tabunganku kurang untuk membayarnya. Maukah kamu meminjamiku sedikit nanti jika kurang?”


Xavier sampai membuka mulutnya lebar mendengar apa yang diucapkan temannya itu.


“Apa kau sangat putus asa hingga melakukan ini?”


“Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja semua keraguanku. Lihat ini.” Jorell mengeluarkan gelang karet hijau yang dia temukan di rumah dan menunjukkannya pada temannya itu.


“Jorell Watson?” Xavier benar-benar terperanjat kaget membaca nama yang tertera pada gelang tersebut.


Jorell segera mengambil gelang itu kembali dan menyimpannya dalam tas, sebelum ada siswa lain yang melihatnya.


Dia sendiri lebih terbuka pada temannya itu daripada keluarganya sendiri, termasuk Aroon.


“Ya, aku akan menemanimu pergi ke rumah sakit nanti dan akan meminjamkan uangku jika memang kurang,” balas Xavier.


***


“Kau sudah siap?” tanya Xavier di depan pintu masuk rumah sakit.


Sepulang sekolah mereka menuju ke Rumah Sakit bersama. Xavier sendiri sampai ikut penasaran karena itu. Baru kali ini dia menemui kasus seperti ini.


“Ya, apapun hasilnya aku akan bisa menerimanya,” sahut Jorell, nampak lapang. Dia memang sudah mempersiapkan dirinya dan menguatkan dirinya, sampai berani memutuskan melakukan tes DNA.


Mereka akhirnya masuk juga ke rumah sakit. Jorell menyerahkan sampel untuk tes DNA pada petugas rumah sakit.


“Baik, hasilnya tidak bisa keluar sekarang dan paling cepat besok.” Dokter memberitahukan setelah menerima sampel yang diberikan Jorell.


“Ya, dokter.” Jorell kemudian segera keluar dari rumah sakit bersama Xavier.


“Semoga hasilnya seperti yang kau harapkan.” Xavier menepuk pelan bahu Jorell.


“Terima kasih, aku akan mengembalikan uang yang aku pinjam padamu bulan depan.” Jorell akhirnya meminjam uang temannya itu, beruntungnya dalam jumlah kecil saja.


“Tak usah kau pikirkan itu.”


Xavier ikut senang bisa melihat seutas senyum dari bibir Jorell yang kesehariannya jarang sekali tersenyum.


***


Keesokan harinya di siang hari, Jorell kembali mendatangi rumah sakit yang mereka berdua kunjungi sebelumnya bersama Xavier.


“Tenangkan dirimu,” tutur Xavier pada Jorell yang nampak cemas duduk di kursi tunggu menunggu dokter keluar membawakan hasilnya.


“Ya, aku tidak cemas, aku hanya tidak sabar saja menunggu hasilnya keluar.” Jorell menyanggah, padahal dia cemas dengan hasilnya.


Suasana nampak semakin tegang, tatkala dokter keluar dari ruangan dengan membawa amplop putih.


“Dokter, apakah hasilnya sudah keluar?” tanya Jorell setelah menghampiri dokter.


Dokter tidak menjelaskan dan memilih untuk menyerahkan amplop tersebut agar segera dibaca.


Jorell menerima amplop tersebut dan langsung membukanya di tempat saat itu juga. Tangannya saja sudah gemetar saat memegang amplop tersebut terlebih setelah mengetahui hasilnya.


“99.99% tidak ada kecocokan?” Bukan Jorell yang bicara, namun Xavier. Dia ikut melihat karena penasaran dengan hasil tes DNA tersebut.


Jorell nampak tegang dan meremang setelah mengetahui hasil tes tersebut yang menyatakan jika dirinya memang tak berhubungan darah sama sekali dengan Darcy, ayah kandungnya.


“Begitu hasil dari tesnya. Kuharap itu merupakan informasi yang berguna,” ujar Dokter pada akhirnya setelah melihat wajah syok Jorell.


“Terima kasih, dokter.”


Setelah dokter pergi, Jorell pun keluar dari rumah sakit.


“Kau tak apa?” tanya Xavier pada Jorell yang sedari tadi hanya diam tak bersuara sedikitpun.


“Ya, aku baik-baik saja. Setelah sekarang jelas seperti ini, aku jadi mengetahui apa alasan a@yahku sering menghajar diriku mungkin karena aku bukan anak kandungnya makanya dia menghajarku. Lalu jika aku bukan darah dagingnya, aku anak siapa? Apa mungkin ibuku berselingkuh?” Jorell bimbang.


“Masalah itu, aku tidak tahu.”


“Tapi aku tahu seperti apa ibuku orangnya. Meskipun dia sering berselisih pendapat dengan ayah, tapi dia sayang sekali pada ayahku. Tidak mungkin dia berselingkuh,” jelas Jorell menepis dugaan buruk tersebut.


“Ya, aku juga tahu Nyonya Betsy orang baik, tidak mungkin kau anak haramnya.” Xavier menimpali.


Lalu muncul pertanyaan besar di benak mereka berdua. Lalu anak siapa sebenarnya Jorell, jika bukan anak Darcy?