
“Ya, benar. Di rumah Tuan Fisher pasti ada CCTV juga,” seru Xavier.
Kenapa dirinya juga tak terpikirkan pada hal itu? Hal sepele begitu dia sampai melupakannya. Mungkin karena panik yang menyergap, sampai dia melupakan sesuatu yang ada di depan mata.
Mereka berdua segera kembali ke rumah Tuan Fisher. Tentu saja pria itu langsung menyambutnya.
“Kalian berdua sudah kembali. Jadi apa kalian menemukan hasilnya siapa pelaku pembunuhan putriku?” cecar pria itu dengan banyak pertanyaan yang digabung menjadi satu.
Xavier dan Jorell saling tatap. Pikiran mereka berdua sama, khawatir jika pria itu marah pada mereka karena kembali tanpa membawa hasil.
“Sebenarnya, Tuan Thomas belum selesai memberikan penjelasan, namun ada seseorang yang harus dia urus. Jadi itu sebabnya kami kembali,” bukan Jorell yang bicara, tapi Xavier.
Ia tahu jika temannya bicara lebih dulu maka mungkin saja yaitu akan marah pada Jorell. Tapi Tuan Fisher takkan mungkin marah pada dirinya, atau ayahnya yang akan bertindak hingga setelah itu ketakutan sendiri.
“Begini, Tuan. Jika boleh kami ingin melihat CCTV di rumah ini untuk melihat siapa saja yang datang kemari,” ujar Jorell segera menyahut perkataan Xavier.
“CCTV? Di rumahku benda itu sudah rusak.”
CCTV di rumah Tuan Fisher, emang sudah tak berfungsi lagi sejak dua bulan yang lalu. Entah kenapa benda itu tiba-tiba rusak sendiri tanpa sebab. Dan Sampai detik ini dia belum memperbaiki kamera pengintai tersebut.
“Astaga! Bagaimana bisa kami mendapatkan petunjuk tanpa adanya rekaman CCTV?” ceplos Xavier lagi, tanpa takut bertanya dan peduli dengan jawabannya.
Jorell memutar otak kecilnya. Dalam diam, sepasang bola matanya terus bergerak aktif menyapu ke sekitar. Tepatnya dia menguji pandangan pada beberapa rumah yang mengapit rumah Tuan Fisher. Dari empat atau lima rumah yang ada di sekitarnya mungkin saja dia bisa melihat atau menemukan petunjuk.
“Xavier sebaiknya kita tidak membuang waktu percuma begitu saja.” Jorell segera menarik tangan temannya itu lalu bergegas menuju ke sebuah rumah.
“Kenapa kau menyeretku kemari?” ungkap Xavier sedikit kesal. Tanpa pemberitahuan tiba-tiba saja Jorell langsung mengajaknya pergi.
“Lihat ke atas!” Jorell menunjukkan beberapa CCTV yang ada di rumah para tetangga Miss Gaby. “Kita tetap bisa melihatnya dari sini.”
Xavier hanya membuang napas panjang setelah mengetahui apa maksud Jorell mengajaknya pergi.
“Kau tahu tidak siapa pemilik rumah ini?” lontar Jorell. Sudah pasti dia tidak tahu-menahu sama sekali siapa pemilik rumah tersebut, karena memang bukan warga situ.
“Tuan Blerim. Biar aku yang tanya padanya dan meminta izin melihat rekaman CCTV.” Xavier berinisiatif sendiri dan cepat tanggap. Tentu saja dia tahu nama warga di daerah sana.
Anak itu kemudian menuju ke pintu pagar berwarna coklat gelap, lalu menarik cuckoo yang memperdengarkan bunyi kokokan ayam panjang.
“Halo, Xavier. Ada apa kau mencariku?” sapa seorang pria yang menuju ke pagar berapa detik setelah cuckoo berbunyi.
“Tuan Blerim, aku dan temanku kemari untuk minta izin melihat rekaman CCTV dari rumahmu yang merekam aktivitas di rumah Tuan Fisher. Apakah itu boleh?”
Pria yang berusia sama dengan Tuan Fisher atau mungkin dua atau tiga tahun di atas Tuan Fisher itu menatap Jorell dan Xavier bergantian.
“Untuk apa kalian ingin melihat rumah Tuan Fisher?”
“Ini ada kaitan erat dengan kematian Miss Gaby, Tuan Blerim,” balas Xavier.
Pria itu nama tak mengerti dengan apa yang diucapkan Xavier.
“Begini, Tuan ...” Jorell ikut bicara dan dia menjelaskan pilihan tentang kematian Miss Gaby yang bukan merupakan kasus bunuh diri tapi merupakan kasus pembunuhan yang tersamarkan.
Tuan Blerim kemudian mengajak dua anak lekaki itu masuk ke rumahnya, ke tempat pengendali CCTV. Pria gemuk itu segera memutar tayangan CCTV sehari sebelum kejadian meninggalnya Gaby.
Nampak Xavier dan Jorell memperhatikan dengan seksama ketika rekaman CCTV mulai diputar.
“Itu kan ...” Jorell melihat beberapa orang masuk ke rumah Tuan Fisher. Dua orang pria dan dua orang wanita.
Salah satu wanita yang masuk ke sana adalah Fiona, kekasih Thomas.
“Sayang sekali, dari sudut rumah ini kamera CCTV hanya menangkap sampai bagian itu saja,” sesal Tuan Blerim.
“Tak apa, Tuan Blerim. Terima kasih sudah membantu kami. Selanjutnya kami akan mencoba melihat rekaman CCTV dari sudut rumah yang lain.” Xavier Kemudian berpamitan pada pria gendut tersebut.
Dia dan Jorell lalu segera pergi ke yang ada tempat di depan rumah Tuan Fisher, rumah Tuan Ehlii. Sama seperti sebelumnya mereka berdua meminta izin terlebih dahulu untuk melihat rekaman CCTV dari rumah pria tersebut.
“Kenapa Nona Fiona main ke rumah Miss Gaby lebih lama daripada teman lainnya yang berkunjung ke sana?” pekik Xavier.
Dari rekaman CCTV tersebut kembali menampilkan sosok Fiona yang berkunjung ke rumah Gaby. Dia keluar dua puluh menit sebelum Gaby meninggal, dan merupakan pengunjung yang keluar paling akhir diantara tiga orang lainnya yang datang ke sana.
“Terima kasih, Tuan Ehlii sudah membantu kami,” tutur Xavier.
Setelah dari sana, mereka kembali berkunjung ke rumah tetangga lainnya yang berada di samping Barat rumah Tuan Fisher, rumah Tuan Erlov.
Xavier menyampaikan maksud kedatangannya pada Tuan Erlov jika dia ingin melihat CCTV dari sudut rumah pria itu.
***
“Bagaimana Jorell menurutmu? Dari semua rekaman CCTV tadi menunjukkan empat orang yang datang ke rumah Miss Gaby. Apakah kita perlu memeriksa mereka satu per satu?” tukas Xavier. setelah selesai mendengarkan CCTV dari rumah Tuan Erlov juga rumah Tuan Altherr.
“Aku juga tidak tahu. Tapi sebaiknya kita segera periksa saja Nona Fiona. Jika memang dia tak terbukti bersalah, maka kita bisa memeriksa tiga orang lainnya. Bagaimana menurutmu?”
Jorell ingin tak membuang tenaga banyak untuk mengungkap lagu yang sebenarnya. Selain dibutuhkan waktu untuk menghubungi tiga orang lainnya yang mungkin tak semuanya dari mereka bisa hadir atau berhalangan, juga dikarenakan waktunya terbatas.
“Tunggu apa lagi? Ayo kita kembali ke rumah Tuan Thomas. Kita temui Nona Fiona.” Xavier bergegas.
Ia bahkan sampai menarik tangan Jorell yang masih membeku di tempat entah karena apa.
“Jangan cepat-cepat jalannya,” tukas Jorell.
Bukannya dia tak mau menemui wanita itu, tapi dari sikap yang ditunjukkan tadi sudah bisa diketahui karakter Fiona adalah wanita yang sensitif dan pemarah. Jorell sendiri sedang mengasah otak kecilnya mencari cara bagaimana berhadapan dengan tipe orang seperti itu agar introgasinya nanti berjalan lancar tanpa menyinggungnya sama sekali.
Xavier tiba terlebih dulu di rumah Tuan Thomas. Dia segera menarik cuckoo berulang kali, hingga pria itu keluar dari rumahnya.
“Kalian lagi? Apakah masih ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan?” tanya Tuan Thomas.
Jorell menggelengkan kepala.
“Tuan, sebenarnya kami ingin bertemu dengan Nona Fiona. Apakah dia masih ada di sini?” Xavier memberanikan diri.
“Fiona?!” pekik Tuan Thomas merasa aneh saja. Kenapa kedua anak itu bukannya mencari dirinya tapi malah mencari kekasihnya.