
Istana Barat, Mhoran
Malam yang sama
"APA?!"
Billy menghela nafas diam-diam. Dia sudah menduga reaksi tuannya akan begini begitu dia membawa berita tadi. Yah, tidak sepenuhnya sih. Billy melihat kilatan kepuasan di wajah tuannya ketika dia menyampaikan berita tentang Putri Shania, calon tunangannya, yang melarikan diri. Seolah tuannya sudah bisa menduga hal itu sebelumnya. Ini berarti, tuannya memiliki alasan untuk melakukan penyerangan ke Rhojan dan menduduki negara yang terkenal dengan sebutan sebagai Surga Atlantik itu.
Dan wajah tuannya langsung memerah. Jika itu terjadi, dia bisa terlihat sangat menakutkan. Tidak hanya dirinya saja, orang lain, walaupun laki-laki, akan langsung gemetar didepannya. Dan ini disebabkan oleh berita kedua yang dia bawa. Yakni, Raja Rhojan sudah menyiapkan pengganti Putri Shania yang kabur.
Billy mendengar makian keluar dari bibir tuannya. Sesuatu yang sebenarnya dilarang, mengingat dia adalah seorang bangsawan. Seorang pangeran. Tapi dengan tuannya, seolah aturan itu tidak berlaku.
"Kau tahu siapa dia?"
Billy menggeleng. Karena memang itu kenyataannya.
Dahu tuannya berkerut dan Billy tahu apa yang sedang dipikirkannya. Karena dirinya juga memiliki pertanyaan yang sama dengan tuannya. Setahu mereka, Raja Rhojan hanya memiliki seorang putri saja, Putri Shania, karena sang Ratu memiliki rahim lemah, dan hanya bisa mengandung satu kali.
"Kau memiliki fotonya?"
Billy menelan ludah kemudian menggeleng.
"Hamba tidak bisa, Yang Mulia. Dia tiba di Rhojan petang ini dengan pengawalan ketat. Hamba tidak memiliki waktu untuk itu karena kedok hamba mulai dicurigai. Jadi, hamba segera naik pesawat menuju kemari petang ini juga."
"Ruchi brengsek!" gelegar suara tuanbya menggema di seantero ruang kerja. Dan gebrakan di meja dari kepalan tangannya berbunyi keras hingga menjatuhkan beberapa ornamen dari tempatnya.
"Beraninya dia menutupi kesalahannya dengan menggantu posisi putrinya dengan orang biasa!"
"Ini perang, Billy. Ini berarti perang!" geram tuannya. "Rhojan sudah mempermalukan Mhoran sekali. Tidak akan ada yang kedua kali."
Billy menelan ludah. Kalau memang ini perang, berarti dialah penyebabnya. Ketika pemikiran itu merasuki benaknya, jantung Billy berdebar semakin kencang.
Oh Tuhan! Dia sudah lelah dengan peran ganda yang dia mainkan du Rhojan dan Mhoran selama ini. Hal itu sangat melelagkan mentalnya. Apalagi jika perang antar negara terjadi, semakin beratlah beban yang dia pikul. Kemana kesetiaan ini harus dia berikan? Mhoran --- tanah kelahirannya. Atau Rhojan --- tempat gadis yang menawan hatinya berada. Billy benar-benar kalut.
"Cedric!" bentak tuannya, mengagetkan Billy.
"Hamba, Yang Mulia."
Billy melihat Cedric, pria berumur lima puluhan, orang kepercayaannya sekaligus tangan kanan tuannya itu membungkuk penuh hormat pada tuannya. Tubuhnya tinggi dan kurus namun sikap elegannya sebagai pelayan bangsawan sangat menakjubkan. Meski di usia senjanya ini, tidak nampak tanda-tanda bahwa punggungnya akan membungkuk. Tetap tegak dan kuat.
"Siapkan pasukan! Kita segera berangkat menuju Rhojan!"
"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawab Cedric dengan tenang, membuat Billy terkejut. Dan Cedric membalas keterkejutan Billy dengan senyuman ramah yang mengerikan. Kali ini Billy merinding.
Tuannya kemudian membanting pintu ruang kerja ini dengan keras. Menggambarkan amarahnya. Lalu menjauh dari ruangan ini, namun Billy masih sempat mendengar derap sepatu boot-nya yang menggema disepanjang lorong istana, sebelum menghilang meninggalkan kesunyian.
Billy bangkit berdiri dari posisi hormatnya dan ketika dia membalikkan tubuhnya, Cedric sudah mengunci pintu ruangan ini. Kemudian pria tua itu menghadap dirinya dengan senyum ramah yang mengerikan. Mengarah padanya.
"Kau bukan pembohong yang baik, Billy," ujar Cedric dengan tenang. Sepertu air dalam kolam.
Sementara Billy langsung berkeringat dingin. Bulu kuduknya meremang kemudian berdiri. Jelas sekali tidak ada yang luput dari perhatian Cedric.
Seperti cenayang.
Billy hanya bisa menghela nafas. Dia tidak perlu mengangguk untuk kebohongan yang jelas-jelas sudah ketahuan. Jadi, dia hanya menghela nafas.
"Kau tahu tentang gadis itu?" tanya Cedric dengan mata menyipit.
Billy menggeleng lemah. Dia memang tidak tahu tentang gadis itu.
"Kau pernah bertemu dengannya?"
Billy menelan ludah.
"Ya, kau pernah bertemu dengannya." Cedric langsung bisa menyimpulkan dari sikap Billy.
"Tidak secara langsung dan itupun tidak disengaja. Di bandara ketika aku akan naik pesawat." Jawab Billy.
Billy mengangguk. "Hanya satu."
"Kenapa tidak kau sampaikan pada Yang Mulia?"
Billy memejamkan mata. Dia punya alasan untuk tetap bisu di depan tuannya tadi. Tapi didepan Cedric, dia sepertinya tidak bisa menyembunyikan hal itu.
Suara Billy terdengar putus asa. "Aku harus mengatakan apa pada Yang Mulia, Tuan Cedric? Bahwa aku sudah melihat hantu?"
"Apa maksudmu Billy?!" kening Cedric mengerut.
Billy kemudian merogoh saku dalam jasnya dan menyerahkan satu-satunya foto yang dicetaknya secara diam-diam karena tidak ingin menggegerkan Mhoran kepada Cedric. Dan Billy melihat reaksi yang juga dirasakannya ketika pertama kaki melihat gadis itu di wajah Cedric.
"Ya Tuhan," desis Cedric terkesiap. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Cedric menatap Billy, menuntut penjelasan. "Apa kamu yakin dengan yang kau lihat, Billy?"
Billy mengangguk. "Dengan mata kepalaku sendiri, Tuan Cedric."
"Kau yakin melihatnya berjalan? bernapas?"
Billy mengangguk lagi. "Aku bahkan masih menyimpan film-nya di kamera."
Mulut Cedric menganga tak percaya. Dia kemudian menjatuhkan diri di sebuah sofa tak jauh dari situ sambil terus menatap lekat foto di tangannya.
"Astaga, Ya Tuhan. Astaga, Ya Tuhan. Astaga, mereka mirip sekali."
"Menurut tuan, siapa dia?" tanya Billy hati-hati.
Cedric menghentikan gumamannya. Wajah seriusnya kembali seperti semula. Pertanyaan yang bagus sekali. Siapa gadis ini? Karena sepengetahuannya Raja Ruchi hanya memiliki seorang putri saja.
Tapi tunggu dulu!
Dulu... kalau tidak salah, raja Rhojan sebelumnya memiliki dua putra dan salah satunya gelar kebangsawanannya dilepas karena menikahi orang biasa. Dan kalau dia tidak salah ingat, dia adalah kakak Raja Ruchi, seorang putra mahkota, yang seharusnya menjadi raja saat ini. Mungkinkah gadis ini ...
Mata Cedric berbinar ketika teka-teki itu terjawab. Ini berarti tuannya bukannya akan menikahi orang biasa, melainkan seorang bangsawan. Bahkan kalau dilihat dari garis darahnya, berarti tuannya akan menikahi seorang putri mahkota.
Ini bukan jauh lebih baik.
Tapi sempurna.
"Haruskah saya memberitahu Yang Mulia tentang foto ini, tuan Cedric?" tanya Billy.
"Tidak perlu, Billy." Cedric lantas berdiri, merobek foto itu hingga menjadi sobekan kecil kemudian menaburnya kedalam perapian.
"Maksud tuan?"
"Ini akan jadi rahasia kita Billy."
"Tapi tuan Cedric, bagaimana dengan perang ---"
"Tenang, Billy. Perang tidak akan terjadi."
"Kenapa anda yakin sekali?" dan Billy melihat senyum ramah namun mengerikan milik Cedric itu muncul lagi.
Cedric tidak menjawab pertanyaan Billy. Dia hanya membuka pintu kemudian berkata, "Kau boleh meninggalkan ruangan, Billy "
Billy menghela nafas panjang ketika keluar ruangan. Dia sudah tidak tahu lagi siapa yang harus lebih ditakuti.
Tuannya atau Cedric.
Sepeninggal Billy, Cedric tersenyum menatap badai diluar sana. Setelah lebih dari setengah abad dia bernapas, dirinya akhirnya akan mendapat tontonan menarik. Dan dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat reaksi tuannya ketika bertemu gadis ini nanti.
Pasti akan sangat menarik sekali.
Pasti!