
Tiga pelayan Tuan Charlie akhirnya tiba di toko. Herald, Foster dan Bernie datang di toko bersamaan.
“Ada apa Tuan Charlie?” tanya Foster.
Tuan Charlie hanya diam tak merespon. Dia mau menjelaskan apa.
“Masuklah kalian bertiga. Ada seseorang di dalam yang ingin bicara.”
Tiga pelayan itu bingung, lalu masuk dan semakin bingung melihat yang mereka temui dua anak lelaki.
“Kalian mencari kami ada apa?”
“Ini masalah Tuan Richard.” Bukan Jorell yang bicara tapi Xavier.
“Kami hanya akan bertanya saja, jadi mohon kerjasamanya,” jelas Jorell. Tidak mungkin dia akan bilang mencari pelaku yang meletakkan pisau berlumuran darah di dapur.
Langsung saja Jorell melakukan investigasi seperti yang dilakukan oleh para detektif biasanya.
“Tuan Herald apakah Anda punya pinjaman di Tuan Richard?”
“Ya, aku pernah berhutang padanya tapi sudah lunas enam bulan yang lalu.”
Jorell menjeda sebentar pembicaraannya. Dia melihat dia orang lainnya juga Xavier.
“Xavier, kau yang menyeretku kemari. Jadi kau harus membantuku. Kau juga tanyai mereka. Catat semua hasil yang kau tanyakan lalu serahkan padaku. Akan memakan waktu lama jika aku melakukannya sendirian. Mungkin agen polisi sebentar lagi akan datang.” Jorell berbisik lirih di telinga Xavier.
Xavier pun terpaksa mengangguk meskipun dia tak bisa melakukan seperti yang dilakukan Jorell. Tapi dia akan membantu.
“Tuan Bernie dan Tuan Foster, Anda berdua ikut aku ke depan.”
Xavier sengaja mengajak ke depan agar terpisah dari Jorell. Dan Tuan Herald. Hal itu dilakukannya agar proses tanya jawab ini berlangsung dengan lancar.
***
“Tuan Herald, apa saja yang Anda lakukan selama satu hari ini di toko?” tanya Jorell lagi.
Pria berusia sekitar 27 tahun dengan tinggi sedang itu Kemudian menceritakan apa saja alibinya selama sehari.
Jorell mencatat apa yang diucapkan oleh Herald.
“Apakah Anda sebelumnya punya masalah dengan Tuan Richard atau Tuan Charlie?” Jorell kembali mengajukan pertanyaan.
Agak lama pria itu diam, tapi kemudian menjawab pada akhirnya.
“Aku tidak ada masalah dengan mereka berdua.”
Jorell perhatikan ekspresi dan mimik wajah Herald saat bicara. Apakah diucapkan pria itu benar atau tidak.
Beberapa kali sorot mata Herald menghindari tatapan Jorell. Membuat Jorell curiga padanya.
“Apakah Anda lulusan IT?”
“Bukan, aku lulusan mesin,” balas Herald.
“Apakah Anda mahir memasak?”
Herald melempar senyum lebar.
“Pertanyaan apa itu? Konyol sekali. Aku tak bisa memasak. Lagipula aku tak ingin bisa memasak meskipun aku punya waktu luang. Merepotkan.” Herald memaparkan.
Jorell kembali melemparkan beberapa pertanyaan lainnya. Hingga pada akhirnya dia melakukan sesuatu.
“Permisi, aku ingin melihat telapak tanganmu.”
Herald membuka telapak tangannya lebar. Dia tak tahu apa maksud Jorell dan membolak-balik tangannya.
Kukunya pendek dan bersih. Tak ada bekas luka di tangan.
“Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya. Silahkan duduk, Tuan untuk menunggu dua teman Anda.”
Herald kemudian duduk seperti yang diminta oleh Jorell.
***
Jorell kali ini duduk berhadapan dengan Foster.
“Tuan Foster, ada yang ingin ku tanyakan padamu. Tepatnya tentang aktivitas hari ini yang Anda lakukan di toko.” Langsung saja Jorell bertanya.
“Aku bekerja seperti biasa. Ke dapur beberapa kali untuk minum. Selebihnya banyak menghabiskan waktu di toko. Banyak pembeli.”
“Ya, aku pinjam uang padanya tiga bulan lalu dan masih kurang satu setoran,” papar Foster.
Jorell terus memperhatikan mimik muka dan sorot mata pria itu selama bertanya. Untuk melihat apakah Foster jujur atau bohong?
“Berapa besar pinjaman Anda?”
“Lucu sekali aku harus memberitahukan besar hutangku pada anak kecil sepertimu. Menggelikan. Bisa dibilang itu senilai harga dua motor.”
Jorell mulai berpikir. Seorang pelayan seperti Foster gajinya berapa dengan kisaran hutang sekkitar $ 5000, pasti akan sulit untuk melunasinya.
Apa benar angsurannya tiga kali saja? Jika benar pasti besar jumlah yang harus disetor plus bunganya besar sekali. Apa iya dia hanya kurang satu angsuran saja? Darimana dia bisa membayar setoran segitu banyaknya?
“Tuan, apa Anda punya pekerjaan sampingan lain selain di sini?” selidik Jorell untuk membuktikan keraguannya.
“Ya, malam hari aku membuka kafe kecil di jalanan besar dekat rumah.”
Keraguan Jorell terjawab sudah. Jadi pria itu bisa melunasi hutang dengan hasil dari kafe yang dibukanya.
“Jika boleh tahu menu apa saja yang Anda jual?”
“Aku spesialis France food. Jadi semua menu Perancis aku buat. Kau mampirlah ke kafeku lain waktu untuk mencobanya. Dijamin kau bakal ketagihan.”
Jorell hanya mengulas senyum tipis mendengarnya. Masih sempat-sempatnya Foster promosi.
Masakan France food diperlukan keterampilan khusus untuk membuatnya dengan skill yang mumpuni. Bisa jadi Tuan Foster ahli menggunakan pisau.
“Apakah Anda mengerti IT?” tanya Jorell. Karena hanya orang yang mengerti IT yang bisa menghapus rekaman dengan rapi tanpa terlihat.
“Ya, sedikit banyak aku mengerti itu. Bahkan aku yang bisa mendesain sendiri logo kafe juga pemasangan CCTV dan lain sebagainya di sana.”
Kembali Jorell meminta pria itu untuk membuka kedua telapak tangannya.
“Apa yang mau kau lihat ditanganku?” tanya Foster merasa aneh. Topik yang dibahas Jorell berbeda dengan yang dibahas sebelumnya.
Foster membuka telapak tangan, dan Jorell langsung memeriksanya.
Kukunya beberapa kotor. Mungkin terkena bekas sayur yang dipotong dan tidak bersih saat membersihkannya. Tunggu, ada bekas sayatan di jari telunjuk, seperti bekas teriris. Bukankah dia bilang ahli masak? Jika ahli, tak mungkin akan terluka seperti ini.
“Baik, Tuan Foster, terima kasih atas kerjasamanya yang baik. Silahkan duduk dulu dengan Tuan Herald. Nanti aku akan bicara lagi.”
Setelah bicara demikian, Jorell keluar dari ruangan itu menuju ke tempat Xavier berada. Tepat di saat dia masuk ke sana, Xavier sudah selesai bertanya pada Bernie.
“Ini catatan yang kau minta.” Xavier menyerahkan catatan kecil nya pada Jorell.
Jorell memeriksa catatan itu dan membacanya dengan teliti.
“Tunggu, Tuan Bernie. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan padamu.” Jorell menghentikan langkah Bernie yang akan keluar dari ruangan itu.
Pria itu berhenti dengan menautkan kedua alis gelapnya. Ternyata setelah mendapatkan banyak pertanyaan, masih ada juga pertanyaan yang harus dijawabnya.
“Ya, apa yang kau tanyakan?”
“Bolehkah aku melihat kedua telapak tanganmu?” ungkap Jorell.
Bernie menghela napas berat. Dia tidak tahu, apa maksud Jorell, tapi dia membuka telapak tangannya juga.
Jorell mengamati telapak tangan Bernie. Ada luka sayatan di sana. Juga kuku di bagian jari tengah kotor. Berwarna hitam dan terlihat kotoran itu menggumpal.
“Satu lagi, apa Anda mengerti soal IT? Apa Anda bisa memantau CCTV?” tanya Jorell.
“Ya, aku mengerti. Terkadang aku membetulkan CCTV di sini juga.”
“Baik, Tuan. Silahkan bergabung dengan yang lainnya di sana. Aku akan kembali beberapa saat lagi.”
Setelah Bernie bergabung dengan yang lainnya, Jorell kini nampak duduk berdua dengan Xavier.
Dia membaca kembali catatannya.
“Apa kau sudah menemukan pelaku yang menaruh pisau berdarah itu di dapur?” tanya Xavier.
“Aku masih harus memeriksa satu hal lagi baru bisa menemukan siapa pelakunya.”
***
Dear kk semua ... maaf ya slow update. Ibuku kecelakaan di tabrak tossa es tube, di jahit kepala dan kakinya. Ini nulis sambil nunggu. Minta donya ya kak. Biar cpet sembuh ibuku.
Terima kasih