Different One

Different One
Eps. 13 Seratus Persen Kopian



Jorell meluangkan waktunya di malam hari untuk melakukan perjalanan ke masa lalu. Dia nampak bersemangat karena ingin segera menemukan dua nama yang dicarinya itu.


“Aku ingin pergi ke tanggal 10 Juni 2016.” Jorell lalu mengetikkan tanggal tersebut di jam tangannya.


Jarum jam berputar mundur, lama sekali hingga berhenti.


“Apakah aku sudah berpindah waktu?” Jorell yang sedari tadi mengunci pandangannya hanya pada jam tangannya saja, kini beralih menggerakkan cepat sepasang bola matanya untuk menyapu sekitar.


Suasana di sekitar tampak berbeda. Bahkan saat ini yang dia injak bukanlah sebuah lantai, melainkan sebuah tanah berumput hijau.


“Di mana aku sekarang? Apakah rumah ini belum berdiri waktu itu?” Bahkan di sekitar tempatnya berdiri saat ini, tak ada rumah satu pun yang berdiri di sana.


Jorell beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Dia menyusuri jalanan hingga menemukan jalan raya. Jalanan raya itu di sepanjangnya terdapat rumah berjajar di sana.


“Jadi ini Swiss 17 tahun yang lalu.” Jorell berhenti di tepi jalan, menatap ke sekeliling. Sungguh kota ini berbeda sekali dengan kota tempatnya berada di waktunya sekarang.


Jorell tak henti-hentinya berdecak kagum dan memandangi tempat yang dipijaknya.


Oh, aku kemari punya tujuan, bukan untuk mengagumi alam semesta ini. Jorell, sadarlah.


Ia pun segera tersadar setelah mengingatkan dirinya sendiri.


“Aku harus menemukan Tuan Carl Watson di sini.” Dia teringat tujuan awalnya datang kemari.


Jorell yang sama sekali tak punya petunjuk terus berjalan menuju ke pusat keramaian, sengaja dia menuju ke sana agar bisa bertemu dengan banyak orang.


“Permisi, Tuan. Apakah Anda tahu di mana rumah Tuan Carl Watson?” Jorell berhenti dan bertanya pada seorang pria yang barusan dia temui.


Anehnya pria itu tak merespon pertanyaannya. Bahkan melihatnya saja tidak.


“Tuan, permisi.” Jorell mencoba untuk lebih mendekat, barangkali saja pria yang ditanyainya itu kurang jelas pendengarannya.


Lagi, pria itu tidak meresponnya. Padahal Jorell bicara dari jarak lebih dekat, juga dengan suara yang lebih lantang daripada sebelumnya. Menatap saja pria itu tidak, bahkan seperti tidak melihatnya.


“Aneh sekali.” untuk membuktikan keraguannya, Jorell sampai menyentuh tangan pria lawan bicaranya itu. Namun ternyata pria itu jaga tidak merespon sentuhannya. “Apakah ini artinya aku tidak terlihat di sini? Tak ada yang bisa melihatku?”


Jorell kembali berjalan. Di sana banyak orang, dan dia mencoba bicara dengan orang lain lalu ia mengulangi apa yang dia lakukan barusan. Sayang, sudah lima orang yang dia temui dan mereka semua tak merespon panggilannya.


Jadi di waktu ini aku tak terlihat. Jadi aku seperti hantu di sini dan hanya bisa melihat pergerakan mereka semua. Itu berarti masa depan tak bisa dirubah, batin Jorell menyimpulkan.


Semburat kecewa terpantul di wajah yang sebelumnya senang. Tentu saja dia sedih, karena artinya dia harus berusaha keras untuk menemukan nama yang dicarinya sendirian. Padahal, ia mengira bisa bertanya pada siapapun yang ditemuinya di masa lalu. Ternyata tidak semudah itu.


***


Jorell berjalan menuju ke alamat rumah yang diingatnya dari alamat Rumas Sakit Pusat Lucerne.


“Di sini alamat yang waktu itu. Tapi aneh sekali, rumah yang pernah kulihat waktu itu belum berdiri di sini. Itu berarti, Tuan Carl Watson tinggal di tempat lain. Oh ...” Jorell kembali mendesau panjang setelah melakukan pencarian yang memakan waktu lama, namun ternyata belum menemukan petunjuk juga.


Jorell terus berjalan semampu yang dia bisa. Dia kembali melewati banyak orang, dan mencoba mendengarkan percakapan mereka.


“Kau mau ke mana?” Seorang pria bertanya pada pria lain.


“Aku ada masalah. Aku akan pergi menemui Detektif Carl. Mungkin dia bisa membantuku. Kau sendiri mau ke mana?”


Jorell mengerutkan keningnya mendengar nama itu disebut. Apakah itu benar nama yang dicarinya?


Apakah yang mereka maksud adalah ayahku saat ini? Tapi mereka memanggilnya Detektif Darcy. Apakah ayah dulunya memang seorang detektif?


Jorell baru mengetahui itu. Saat ini Darcy sudah tidak membuka biro detektifnya lagi, semenjak kasus terakhirnya dengan Detektif Carl. Setelah lima tahun dibekukan, saat dia membuka kembali kantornya tak ada klien yang percaya. Maka dari itu dia menutupnya total. Kemudian beralih profesi menjadi pemilik restoran.


Dua orang pria tadi berjalan dan berpisah karena memang tujuan mereka berbeda, membuat Jorell bingung. Dia bertemu dengan masa lalu ayahnya juga Tuan Carl yang dicarinya.


“Aku harus ke mana dulu?” Jorell menatap dua pria itu semakin menjauh. Hingga dia pun memutuskan untuk mengikuti satu orang karena dia tak mungkin mengikuti dua orang itu sekaligus. “Baiklah, aku akan mengikuti pria yang akan pergi menemui Detektif Carl.” Jorell memutuskan.


Ia kemudian berlari mengikuti pria tadi dan mengabaikan pria yang mencari ayahnya, Darcy.


“Apakah di sini kantor Tuan Carl berada?” Jorell berhenti setelah pria yang diikutinya tadi membawanya ke sebuah kantor.


Ada tulisan besar yang terpampang di depannya, 'Biro Detektif Carl'.


Tanpa menunggu lama, Jorell mengayunkan kakinya mengikuti pria tadi masuk ke kantor tersebut.


“Di mana Detektif Carl?” ujar pria tadi setelah duduk di dalam.


Ada seorang pria muda di kantor itu, sebelumnya Jorell mengira dia adalah Tuan Carl.


“Tuan Carl masih ada urusan di luar tapi mungkin sebentar lagi kembali.”


Jadi mungkin dia adalah asistennya Detektif Carl, batin Jorell. Maka ia pun menunggu di tempat itu dengan harap cemas.


30 menit berlalu...


“Tuan, apa yang membawamu kemari?” Terdengar suara di ujung pintu masuk.


Tak hanya klien tadi saja yang menoleh ke sumber suara itu, namun Jorell juga ikut menatapnya.


Seorang pria berperawakan tinggi, dengan sorot mata tegas dan cerdas masuk ke ruangan setelah melepas topi yang dikenakannya.


“Astaga! Pria ini ... pria ini mirip sekali dengan diriku.” Jorell sampai tersentak kaget setengah mati, melihat sosok pria itu.


Jika dilihat pria itu 100% mirip dengan dirinya. Mulai dari bentuk alis, bentuk hidung dan warna mata mereka sama. Bahkan rambut mereka pun sama persis.


“Apakah aku bermimpi? Atau berhalusinasi?” Jorell sampai tak percaya dengan apa yang dilihatnya, hingga dia terjatuh karena kedua kakinya terasa lemas tak bertenaga.


Dia yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya kembali mempertajam telinganya mendengarkan percakapan tiga orang itu di kantor.


Setelah mendengarkan percakapan mereka bertiga, Jorell mencoba berdiri kembali dan merapat ke meja.


Ia mencoba untuk menarik berkas yang ada di meja, namun sayang, berkas itu jatuh ke lantai.


“Maaf, Detektif, aku tak sengaja menjatuhkan berkas ini. Aku akan merapikannya.” Pria yang merupakan asisten itu sekarang mengambil berkas yang jatuh itu kembali dan menaruhnya ke meja.


“Apakah aku bisa menyentuh semua barang yang ada di waktu ini?” Jorell kembali tersentak kaget.


“Leo, carikan aku informasi mengenai ini.” Detektif Carl menyerahkan berkas yang dibawanya.


Sungguh Jorell masih diam membeku menatap Detektif Carl.