
*****
"Jika secepat ini, bagaimana bisa aku belajar?" aku berteriak di sela-sela derap kaki Archie dan angin yang menerpa wajahku.
Cal tidak menanggapi.
Bagus! Aku berbicara dengan angin.
Aku diam. Dengan tampang merengut.
Cal diam. Dengan wajah datar-sedingin ratu salju.
Archie diam. Dengan wajah kudanya, tentu saja. Karena dia hewan dan tidak berbicara bahasa manusia. Hanya derap empat tapal besinya yang menggilas tanah, satu-satunya suara yang mendominasi.
Cal menarik kekang ke belakang dan Archie mengurangi kecepatan kaki kokohnya, lalu berhenti.
Apa lagi ini?
Apa aku salah melakukan sesuatu?
Kenapa kita berhenti?
Aku lantas menoleh kanan-kiri. Hanya ada pohon-pohon pinus yang mengapit jalan setapak yang kami lalui.
Dan sialnya lagi, aku baru ingat pertanyaan yang lebih penting. Kenapa aku dibawa ke tempat sepi seperti ini?
"Disini lebih aman untuk berlatih berkuda."
Hah?!
Aku menoleh dan menangkap mata granit itu sedang memandangiku.
"Hei!" bentakku. "Kalau punya mulut, seharusnya kau jawab sejak tadi pertanyaanku!" teriakku dengan napas memburu. Entah saking takutnya terhadap beberapa pikiran burukku atau karena saking leganya karena pikiran burukku itu hanya ketakutanku semata.
"Kenapa?" kedua alis Cal terangkat naik. "Takut?"
Aduh, pria ini!
"Tentu saja!" balasku membentak. "Apapun bisa saja terjadi di tempat sesepi ini? Seperti pemerkosaan. Atau... pembunuhan. Atau hal lainnya," ujarku berorasi lantang sambil menggerak-gerakkan kedua tanganku.
Aku melihat pria di belakangku terkikik pelan berusaha menahan tawa mati-matian.
"Kau terlalu banyak berpikir, Sonny."
Kurang ajar!
"Hallo, Athillah Khan!" aku menjentikkan jari tanganku ke depan wajahnya. "Diantara kita bertiga, akulah pihak yang paling lemah. Archie hanya kuda, dia hanya bisa lari. Mana bisa dia melindungiku. Lagipula, sepertinya dia lebih setia pada tuannya." Mataku menyipit pada Cal.
Tawa Cal pecah. Dan yang menyebalkan lagi, itu adalah tawa paling lepas yang pernah kulihat. Aku benci harus mengakui ini, itu adalah tawa paling membuatku terkesima. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana wajah pria dingin ini jika tertawa. Ternyata jauh melebihi tawa para aktor-aktor tampan dalam film-film Hollywood yang pernah kutonton.
Tuhan, dosa apa yang sudah Kau perbuat? Kenapa Kau buat pria sedingin ini tampan sekali ketika tertawa.
Cal menghentikan tawanya dan kembali ke ekspresi datarnya ketika menyadari keheningan yang kubuat sambil menatapnya.
Wajah selicik rubah betina itu pun muncul kembali. Dia menarik salah satu sudut bibirnya lalu tersenyum. Matanya penuh kilatan kepercayaan diri yang tinggi ketika berujar, "Tenang saja, keinginanku menghancurkan Rhojan memang besar. Namun, tidak sebesar keinginanku menyeretmu ke pernikahan."
Tubuhku langsung menggigil ngilu. Dan Cal masuh melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih lirih. "Dan Sonia, Hasratku memiliki tubuhmu memang sangat besar. Namun, tidak sebesar hasratku untuk menjadikanmu istriku. Karena dengan begitu, aku bisa memiliki setiap inci tubuhmu... selamanya."
Oke, wanita mana yang tidak merinding mendengar kata-kata itu? Apalagi jika yang mengatakannya adalah yang kekejamannya sekelas Hitler. Itu lebih terdengar seperti ancaman pemerkosaan dari pada sebuah lamaran
Aku memejamkan mata sambil menutup kedua telinga. Kugelengkan kepalaku keras-keras, berusaha menghapus memori baru yang melekat sempurna di otakku.
Tidak! Tidak! Tidak!
"Aku tidak mau membicarakan apapun itu yang berhubungan dengan pernikahan maupun istri!" teriakku padanya. "Tidak bisakah kita gencatan senjata? Hari ini saja?"
Cal menjawab enteng. "Kau yang memulainya..."
"Baik-baik! Itu salahku! Aku minta maaf," potongku cepat. "Jadi, bisakah kita kembali ke agenda hari ini, yakni berlatih berkuda?" teriakku lalu kembali menghadap depan.
Cal tidak menjawabku tapi aku bisa merasakan pria itu tersenyum di belakangku. Kemudian dia menarik tanganku untuk menggenggam tali kekang.
"Letakkan kakimu disini!"
Aku lalu menggantikan kaki Cal mengisi pedal besi yang menggantung di kedua sisi perut Archie.
Aku menyentak pelan kekang di tanganku dan Archie mulai melangkah. Pelan. Seperti ucapan Cal.
"Tarik tangan kiri untuk belok ke kiri."
"Oke."
"Dan tangan kanan untuk belok ke kanan."
Kucoba apa yang barusan dikatakan Cal. Kutarik kekang dengan tangan kiri, Archie melangkah ke kiri. Lalu kutarik tangan kananku, Archie melangkah ke kanan.
Ternyata semudah ini. Aku mulai lebih percaya diri.
"Kau ingin Archibal berjalan lebih cepat?" aku mengangguk-anggukkan kepalaku, memotong kalimat Cal, karena memang itulah yang kuinginkan.
"Sentakkan kekang lebih keras."
Kulakukan seperti penjelasan. Dan Holla! Archie berlari lebih cepat.
"Gerakkan tubuhmu mengikuti alur gerakan punggung kuda."
Aku mengikuti instruksi Cal dan benarlah, aku lebih menikmati kegiatan berkudaku.
Kami bergerak terus menyusuri jalanan tanah. Kemudian melalui ruang yang mulai menampakkan tebing curam yang dibawahnya merupakan kerajaan ombak atlantik yang terkenal ganas.
Ketika tubuhku mulai tenang dan lentur mengikuti irama punggung Archie, sebuah ledakan keras mengambil segenap konsentrasi. menghidupkan denyut jantung menjadi debaran keras yang menggemakan sekujur saraf, mendinginkan nadi serta merampas oksigen paru-paru.
Panik. Kutarik kekang Archie dengan keras tanpa sadar, membuat kuda jantan itu meringkik lantang lalu berlari cepat tak terkendali.
Dua tangan kokoh meremas tanganku dengan tiba-tiba. Menyerap kebekuan lalu mengubahnya menjadi rasa sakit ketika sentakan keras menarik kekang ke belakang.
Hardikan nan keras dan kejam berupa perintah yang penuh ancaman terdengar mengerikan dari balik punggungku. Dalam sekejap, Archie yang terlihat kalap dan liar mulai tenang. Lalu, kuda jantan ras murni itu menghentikan langkahnya, seolah mengerti bahwa itulah yang diinginkan tuannya.
"Kau tidak apa-apa?" aku mendengar Cal bertanya. Aku mengangguk. Namun rasanya suaraku masih terkubur akibat syok, jadi aku hanya menganggukkan kepala.
"Hati-hati!" nada suara Cal mengingatkan. Aku mengangguk kembali. "Kuda adalah makhluk yang sangat peka. Mereka bisa merasakan perasaan penunggangnya. Takut, marah, terkejut, dan sebagainya."
Aku mengangguk lagi.
"Penungganglah yang mengendalikan kuda, bukan sebaliknya."
Aku mengangguk sekali lagi. Kali ini dengan catatan dalam benak yang kucetak tebal lalu kulingkari dengan spidol merah.
"Kau yakin baik-baik saja, Sonny?"
Aku mengangguk cepat ketika kulihat dahi pria itu saling bertaut.
"Suara apa itu tadi?" suaraku terdengar bergetar, bukti bahwa aku masih belum baik-baik saja dari rasa terkejutku.
"Sampai sini saja latihan berkuda untuk hari ini." Jawaban Cal sama sekali bertentangan dengan pertanyaanku. Hanya itu. Tidak ada tambahan lainnya yang keluar dari bibirnya.
Kemudian, dia malah mengambil alih tali kekang lalu memaksa Archie memutar tubuhnya, kembali ke arah kami datang.
Kupikir Cal akan membawa kami pulang ke istana, tapi di tengah jalan, dia mengarahkan Archie untuk menuruni sebuah lereng landai yang ditumbuhi rumput-rumput liar serta ilalang.
Kami terus turun. Menapaki kerikil cadas serta bebatuan kasar.
Bibirku yang membuka hendak bertanya terkatup lagi ketika hidungku menangkap bau garam, telingaku merangkum gaung gelombang yang marah pada karang di kejauhan, dan kulitku meremang oleh angin hangat Samudra Atlantik.
"Kenapa kita kemari?" aku bertanya saat keelokan teluk Valencia di pantai barat Rhojan terhampar di hadapan mata.
Seolah menjadi hobi, Cal tidak menjawab.
Grrrr!!! Benar-benar bikin geregetan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
**Akhirnya bisa up lagi "Defeated"
Makasih special buat kk khinan dan bundanya suci serta Zhein yang selalu support π
jangan lupa love, like, komen positif, rate serta vote seikhlasnya π€
Semoga bisa up lebih rajin lagi. Aamiin π€**