
“Memeriksa satu hal?” Bukan Xavier yang bertanya, tapi Tuan Charlie.
Pria itu ada di sana dan menunggu hasil dari penyelidikan Jorell untuk mengungkap siapa seseorang yang menaruh pisau berdarah di dapurnya dengan harap.
“Ya, Tuan. Apakah tiga pelayanmu di sini berganti baju sebelum atau sesudah bekerja?” ujar Jorell.
Karena ia melihat ada seragam dari toko tersebut. Lagi, pelayan di sana memakai baju biasa namun saat bekerja sudah ganti baju seragam toko.
“Ya, mereka ganti baju,” tandas Tuan Charlie.
“Di mana ruang gantinya?”
Tuan Charlie kemudian menunjukkan ruang ganti di ruangan lain. Selain ada ruang ganti di sana, ada tiga loker yang diperuntukkan bagi pelayan toko yang bekerja di sana untuk menaruh barang dan sebagainya.
Namun loker yang ada di sana terkunci semua dan tak ada kunci yang tergantung di sana.
“Tuan, apakah Anda punya kunci serfnya?” desak Jorell lagi.
Setelah menemukan loker itu, ia malah semakin gemas dan penasaran sekali untuk melihat isi dari loker.
“Ya, aku punya.” Tuan Charlie mengambil kunci serf lalu memberikannya pada Jorell.
Jorell masuk ke ruang ganti sebelum membuka kunci loker. Di ruangan persegi berukuran 1 x 2 meter itu, Ia menggerakan sepasang bola matanya dan menyapu seisi ruang ganti.
“Apakah ada noda darah di dinding?” Sepasang manik mata Jorell menyasar seluruh bagian dinding ruangan.
Hasilnya bersih. Dinding bercat putih itu sama sekali tak ternoda. Lalu Jorell beralih menatap ke lantai. Siapa tahu saja ada jejak darah di sana.
Bahkan dia sampai berjongkok untuk melihatnya, mungkin hanya tetesan kecil yang ada.
“Bahkan setetes pun tak ada bekas darah di sini.”
Jorell kemudian keluar dari ruang ganti. Kini dia membuka satu loker bertuliskan nama Herald di sana.
“Permisi, Tuan. Aku mau memeriksa isi lokernya.”
Setelah minta izin pada Tuan Charlie, Jorell lalu mengeluarkan semua isi loker tersebut. Ada baju ganti kotor yang belum diambil. Langsung ia periksa setiap bagian kemeja hijau polos tersebut. Jorell mencari dengan teliti bekas noda darah di sana.
“Tak ada bekas noda darah disini.” Tak lantas percaya begitu saja setelah tidak menemukan bukti, Jorell memeriksa barang lainnya yang merupakan milik Herald.
“Dari barangnya pun tak ada yang mencurigakan.” Barang lain yang ada di sana plester dan gunting.
Jorell mengembalikan semua isi loker Herald ke tempatnya. Setelah itu, dia lalu membuka loker kedua yang merupakan Foster.
“Permisi, Tuan Charlie, aku akan memeriksa semua isinya dulu.”
Ia mengeluarkan semua isinya. Ada satu kantong plastik hitam terikat dalam laci tersebut dan dia segera membukanya. Isinya sebuah baju kotor. Kemeja warna hitam.
“Sial! Aku tak bisa memeriksa Apakah ada noda darah di warna hitam ini,” desau Jorell. Lantas ia kembali menyisir barang lainnya di loker tersebut. Ada sepotong apel dan jeruk.
“Tidak ada yang mencurigakan.”
Setelah menutup kembali loker milik Foster, Jorell kemudian beralih membuka locker ketiga milik Bernie.
Kembali, dia menemukan kemeja kotor warna merah di sana. Dia memeriksa setiap sisi baju dan kembali menemukan kesulitan.
“Akan sulit menemukan bekas darah itu pada pakaian warna merah yang senada dengan darah,” desau Jorell.
Dia kemudian mengeluarkan barang lainnya yang ada di loker. Ada obat luka di sana, juga ada parfum. Bahkan kemeja kotor itu pun berbau harum sekali.
“Jorell, lalu apa kau bisa menemukan siapa itu pria yang membawa pisau berdarah kemari?” tanya Xavier, yang juga ada di sana dan ikut menebak siapa pelakunya.
“Sulit.” Jorell kemudian mencari ide dan berpikir keras dengan otak kecilnya.
Hingga dia menemukan ide.
“Tuan Charlie, aku minta dua buah baskom berisi air hangat dengan campuran garam plus sedikit deterjen.”
“Untuk apa?” tanya Tuan Charlie penasaran.
“Baik.”
Di antara rasa penasaran dan bingung, Tuan Charlie pun masuk ke dapur untuk menyiapkan peralatan yang diminta oleh Jorell.
Tak lama kemudian setelah itu, ia kembali dengan membawa dua baskom air hangat dengan campuran air garam plus sedikit deterjen.
“Ini yang kau pesan.” Tuan Charlie menyerahkan baskom tersebut.
Jorell menerima baskom tersebut lalu dengan cepat ia mengambil dua kemeja milik Foster dan Bernie, lalu ia rendam dalam baskom tersebut.
***
Satu jam berikutnya Jorell bersama yang lainnya datang menemui tiga pelayan tadi yang masih duduk menunggu di ruangan lain.
“Ada yang ingin kusampaikan pada kalian,” tutur Tuan Charlie.
“Ya, Tuan Charlie, silahkan saja.” Bernie mewakili dua teman lainnya bicara.
“Tapi Jorell yang akan menyampaikannya, bukan aku.”
Tiga pelayan yang ada di sana saling menautkan sepasang alis mereka. Apa lagi yang akan anak kecil ini ocehkan?
Jorell pada akhirnya menemukan siapa pelakunya. Dari tiga orang pelayan yang ada, dia mencurigai dua pelayan di sana. Dari dua pelayan yang ada dia menemukan satu pelakunya.
“Ini mengenai kasus pembunuhan Tuan Richard.” Jorell membuka pembicaraan.
Kembali tiga pelayan tadi saling bersi tatap.
“Apa itu ada hubungannya dengan kami?” tanya Foster penasaran.
“Tuan Charlie sebenarnya tidak melakukan pembunuhan tersebut. Tapi dia dijadikan tersangka utama setelah ditemukannya pisau berdarah di dapur. Dia hanya difitnah oleh seseorang di sini. Yang mungkin itu juga adalah tersangka pembunuhnya,” terang Jorell.
Tiga pelayan di sana seketika tersentak kaget.
“Apa? Satu dari kami bertiga adalah pembunuh Tuan Richard?!” pekik Herald. Pria itu meremang seketika.
“Bukan aku pemfitnah juga pelaku pembunuh Tuan Richard,” ungkap Foster.
“Baiklah, aku akan beritahukan pada Kalian bertiga siapa yang membawa pisau berdarah dan meletakkannya di sini.”
Jorell menatap tiga pelayan di depannya. Ketiga pria itu nampak gugup sekaligus takut. Entah apa yang ada di pikirannya mereka saat ini, yang jelas sorot mata mereka bergetar.
“Tuan Bernie, kau pria yang menaruh pisau berdarah itu di dapur.”
Sontak saja, ucapan Jorell itu membuat tak hanya dua pelayan lainnya tersentak kaget, tapi juga Xavier dan Tuan Charlie.
“Bernie, kau?! Aku tidak percaya itu,” ucap Foster menatap rekan kerjanya itu.
“Katakan Bernie, apa itu benar?” cecar Tuan Charlie dengan sorot mata mengejar.
Bernie sendiri hanya menunduk dituduh seperti itu. Dia tidak menjawab namun nampak tenang sekarang.
“Apa kau punya buktinya anak kecil? Siapa yang akan percaya pada ocehanmu? Bualan semata dan hanyalah omong kosong karanganmu saja!”
“Tentu saja aku punya buktinya.”
“Tunjukkan padaku,” tantang Bernie. Karena dia yakin anak kecil seperti Jorell tak bisa mengungkap masalah pelik seperti ini.
“Baju ini.” Jorell mengangkat kemeja merah basah dari baskom yang dibawanya.
Tentu saja semu yang ada di sana bengong melihat pakaian bersih yang ditunjukkan oleh Jorell sebagai barang buktinya. Bagaimana bisa kemeja basah itu menjadi bukti?
***
Jangan lupa dukung ya kak, koment, gift atau vote nya. Terima kasih