
Dari informasi yang diberikan oleh petugas informasi rumah sakit, bukannya membuat Jorell puas dengan informasi yang disampaikan itu namun malah membuatnya semakin penasaran.
“Maaf, jika boleh tahu, apa aku boleh meminta alamat rumah Nyonya Scarlet Timothy dan Tuan Carl Watson?” tanya Jorell dengan mata yang berbinar.
Dalam hati dia merasa senang sekali, sudah mendapatkan informasi banyak yang cukup membantunya. Juga berharap akan mendapatkan informasi alamat orang tua Jorell Watson.
“Mohon waktu dan ditunggu dulu,” jawab Petugas informasi. Ia kembali masuk ke ruangan dan 10 menit lebih barulah dia kembali.
Jorell segera berdiri setelah melihat petugas reformasi kembali.
“Tuan, apakah Anda menemukan alamat Tuan Watson?” tanya Jorell berapi-api.
“Ini alamatnya.” Petugas informasi mengambil secarik kertas lalu menuliskan sebuah alamat yang didapatnya dari data rumah sakit.
“Terima kasih.”
Setelah mengantongi alamat rumah orang tua bayi yang dicarinya, Jorell keluar dari rumah sakit.
“Sudah hampir sore. Sayang sekali.” Jorell melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Rencananya ia akan mendatangi alamat rumah yang didapatnya barusan tapi tidak mungkin dia mencarinya sekarang.
“Aku harus pulang sekarang jika begitu.”
***
“Jorell kau dari mana saja baru pulang sore?” tanya Darcy menyambut di ruang tamu.
Jorell berhenti dan menatap ayahnya itu. Terlihat dari sorot matanya jika dia menahan rasa takut. Entah apa yang ditakutkannya. Takut akan dimarahi oleh Darcy? Atau takut akan diinterogasi?
“Aku main ke rumah Xavier, Ayah,” jelas Jorell.
Xavier adalah teman sebangku Jorell, yang juga merupakan teman baiknya. Dia sering main ke rumah temannya itu sepulang sekolah.
“Pekerjaanmu setiap hari main saja! Lihat nilai akademismu tak ada yang bagus. Semuanya di bawah nilai rata-rata kelas!” sentak Darcy marah.
“M-maaf, Ayah.”
“Hanya kata itu yang selalu kau dengungkan di telingaku!”
Kali ini Jorell tak berani menjawab lagi dan hanya menundukkan kepala saja. Jika dia menjawab mungkin akan berbuntut panjang. Tak hanya di marahi, tapi mungkin juga akan segera dihajar.
Terdengar suara tamparan di pipi Jorell, hingga pipi itu berwarna merah.
Darcy pergi setelah menampar dan membuat pipi Jorell berdenyut.
“Ayah ... kenapa kau menamparku lagi, padahal aku hanya pulang terlambat saja? Menurutku semua yang kulakukan tak ada benarnya di matamu.”
Jorell masuk ke kamar dengan dada yang terasa sesak. Menurutnya siksaan untuk dirinya di rumah ini tak ada akhirnya.
“Semoga saja besok aku bisa menemukan alamat rumah Tuan Watson, jika beruntung aku bisa bertemu dengannya. Mungkin juga aku bisa bertanya sesuatu padanya.”
Jorell menyandarkan punggungnya ke dinding. Sejenak dia bisa melupakan rasa sesak di dadanya tatkala memikirkan informasi yang didapatnya tadi dari Rumah Sakit Lucerne. Entah Kenapa memikirkannya saja seperti ada harapan, meskipun dia tidak tahu apa itu.
***
“Pulang sekolah kau mampir ke rumahku tidak?” tanya Xavier pada Jorell di luar gerbang sekolah.
“Tidak. Aku ada urusan. Mungkin besok aku akan main ke rumahmu.”
Jorell berpisah dengan Xavier Setelah lima meter berjalan bersama.
“Ke mana sebenarnya Jorell pergi?” Xavier hanya menatap punggung temannya itu yang terus berlalu menjauh darinya hingga hilang dari pandangannya.
Sedangkan Jorell sudah bisa ditebak, dia mencari alamat rumah Tuan Carl Watson.
“Sesuai dengan alamat yang diberikan petugas informasi itu di sini. Semoga saja aku beruntung.”
Jorell menarik cuckoo di depan pagar. Namun sudah tiga kali dia menariknya tak ada juga yang keluar dari rumah, bahkan tak ada tanda tanda-tanda pintu rumah itu terbuka.
“Hey, bocah siapa yang kau cari?” Seorang pria lewat dan melintasi jalanan rumah itu.
Jorell segera berbalik dan ada seorang pria yang berhenti tak jauh darinya.
“Tuan, aku mencari pemilik rumah ini, Tuan Carl Watson. Tapi sejak tadi aku menunggu di sini tak ada yang keluar dari rumah.”
“Sudah, kau pergi saja, berjam-jam berdiri di depan sini pun tak akan ada yang akan membukakan pintu untukmu. Percuma. Mereka sudah pergi dari rumah ini 15 tahun yang lalu.”
“Apa?” Jorell merasa lemas seketika, apa yang diharapkan tak sesuai dengan yang diinginkan.
“Apakah Anda tahu ke mana mereka pindah?”
“Aku tidak tahu mereka pergi begitu saja setelah putra mereka meninggal. Mereka ke luar negeri. Bahkan kantornya pun di tutup.”
Lagi, Jorell semakin tidak mengerti saja siapa sebenarnya sosok Carl Watson itu.
“Tuan Carl Watson punya kantor?”
“Ya, dia seorang detektif terkenal di sini. Padahal kantornya ramai tapi ditutup mendadak.”
Setelah bicara demikian pria tadi berlalu begitu saja.
“Tuan, tunggu sebentar.” Jorell mencoba mengejar namun tepat di saat dia akan sampai, ada seseorang yang menjemput pria tadi dan membawanya masuk ke mobil.
“Aku kehilangan informasi lagi.”
Jorell mendesau lemas setelah melihat mobil yang membawa pria tadi meluncur dengan cepat dan dalam sekejap kilat hilang dari pandangannya.
Dia merasa banyak sekali puzzle yang dia temukan dan harus ia satukan. Tapi dia bingung harus mulai dari mana.
Jorell memutuskan untuk berjalan tanpa arah di sekitar daerah itu hingga akhirnya dia berhenti dan menyadari sampai di sebuah pemakaman umum.
“Kenapa aku berjalan sampai ke sini?”
Sebenarnya dia ingin berbalik saja tapi entah kenapa ada dorongan kuat dari hatinya yang memaksanya untuk memasuki pemakaman tersebut.
Jorell berjalan hingga ke bagian ujung dan berhenti di depan sebuah makam yang tampak lama sekali serta tak terawat.
“Kasihan makam ini tak terawat. Biar aku bersihkan.” Ia membersihkan rumput yang tumbuh tinggi di makam tersebut.
Betapa terkejutnya dia setelah rumput itu bersih dan nampak batu nisan di sana, yang bisa dia baca tulisannya.
“Jorell Watson? Lahir dan meninggal tanggal 17 Juni 2017?” Seketika tubuhnya meremang membaca nama yang tertera pada batu nisan.
Dia pun sampai terduduk karena merasa kakinya lemas. Lagi, seperti ada yang menuntunnya kemari untuk melihat makam itu. Entah kenapa, dia merasa hatinya sesak sekali hingga tak bersisa rongga udara di sana untuk bernapas.
“Kenapa nama ini muncul lagi di depanku? Apakah aku harus mencarinya?”
Jorell tak tahu kenapa, ia merasa harus mengungkap nama Jorell Watson itu, bagaimanapun caranya.
“Adakah yang bisa memberiku petunjuk tentang semua ini?”
Jorell duduk di dekat makam. Dia menatap langit sembari berteriak.
“Siapa sebenarnya Jorell Watson?”
Saat itu awan tiba-tiba gelap dan hujan turun membasahi bumi yang dingin ini. Jorell berlari keluar dari makam dan berteduh, dengan pikiran terbang entah ke mana.