
Jorell tiba di rumah. Setibanya di rumah ia segera masuk ke kamar dan menguncinya. Dia tak ingin ada seseorang yang masuk ke kamarnya, baik itu ayahnya ataupun Aroon.
“Aku bukan anak Ayah dan Ibu. Lalu anak siapakah aku? Apakah aku anak pungut? Anak pungut yang ditemukan di pinggir jalan?” Jorell kembali duduk dalam ruang gelap.
Dadanya serasa terhimpit, sesak yang dipenuhi oleh kemarahan, kebencian juga kekecewaan. Marah karena Darcy menyimpan rahasia itu rapat. Benci karena terus mendapatkan penyiksaan tanpa alasan. Juga kecewa dibesarkan oleh Darcy selama ini yang terus mendapat siksaan.
“Seandainya boleh meminta, aku tak ingin kau mengasuhku. Aku tak ingin kau menemukan dan memungutku, ayah, jika hanya untuk membuat hidupku menderita, kenapa tak membiarkan aku mati sejak bayi saja.”
Jorell menatap seberkas titik terang di ruangannya, pantulan dari cahaya di luar. Seolah titik itu memberinya secercah harapan. Ada laron yang masuk ke kamarnya. Laron itu di lantai, terjebak dan langsung bisa ke luar setelah menemukan seberkas cahaya redup itu.
“Ya, benar. Aku sudah mendapatkan sedikit petunjuk. Aku bisa menggali petunjuk itu. Aku harus tetap melangkah maju.”
***
Keesokan paginya Jorell bertemu dengan Darcy dan Betsy begitu membuka pintu.
Mereka bukan orang tuaku.
Jorell hanya menunduk setelah menatap mereka berdua dan cenderung menghindari tatapan mereka. Tanpa kata, dia pun berangkat ke sekolah, juga tanpa berpamitan.
“Ada apa dengan Jorell?” tanya Betsy, menatap ke luar pada punggung Jorell. “Apa kau memarahinya lagi atau kau memukulnya, Darcy?” tuduhnya.
“Aku tidak melakukan apapun padanya semalam.”
“Lalu dia kenapa?”
“Entahlah, aku tidak tahu.” Darcy tak mau membahas itu lagi, dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan Betsy.
***
“Kau nampak tak bergairah hidup, Jorell?” tanya Xavier setelah Jorell duduk di kursi.
“Ya, aku ingin pergi dari rumah saja rasanya setelah mengetahui aku bukan anak mereka. Tapi, aku juga tak tahu harus pergi ke mana?” tanggap Jorell.
Percakapan mereka kemudian terpaksa berhenti setelah guru masuk. Selama pelajaran berlangsung, pikiran Jorell tidak fokus pada pelajaran, tapi fokus pada hal lainnya.
Pikirannya terpusat pada nama Watson. Bahkan saat ini pun Jorell membuka laptopnya, bukan untuk membaca materi dari sekolah, tapi dia malah mencari informasi mengenai Watson.
Aku ingat pria yang pernah kutemui beberapa waktu yang lalu menyebut nama Carl Watson. Dari rumah sakit juga menyebut nama Carl Watson dan Scarlet Dorothy.
Jorell mencari kedua nama itu di laptopnya. Berharap ia dapat menemukannya.
“Tak ada namanya, nama itu seperti terhapus dari daftar,” desau Jorell kecewa.
“Nama apa yang kau maksud?” Xavier menyahut, di tengah konsentrasinya pada pelajaran saat ini.
“Nama Tuan Carl Watson dan istrinya.”
“Mungkin kau bisa bertanya pada orang-orang nanti.” Xavier memberi saran.
***
Pulang sekolah, Jorell berjalan sendirian mencoba menanyakan hal itu pada orang-orang di sekitarnya.
“Permisi, Tuan. Apakah Anda tahu nama seorang pria, Tuan Carl Watson dan juga istrinya, Nyonya Scarlet Dorothy?” Jorell bertanya pada seorang pria yang ditemui1 di tengah jalan, jauh dari tempatnya sekolah.
Pria itu diam, dan malah menatap lekat-lekat anak lelaki yang bertanya padanya.
Dia mirip pria itu, astaga! Mungkin hanya kebetulan saja.
“Tuan, tunggu!” Jorell memanggil, namun pria itu tak mau menjawab panggilannya dan terus berlalu begitu saja.
Tak menyerah, Jorell kemudian kembali berjalan dan bertanya pada setiap orang yang ditemuinya. Anehnya mereka semua nampak ketakutan sebelum menjawabnya dan akhirnya mereka bilang tidak tahu nama itu.
“Aneh sekali. Kenapa semua orang di sini tidak mengetahuinya? Seperti dirahasiakan atau ditutupi. Tapi kenapa?” Jorell tak mengerti itu.
Dia sudah susah payah berjalan cukup jauh dan bertanya pada banyak orang, tapi semua usahanya sia-sia belaka.
“Lalu di mana lagi aku harus mencarinya? Kenapa susah sekali menemukan mereka?”
Dengan langkah gontai dan lelah, Jorell mengayunkan langkahnya menuju ke rumah.
***
“Pasti ada cara untuk mencari dan menemukan nama itu.” Jorell berpikir keras pada malam hari di kamarnya.
Baginya jika dia sudah fokus pada satu hal dan mencarinya, maka dengan berbagai usaha dia harus menemukan apa yang dicarinya, apapun itu usahanya. Meskipun mungkin harus membuatnya tidak tidur semalam, dua malam, atau setiap malamnya.
Di antara rasa gelisah dan rasa ingin tahunya yang mendalam tiba-tiba saja pikirannya tercerahkan.
“Kenapa aku tidak membuat alat saja untuk menemukan itu? Ya, tapi alat apa yang aku bisa aku buat untuk menemukan mereka?”
Jorell memejamkan kelopak mata. Dari sana tiba-tiba dia merasa seperti mendapatkan kata dalam pikirannya. Mesin waktu.
“Ya, mesin waktu. Mungkin itu sesuatu yang mustahil tapi kenapa tidak, aku akan mencoba membuatnya.”
Jorell membuka kelopak matanya kembali. Dia menyalakan lampu di kamarnya yang dia matikan. Dia duduk sembari membuka laptopnya lalu masukkan rumus panjang, panjang sekali dan merupakan rumus gabungan dari banyak rumus yang tak terhitung jumlahnya.
Tak! Jorell menatap kembali hasil rumus yang dibuatnya setelah menyentak jemarinya pada keyboard dengan kuat.
“Astaga!” Jorell tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Formula gabungannya, hasilnya ternyata cukup mengejutkan.
Formula itu bisa dia praktekkan, rumus yang dia masukkan benar.
“Aku akan mencoba merakitnya sekarang.” Saat itu juga Jorell mengeluarkan semua bahan yang dia butuhkan.
Kamar Jorell dalam sekejap saja terlihat berantakan seperti kapal pecah. Barang-barang berserakan di lantai, juga di meja, dan di tempat tidur.
Jorell nampak serius dan fokus pada proyeknya kali ini, proyek membuat mesin waktu. Dia membongkar ulang jam tangannya setelah melalui empat jam perakitan chip mesin waktu yang akan dihubungkan dengan jam tangan miliknya itu.
“Kurasa aku sudah berhasil merakitnya sekarang.” Jorell mengulas senyum tipis di ujung bibirnya, melihat jam tangannya kini sudah selesai dia rakit dan gabungkan dengan chip mesin waktu buatannya.
“Apakah aku sebaiknya mencobanya sekarang, apakah ini bisa bekerja atau tidak?” Jorell nampak antusias sekali.
Langsung saja dia mengatur waktu pada jam tangannya. Dengan adanya chip mesin waktu, jam tangannya kini dilengkapi bar tombol yang bisa memajukan dan memundurkan waktu pada tahun yang dia tuju.
“Semoga saja alat ini berfungsi, aku akan mencobanya sekarang.” Jorell memutar waktu pada jam tangannya. Dia mengetik tanggal lima Juli 2032, waktu dua hari yang lalu. Dia kemudian menekan tombol enter.
Dalam sekejap kamar tidurnya yang saat ini berantakan seperti kapal pecah tiba-tiba saja bersih kembali. Untuk lebih memastikannya dia pun membuka pintu kamar.
“Kakak? Kakak belum bersiap? Ini sudah hampir siang. Bukankah hari ini Kakak waktunya olahraga?” tanya Aroon pada Jorell yang menurutnya baru bangun tidur dan belum melakukan apapun.
***
Terima kasih atas dukungan akak semua. Yang beri vote dan hadiah. Terima kasih utk kak aru yang sudah beri koin. Istimewa sekali. Terharu. Sungguh.
Yang lain beri dukungan juga. Jangan lupa vote dan komen nya ya. Aku tunggu😊