
Jorell masih tak berdaya menatap Detektif Carl yang merupakan kopian dirinya 100%.
“Mengapa ada orang lain di luar sana yang mirip sekali dengan diriku? Apakah dia ... dia adalah ...” Jorell tak berani menyebut serta meneruskannya.
Ia kembali menatap pria yang mirip sekali dengan dirinya itu lekat-lekat dan dalam, hingga pria itu pergi meninggalkannya.
“Oh, astaga! Ini sangat mendebarkan sekali. Sungguh, jantungku seperti berhenti untuk beberapa saat lamanya.” Bahkan Jorell sampai lupa bernapas, hingga rongga dadanya terasa sesak.
Jorell menarik napas panjang, sebelum tak ada udara yang bisa masuk ke rongga dadanya.
“Aku harus tenang. Aku tidak boleh sembarangan bergerak di sini atau akan mengundang kecurigaan.” Sejenak, setelah ia bisa menenangkan hatinya yang berdebar tidak karuan, Jorell bangkit berdiri setelah sebelumnya duduk sebentar untuk menenangkan diri.
Di antara rasa penasaran juga rasa berdebar tak karuan, Jorell kemudian masuk ke ruangan tempat Detektif Carl berada. Ruangan itu terbuka saat ini.
“Aku harus masuk ke sana.” Dengan langkah kaki cepat, Jorell masuk ke ruangan itu.
Beruntung, di saat dia sudah masuk ke dalam, Detektif Carl menutup pintu ruangan. Membuat Jorell terjebak di sana dan tak bisa keluar jika pintu itu tidak dibuka.
Jorell berdiri di samping Detektif Carl. Niatnya masuk ke sana memang mencari informasi tentang pria itu. Namun tak mungkin dia akan mendapatkan informasi di saat Tuan Carl masih ada di ruangan itu.
Jorell menatap intens pria di sampingnya itu. Entah kenapa tanpa bisa dia tahan, matanya berembun dan tiba-tiba saja cairan bening mengalir begitu saja dari kelopak matanya yang basah.
***
“Aku akan keluar sendiri untuk memastikannya jika begitu.” Detektif Carl, berdiri dari tempat duduknya. Dia keluar dari ruangan meninggalkan monitor laptop yang masih menyala.
Kini hanya ada Jorell yang berada di ruangan itu sendiri. dan tentu saja dia harus bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mencari informasi yang dia butuhkan.
Jorell beralih menatap monitor yang masih menyala. Sekilas dia membacanya, isinya berupa data kasus korban pembunuhan.
“Tidak, bukan ini yang kucari.” Jorell yang membaca monitor, beralih menatap nakas yang ada di ruangan.
Dengan pelan dia membuka setiap nakas yang ada untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Hingga dia menemukan sebuah ID Card di sana, lalu mengambilnya.
“Carl Watson.” Jorell membaca nama yang tertera pada ID Card tersebut dengan suara gemetar. Bahkan tubuhnya pun ikut meremang setelah membaca nama itu.
Pria tadi benar-benar orang yang dicarinya. Sejenak Jorell merasa lega sekaligus kembali merasa terhimpit dadanya, bahkan semakin sesak.
Tiba-tiba saja dia melihat tubuhnya memudar.
“Ada apa ini?” Jorell menatap tangannya sendiri yang kini memudar seperti bayangan.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya bahkan saat ini dia mendengar suara jarum jam yang tadi berhenti dan kini mulai berdetak lagi, berputar maju.
Belum sempat ia mengembalikan ID Card yang dipegangnya, dia menghilang dari sana. Hingga membuat kartu yang ada di tangannya itu terjatuh.
***
Jorell menyapukan pandangan ke sekitar. Bola matanya berputar melihat ke sekeliling yang kini sudah berubah. Background di kantor detektif sudah hilang dan berganti dengan ruangan yang dia kenal.
“Apakah aku kembali ke kamarku?” Ditatapnya meja yang ada di sudut di mana sebuah monitor masih menyala. Ada tas yang teronggok di dekatnya.
“Aku sudah menemukan Tuan Carl Watson. Aku akan mencari petunjuk selanjutnya.”
Di antara rasa senang dan galau setelah bertemu dengan pria yang dicarinya, pikirannya kini kembali berkelana.
“Mengapa kami berdua mirip sekali? Tuan Carl lebih mirip sebagai diriku versi dewasa. Apakah memang benar ada hubungan darah di antara kami berdua?” Pikiran itu terlintas begitu saja dalam benak Jorell.
Apakah salah jika dia berpikir pria yang dicarinya itu sebagai ayah biologisnya, melihat fisik dan wajah mereka yang sangat mirip sekali. Mungkin cara berpikir mereka juga sama meskipun itu belum bisa diprediksi.
“Aku berharap, masalah ini akan menemukan titik terangnya.”
***
“Jorell, bangun!” Dari luar pintu kamar, Darcy membangunkan dengan berteriak lantang.
Sebelumnya, Aroon datang dan mencoba untuk membangunkan Jorell, namun tak ada respon sama sekali dan pintu kamar tetap terkunci.
“Jorell!” Kali ini Darcy berteriak lebih melengking lagi. Hampir saja dia menendang pintu kamar itu jika saja Jorell tak membuka pintu kamar.
“Ayah ...” Jorell tersentak kaget begitu membuka mata sudah disambut oleh suara dengungan ayahnya yang sangat familiar.
Ia segera menuju ke pintu dan membukanya sebelum pintu itu hancur ditendang oleh Darcy.
“Siang sekali kau baru bangun. Cepat sarapan sana. Ibumu sudah menunggu dari tadi!” Darcy menatap tajam dengan sepasang alis yang terpaut.
“Ya, Ayah.” Kali ini Jorell berani menatap mata Darcy, setelah sebelumnya dia sering menghindari tatapan mata itu.
Menghindari tatapan mata itu karena benci, menghindar karena tak ingin pria itu mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Namun kali ini dia malah mengulas senyum tipis di ujung bibirnya, baru pergi meninggalkan ayahnya itu.
“Aneh sekali anak itu. Kenapa dia malah melempar senyum padaku begini? Biasanya dia takut saat menatapku?” Darcy mencoba menebak apa yang terjadi, namun sayangnya dia tak bisa menebaknya.
Darcy hanya menatap punggung Jorell yang berlalu pergi meninggalkannya.
***
Jorell sudah bergabung untuk sarapan pagi bersama keluarga kecilnya itu. Seperti biasa, dia duduk di saat yang lainnya sudah menghabiskan separuh porsi sarapan pagi.
“Jorell, kenapa kau terlambat bangun pagi ini?” tanya Betsy. Dia sungguh mengkhawatirkan kondisi mental Jorell setelah beberapa waktu lalu bertemu dengan guru BP di Institut Florimont.
“Tidak ada, Bu. Aku begadang mengerjakan tugas dan baru tidur hampir pagi,” timpal Jorell.
“Belajar apa? Semua nilaimu di bawah nilai kelas. Palingan kau main game sampai pagi.” Darcy tiba-tiba menyambung.
Jorell hanya diam saja tidak merespon perkataan ayahnya itu. Entah kenapa, saat ini dia tak lagi menganggap pria itu sebagai ayahnya, sekaligus pria yang ditakutinya, tapi sebagai sosok pria asing, pria yang sama sekali tak ada hubungan darah dengan dirinya. Jadi rasa takut yang biasanya bersarang saat menghadapi Darcy, kali ini hilang.
Aku akan buktikan nanti jika aku bahkan bisa menduduki peringkat nomor satu di sekolah, batin Jorell.
“Sayang, hari ini aku pulang agak terlambat. Ada masalah di kantor. Klienku yang menyewaku menjadi pengacaranya mendapat tuntutan balik dari lawannya di persidangan nanti. Kau urus anak-anak ya,” ungkap Betsy memaparkan.