
Di rumah, Jorell berpapasan dengan Darcy.
“Jorell, apa yang dikatakan oleh seorang repirter di berita itu benar menyebutkan namamu?” tanya Darcy.
Dia menghentikan langkah Jorell dan membuat anak lelaki itu menatap sepasang bola matanya.
Jorell hanya mengangguk tanpa bicara. Bahkan dia hanya sebentar saja menatap sepasang manik mata Darcy kemudian berlalu meninggalkannya. Sungguh, dia tak ingin melakukan kontak dengan pria itu saat ini. Entah karena malas atau muak.
“Ada apa dengannya? Aku merasa dia sedikit aneh.” Darcy sampai berbalik dan menatap punggung Jorell yang kini sudah berlalu pergi.
Menurutnya tatapan mata Jorell sedikit berubah dari biasanya. Biasanya sorot mata anak itu adalah sorot mata ketakutan tapi kali ini berubah menjadi sorot mata cuek juga tenang.
***
Dua jam setelahnya terdengar suara cuckoo berkokok di depan rumah Jorell.
Klak! Terdengar suara pintu terbuka setelahnya tak sampai satu menit.
“Om Darcy ...” Ternyata bukan Jorell yang menyembul dari balik pintu tapi ayahnya.
“Jorell ada, Om?”
“Di kamarnya. Masuk saja.”
Darcy membuka pintu lebar, membiarkan Xavier masuk.
Langsung saja Xavier masuk ke kamar Jorell dengan mendorong pintunya yang tertutup sampai terbuka. Dia sudah biasa keluar masuk rumah Jorell seperti itu. Baginya rumah Jorell, seperti rumah kedua baginya.
“Kau Xavier, rupanya.”Jorell menatap pintu yang terbuka.
Xavier hanya menunjukkan deretan gigi putihnya lalu menutup pintu.
“Ada apa?” tanya Jorell merapikan tumpukan buku di meja.
“Kau tidak latihan bersama Guru Anuwat Suksom?”
“Astaga! Aku lupa,” pekik Jorell.
Jorell segera bangkit dari tempat duduk. setelah melihat semua mejanya rapi dia berganti baju dia pun segera keluar kamar.
“Kita berangkat sekarang,” ajak Jorell menutup kembali pintu seorang pun di rumah yang mengetahui dia keluar.
***
Mereka berdua tiba di sebuah rumah dengan nuansa cat warna hijau.
Jorell menekan di dekat pintu. Membuat kamera pintar yang ada di rumah itu menyala seketika.
“Kau Jorell dan Xavier?” ucap Guru Anuwat Suksom, dari kamera pintar.
“Benar, Guru.” Meski tak bertemu secara langsung, Jorell memberi hormat dengan membungkukkan badan.
“Masuklah kalian berdua.”
Pintu terbuka setelah kamera pintar mati. Guru Anuwat Suksom muncul dari balik pintu.
Xavier yang sudah akrab dengan pria itu, memimpin jalan dan masuk duluan. Dia sendiri tak sengaja mengenal sosok guru Muay Thay itu saat pernah mengalami kesulitan dibegal oleh beberapa orang perampok. Beruntung, dia diselamatkan olehnya. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat seperti sekarang ini.
“Ikuti aku,” titah Guru Anuwat Suksom memimpin jalan.
Pria itu terus berjalan hingga ke belakang rumah dan berhenti di sebuah bangunan lain, sebuah area terbuka dengan banyak samsak tergantung di salah satu sisi.
“Kita akan mulai latihannya sekarang. Apa kau siap, Jorell?” tanya Guru Anuwat Suksom.
“Siap, Guru!”
Jorell kemudian mengikuti ke mana Guru Anuwat Suksom pergi. Dia nanti di depan dua samsak besar berwarna hitam.
“Jangan tegang, Jorell.” Bukan Guru Muay Thay yang bicara saat ini tapi Xavier.
Meski tidak ikut latihan, tapi dia menemani dan melihat tak jauh dari Jorell berada.
“Fokus, Jorell.” Guru Anuwat Suksom mengingatkan.
Sebenarnya itu adalah teguran, karena Jorell mengalihkan pandangan matanya pada Xavier.
Jorell kemudian segera menetap kembali guru bela dirinya. Mereka mulai berlatih saat itu juga.
“Pukul samsak ini selama lima belas menit tanpa henti. Aku ingin tahu seberapa banyak pukulan yang kau hasilkan,” ceplos Guru Anuwat Suksom.
Tanpa menjawab dan hanya mengangguk saat meresponnya, Jorell kemudian mengepalkan kedua tangannya erat. Dengan cepat dia memukul samsak yang ada di hadapannya secara dengan tangan kiri dan kanan bergantian.
“Terus, jangan berhenti.” Guru Anuwat Suksom memberikan semangat di kala muridnya mulai bercucuran keringat juga berhenti untuk menarik napas panjang.
Bahkan pria itu juga menggenggam alat penghitung di tangannya. Dia terus menghitung berapa jumlah pukulan Jorell.
“Berhenti!” perintah Guru Anuwat Suksom.
Waktu tepat berjalan selama lima belas menit. Nampak Jorell menghela napas pendek dengan cepat sembari mengusap keringatnya yang terus meleleh dengan handuk kering.
Dia membawa handuk dari rumah untuk persiapan jika dia akan mengeluarkan banyak keringat saat berlatih.
“Jorell, dalam waktu lima belas menit kau membuat seratus pukulan. Itu tidak buruk, untuk pemula seperti dirimu. Standarnya dalam lima belas menit kamu harus mencapai jumlah dua ratus pukulan,” papar Guru Anuwat Suksom.
"Baik, Guru. Aku akan berusaha lagi.”
“Selain jumlah pukulanmu kurang, pukulanmu itu tidak berisi sama sekali.”
Padahal tali samsak di depan Jorell, hampir putus. Tapi Guru bilang itu masih kurang.
“Begini cara memukul yang benar.”
Guru Anuwat Suksom kemudian memegang tangan Jorell. Dia mengepalkan tangan Jorell kemudian menariknya keras.
Hiss! Jorell sampai berdesis karena merasa tulang tangannya seperti mau patah saja saat guru menarik tangannya hingga mengeluarkan suara gemeretuk.
“Baik, sekarang lihat aku.”
Guru Anuwat Suksom mengepalkan tangannya erat. Dia lalu Mengayunkan tangannya itu dengan cepat menghantam samsak lain berwarna merah gelap, hingga tali samsak itu sampai putus dan membuat samsat jatuh ke lantai.
Guru Anuwat hebat sekali. Hanya dalam sekali pukul, samsak itu terlepas dari tempatnya.
“Sekarang tirukan gerakannya ku ajarkan padamu barusan.”
“Baik, Guru.”
Jorell mengikuti gerakan yang diajarkan oleh gurunya dan Mengayunkan tangannya dengan cepat menghantam samsak. Namun samsak itu malah terbalik memukul dirinya hingga dia terjatuh.
“Bangun, Jorell. pukulanmu salah sampai berbalik padamu sendiri.”
“Baik, Guru.” Meski punggungnya terasa berat setelah terpukul oleh samsak, Jorell bangkit.
“Coba sekarang tahan pukulanku.”
Guru Anuwat Suksom kemudian melupakan dua tangannya dengan erat dan mengayunkan dengan cepat ke arah Jorell.
Dengan konsentrasi tingkat tinggi, Jorell perasaan menahan beberapa pukulan Guru Anuwat, namun tetap saja tubuhnya yang kecil tak mampu menahan pukulan sebanyak itu hingga dia pun langsung terpental setelah terkena pukulan di dada.
Hiss! Jorell kembali bangkit dengan memegang dadanya terasa nyeri berdenyut hebat.
“Ini masih awal, Jorell. Baru permulaan. Kau harus bangkit dan bisa memberikan pukulan balasan untukku,” ujar Guru Anuwat Suksom.
Jorell menuruti permintaan gurunya. Dengan sekuat tenaga dia mencoba melawan dan menyerang gurunya tersebut. Namun sayangnya, Guru Anuwat Suksom itu seperti bisa membaca gerakannya. Nyaris Jorell tak bisa menyentuhnya.
***
“Apa kau masih ingin diantar ke guru Capoeira setelah ini?” tanya Xavier setelah keluar dari rumah Guru Anuwat Suksom.
“Kau tidak lihat apa bagaimana kondisiku sekarang?”
Jorell nampak babak belur. Bahkan pipinya pun tak luput dari ruang berwarna ungu kemerahan, selain nomor itu juga ada di bagian dada juga punggung dan bagian tubuh lainnya.
“Bagaimana jika lusa saja?”
“Kau sendiri sebelumnya yang bersikeras dan sekarang terjadi juga yang membatalkannya,” kekeh Xavier hingga mereka tiba di rumah Jorell.
“Jorell, kenapa lagi mukamu hancur begitu? Apa kau berkelahi lagi?” Darcy menyambut kedatangan Jorell dengan nada marah.