Different One

Different One
Eps. 37 Gaby Menumpuk Hutang



Tuan Fisher kemudian berjalan melewati 10 blok rumah dari tempatnya saat ini, lalu berhenti di sebuah rumah yang ada di ujung jalan, rumah yang berada dekat dengan pintu keluar area perumahan.


“Apakah ini rumah Tuan Thomas?” tanya Jorell menatap rumah pembangunannya mirip dengan rumah mirip Tuan Fisher, hanya berbeda warna cat dindingnya saja.


“Ya, benar.”


Xavier yang saat itu berada di sana segera menarik cuckoo yang ada di depan pagar rumah.


Terdengar suara kokokan ayam nyaring setelahnya hingga beberapa saat setelahnya pintu pun terbuka.


“Tuan Fisher, ada apa mencariku?” sapa seorang pria dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah hitam yang menyembul di balik pintu.


“Ini, anak-anak ini ingin bertemu dan bicara denganmu.”


Tuan Thomas menatap dua anak lelaki yang berdiri di samping Tuan Fisher. Dia tidak mengenali Jorell, namun dia tahu Xavier.


“Xavier? Kenapa kau ingin bertemu denganku?” ungkap Tuan Thomas.


Pria itu langsung mengenali sosok Xavier, meski mereka jarang bicara. Mungkin hanya sesekali waktu saja mereka bicara jika bertemu di jalanan itu pun sekedar menegur sapa saja, tidak lebih. Selebihnya dia tahu karena Xavier merupakan putra dari keluarga kaya.


“Dua anak ini mau bertanya sedikit tentang Gaby padamu. Jangan kecewakan mereka. Aku masih ada urusan. Aku pergi dulu.” Tuan Fisher kemudian segala berlalu dari sana dan kembali ke rumahnya. Karena mungkin saja ada tamu lain yang datang ke sana.


***


Jorell menatap pria berkacamata yang berusia diawal 30 tahunan itu. Hanya mengamati saja, tak ada maksud lain.


“Baiklah apa yang mau kalian tanyakan padaku?” tanya Tuan Thomas langsung tak mau berlama-lama berurusan dengan dua anak kecil seperti mereka.


Dia juga mengajak Jorell dan Xavier untuk masuk ke rumah. Namun Xavier menolak.


“Di luar saja, Tuan Thomas. Ini hanya pembicaraan santai saja.” Tepat Xavier menolak duduk di ruang tamu dan dia lebih memilih duduk di teras saja.


Jorell dan Xavier kemudian duduk di teras. Tepatnya mereka tiga duduk di kursi kayu. Sebenarnya cuaca di luar dingin, namun Xavier tahu diri. Dia hanyalah orang luar. Jadi cukup baginya di luar saja.


“Silakan, apa yang kalian berdua mau tanyakan padaku?” Tuan Thomas mengawali pembicaraan dan langsung pada intinya.


“Ini masalah kematian Miss Gaby. Kami hanya ingin tahu saja apa yang dilakukan wanita itu sehari sebelum kematiannya,” papar Xavier.


Tuan Thomas diam dan menunggu apa yang ditanyakan oleh seorang bocah seperti mereka.


“Tuan, apakah pagi sebelumnya Miss Gaby baik-baik saja di tempat kerja, setelah kejadian ramai dengan Tuan Fisher hari ini?” Bukan Xavier yang bicara, tapi Jorell.


Dia kini juga membawa catatan kecil plus pen. Tak sengaja dia membawa catatan dan saat mengeluarkan rupanya bermanfaat juga.


“Pagi hari di kantor, Gaby bekerja seperti biasanya. Memang dia sedikit terbuka tapi setelah bertemu dengan banyak temannya di kantor sepertinya masalah itu terlupakan,” jawab Tuan Thomas, mencoba mengingat kejadian sehari sebelum kematian Gaby.


Pria itu duduk pesannya sembari membutuhkan kancing baju kemeja yang terbuka dua di bagian atas. Hal itu mengundang perhatian Jorell.


Apakah ada orang lain yang tinggal di rumah ini selain pria ini? Apakah dia baru saja mandi? Atau ada wanita di dalam sana?


“Tuan, apakah Miss Gaby punya teman yang biasa diajak bicara tempat kerja atau di lingkungan ini?” imbuh Jorell sembari menatap ke arah dalam rumah, untuk mengikis rasa curiganya.


“Tidak, dia tidak punya teman. Dia adalah winta introvert, jarang bersosialisasi dan cenderung menghabiskan waktunya sendiri.”


Xavier ikut memutar otaknya untuk membantu Jorell. Dia tahu dari ekspresi Jorell, jika temannya itu mengalami kebuntuan. Jorell nampak ingin bergegas pergi saja dari rumah ini namun tak bisa mengungkapkannya.


“Tuan, apakah Anda tahu jika Miss Gaby ternyata berhutang pada bank memakai nama Tuan Benjamin?” ceplos Xavier.


Bukan bermaksud mengumbar aib orang, apalagi orang yang sudah meninggal. Dia hanya ingin mendapatkan informasi lebih saja.


“Gaby juga berhutang pada Tuan Benjamin?” pekik Tuan Thomas tertegun.


Xavier mengangguk.


“Aku tidak menyangka saja dia punya hutang pada orang lain. Untuk apa sebenarnya dia menumpuk hutang?” Raut muka Tuan Thomas pun berubah seketika.


Raut muka kesal, kaget juga khawatir. Membuat Jorell curiga. Kenapa pria itu begitu emosi dalam bercerita tentang hutang.


“Tuan, di kantor, apakah Miss Gaby juga mempunyai hutang pada yang lain?” imbuh Jorell.


Tuan Thomas membuang pandangan kosong menatap lurus ke depan.


“Dia berhutang padaku. Dia berhutang sebesar $ 100.000 dan belum membayarnya sama sekali.”


Baik Jorell dan Xavier saling menatap karena terkejut. Rupanya Miss Gaby tak hanya berhutang pada pihak bank saja.


Jika dipikir, pinjaman pada bank saja sudah cukup besar. Lalu untuk apa berhutang lagi pada yang lainnya?


Yang lebih mengejutkan lagi tiba-tiba terdengar suara derap langkah dari dalam rumah yang muncul dengan tiba-tiba.


Ya, seorang wanita tiba-tiba berdiri di samping Tuan Thomas. Sesuai dengan dugaan Jorell sebelumya, ada seorang wanita yang tinggal di dalam rumah itu selain Tuan Thomas dan sekarang wanita itu muncul sendiri.


“Apa? Kenapa kau tak bilang padaku jika Gaby berhutang padamu sebanyak itu?” ujar wanita itu dengan nada tinggi dan emosi.


“Fiona? Kenapa kau menguping pembicaraanku?” Tuan Thomas merasa tak nyaman saja wanita itu mencuri dengar pembicaraannya.


“Apalagi yang kau sembunyikan dariku? Jangan-jangan kau punya hubungan dengan Gaby dan menyembunyikannya dariku?” sarkas Fiona.


Tuan Thomas sampai berdiri dari tempat duduknya. Masalah ini akan panjang jika kekasihnya itu turut campur masalahnya.


“Thomas, kau harus jelaskan semuanya padaku. Sudah Bukan Pertama kali ini kau menyembunyikan banyak hal dari ku. Jika kau terus bersikap begini Aku tak akan mau menikah denganmu!” ancam Fiona.


Thomas nampak mengusap dadanya yang terasa sesak. Harusnya tadi dia lebih hati-hati saat membahas tentang masalah hutang jangan sampai terdengar oleh wanitanya itu.


“Kalian berdua, maaf aku mau bicara dulu dengan Fiona. Mungkin besok kalian bisa temui aku lagi jika memang ada yang ingin ditanyakan,” tutur Tuan Thomas.


“Baik, Tuan Thomas. Terima kasih sudah mau membantu kami.” Jorell dan Xavier pun terpaksa pergi dari sana dengan tangan kosong.


Setelah dua anak itu pergi, terdengar suara nyaring wanita tadi yang berteriak marah juga memakai Tuan Thomas.


“Bagaimana ini, kita kembali tidak membawa hasil. Tuan Fisher pasti marah,” kilah Xavier.


Jorell tak merespons, dia kembali memutar otaknya untuk menemukan sedikit petunjuk. Di jalanan nampak kepala rumah yang ada di sana dilengkapi dengan CCTV.


“Hey! Kita bisa melihatnya dari rekaman CCTV!” pekik Jorell yang baru saja terpikirkan oleh ide tersebut.