Different One

Different One
Eps. 32 Tetangga Ribut



“Ayo mulai latihannya sekarang,” ujar Guru Rodrigo.


Dia langsung mengajak Jorell masuk ke tempat latihan tanpa bertanya padanya terlebih dulu, bagaimana bisa tubuhnya memar dan lebam begitu. Dia tidak tahu dari mana Jorell mendapatkan itu, dari sebuah perkelahian ataupun lainnya? Dia tak peduli, tugasnya hanya melatih saja.


“Baik, Guru.” Jorell segera mengikuti pria itu masuk ke ruang latihan.


Di sana ada banyak murid lainnya yang seusia dengan dirinya ataupun di atasnya, juga di bawah usianya. Jika di hitung ada sekita 30-an murid di ruang latihan itu.


“Kau latihan sana, aku akan melihatmu dari sini. Jika kotak serius latihan aku akan memberitahukannya pada Guru Rodrigo,” lontar Xavier yang ikut masuk ke ruang latihan namun tidak ikut latihan dan hanya melihat saja.


“Kau ini ... sebenarnya mendukungku atau Guru Rodrigo?” Jorell kembali meninju lengan Xavier.


“Jorell, cepat bergabung latihan dengan yang lain.” Guru Rodrigo memanggil.


“Baik, Guru.”


Guru Rodrigo tidak mengistimewakan satu murid di antara murid yang lainnya, dia memperlakukan semua murid dengan perlakuan sama. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan perpecahan di antara para muridnya.


“Kita mulai stretching dulu sebelum masuk ke ajaran inti,” papar Guru Rodrigo sembari memberi contoh di depan.


Dia memberi contoh kembali karena ada murid baru hari ini.


Jorell mengikuti gerakan stretching hingga pada gerakan inti. Tubuhnya memang terasa kaku di awal latihan begini.


“Jorell, kau perlu melenturkan tubuhmu. Apa kau jarang berolahraga sebelumnya?” tanya Guru Rodrigo menghampiri Jorell.


Pria itu melihat satu persatu muridnya, lalu mendapati Jorell yang kesulitan melakukan beberapa gerakan.


“Ya, Guru. Aku akan rajin berlatih mulai hari ini,” tukas Jorell.


Memang waktunya dia habiskan untuk melakukan penelitian selama ini, sesekali saja dia bermain tenis dengan Aaron atau bersepeda dengan adiknya itu memutari lingkungan tempat tinggal mereka. Jadinya otot ditubuhnya kaku semua.


***


Sampai sore barulah latihan itu selesai. Nampak Jorell keluar dari ruang latihan dengan keringat yang meleleh.


“Ambil ini!” Xavier melempar sebotol air mineral pada Jorell.


“Terima kasih.” Jorell segera meneguk sebotol air mineral tersebut sampai habis lalu membuang botol kosong pada tempat sampah.


Memang Xavier selalu mengerti dengan dirinya. Seperti saat ini dia merasa haus dan payah setengah latihan tapi tidak membawa air mineral, dan temannya itu menyiapkan air untuk dirinya.


“Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Xavier setelah mereka berada di luar rumah Guru Rodrigo.


“Kau bisa lihat sendiri tanpa perlu bertanya padaku.” Jorell berdesis lirih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Rasa sakit dan nyeri dobel yang diterima setelah latihan Muay Thay juga Capoeira, di sekujur tubuhnya. Bahkan untuk berjalan saja kakinya terasa ngilu dan berat.


“Jadi, apa kau akan tetap latihan Krav maga, besok?” tandas Xavier.


Sungguh, ia merasa iba melihat kondisi Jorell saat ini yang menurutnya tak memungkinkan untuk melakukan latihan beladiri lagi.


“Tentu saja, antarkan aku besok ke guru Krav Maga yang kau kenal.”


“Kau yakin, Jorell? dengan kondisi fisik gue sekarang kau tak akan kuat melakukan latihan lagi.”


“Tidak. Aku mengerti batasan diriku dan aku masih kuat lakukan latihan bela diri 2 atau 3 lagi.”


Xavier hanya mengangkat sepasang alis coklatnya sembari mengangkat kedua bahunya menanggapi itu. Karena dia tahu meskipun demikian karakter temannya itu cenderung keras kepala sekali.


“Maka jangan salahkan aku jika kau seperti dianiaya.”


Jorell hanya mengangguk saja merespon Xavier.


***


“Aku mau lihat wajahku sebentar.”


Tanpa bicara lagi, Jorell segera mengeluarkan ponsel dari balik tasnya. Dia bercermin pada ponselnya tersebut untuk melihat bagaimana kondisi mukanya saat ini.


“Xavier, aku tidak bisa pulang sekarang dengan wajah seperti ini.”


Wajah Jorell bengkak juga lebam, persis seperti sehabis tawuran. Tak mungkin dia pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini. Jika memaksa mungkin ancaman dari Darcy benar-benar akan berlaku.


“Maksudmu kau mau menginap di rumahku saja, begitu?” Xavier langsung bisa menangkap maksud dari temannya itu.


Dia tadi juga mendengar ancamannya diberikan oleh ayahnya Jorell. Dan ia tahu pria itu tak main-main dalam berucap.


“Ya, kau selalu mengerti maksudku,” balas Jorell.


“Jika begitu, kau harus menelepon ayahmu itu dan bilang padanya aku akan menginap di tempatku.”


Setelah mengangguk meresponnya, Jorell kembali mengeluarkan ponselnya. Dia lalu menghubungi nomor Darcy.


“Kau tidak sedang berbohong padaku, bukan? Kau benar-benar mengerjakan tugas di rumah Xavier?” Tedengar suara dengan nada tinggi setelah telepon tersambung.


“Biar aku yang bicara.” Xavier langsung merebut ponsel Jorell, setelah mendengar suara Darcy marah.


“Om Darcy, selain banyak tugas kelompok yang belum diselesaikan, hari ini ayah dan ibuku pergi ke luar kota. Jadi tolong izinkan Jorell menginap untuk menemaniku,” terang Xavier.


“Oke, Xavier. Bilang pada Jorell jangan berkeliaran di malam hari Jika tidur di rumahmu.”


“Tentu, Om Darcy.” Telepon berakhir setelahnya.


“Apa benar orang tuamu akan pergi ke luar kota hari ini?” tandas Jorell setelah berjalan kembali dan berbalik arah menuju ke rumah Xavier.


“Mana mungkin Om Darcy akan menyelidikinya? Kurasa waktu luangnya tidak banyak sampai dia mau menyelidiki apa yang kuucapkan.”


“Aku sudah menduganya itu. Kau memang spesialis berbohong.”


***


Di jalanan dekat rumah Xavier ada beberapa orang yang berkerumun di sebuah rumah.


“Ada apa ini?” Xavier Berhenti sejenak membuat Jorell ikut berhenti karenanya.


Ada banyak orang yang berkerumun di depan rumah itu. Daripada bertanya, mereka berdua lebih memilih banyak diantara kerumunan itu untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi?


“Apa yang terjadi pada Miss Gaby?” pekik Xavier yang mengenali tetangganya itu.


Seorang wanita berusia sekitar 22 - 25 tahun bersandar ke dinding. Dia nampak kacau. Rambut coklat panjangnya yang biasanya terurai indah, nampak berantakan. Lagi, muka wanita itu basah oleh buliran bening yang tersisa di pipinya.


Di samping wanita itu ada beberapa pot bunga pecah. Tanah coklat gelap dari pot berhamburan di tanah beserta tanaman lavender. Di dekat pintu rumah ada pecahan vas kaca.


“Miss Gaby apa kau baik-baik saja?” Xavier mendekat dan membantu wanita itu berdiri.


Dia tak tahu kenapa orang di sekitar yang melihatnya tak membantu Miss Gaby, hanya melihatnya saja seperti melihat sebuah tontonan menarik.


“Xavier ... terima kasih.” Miss Gaby nampak gemetar. Entah apa sebabnya.


Xavier kemudian menatap ke dalam rumah. Sedikit banyak dia tahu masalah tetangganya itu. Dia sering mendengar teriakan di rumah itu. Tapi hanya suara ayahnya Miss Gaby saja, yang biasanya marah pada wanita itu dan tak sampai ada kekerasan fisik seperti ini.


“Biar kuantar masuk, Miss.” Xavier menawarkan.


“Tidak. Aku takut ayahku akan gelap mata dan memukulmu, nanti.”


“Apa kau bilang? Kau kira aku tidak dengar apa yang barusan kau ucapkan? Dasar anak tak tahu diuntung!” Tiba-tiba keluar seorang pria dari dalam rumah.


Pria itu nampak sangar dengan kumis tebal melengkung di kedua ujungnya, menatap tajam tak hanya pada Miss Gaby saja. Tetapi juga pada Xavier.