Different One

Different One
Eps. 40 Kuku Palsu Emas



Jorell mengambil kuku palsu dari tangan Xavier untuk memastikannya sendiri. menurutnya desain itu benar-benar mirip dengan desain buatan Nona Fiona.


“Apakah Miss Gaby sekarang memakai kuku palsu juga?” Jorell kembali merapat menghampiri jenazah Miss Gaby.


Semua jemari di tangan Miss Gaby tidak mengenakan kuku palsu sama sekali. Namun ada bekas lem kering seperti yang terlihat pada kuku jari Nona Fiona.


“Dari bentuk kuku palsu ini, kuku ini letaknya di jari manis. Ada dua kemungkinan. Bisa saja kuku palsu ini milik Nona Fiona. Bisa juga milik Miss Gaby sendiri, mereka membuat desain yang sama.” Jorell memaparkan.


Sebelum mereka bertanya pada Tuan Fisher. Terlebih dulu Xavier mencari kuku palsu lainnya yang mungkin tersimpan di salah satu nakas yang ada di kamar. Sedangkan Jorell, dia membaca buku diary milik Miss Gaby, untuk menemukan petunjuk di sana. Siapa tahu dia memang beruntung.


***


“Tuan Fisher, apakah kuku palsu ini milik Miss Gaby?” Xavier keluar kamar lalu menghampiri Tuan Fisher yang ada di ruang tengah.


Dia menunjukkan kuku palsu tersebut, lalu Tuan Fisher mengambil kuku tersebut untuk melihatnya.


“Ini sepertinya bukan milik Gaby. Dia tidak suka dengan motif geometris seperti ini. Sejak kapan dia menyukai motif seperti ini?”


Biasanya Gaby memang menyukai motif bunga untuk desain kuku palsunya, meski itu terkadang tidak match dengan sebuah acara yang diikutinya.


“Anda yakin, Tuan?” Xavier memulai untuk mempertegas ucapannya.


“Ya, kurasa seseorang tak akan berubah dalam perihal kesukaan pada sesuatu dalam waktu yang cepat seperti ini.”


“Lalu jika begitu milik siapa kuku palsu ini?”


“Entahlah. Mungkin saja Gaby mendapatkan itu dari temannya. Atau bisa jadi dia memang ingin mencoba motif baru tersebut, keluar dari kebiasaannya.”


Tuan Fisher mengembalikan kuku palsu tersebut pada Xavier.


“Aku akan beritahukan ini pada Jorell.” Xavier kembali ke kamar.


Di sana Jorell nampak serius membaca buku bersampul kuning.


“Bagaimana kata Tuan Fisher? Apakah kuku itu memang milik Miss Gaby?”


“Tuan Fisher sendiri, tidak yakin. Dia bilang Miss Gaby sebelumnya tidak menyukai motif geometris. Lalu Bagaimana dengan buku yang kau baca, Jorell? Apa kau menemukan sesuatu di sana?”


“Belum, aku baru membaca dua halaman buku diary ini.”


Jorell belum menemukan petunjuk apapun dari dua halaman yang dibacanya tersebut. Tapi ia yakin ada banyak petunjuk di sana. Karena metode penulisannya sendiri dibuat rahasia seperti itu. Sangat mencurigakan.


“Xavier, sepertinya aku menemukan sedikit petunjuk. Buku ini menyebutkan Jingga pemiliknya menyimpan semua kuku palsunya di brankas.”


Xavier pun langsung mendekat. Dia merasa aneh sekali kenapa kuku palsu saja sampai disimpan dalam sebuah brankas. Perlakuannya begitu istimewa, seperti memperlakukan barang berharga saja.


“Kebetulan sekali. Aku sedari tadi belum menemukan di manapun keberadaan kuku palsu milik Miss Gaby.” Saat Jorell membaca buku diary tadi, Xavier mencari pasangan kuku palsu lainnya di semua nakas yang ada di kamar, tapi tak ada jejak sama sekali di sana.


“Di mana brankas yang di maksud itu?” Jorell menyapukan pandangan keseisi kamar lagi untuk mencarinya, namun tak urung menemukan brankas yang dimaksud.


“Apakah ini bisa disebut brankas?” Xavier menemukan kotak besi berukuran 60x50x30 senti di bawah tempat tidur.


“Coba bawa kemari.”


“Kita perlu kode sandinya untuk membuka brankas ini.” Xavier meletakkan kotak besi tersebut di meja.


Kotak besi itu berdebu sekitar dua milimeter. Mungkin karena jarang disentuh jadinya kotor. Selain itu brankas yang lebih tepat disebut sebagai kotak perhiasan itu nampak mulai berkarat di bagian atas, di samping warna cat yang mengelupas.


Jorell membalik beberapa lembar halaman. Dia menggerakkan bola matanya dengan cepat untuk membaca informasi yang ada di sana. Hingga dia menemukan sebuah kode.


“Xavier. Mungkin ini kode brankas nya.”


“Berapa? Coba sebutkan. Biar aku yang buka.”


“99-73-58-66.”


Xavier memasukkan kode angka tersebut saat Jorell mengucapkannya. Dan benar saja, ketika semua angka sudah lengkap, brankas tersebut terbuka.


“Aku penasaran dengan isinya.” Xavier yang tidak sabar dengan Apa isinya segera membuka brankas tersebut.


“Apa ini?” Jorell tersentak kaget melihat isinya.


Ada banyak koleksi kuku palsu di sana dengan berbagai motif. Tak ada satupun motifnya yang sama. Yang lebih mengejutkan lagi, pada bagian bawah ada kuku palsu. Jika dihitung ada 30 kuku palsu dengan tiga motif floral yang berbeda, juga itu semua berkilau.


“Apakah ini emas sungguhan?” Xavier ragu pada kuku palsu berwarna emas mengkilap tersebut.


“Aku akan coba mengetesnya. Berikan liontinmu itu.” Jorell menunjuk sebuah liontin yang tergantung di leher.


Tentu saja liontin milik Xavier bukan liontin biasa. Liontin matahari itu bisa dilepas dan ditempel kembali karena ada magnetnya di sana. Untuk mengetes emas itu asli atau tidak bisa menggunakan magnet.


“Ini.” Xavier melepas liontinnya lalu menyerahkan pada Jorell.


Jorell mengambil satu kuku palsu emas tersebut Kemudian mendekatkannya pada ujung liontin Xavier di mana di sana ada magnetnya.


“Ini emas asli.” Jika emas itu tertarik oleh magnet berarti dia emas asli. Tapi jika tidak terjadi gaya tarik-menarik diantaranya, berarti itu hanya imitasi.


“Astaga emas ini mungkin saja dihitung lebih dari 30 gram.”


“Pantas saja jika Miss Gaby menyimpannya di sini. Rupanya tabungannya banyak.”


Xavier kemudian teringat pada kuku palsu motif geometris yang dipegangnya, lalu dia pun segera mencari pasangan kuku tersebut dalam brankas.


“Jorell, di sini tak ada kuku palsu yang bermotif sama seperti ini. Jadi, kuku ini ...”


Xavier dan Jorell mempunyai pemikiran yang sama. Mereka berdua bergegas keluar dari kamar setelah menutup kembali brankas tersebut. Dengan langkah setengah berlari akhirnya mereka tiba di depan rumah Tuan Thomas.


“Nona Fiona. Permisi. Kami ingin bertemu denganmu.” Xavier memanggil dari luar dengan suara nyaring.


Terdengar suara pintu terbuka setelahnya. Bukan Tuan Thomas yang menyembelih di balik pintu tapi wanita itu sendiri. Bahkan dia segera menuju ke pagar dan membukanya.


“Ada apa?”


“Nona, kau pasti tak menyangka. Kami menemukan kuku palsu berbahan dasar emas murni di kamar Miss Gaby,” ujar Jorell.


“Benarkah? Jika begitu aku ingin melihatnya.” Sepasang bola matanya tampak berkilat.


Fiona Bahkan tak meminta izin pada Thomas. Dia bergegas mengikuti dua anak kecil itu menuju ke rumah Tuan Fisher.


“Oh, hey, Fiona! Ada apa kau kemari?” sapa Tuan Fisher menyambut kedatangan Fiona.


“Emas. Aku kemari untuk melihat koleksi kuku palsu Gaby.” Wanita itu ini berhenti sejenak kemudian kembali melangkahkan kaki menuju ke kamar Gaby.


“Apa? Emas kau bilang? Gaby punya emas?” pekik Tuan Fisher.