
“Apa yang bisa menjadi petunjuk dari kemeja basah seperti itu?” kelakar Bernie.
Pria itu menatap Jorell dengan sorot mata yang tajam, layaknya pisau yang akan menguliti siapa saja yang ada di depannya.
“Dari dua baju yang mencurigakan, setelah dites hasilnya bajumu yang terbukti ada noda darah.”
“Mana bisa kau menemukan noda darah di pakaian berwarna merah?”
“Lihat ini.” Jorell menunjukkan baskom yang dipakai untuk merendam pakaian Bernie tadi.
Bekas air dalam baskom tersebut berwarna merah. Campuran air hangat dengan garam dan deterjen melunturkan noda darah dalam waktu singkat.
“Bagaimana jika warna merah pada baskom itu bukan warna merah dari darah, tapi warna pakaian yang luntur?” bantah Bernie. Berpikir Jorell hanyalah seorang anak kecil ingusan kemarin sore.
“Tolong yang lain, cium aroma apa ini?” Jorell menunjukkan baskom yang di bawanya pada Foster dan tiga orang lainnya di sana.
Baik Foster, Herald, Xavier dan Tuan Charlie kemudian menghirup aroma baskom tersebut satu per satu.
“Baunya amis,” ujar Herald yang pertama kali menghirup aroma tersebut. Dia lalu menyerahkan baskom tersebut pada Foster.
“Ya benar, aromanya amis. Anyir darah.” Foster menanggapi.
Tuan Charlie dan Xavier pun juga mengemukakan pendapat yang sama, setelah menghirup aroma air pada baskom tersebut. Jika itu bukan darah maka akan tercium aroma seperti bensin.
“Tapi, seharian tadi, Bernie mengenakan kemeja merah tersebut. Anehnya, aku tak mencium aroma amis dari tubuhnya,” tutur Herald.
Pagi tadi dia sering berdampingan dengan Bernie saat bekerja. Harusnya dia juga mencium aroma anyir ketika berada di dekatnya, namun dia tidak menemukannya.
“Itu karena parfum ini.” Jorell menunjukkan parfum sebagai barang bukti yang ditemukannya dari loker Bernie tadi.
Parfum yang ditemukan Jorell bukanlah parfum biasa. Setelah disemprot, aroma parfum tersebut sangat kuat. Campuran alkoholnya sangat tinggi yang menyebabkan parfum itu mudah menguap serta bisa mengusir bau tajam seperti apapun, termasuk bau darah.
“Hey, anak kecil. Semakin lama bicaramu makin ngelantur!” hardik Bernie.
“Tuan Bernie, aku bukan asal bicara tapi berdasarkan bukti yang ada. Mungkin bukti itu menurutmu kurang kuat tapi aku punya bukti lain.”
Bernie nampak menegang saat Jorell menunjukkan sejenis obat merah untuk mengobati luka.
“Luka gores di tangan kananmu bisa menjadi buktinya. Kau tidak mahir menggunakan pisau tajam. Apalagi menggunakan pisau yang baru kau beli itu. Salah pegang bisa menggores jari telunjuk. Selain itu terdapat luka gores di tengah telapak tangan. Hal itu bisa disebabkan karena kau buru-buru menarik pisau yang sudah menancap di tubuh dan salah memegang yang menyebabkan luka gores di tengah telapak tangan.” Jorell memaparkan panjang lebar.
“Lalu kau membawa obat ini untuk mengobati luka barumu itu,” imbuh Jorell.
“Dasar anak kecil pembohong! Lidahmu pandai bersilat. Hanya karena itu saja tak bisa membuatku menjadi tersangka utama. Bahkan polisi saja sudah memeriksa kamera CCTV di sini. Tapi apa? Mereka menetapkan Tuan Charlie sebagai tersangka utamanya.”
“Itu karena mereka para agen polisi berhasil kau tipu.”
“Maksudmu bagaimana Jorell?” ceplos Xavier yang menyimak penjelasan dari temannya itu dengan baik.
“Rekaman CCTV di sini sudah diedit. Ada satu bagian yang dihapus kemudian disambung bagian lainnya dengan paksa. Namun tetap saja itu tak bisa membodohi diriku.”
Bernie nampak diam setelahnya.
“Tapi Bernie tidak tahu - menahu masalah CCTV. Apalagi sampai menghapus rekaman segala. Bagaimana mungkin itu terjadi?” tanya Tuan Charlie.
“Bernie, katakan padaku. Apa benar kau yang membawa pisau berdarah itu kemari?” tanya Tuan Charlie.
Bernie nampak tertunduk ketika bosnya menatap dirinya.
“Lalu kenapa kau membawa pisau itu kemari dan membuatku menjadi tersangka utamanya?” Tuan Charlie yang biasanya sabar dan kalem, kali ini nampak menatap dengan tajam pada Bernie.
Dia tak percaya dan tak menyangka saja salah satu pelayan tokonya melakukan fitnah padanya. Padahal sama ini dia selalu baik pada setiap pekerja yang ada di tokonya, termasuk Bernie.
“Tuan Charlie, percayalah. Aku tak bermaksud membawa dan menyimpan pisau bendarah itu di sini. Semua itu murni kecelakaan. Aku panik dan bingung ke mana akan membuangnya. Saat Aku berjalan untuk membuang pisau tersebut tiba-tiba saja pisau itu jatuh di sana. Tepat di saat aku akan mengambilnya, Herald masuk ke dapur. Jadi terpaksa aku meninggalkannya begitu saja di sana.” Bernie menjelaskan panjang lebar.
Dua pelayan lainnya yang ada di sana sungguh tak menyangka sama sekali jika temannya merupakan seorang pembunuh.
“Tapi kau tidak punya hutang pada Richard, bukan? Lalu kenapa kau sampai menghabisi nya?” cecar Tuan Charlie.
Bernie menarik napas panjang dan berat sebelum menjelaskan apa motif utamanya melakukan semua itu.
“Adikku. Dia mempunyai hutang banyak pada Richard. Dia masih membayarnya sepertiga bagian untuk proyek bisnisnya yang dirintisnya dan ternyata bisnis itu gagal. Dia butuh waktu untuk melunasi. Tapi Richard, setiap hari datang untuk menagih bahkan terus mengancam setelah menyita semua barang milik adikku. Siapa yang sabar menghadapi pria seperti dia?!”
Dua pelayan yang ada di sana sangat menyayangkan tindakan Bernie itu. Sebenarnya tak perlu sampai membunuhnya. Cukup menghajarnya saja sampai babak belur mungkin Richard akan tahu rasa. Tapi semua sudah terjadi.
***
“Jangan berusaha untuk kabur dan bekerja samalah dengan kami!” Beberapa petugas kepolisian datang ke toko Tuan Charlie, untuk menangkap pria tersebut.
Borgol yang sudah disiapkan oleh agen polisi dibuka dan siap untuk mengikat tangan Tuan Charlie di sana.
“Tunggu, Tuan. Bukan Tuan Charlie yang merupakan pelaku pembunuhan dari Tuan Richard, tapi pria ini.” Jorell menjelaskan sembari menunjuk Bernie.
Agen polisi itu datang ke sana tidak sendirian, dia datang bersama satu rekan lainnya.
“Apa benar yang dikatakan oleh bocah ini?” tanya agen polisi menunjuk Jorell.
Mau tak mau, akhirnya Bernie mengakui semua jika dirinyalah yang merupakan pembunuh Richard.
Agen polisi di sana menatap takjub pada Jorell yang bisa mengungkap pelaku sebenarnya setelah melepaskan Tuan Charlie.
“Ayo, ikut kami ke kantor polisi dan jelaskan semuanya di sana!”
Agen polisi tersebut ganti memborgol Bernie, juga menyeret pria tersebut masuk ke mobil patroli.
Dua pelayan toko dan Tuan Richard menatap Bernie dengan tatapan kosong.
“Ternyata hutang bisa merubah kepribadian seseorang dan membuatnya sampai kalap begini,” desau Herald sangat menyayangkan perbuatan Bernie.
“Terima kasih Jorell, kau sudah membantuku,” ujar Tuan Charlie beralih menatap Jorell yang berdiri di samping Xavier.
“Aku tak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu dan menggantinya dengan apa?” imbuhnya.
Jorell mengulas senyum tipis pada Tuan Richard.
“Anda cukup membalasnya dengan memperbaiki ini.” Jorell mengeluarkan jam tangannya lalu menyerahkannya pada Tuan Charlie.