
Hal pertama yang kurasakan ketika akal sehatku mulai kembali adalah sentuhan lembut dibawah kulit lenganku. Sesuaty yang halus dan emouk menahan beban tubuhku, membuat ingin terus memejamkan mata dan kembali tidur.
Tidur?!
Aku merasa keningku berkerut.
Bagaimana aku bisa tidur?
Ketika kaset di otakku me-review ulang rekaman peristiwa yang terjadi, kedua mataku langsung terbelalak. Tapi langsung kupejamkan lagi saat rasa pusing kembali meradang.
Sial! Efek obat tidurnya masih tersisa. Aku merangkum kepalaku dengan kedua lengan sambil memijit tengkukku berusaha mengusir kabut di otakku.
"Silakan." Suara pak tua itu muncul lagi. Aku menoleh dan mendapati sebuah mug putih beraroma kuat didepan wajahku. "Minuman ini akan membantu mengurangi dampak obatnya."
Aku menyipitkan kedua mataku padanya.
Hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah menyusun rencana pembunuhan masal. Ada lima orang dalam ruangan inu dan yang kelihatan paling lemah adalah pria didepanku ini. Sasaran empuk.
Bangkit dari kursi nyamanku, mengulurkan tanganku lalu mencengkeram kuat kerah bajunya dan menariknya dengan kasar hingga wajahnya tepat dihadapanku. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
"Anda mencekij hamba, anda tidak akan pernah mendapatkan jawabannya," jawabnya disela-sela cengkraman tanganku.
Sial!
"Siapa kau? Juga mereka?" daguku bergerak, menunjuk pria-pria berjas hitam yang langsung berdiri siaga begitu aku mencengkeram pak tua itu. "Apa yang sudah kau berikan padaku? Dimana aku sekarang?" teriakku.
"Untuk mendengar penjelasan tersebut, anda akan membutuhkan kursi dan ini." Lagi-lagi dia mengulurkan mug putih yang berisi coklat panas yang aromanya lezat dan sudah mengusik kedamaian perutku sejak tadi. Apalagi jika makanan yang terakhir masuk pencernaanku adalah saat subuh tafi, sebelum memulai pemanjatan. Bisa kurasakan rengekannya yang semakin keras sekarang.
Well, kurasa mengisi energi terlebih dahulu tidak ada salahnya. Apalagi jika harus menjatuhkan empat pria berpistol nantu yang entah dengan apa aku akan melakukannya. Karenanya, segera kuambik mug putih itu lalu kembali duduk ke arm chair tempat aku sadar tadi dan mulai menyesapnya pelan-pelan. Terasa hangat begitu melewati tenggorokan hingga masuk ke dalam perut dan seketika meredam unjuk rasa disana.
"Maafkan hamba karena belum memperkenalkan diru sebelumnya, hamba adalah Edward, kepala rumah tangga istana Rhojan."
Kedua alisku terangkat, mulutku menjauh sejenak dari bibir mug. Menatap cukup lama pria tua bernama Edward itu, yang tetap berdiri dengan tangan disilangkan didepan perut. Sikap kesopanan sempurna yang sering kulihat di film-film berbau monarki. Dan si Ed ini - kuputuskan akan memanggilnya Ed karena Edward terdiri dari dua suku kata, terlalu panjang bagiku, Ed lebih praktis - berdiri layaknya pelayan di restoran namun dengan sikap hormat yang sangat elegan. Hal ini membuatku tidak nyaman. Karenanya, kuputuskan untuk mengatakan ini, "Baiklah Ed, duduk, lalu jelaskan!" kedua mataku bergerak melirik arm chair kosong di depanku, lalu menatap Ex kembali.
Mataku menangkap keterkejutan di kedua mata abu-abu itu. Hanya sebentar, sebelum berubah menjadi bias-bias kelembutan yang menerangi wajahnya.
"Hamba..."
"Duduk!" potongku cepat.
Ed tersenyum ketika wajahnya menunduj, memberi hormat. "Baik, Yang Mulia." Lalu duduk di tempat yang kumaksud.
"Sonny." Aku mengkoreksi.
"I beg your pardon?"
"Panggil saja dengan Sonny," jelasku.
"Kurasa... itu akan sulit, Yang Mulia." Wajah Ed terlihat tidak nyaman dengan ideku. "Mengingat bahwa anda adalah keturunan dari Putra Mahkota Rhojan, yang seharusnya menjadi raja saat ini, jadi anda adalah seorang ---"
"Baiklah! Baiklah!" aku langsung menyerah. Telingaku benar-benar tidak kuat lagi untuk mendengarkan kelanjutan penjelasan Ed. Untuk membuat Ed memanggilku hanya dengan nama, diperlukan keajaiban, atau mungkin godam besar untuk memukul kepala batunya itu.
Ed menoleh ke salah seorang pria berpakauan hitam yang duduk tak jauh dari tempat kami berada. Dia juga menatap kami. Kulihat jakunnya bergerak naik turun. Seperti berkali-kali menelan ludah.
"Mohon maaf sebelumnya, sepertinya Moses terlalu banyak dalam memberikan obat biusnya."
Obat bius?!
Mataku melotot dan mulutku menganga lebar.
Aku ditidurkan denga obat bius?! Memangnya aku gajah liar?! Sampai perlu dibius seperti itu.
Kedua mataku menyipit pada pria bernama Moses, jiwaku langsung berteriak lantang bahwa Moses mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu dari daftar orang yang akan kubunuh setelah aku memulihkan tenagaku. Dia satu peringkat dibawah Ed tentu saja, karena sepertinya Ed adalah sang otak pelaku. Moses langsung memalingkan wajahnya begitu bertatapan denganku. Hm, ketahuan belangnya. Kau tidak akan bisa lari semudah itu, dude!
"Dimana ini? Tempat apa ini? Kemana kalian membawaku?"
"Anda sekarang berada didalam pesawat kerajaan, dengan ketinggian lima puluh ribu meter diatas permukaan air laut, dengan tujuan samudra Atlantik Utara tempat kerajaan Rhojan berada."
Pesawat?!
Kedua mataku membelalak seketika. Aku menoleh ke samping, tempat sebuah lingkaran putih berada.
Aku benar-benar bodoh!
Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?!
Aku menggeser lingkaran putih itu, sebuah lensa bening nan tebak muncul dari baliknya. Dan bisa kulihat gumpalan awan keoranyean di kejauhan.
Brengsek! Aku mengumpat keras dalam hati. Kalau di dalam pesawat, bagaimana bisa aku kabur? Aku bukan Superman atau Iron Man?!
"Ini namanya penculikan!" Teriakku keras lalu bangkit dari dudukku dengan natas membyry sambil menatap tajam Ed. "Dipaksa pergi ke negara yang bahkan tidak ada di peta. Ini melanggar undang-undang serta hak asasi manusia!"
"Walaupun sebagai negara monarki kecil, tapi Rhojan selalu aktif dalam segala kegiatan dunia, utamanya PBB."
Ubun-ubunku langsung panas. "Bukan itu maksudku! Aku punya kegiatab sendiri, Ed. Kuliah dan sebagainya. Aku tidak punya waktu luang untuk segala permainan ini."
"Hm," dahi Ed mengerut. "Berdasarkan informasi yang hamba terima, anda mendapat skors selama satu bulan karena telah memukul salah satu profesor mata kuliah yang anda benci. Jadi... hamba rasa, anda memiliki banyak waktu luang untuk permainan ini."
Grrrr!!! Seharusnya tadi aku cekik saja Ed langsung. Habis perkara.
Kesal karena tidak bisa membalas omongan Ed (karena memang itu adalah fakta, hal tentang 'skors' dan 'memukul'), aku menghentak-hentakkan kakiku sambil menuju kokpit pesawat.
"Anda mau kemana, Yang Mulia?" suara Ed terdengar dari balik punggungku.
"Kill the pilot," jawabku dingin.
#Hayooo... hayooo... author butuh suntikan vitamin semangat nih 😁
Jangan lupa Like, komen dan vote-nya ya gaez 😉