Different One

Different One
Eps. 31 Latihan Double



Jorell mencari jawaban yang paling tepat di antara semua jawaban yang menurutnya tepat. Dia menatap Guru baru di depannya dengan serius, juga mencoba membaca karakter pria itu.


Guru Rodrigo meski terlihat serius, tapi dia suka hidup santai.


Itu semua terlihat dari beberapa pajangan lukisan yang tergantung di dinding, lukisan bertemakan alam, juga tempat wisata. Mungkin itu adalah tempat lukisan yang sudah dikunjunginya atau ingin dikunjunginya.


“Aku suka dengan capoeira. Bagiku itu bukanlah satu seni bela diri tapi lebih pada olahraga juga di tempat terbuka yang nyaman,” tukas Jorell. Ia hanya berharap apa yang dilontarkannya barusan tepat.


Anak ini ... baru kali ini aku mendengar jawaban seperti itu. Biasanya mereka akan bilang untuk melindungi dirinya sendiri, batin Guru Rodrigo.


Dia merasa jawaban dari Jorell adalah satu-satunya jawaban yang berbeda dari yang lainnya. Dan perlu diketahui, jawabannya itu membuat hatinya puas.


“Baiklah, aku akan menerimamu menjadi muridku, Jorell.”


Jorell dampak mengulas senyum lebar ketika mendengar jawaban dari Guru Rodrigo Gonzales.


“Kapan aku bisa mulai latihan, Guru?”


“Latihan di sini tiga kali per minggunya di hari Senin, Rabu, Jumat. Untuk hari ini kau bisa melihat latihan kami. Dan dua hari lagi kau akan memulai latihan pertamamu,” terang Guru Rodrigo.


“Baik, Guru. Terima kasih atas kebaikan hati Anda.”


Setelahnya, Jorell mengikuti pria itu masuk ke tempat latihan bersama Xavier. Mereka berdua kemudian melihat murid dari guru Rodrigo yang sedang latihan.


“Xavier, kenapa kau tidak menghapus sekali di sini?” tanya Jorell.


“Aku belum tarik banyak seni beladiri capoeira.”


***


“Guru, kami permisi dulu,” pamit Xavier. Di sampingnya, Jorell memberikan penghormatan pada gurunya, sebelum mereka berdua pergi dari sana.


“Baiklah. Aku tunggu kedatanganmu di hari Jumat. Datanglah tepat waktu aku tak akan bisa mengikuti latihan,” timpal Guru Rodrigo.


Dia tak sabar ingin melihat jenis murid seperti apa murid barunya nanti. Karena menurut penilaiannya, Jorell benar-benar unik dan berbeda dari anak seusianya.


“Bagaimana menurutmu, kau akan mengikuti latihan capoeira, kan?” tegas Xavier.


Jujur, dia sedikit ragu pada Jorell karena anak itu tak menunjukkan minatnya, saat seperti mendaftar Muay thay.


“Tentu saja aku berminat. Sangat berminat. Sebelumya, aku sudah bilang padamu, bukan?” Jorell meninju kecil lengan Xavier.


“Aku tidak akan mengenalkanmu pada guru ahli Krav maga jika kau tidak benar-benar tertarik pada seni bela diri yang satu ini, nanti. Aku tidak suka seorang yang tidak serius menekuni bidang yang sudah dimintanya,” oceh Xavier.


“Kau ini bicara apa? Tentu saja aku tertarik. Aku malah paling tertarik dari dua seni bela diri lainnya,” kilah Jorell.


Menurutnya gerakan Krav maga sangat cepat dan juga mematikan. Tentunya menguasai seni bela diri yang satu ini dia harus mahir beberapa seni bela diri yang lain, agar hasil latihan yang didapatkannya semakin maksimal.


“Tapi, aku sarankan kau juga akan mengikuti latihan Krav maga ini bersamaku.” Jorell menyarankan.


Dia sendiri tak habis pikir, kenapa Xavier yang kenal banyak guru ahli hebat dalam seni bela diri dan juga memperkenalkan dirinya pada mereka, tapi tak mengikuti satu pun dari bela diri tersebut?


“Jika kau tak mengikuti satu pun beladiri, maka jangan salahkan aku jika aku berhasil mengunggulimu dan lebih kuat darimu,” imbuh Jorell.


“Hey! Tentu saja aku tak akan membiarkanmu mengungguli diriku! Aku akan mengalahkanmu dalam latihan Krav maga nanti.”


Jorell mengulas senyum tipis kala berhasil memancing temannya itu untuk ikut latihan bela diri.


***


“Bagaimana dengan latihanmu nanti, apa kau yakin bisa mengikuti latihan Muay Thay dan capoeira sekaligus?” tanya Xavier pada Jorell sebelum kelas berakhir.


“Aku tidak tahu itu. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin. Semoga saja tubuhku kuat menjalani dua latihan sekaligus,” timpal Jorell.


“Kau mau langsung latihan atau pulang dulu?”


“Pulang dulu, kau ikut ke rumahku dan temani aku latihan.”


“Aku belum makan siang,” tolak Xavier. Perutnya sekarang terasa dililit oleh kawat kuat hingga dia merasa lemas.


“Makan saja di rumahku. Di rumahku makanan melimpah.” Itu karena Darcy sering membawa beberapa makanan dari restoran miliknya ke rumah, di saat Betsy sibuk dan sempat masak untuk orang rumah.


***


“Jorell, kau mau ke mana?” hujat Darcy ketika Jorell keluar dari kamar. Tatapannya tajam seperti biasanya. Memang tak pernah pria itu menatap Jorell dengan lembut sekalipun.


“Aku mau ke rumah Xavier.”


“Ingat! Jangan pulang dengan badan babak belur lagi. Jika kau pulang sehabis berkelahi, sebaiknya kau tak pernah kembali ke rumah ini!”


Xavier yang saat itu ada di kamar Jorell keluar setelah menghabiskan tiga potong ayam goreng dan barulah dia bicara.


“Om Darcy, kami ada tugas kelompok. Jadi Jorell tak akan pergi kemanapun,” ulas Xavier menyela.


Bukannya dia tidak sopan ataupun termasuk kurang ajar pada orang yang lebih tua, tapi dia hanya ingin melindungi temannya saja. Dia tak ingin pria itu kembali memukuli Jorell.


“Oh, kau ada di sini rupanya, Xavier.” Darcy baru mengetahui jika temannya Jorell ada di rumah mereka.


Tidak mungkin baginya untuk melanjutkan aksi marahnya, karena ada Xavier di sana, bukan?jadinya ia segera menutup mulutnya.


“Ya, jika begitu kalian berdua harus belajar sungguh-sungguh.”


“Terima kasih, ayam gorengnya, Om Darcy. Ayam goreng Om memang tiada bandingannya.”


Setelah memuji masakan Darcy, Xavier dan Jorell kemudian keluar rumah bersama. mereka tidak mampir ke rumah seperti yang diucapkan Xavier tadi pada Darcy. Sebuuah ucapan bohong. Tapi mereka menuju ke rumah Guru Anuwat Suksom.


“Baiklah, kau latihan sekarang dan aku akan menunggumu. Ingat pesan dari ayahmu tadi, jangan sampai kau babak belur.” Jorell kembali mengingatkan agar temannya itu lebih hati-hati dan waspada setelah ini.


“Aku akan berusaha,” timpal Jorell.


Mereka berdua kini sudah ada di dojo tempat Jorell melakukan latihan.


“Salam, Guru.” Jorell menyapa pelatihnya sembari membungkuk berikan hormat.


“Bangkitlah, ayo kita mulai latihannya sekarang,” timpal Guru Anuwat Suksom.


Jorell pun mengikuti gurunya masuk ke sebuah tempat. Kali ini dia tidak harus memukul samsak seperti hari-hari sebelumnya.


“Kita belajar mempertebal pukulan. Mulai sekarang. Pukul aku secepat mungkin sampai aku jatuh,” perintah Guru Anuwat Suksom.


“Baik, Guru Anuwat Suksom.” Setelahnya, Jorell melancarkan pukulan bertubi-tubi pada gurunya yang dengan mudah ditepis oleh Guru Muay Thai tersebut.


Latihan berlangsung hingga 90 menit ke depan. Nampak Jorell sedikit belur babak sekarang, meski dia sudah mencoba untuk tidak terluka, namun tetap saja meski dia sudah menghindar serta melakukan serangan balik.


“Kita ke rumah guru Rodrigo Gonzales sekarang,” ucap Xavier seteiah berpamitan mereka selesai bercakap-cakap di luar rumah Guru Anuwat Suksom


***


“Jorell, kau memang menepati waktumu yang berharga ini. Bahkan kau nampak bersemangat hari ini,” ujar Guru Rodrigo. Dia menatap muka Jorell yang kini lebam tanpa tahu artinya.